RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 1)
Sekolah
|
: SMPN 1 GURAH
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Unit
|
: 1
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40 menit
|
A. Standar Kompetensi
1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/ siaran
radio
B. Kompetensi Dasar
1.1 Menyimpulkan isi
dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/radio
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah disajikan tayangan TV/siaran radio, siswa dan siswi
dapat menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber dengan tepat.
D. Materi Pembelajaran
Penyimpulan dialog interaktif
E. Metode Pembelajaran
a. Pemodelan
b. Tanya jawab
Diskusi
Inkuiri
Penilaian autentik
F. Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
Memberi salam dilanjutkan berdoa bersama
Menanyakan kehadiran siswa
Siswa dan siswi memperhatikan contoh rekaman/ tayangan
dialog interaktif
4. Bertanya jawab
tentang tayangan dialog interaktif
|
Religius,
disiplin,
ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
1. Siswa dan siswi berkelompok, masing-masing 3-4 orang
2. Dengan cermat
siswa dan siswi mendengarkan rekaman atau tayangan/siaran dialog interaktif
3. Siswa dan siswi mendiskusikan pokok-pokok isi dialog yang telah didengarkan
4. Siswa dan siswi menentukan tema dialog
|
Ingin tahu,
kritis, demokratis, percaya diri
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama
guru melakukan refleksi
Siswa dan siswi bersama guru berdoa bersama
|
Demokratis, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Memberi salam dilanjutkan dengan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa
Siswa, siswi, dan guru bertanya jawab tentang tema dialog
yang telah dibahas pada pertemuan yang lalu
|
Religius,
disiplin,
ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
Dengan cermat siswa dan siswi medengarkan ulang dialog interaktif
Setelah mendengarkan, siswa dan siswi menyimpulkan isi
dialog dengan alasan yang logis
Secara bergantian siswa dan siswi melaporkan isi dialog
interaktif secara lisan/ tertulis(*)
|
Ingin tahu,
kritis, demokratis, percaya diri
|
60’
|
|
Penutup
1.Siswa dan siswi bersama
guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
|
Demokratis, religius
|
10
|
G. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
1. VCD, TV, radio
2. Santoso, Barokah, dkk. 2005. Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi
Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 42—45
3. Anindyarini,
Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat
Pembukuan Depdiknas. Hlm. 2-4
H. Penilaian
Indikator Pencapaian
Kompentensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen/ Soal
|
1. Mampu menentukan tema dialog interaktif yang
diperdengarkan
|
Tes
|
Tes Tertulis/
Soal uraian
|
Tentukan tema dialog interaktif yang telah kamu dengarkan!
|
2. Mampu menyimpulkan isi dialog interaktif yang
diperdengarkan
|
Tes
|
Tes Tertulis/
Soal uraian
|
Simpulkan isi dialog interaktif yang telah kamu dengarkan!
|
3. Mampu melaporkan secara lisan simpulan isi dialog
interaktif yang telah didengarkan.
|
Tes
|
Tes Lisan
|
Laporkan secara lisan simpulan isi dialog interaktif yang
telah kamu dengarkan!
|
Rubrik Penilaian untuk soal no. 1 dan 2
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Tema dialog interaktif
|
1—4
|
50
|
a. sangat tepat
|
4
|
||
b. tepat
|
3
|
||
c. kurang tepat
|
2
|
||
d. tidak tepat
|
1
|
||
2.
|
Simpulan isi dialog interaktif
|
1—4
|
50
|
a. sangat sesuai dengan tema, singkat, jelas, dan mudah
dipahami
|
4
|
||
b. sesuai dengan tema, singkat, jelas, dan mudah dipahami
|
3
|
||
c. kurang sesuai dengan tema, kurang singkat, kurang
jelas, dan sulit dipahami.
