NILAI MORAL PADA NOVEL
SEBELAS PATRIOT KARYA ANDREA HIRATA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra
memiliki dua fungsi: dulce at utile. Konsep ini lalu di istilahkan oleh
Wellek dan Werren (dalam Suwardi Endraswara, 2005:160) bahwa fungsi sastra
adalah dedactic-heresy, yaitu menghibur sekaligus mengajarkan sesuatu. Karya
sastra hendaknya membuat pembaca menikmati dan sekaligus ada sesuatu yang bisa
dipetik. Selain itu, karya sastra hendaknya memiliki fungsi use dan gratifications (berguna dan memuaskan) pembaca, sehingga pembaca
akan merasakan fungsi sastra dari karya sastra yang dikomsumsinya.
Dalam
fungsi utile (makna), sastra sering
tidak bebas nilai atau mengandung nilai tertentu, Sastra mengajarkan nilai-nilai
kebenaran dan kebaikan (edukatif-didaktis). Begitu juga tentang mengungkapkan
tentang relasi perjumpaan personal antara manusia dengan Sang Pencipta
(religious) dan termasuk juga nilai moral.
Seorang
pengarang ketika menulis cerita, dia sadar atau tidak sebenarnya menuangkan
nilai moral tertentu. Dengan kata lain bahwa hasil karya seseorang mempunyai
makna tertentu dan memberikan tafsiran kepada pembaca.
Dalam
konteks itu, karya sastra sebenarnya adalah medan pertarungan nilai moral yang
dilakukan oleh para pengarang dengan pembaca, sehingga memungkinkan pembaca untuk memberi garis dan
batasan tafsirnya sendiri. Pembaca menemukan pesan dan makna yang tersirat dari
kata-kata dalam sebuah karya sastra.
Dalam
sejarah sastra Indonesia, banyak ditemukan puisi atau prosa mengandung nilai
moral tertentu. Contohnya adalah Novel Harimau!Harimau!
karya Mochtar
Lubis, yang menggambarkan manusia dalam keadaan tertekan atau terdesak
tega berbuat apa saja demi keselamatan dirinya. Dalam kondisi seperti ini
manusia sudah dikuasai oleh nafsu- nafsu jahat, seperti nafsu ingin menang
sendiri, nafsu ingin memenuhi kepentingan sendiri dengan segala cara, nafsu
untuk membunuh, dan nafsu untuk berbuat zalim. Dalam penggambaran itu terdapat
nilai moral yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.
Dewasa
ini, muncul seorang pengarang muda yang terkenal dengan karya-karya novel
inspiratif dan penuh nilai moral, yakni Andrea Hirata. Hingga sekarang telah
terbit novel ciptaannya yaitu Sebelas
Patriot yang menceritakan tentangkeluguan, ketulusan, dan keikhlasan cinta
antara Ikal dan Ayahnya, kemudian antara mereka dan sepak bola. Selain itu, Andrea Hirata juga
dikenal sebagai penulis yang fenomenal. Hal inilah yang membuat peneliti yakin
bahwa penelitian ini layak diangkat.
Di
antara beberapa novel tersebut telah banyak dilakukan kajian pada novel yang
tersohor dan biasa disebut masterpiece Andrea Hirata, seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Maryamah
Karpov tetapi untuk novel Sebelas
Patriot belum banyak mendapat perhatian untuk dikaji, khususnya kajian yang
fokus pada upaya mengungkapkan nilai moral dalam novel tersebut. Oleh sebab itu
penulis ingin mengungkapkan aspek moral yang terdapat dalam novel tersebut
dengan menggunakan tinjauan Semiotik.
Karya
sastra sebagai hasil cipta manusia selain memberikan hiburan juga sarat dengan
nilai, baik nilai keindahan maupun nilai- nilai ajaran hidup. Orang dapat
mengetahui nilai- nilai hidup, susunan adat istiadat, suatu keyakinan, dan
pandangan hidup orang lain atau masyarakat melalui karya sastra. Dengan
hadirnya karya sastra yang membicarakan persoalan manusia, antara karya sastra
dengan manusia memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Sastra dengan segala
ekspresinya merupakan pencerminan dari kehidupan manusia. Adapun permasalahan
manusia merupakan ilham bagi pengarang untuk mengungkapkan dirinya dengan media
karya sastra. Hal ini dapat dikatakan bahwa tanpa kehadiran manusia, sastra
mungkin tidak ada.
Memang
sastra tidak terlepas dari manusia, baik manusia sebagai sastrawan maupun
sebagai penikmat sastra. Mencermati hal tersebut, jelaslah manusia berperan
sebagai pendukung yang sangat menentukan dalam kehidupan sastra.
Nurgiyantoro (1995: 3)
menyatakan sebagai karya sastra imajiner, fiksi menawarkan berbagai
permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati
berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian
diungkapkan kembali melalui sarana fiksi sesuai pandangannya. Fiksi
menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya di
lingkungan sesamanya. Fiksi merupakan hasil dialog, kontemplasi dan reaksi
pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan, sehingga seorang pengarang akan
mengajak pembaca memasuki pengalaman atau imajinasi melalui tokoh-tokoh dalam
karya sastra.
Karya
sastra adalah satu wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi
yang berlaku bagi wujud ciptaanya. Namun keunikan karakteristik sastra pada
suatu masyarakat, bahkan ciptaan sastra, membuat sastra memiliki sifat-sifat
yang khusus (Jabrohim, 2002: 13).
Karya sastra adalah suatu
kegiatan kreatif sebuah karya seni. Sastra merupakan segala sesuatu yang
ditulis dan tercetak. Selain itu, karya sastra juga merupakan karya imajinatif
yang dipandang lebih luas pengertiannya daripada karya fiksi (Wellek dan
Werren, 1995: 3 - 4). Sebagai hasil
imajinatif, sastra berfungsi sebagai hiburan yang menyenangkan, juga guna
menambah pengalaman batin bagi para pembacanya. Membicarakan yang memiliki
sifat imajinatif, kita berhadapan dengan tiga jenis (genre)
sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama. Salah satu jenis prosa adalah
novel.
Salah satu karya sastra
yang mengandung nilai moral adalah novel Sebelas Patriot karya Andrea Hirata.
Novel ini berisi tentang kisah
anak manusia biasa yang mencoba berjuang untuk meraih sesuatu yang penting bagi
dirinya. Tokoh Ikal mencerminkan seorang anak yang ingin mengembalikan
kebahagiaan sang Ayah dengan menjadi pemain sepak bola. Banyak nilai moral yang
dapat diambil dari tokoh Ikal maupun berbagai peristiwa dalam novel ini.
Novel Sebelas Patriot ditulis
oleh Andrea Hirata. Nama Andrea
Hirata Seman Said Harun melejit seiring kesuksesan novel
pertamanya, Laskar Pelangi yang
menjadi best seller diangkat ke layar lebar oleh duo sineas Riri Riza dan Mira
Lesmana. Beliau lebih dikenal dengan nama Andrea Hirata. Selain Laskar
Pelangi, lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia ini juga menulis Sang Pemimpi dan Edensor, serta Maryamah
Karpov. Keempat novel tersebut tergabung dalam tetralogi
(http//Biografi.Rumus.web.id/2010/10/Biografi-Andrea-Hirata.html).
Karya – karya Andrea Hirata
menarik untuk diteliti karena karyanya yang sudah banyak dan juga mengandung
banyak nilai seperti pada novel Sebelas Patriot. Novel Sebelas
Patriot karya Andrea Hirata ini sangat menarik untuk diteliti karena banyak
mengandung nilai–nilai moral, dan disajikan dengan cerita yang sederhana
sehingga mudah dipahami.