|
2
|
||
d. tidak sesuai dengan tema, tidak jelas, dan sulit
dipahami
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
8
|
100
|
|
Nilai Akhir soal no. 1 + 2 = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor
Maksimal} x bobot maksimal
Misal = {(4+4):8} x
100 = 100
Rubrik Penilaian untuk soal no. 3
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
Kesesuaian Isi
|
60
|
|
a. sangat sesuai
|
4
|
|
b. sesuai
|
3
|
|
c. kurang sesuai
|
2
|
|
d. tidak sesuai
|
1
|
|
Kelancaran berbicara
|
20
|
|
a. sangat lancar
|
4
|
|
b. lancar
|
3
|
|
c. kurang lancar
|
2
|
|
d. tidak lancar
|
1
|
|
Penggunaan bahasa
|
20
|
|
a. mudah dipahami
|
2
|
|
b. sukar dipahami
|
1
|
|
Skor dan bobot ideal
|
10
|
100
|
Nilai Akhir soal no. 3 = (Perolehan Skor : Skor Maksimal) x
bobot maksimal
Misal = (10 :10) x 100 =
100
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran : Dialog Interaktif
Penyiar :
“Selamat malam para pendengar Radio Dua Duta di mana pun Anda berada. Jumpa lagi dengan Gita Paramita di acara
dialog interaktif menjadi usahawan sukses. Para pendengar di rumah, jika kita
minum kopi rasanya kurang pas jika tanpa gula. Memang dua unsur tersebut tidak
dapat dipisahkan. Sesuai dengan uraian saya tersebut di studio telah hadir Ibu
Nuraini dan Bapak Sugiyo. Mereka berdua adalah wirausahawan sukses di bidang agrobisnis
pangan. Ibu Nuraini adalah wirausahawan kopi robusta, adapun Bapak Sugito
adalah wirausahawan gula. Pendengar di rumah dapat berpartisipasi dalam dialog
interaktif ini dengan menghubungi nomor (021) 637300. Baiklah akan Gita
perkenalkan narasumber kita pada malam hari ini. Selamat malam Ibu Nuraini dan
Bapak Sugiyo!”
Ibu Nuraini :
“Selamat malam Mbak Gita dan para pendengar di rumah!”
Bapak Sugiyo :
“Selamat malam!”
Penyiar :
“Bagaimana asal mula Bapak dan Ibu dapat menekuni usaha ini?”
Bapak Sugiyo : “Usaha
ini saya mulai pada tahun 1998. Ketika itu kondisi perekonomian bangsa baru
terpuruk akibat krisis moneter. Tanpa sengaja saya mendengar siaran radio
tentang kiat - kiat usaha di masa krisis. Dijelaskan bahwa usaha bisa diawali
dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kita. Saya lalu berpikir bahwa
di sekeliling saya ada banyak tanaman kelapa dan empon-empon yang bisa saya
olah. Sejak saat itu saya mencoba membuat gula pasir dari air nira tersebut.”
Penyiar :
“Bagaimana dengan Ibu?”
Ibu Nuraini :
‘Pada tahun 2000 saya memulai mencoba memperbarui produk kopi robusta Sumbawa.
Sebelumnya kopi robusta asal Batu Lantek tidak berkembang karena selama ini proses pengerjaan biji kopi amat
sederhana. Biji kopi hanya disangrai sampai gosong dan menghitam. Ini membuat
cita rasa kafeinnya hilang dan seakan-akan kita hanya meminum arangnya kopi
itu. Saya mencoba memperbarui hal tersebut mulai dari proses pascapanen,
pengolahan, hingga bentuk kemasannya, agar konsumen tertarik membeli produk
kopi yang tak hanya merangsang bau kopinya, tapimjuga enak diminum.”
Penyiar :
“Apa merek dagang yang Anda berikan untuk produk Anda ini?”
Bapak Sugiyo : “Saya
memberi nama ‘Gula Semut’.”
Penyiar :
“Unik sekali nama yang Anda berikan!”