Sehubungan dengan hal di
atas, maka akan diteliti aspek moral dalam novel Sebelas Patriotkarya Andrea Hirata menggunakan tinjauan semiotik
dengan judul “Aspek Moral dalam Novel Sebelas Patriot Karya Andrea
Hirata: Tinjauan Semiotik”
.
B.
Ruang lingkup masalah
Ruang lingkup masalah dalam penelitian ini mengarah pada
upaya untuk mendeskripsikan unsur - unsur
stuktural yang membangun novel Sebelas Patriot karya Andrea
Hirata yang meliputi tema, alur, penokohan dan latar. Selanjutnya mengungkap
wujud dan makna aspek moral yang terdapat di dalamnya.
C.
Pertanyaan penelitian
masalah
Permasalahan- permasalahan dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut :
1.
Bagaimana struktur yang membangun novel Sebelas
Patriot karya Andrea Hirata?
2.
Bagaimana wujud dan makna aspek moral dalam novel Sebelas
Patriot karya Andrea hirata dengan
tinjauan semiotik ?
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
yang menjadi dasar dalam penelitian ini antara lain :
1.
Mendeskripsikan unsur - unsur struktur yang membangun
novel Sebelas Patriot karya
Andrea Hirata
2.
Mendeskripsikan wujud dan makna aspek moral dalam novel Sebelas
Patriot karya Andrea Hirata tinjauan semiotik.
E.
Manfaat penelitian
Bagi peneliti, hasil penelitian ini dapat memberikan
wawasan pengetahuan yang selama ini diperoleh. Selanjutnya memberikan nilai
tambahan pada peneliti tentang proses penelaah karya sastra khususnya novel.
Sehingga dapat menerapkan teori-teori yang telah diperoleh dari perkuliahan
program studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Bagi lembaga UNP PGRI khususnya Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan mengenai
kajian karya sastra dan dapat memberikan informasi kepada peneliti untuk
penelitian lebih lanjut.
Bagi peneliti bidang karya sastra, hasil penelitian
ini berguna dan dapat mengetahui aspek-aspek moral yang ada di dalamnya,
sehingga memberikan peluang yang sangat luas dan menarik bagi para peneliti.
BAB
II
LANDASAN TEORI
A.
Karya sastra
karya sastra adalah hasil pengarang dengan menggunakan
bahasa sebagai alas an yang dapat menimbulkan keindahan dan mengungkapakan dari
fakta artistik dan imajinasi sebagai manifestasi kehidupan manusia dan
masyarakat. Melalui bahasa sebagai medium dan upaya efek yang positif terhadap
kehidupanmanusia (kemanusiaan) esten 1979:9)
B.
Novel
a.
Pengertian
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis
secara naratif, biasanya dalam bentuk cerita. Penulisan novel disebut novelis.
Kata novel berasal dari Bahasa Italia novella yang berarti “Sebuah kisah atau
sepotong berita”.
Novel adalah karangan prosa yang panjang, yang
mengandung suatu rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang
sekelilingnya, dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelakunya. Dari segi
panjang cerita, novel jauh lebih panjang dari cerpen. Oleh karena itu novel
dapat menemukan sesuatu secara bebas menyajikan sesuatu secara lebih banyak,
lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai permasalahan
yang lebih kompleks. Hal itu mencakup berbagai unsur serita yang memnangun
novel itu.
Novel digolongkan menjadi dua yaitu Novel serius dan
novel Populer.Kita dapat saja membedakan antara novel serius dengan novel
popuer. Namun, bagaimanapun “ adanya” perbedaan itu tetap saja kabur, tidak
jelas benar batas-batas pemisahnya. Ciri-ciri yang ditemukan pada novel serius-
yang biasanya dipertentangkan dengan novel populer-sering juga ditemui pada
novel-novel populer, atau sebaliknya. Apalagi jika pencirian yang dilakukan itu
bersifat umum, digeneralisasikan pada semua karya serius ataupun populer. Tak
jarang novel-novel dikategorikan sebagai populer memiliki kualitas literer yang
tinggi, dan dapat juga terjadi sebaliknya.
Novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak
penggemarnya, khususnya pembaca dikalangan remaja.Ia menampilkan
masalah-masalah yang aktual dan selalu menzaman, namun hanya sampai pada
tingkat permukaan. Oleh karena itu, novel populer pada umumnya bersifat
artifisial, hanya bersifat sementara, cepat ketinggalan zaman, dan tidak
memaksa orang untuk membacanya sekali lagi. Ia, biasanya, cepat dilupakan
orang, apalagi dengan munculnya novel-novel baru yang lebih populer pada masa
sesudahnya.
Novel serius tidak bersifat mengabdi kepada selera
pembaca, dan memang, pembaca novel jenis
ini tidak (mungkin) banyak. Hal itu tidak perlu dirisaukan benar (walau tentu
saja hal itu tetap saja memprihatinkan).
Sedangkan novel populer lebih mudah dibaca dan lebih mudah dinikmati
karena ia memang semata-mata menyampaikan cerita. ia “tidak berpretensi”
mengejar efek estetis, melainkan
memberikan hiburan langsung dari aksi ceritanya. Masalah yang diceritakanpun
yang ringan-ringan, tapi akatual dan menarik, yang terlihat hanya pada
masalah yang “itu-itu”
saja cinta asmara (barangkali dengan sedikit berbau porno) dengan model
kehidupan yang berbau mewah.
C.
Pengertian nilai berdasarkan para
ahli
Pengertian nilai,
menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa
yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna
secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan,
dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku.
Sedangkan menurut Dictionary dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau
kualitas sesuatu. Artinya, sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu
tersebut secara instrinsik memang berharga.
D.
Pengertian moral berdasarkan para
ahli
Moral dengan demikian dapat dipandang sebagai salah satu
wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema merupakan moral
(Kenny, 1966: 89).
Moral
dalam cerita, menurut Kenny (1966: 89), biasanya dimaksudkan sebagai suatu
saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang
dapat di ambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.
E.
Pengertian nilai moral
Secara
umum Moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya ; akhlak, budi
pekerti, susila (KBBI, 1994).
Moral dengan demikian dapat dipandang sebagai salah satu
wujud tema dalam bentuk yang sederhana, namun tidak semua tema merupakan moral
(Kenny, 1966: 89).
Moral dalam cerita, menurut Kenny (1966: 89), biasanya
dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu
yang bersifat praktis, yang dapat di ambil (dan ditafsirkan) lewat cerita yang
bersangkutan oleh pembaca.
Ia merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh
pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti
sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Ia bersifat praktis sebab
“petunjuk” itu dapat ditampilkan, atau ditemukan modelnya, dalam kehidupan
nyata, sebagaimana model yang ditampilkan dalam cerita itu lewat sikap dan
tingkah laku tokoh-tokohnya.
Istilah “moral” berasal dari kata “mos/mores” yang
berarti kebiasaan. Ia mengacu pada sejumlah ajaran, wejangan, khotbahtentang
bagaimana manusia seharusnya hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik
(Nurani Soyomukti, 2011: 224).
Moralitas adalah masalah nilai personal yang memandu
keputusan dan tindakan. Moralitas umumnya dipengaruhi oleh budaya, masyarakat,
dan agama (Nurani Soyomukti, 2011: 224).
Teori yang mengatakan bahwa semua bentuk moralitas itu
ditentukan oleh konvensi, bahwa semua bentuk moralitas itu adalah resultan dari
kehendak seseorang yang semau-maunya memerintahkan atau melarang perbuatan
tertentu tanpa mendasarkan atas sesuatu yang intrinsik dalam perbuatan manusia
sendiri atau pada hakekat manusia dikenal sebagai aliran-aliran positivisme moral.