Bapak Sugiyo : “Iya,
karena bentuk gula ini berwujud butiran-butian halus, serupa tumpukan semut.
Saya memilih kata semut agar mudah diingat orang.”
Penyiar :
‘Apa merek dagang yang Ibu berikan untuk produk kopi ini?”
Ibu Nuraini :
“Kopi Organik Murni.”
Penyiar :
“Apakah Ibu menggunakan pupuk organik untuk budidaya pohon kopi tersebut?”
Ibu Nuraini :
“Iya. Kopi tersebut bebas penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia karena
budidayanya memakai pupuk organik.”
Penyiar :
“Bagaimana proses pengolahan gula semut dan kopi robusta ini?”
Bapak Sugiyo :
“Pertama-tama air nira direbus. Setelah terbentuk bentuk dasar dari gula
tersebut yang berupa butiran halus, baru saya mencampurnya dengan sari
empon-empon.”
Penyiar :
“Bagaimana dengan Ibu?”
Ibu Nuraini :
“Butiran biji kopi yang warnanya berbeda seperti merah atau cokelat
dipilah-pilah sesuai dengan warna dan ukurannya. Biji kopi itu dicuci hingga
bersih dan dijemur dua-tiga hari agar benar-benar kering. Biji kopi kering
tersebut disangrai selama dua jam, barulah kopi ditumbuk dan diayak dengan alat
yang sudah distandarkan.”
Penyiar :
“Baiklah di line 637300 telah ada yang masuk. Halo selamat malam dengan Bapak
tau Ibu siapa dan dari mana?”
Penelepon :
“Selamat malam.Saya Ibu Diana dari Sumedang.”
Penyiar :
“Ibu diana mau bertanya kepada siapa?”
Penelepon :
“Saya ingin menanyakan tentang pemasaran produk tersebut pada Bapak Sugiyo.
Terima kasih.”
Bapak Sugiyo : “Saya
memasarkan produk tersebut dengan menitipkannya ke warung-warung, hingga
memberikan contoh produk secara cuma-cuma. Pelan-pelan produk saya dikenal
orang. Kemudian saya memberanikan diri untuk merambah pasar Jakarta. Langkah
saya ini bisa dibilang nekat karena saat itu Gula Semut belum mengantongi surat
izin dari Departemen Kesehatan. Di Jakarta produk saya berkembang hingga saya
dapat merambah pasar luar negeri.”
Penyiar :
“Baiklah para pendengar, acara ini akan kita lanjutkan dengan kiat-kiat
menyukseskan usaha setelah mendengarkan yang mau lewat ini.”
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 2)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Unit
|
: 1
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40
menit ( 2 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk
komentar dan laporan
Kompetensi Dasar
2.2 Melaporkan secara
lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas
Tujuan Pembelajaran
Siswa dan siswi dapat melaporkan secara lisan berbagai
peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas
D. Materi Pembelajaran
Pelaporan berbagai peristiwa
Peristiwa yang berkaitan dengan pertanian (”Tak Ada Pabrik
Pengolahan, Petani Kesulitan Menjual Kelapa Sawit”)
Peristiwa dari Liputan 6 SCTV tentang Pemerintah mengkaji
kemungkinan mengimpor gula
E. Metode
Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik
F. Kegiatan
Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke-1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang peristiwa
Siswa dan siswi berkelompok dan menerima teks laporan
tentang peristiwa
|
Religius, ingin tahu,
disiplin
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mencermati beberapa laporan peristiwa,
sesuai dengan teks yang diterima
Siswa dan siswi berdiskusi untuk menentukan sistematika
laporan peristiwa
Secara individu, menentukan peristiwa yang terjadi di
sekeliling yang akan dilaporkan
Menentukan
pokok-pokok peristiwa sebagai dasar penyusunan kerangka laporan
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, mandiri, kreatif
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama
guru melakukan refleksi
Berdoa bersama
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang pokok-pokok peristiwa sebagai dasar
penyusunan kerangka laporan
|
Ingin tahu, disiplin
|
5’
|
Kegiatan Inti
1. Siswa dan siswi
mendeskripsikan pokok-pokok peristiwa
dalam jalinan sistematika laporan
2. Secara
bergantian siswa dan siswi melaporkan secara lisan peristiwa yang terjadi di lingkungan siswa
3. Memberikan
penilaian dan komentar terhadap laporan yang disampaikan teman/siswa lain
|
Kritis, mandiri,ber-tanggung jawab, jujur, menghargai
prestasi orang lain
|
65’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
G. Sumber Belajar
1.Media cetak
(teks laporan
2. Santoso, Barokah, dkk. 2005. Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi
Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 32—34
3. Anindyarini, Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk
SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat Pembukuan Depdiknas. Hlm.
H. Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen/ Soal
|
1. Mampu mendeskripsikan peristiwa secara rinci
|
Tes
|
Tes Tulis
|
Deskripsikan peristiwa secara rinci!
|
2. Mampu melaporkan peristiwa yang ada di lingkungan secara
lisan
|
Tes Unjuk Kerja
|
Uji Petik Kerja Produk
|
Laporkanlah peristiwa yang ada di lingkunganmu secara
lisan!
|
Rubrik Penilaian
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Total Nilai
|
|||
Kejelasan informasi
|
Volume Suara
|
Intonasi
|
Percaya diri
|
||
Keterangan Nilai:
9 – 10 : baik
7 – 8 : cukup
5 – 6 : sedang
< 5 : kurang
Total nilai =
Perolehan Nilai : 4
Contoh: 36:4 = 9 (baik)
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Teks 1
Tak Ada Pabrik Pengolahan, Petani Kesulitan Menjual Kelapa
Sawit
Nunukan,
Kompas- Karena tak ada pabrik pengolahan minyak sawit (crude palm oil), ribuan
petani sawit di Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, tidak
bisa menjual buah sawit yang baru mereka panen. Akibatnya, buah sawit dibiarkan
membusuk di kebun atau dibuang ke jalan raya.
Petani
sawit di Kecvamatan Sebuku, Senin (2/8) mengatakan, seluruh petani sawit di
Sebuku merupakan transmigran asal Nusa Tenggara Timur yang ditempatkan di
Kabupaten Nunukan sejak tahun 1995. Mereka dilibatkan dalam perkebunan sawit
inti dan plasma. Setiap petani mendapat jatah lahan kebun seluas 3,5 hektar
pada lahan yang semula merupakan sisa penebangan hak pengusahaan hutan. “Kami
mau membersihkan sisa pepohonan hutan dan kemudian menanam sawit karena
dijanjikan buah sawit akan dibeli PT KHL, “kata Alex raga, petani di Desa
Sanur, Kecamatan Sebuku.
Tidak
kurang dari 6.000 hektar lahan perkebunan sawit milik 2.100 kepala keluarga
sudah digarap. Namun, saat panen beberapa tahun lalu hingga sekarang pabrik
pengolahan yang dijanjikan PT KHL tak kunjung dibangun. “Perusahaan cuma
mengincar kayu hutan. Setelah kayu dibabat habis, lahan tak kunjung ditanami
dan pabrik pengolahan minyak sawit tak dibangun. Pemilik perusahaan kini sudah
tidak diketahui keberadaannya,” kata Alex Raga.
Kepala
Dinas Perkebunan Kalimantan Timur mengatakan, meski izin operasional PT KHL
diberikan Pemerintah Provinsi Kaltim, karena sekarang sudah diberlakukan
otonomi daerah maka tanggung jawab penanganannya ada di Pemerintah Kabupaten
Nunukan. Pempov Kaltim sama sekali tidak terlibat dalam persoalan itu, karena
khawatir dituding mencampuri urusan kabupaten.
Bupati
Nunukan mengatakan, pihaknya sudah berkali-kali meminta agar Dinas Kehutanan
Kaltim dan instansi lainnya di tingkat provinsi menghentikan pemberian izin
pembukaan areal perkebunan kelapa sawit.
Dikutip
dari Kompas, 3 Agustus 2004, hlm. 6
Teks 2
Liputan 6. Com, Jakarta: Pemerintah sedang mengkaji
kemungkinan mengimpor gula untuk mengantisipasi kenaikan harga komoditi ini.
Dewan Gula Nasional mengusulkan jumlah impor sebanyak 500 ribu ton. Demikian,
diungkapkan Direktur Jendral Perdagangan Dalam Negeri Rifana Erni di Jakarta,
baru-baru ini.
Menurut Rifana, impor akan dilakukan bertahap mulai awal
tahun depan. Dia mengatakan, stok gula nasional hingga akhir Desember masih
mencukupi. Pemerintah masih punya cadangan sekitar 400 ribu ton. Tapi Rifana
mengakui, harga gula di tingkat pengecer sudah naik sekitar Rp300 hingga Rp800
per kilogram.
Di lain pihak, Departemen Pertanian akan memfokuskan
kegiatan mewujudkan visi pembangunan pertanian 2005-2009: pertanian yang
tangguh, meningkatkan daya saing, dan kesejahteraan petani. Kegiatan yang akan
dilakukan antara lain memperbaiki birokrasi pertanian, meningkatkan produksi
pertanian, dan penganekaragaman konsumsi pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan.
Di samping itu, Deptan juga akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha tani
soal pembiayaan.
Sementara untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil dan
menengah, Departemen Perindustrian bekerja sama dengan lembaga independen asal
Jepang (JICA) member pelatihan terhadap pelaku UKM. Pelatihan yang ketujuh kali
ini diikuti sekitar 300 orang pengusaha berskala menengah. Program pelatihan
menelan biaya hingga Rp2,5 miliar dengan materi pengenalan sistem manajemen
perusahaan, pemasaran sampai permodalan. Khusus permodalan, Departemen
Perindustrian akan bekerja sama dengan lembaga perbankan untuk memberikan
kredit tanpa agunan. (ICH/ Tim Liputan 6 SCTV)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 3)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 2 X 40
menit ( 1 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca
memindai
Kompetensi Dasar
3.1 Membedakan antara fakta dan opini dalam
teks iklan di surat kabar melalui kegiatan
membaca intensif
C.Tujuan
Pembelajaran
Setelah membaca intensif teks iklan di surat kabar, siswa
dan siswi dapat membedakan antara fakta dan opini dengan tepat.
Materi Pembelajaran
Cara membedakan fakta
dan opini serta implementasinya:
Pembedaan fakta dan opini dalam teks bacaan (iklan)
“Marketing Executives”
Metode Pembelajaran
Tanya jawab
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke- 1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab tentang fakta dan opini
Bertanya jawab tentang teks iklan
Secara berpasangan siswa dan siswi menerima teks iklan,
serta membaca dan mencermatinya
|
Religius, ingin tahu, disiplin, kritis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mengkliping satu iklan yang memuat fakta
dan opini
Siswa dan siswi mencermati
iklan
Secara berpasangan siswa dan siswi mendiskusikan fakta dan
opini yang ada dalam iklan
Secara berpasangan siswa dan siswi mendiskusikan
pengungkapan yang berupa fakta dan pengungkapan yang berupa opini dalam iklan
Siswa dan siswi membedakan fakta dan opini dalam teks
iklan (=)
Secara individu siswa dan siswi membuat contoh fakta dan
opini (*)
|
Kreatif, kritis, ingin tahu, demokratis, mandiri
|
65’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama
guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
5’
|
Sumber Belajar
Media cetak (teks iklan)
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 38—41
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 13-14
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen/ Soal
|
Mampu mendata fakta yang ada dalam teks
|
Tes
|
Tes Tulis
|
1.