Disebut begitu karena, menurut aliran tersebut, semua moralitas bertumpu
pada positif sebagai lawan hukum kodrat (Poespoprodjo dalam Biyantari,
L.A. Universitas Muhamaddiyah Surakarta,
2009: 19).
Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Moral
merupakan ajaran nilai kebaikan dan keburukan yang menjadi panduan manusia
dalam bertindak dikehidupan bermasyarakat, sehingga manusia tetap hidup dalam
aturan-aturan dan ketentuan yang telah disepakati bersama.
F.
Teori Semiotik
Semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda- tanda.
Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial / masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda.
Semiotik itu mempelajari sistem- sistem, konvensi-konvensi yang memungkinkan
tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dalam lapangan kritik sastra, penelitian
semiotik meliputi analisis sastra sebagai penggunaan bahasa yang bergantung
pada (sifat- sifat) yang menyebabkan bermacam- macam cara (modus) wacana
mempunyai makna (Preminger, dkk dalam Jabrohim, 2003 : 43).
Dalam karya sastra, arti bahasa ditentukan oleh konvensi
sastra atau disesuaikan dengan konvensi
sastra. Tentu saja, karya sastra karena bahannya bahasa yang sudah mempunyai
sistem dan konvensi itu, tidaklah dapat lepas sama sekali dari sistem bahasa
dan artinya. Sastra mempunyai konvensi sendiri di samping konvensi bahasa. Oleh
karena itu, wajarlah bila oleh Preminger (1974: 981) konvensi karya sastra
tersebut disebut konvensi tambahan, yaitu konvensi yang ditambahkan kepada
konvensi bahasa. Untuk membedakan arti bahasa dan arti sastra dipergunakan
istilah arti (meaning) untuk bahasa
dan makna (significance) untuk arti
sastra (Jabrohim, 2002: 69).
Karya sastra merupakan
karya seni yang mempergunakan
bahasa sebagai mediumnya. Bahasa sebagai medium karya sastra merupakan
sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang memiliki arti.
Semiotik adalah ilmu tanda-tanda. Tanda mempunyai dua
aspek yaiitu penanda (signifier) dan
petanda (signified). Penanda adalah
bentuk formalnya yang menandai sesuatu yang disebut petanda, sedangkan petanda
adalah sesuatu yang ditandai oleh petanda itu yaitu artinya (Jabrohim, 2002:
68).
Dalam analisis Semiotik, Peirce (1839-1914) menawarkan
sistem tanda yang harus diungkap. Menurut Peirce, ada tiga faktor yang menemukan
adanya tanda, yaitu: tanda itu sendiri, hal yang ditandai, dan sebuah tanda
baru yang terjadi dalam batin penerima tanda. Antara dan yang ditandai ada
kaitan representasi (menghadirkan). Kedua tanda itu akan melahirkan
interpretasi dibenak penerima. Hasil interprestasi ini merupakan tanda baru
yang diciptakan oleh penerima pesan (Suwardi, 2011: 65).
Tanda itu tidak satu macam saja, tetapi ada beberapa
berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya. Jenis-jenis tanda yang
utama ialah ikon, indeks,dan symbol.
a.
Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan
bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan itu adalah hubungan
persamaan. Misalnya, gambar kuda sebagai penanda yang menandai kuda (petanda)
sebagai artinya. Potret menandai orang yang dipotret, gambar pohon menandai
pohon.
b.
Indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal
(sebab-akibat) antara penanda dan petandanya, misalnya asap menandai api, alat
penanda angin menunjukkan arah angin, dan sebagainya.
c.
Symbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, hubungannya bersifat arbiter
(semau-maunya). Arti tanda ditentukan oleh konvensi. “Ibu” adalah symbol,
artinya ditentukan oleh konvensi masyarakat bahasa (Indonesia). Orang Inggris
menyebutnya Mother, Perancis
menyebutnya La mere, dan sebagainya.
Adanya bermacam-macam tanda untuk satu arti itu menunjukkan “kesemenaan-semenaan” tersebut. Dalam bahasa,
tanda yang paling banyak digunakan adalah simbol (Jabrohim, 2002: 68).
Janus (1981: 17) mengemukakan bahwa semiotik itu
merupakan lanjutan dari perkembangan strukturalisme, Strukturalisme itu tidak
dapat dipisahkan dengan semiotik. Alasanya adalah karya sastra itu merupakan
struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan sistem tanda, tanda,
maknanya, dan konvensi tanda, struktur karya sastra (karya sastra) tidak dapat
dimengerti maknanya secara optimal(dalam Jabrohim, 2002: 67).
Semiotik merupakan ilmu tentang tanda yang mempelajari
sistem-sistem dan konvensinya yang memungkinkan tanda tersebut mempunyai arti.
Dalam karya sastra bahanya adalah bahasa, karena bahasa memiliki sistem dan
konvensi yang tidak lepas dari sistem bahasa dan artinya.
BAB III
METODE
PENELITIAN
A. Metode
Penelitian
Metode penelitian sastra adalah cara yang dipilih oleh
peneliti dengan mempertimbangkan bentuk, isi, dan sifat sastra sebagai subjek
kajian (Suwardi, 2011: 8).
Metode penelitian merupakan cara mencapai tujuan yakni
untuk mencapai pokok permasalahan. Demikian halnya dengan penelitian terhadap
karya sastra harus melalui metode yang tepat. Dalam penelitian ini digunakan
metode penelitian kualitatif deskriptif artinya tidak berupa angka atau
koefisien tentang hub ungan variabel (Aminuddin, 1990: 16). Dalam penelitian
ini data yang dikumpulkan berupa kutipan kata, kalimat, dan wacana dari novel Sebelas patriot karya Andrea Hirata
dan permasalahan-permasalahannya dianalisis dengan menggunakan teori
strukturalisme, serta teori semiotik.
Pengkajian ini bertujuan untuk mengungkap berbagai
informasi kualitatif dengan pendeskripsian yang teliti dan penuh nuansa untuk
menggambarkan secara cermat sifat- sifat suatu hal (individu/ kelompok),
keadaan fenomena, dan tidak terbatas pada pengumpulan data melainkan meliputi
analisis dan interprestasi (Sutopo dalam Biyantari, L.A. Universitas Muhamaddiyah Surakarta, 2009: 19).
B.
Objek Penelitian
Objek penelitian adalah unsur yang sama- sama dengan
sasaran penelitian yang membentuk data dan konteks data (Sudaryanto, 1988: 30).
Objek penelitian ini adalah aspek moral dalam novel Sebelas Patriot dengan tinjauan semiotik.
C. Data dan Sumber Data
Data adalah sumber semua informasi atau bahan mentah
yang disediakan oleh alam yang harus dicari. Data merupakan bahan yang sesuai
untuk memberi jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Imron, 2003
: 34).
Sutopo (2002: 35
- 47) menyatakan data adalah bagian yang
penting dalam bentuk penelitian. Oleh karena itu, berbagai hal yang merupakan
bagian dari keseluruhan proses pengumpulan data harus benar- benar dipahami
oleh setiap peneliti. Adapun data penelitian ini berupa data lunak (soft
data) yang berwujud kata, kalimat
ungkapan yang terdapat dalam novel Sebelas
Patriot .
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini,
dikelompokkan menjadi dua:
a.
Sumber data
primer adalah hal- hal yang langsung dipero leh dari sumber data oleh penyelidik untuk keperluan penelitian
(Surachmad, 1990: 130).
Dalam
penelitian ini sumber primernya berupa teks novel Sebelas Patriot karya Andrea Hirata, terbit pada bulan Juni 2011, cetakan pertama.
Novel Sebelas Patriot terbit p, diterbitkan oleh PT Bentang
Pustaka, anggota IKAPI, jumlah halaman 112.
b.
Sumber data sekunder adalah data yang terlebih dahulu
dikumpulkan oleh orang di luar penyidik,
walaupun yang dikumpulkan itu sebenarnya data yang asli (Surachmad, 1990:
163).
Dalam
penelitian ini sumber data sekundernya
berupa makalah, buku-buku, dan artikel yang mempunyai relevansi untuk
memperkuat argumentasi dan melengkapi hasil penelitian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Subroto (1992
: 34) data adalah semua informasi atau bahan yang disediakan oleh alam
(dalam arti luas) yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilih penulis.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa teknik pustaka, simak
dan catat. Teknik pustaka adalah teknik penggunaan sumber-sumber tertulis untuk
memperoleh data (dalam Biyantari, L.A.
Universitas Muhamaddiyah Surakarta, 2009: 21).
Teknik simak adalah suatu metode pemerolehan data yang
dilakukan dengan cara menyimak suatu penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133-35). Teknik simak dan teknik catat
berarti peneliti sebagai instrument kunci melakukan penyimakan secara cermat,
terarah, dan teliti terhadap sumber data primer yakni sasaran peneliti yang
berupa teks novel Sebelas
Patriot! memperoleh data yang di
inginkan.
Hasil penyimakan kemudian dicatat sebagai sumber data.
Dalam data yang dicatat itu disertakan kode sumber datanya untuk mengecek ulang
terhadap sumber data ketika diperlukan dalam rangka analisis data (Subroto,
1992 : 42).
E.
Teknik
Analisis Data
Setelah data terkumpul maka langkah selanjutnya adalah
menganalisis data. Data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan kata,
kalimat, paragraf dalam novel Sebelas
Patriot dengan tinjauan semiotik.
Teknik yang digunakan untuk menganalisis novel Sebelas Patriot dalam penelitian ini adalah metode pembacaan
model semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pembacaan heuristik merupakan pembacaan karya sastra pada sistem
semiotik tingkat pertama. Sistem semiotik berupa pemahaman makna sebagaimana
yang dikonvensikan oleh bahasa (yang bersangkutan). Jadi, bekal yang dibutuhkan
adalah pengetahuan tentang sistem bahasa itu, kompetensi terhadap kode bahasa
(Nurgiyantoro, 2002:33).
Hermeneutik, menurut Teeuw (1984: 123), adalah ilmu atau
teknik memahami karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas
menurut maksudnya(dalam Nurgiyantoro, 2002:33).
Cara kerja hermeneutik untuk penafsiran karya sastra,
menurut Teww (1984: 123) dilakukan dengan pemahaman keseluruhan berdasarkan
unsur-unsurnya, dan sebaliknya, pemahaman unsur-unsur berdasarkan
keseluruhannya (dalam Nurgiyantoro, 2002:34).
Hubungan antara
heuristik dan hermeneutik dapat dipandang sebagai hubungan yang bersifat
gradasi, sebab kegiatan pembacaan dan kerja hermeutik yang oleh Riffaterre juga
sebagai pembaca retroaktif yang memerlukan pembacaan berkali-kali dan kritis
(Nurgiyantoro, 2002: 32).
Pembacaan heuristik dan hermeneutik merupakan dua metode
yang digunakan dalam kajian semiotik karena keduanya mempunyai hunbungan yang
saling melengkapi dengan tujuan untuk mencapai pemahaman makna secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Hoed,
Benny.H. 2011. Semiotik dan Dinamika
Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu
Jabrohim. 2002. Metodologi Penelitian Sastra. Jogjakarta: Hanindita Graha Widya
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra. Jogjakarta:
CAPS.
Soyomukti, Nurani. 2011. Pengantar Filsafat Umum. Jogjakarta:
AR-RUZZ MEDIA
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
GAJAH MADA UNIVERSITY PRESS
Teeuw. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: PT. DUNIA PUSTAKA JAYA
Jakarta.
Sunardi, St. 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal,
Tukangan DN II
M. Hariwijaya dan Bisri M. Djaelani.
2011. Panduan menyusun Skripsi dan Tesis.
Yogyakarta: Siklus
Hirata,
Andrea. 2011. Sebelas Patriot.
Yogyakarta: PT Bentang Pustaka
(http://etd.eprints.ums.ac.id/4443/1/A310050057.pdf), (di unduh tanggal 22 September
2011)
(http//Biografi.Rumus.web.id/2010/10/Biografi-Andrea-Hirata.html),
(di unduh tanggal 19 September 2011)
Sinopsis : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Novel ini menceritakan tentang cinta seorang anak dan pengorbanan
seorang Ayah dalam menggapai mimpinya. Novel ini
mengisahkan seorang anak yang bernama ikal bermimpi untuk menjadi pemain sepak
bola dan menjadi kebanggaan Ayahnya. Kecintaan Ikal pada bola berawal dari
ketika ia menemukan album foto yang disembunyikan oleh orang tuanya. karena
rasa penasaran itulah akhirnya Ikal tahu kenapa Ayahnya jalan
terpincang-pincang, punggung penuh dengan luka dan ia juga tau akan
kekejaman penjajahan pada saat itu.
Ternyata Ayahnya adalah satu dari tiga
bersaudara yang sangat mencintai sepakbola yaitu si bungsu. Ayah Ikal yang
berperan sebagai pemain sayap kiri. Kepiawaian mereka di lapangan sepakbola
dianggap sebagai ancaman yang tidak main-main bagi Belanda, yang zaman itu
menduduki Indonesia.
Van Holden, sebagai utusan VOC di Indonesia,
memahami bahwa keberadaannya di negeri ini berkaitan juga dengan politisi
utusan ratu Belanda. Setiap aspek, termasuk sepak bola, adalah politik dan ia
akan menggunakannya untuk satu tujuan yaitu melanggengkan kedudukan Belanda di
Indonesia. Lagipula selama ini tak ada yang berani mengalahkan tim sepakbola
gabungan Belanda. Maka, kepopuleran tiga bersaudara itu dapat mengancamnya dari
dua sisi. Simpati pada tiga bersaudara itu dapat berkembang menjadi lambang
pemberontakan sekaligus mengancam kejayaan tim sepakbola Belanda. Mau tidak mau
mereka harus dibungkam.
Demi untuk memuluskan tujuannya, Van Holden
melakukan berbagai cara. Dari melarang ketiga saudara itu tampil dalam
kompetisi sepak bola sampai mengurung dan memberlakukan hukuman kerja rodi
kepada pelatih dan tiga bersaudara itu. Sekembali dari pulau buangan, tiga
saudara kembali bekerja di parit tambang. Tak lama kemudian ada kompetisi bola
antara tim Belanda melawan para kuli parit tambang. Sebelas pemain, sebelas
patriot, termasuk di dalamnya tiga bersaudara kembali bermain.
Pertandingan itu dimenangkan oleh tim parit
tambang dengan skor 1-0. Gol satu-satunya yang dicetak oleh si bungsu. Ribuan
penonton menyerbu lapangan dan si bungsu, Ayah Ikal, seperti kebiasaannya
setiap bermain, meneriakkan Indonesia! Indonesia!. Kalimat itu disambut oleh
teriakan ribuan penonton lainnya. Indonesia! Indonesia! Teriakan penuh semangat
yang membahana dan tanpa henti. Belanda berang mendengarnya.
Usai pertandingan pelatih dan tiga bersaudara
diangkut ke tangsi. Mereka dikurung selama seminggu. Ayah Ikal pulang dengan
tempurung kaki kiri yang hancur. Sejak saat itu ia tidak bisa bermain sepak
bola lagi.
Kecintaan Ayah pada sepak bola dan PSSI,
kemudian membuat Ikal bertekad untuk menjadi pemain sepakbola dan bergabung
dengan tim PSSI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar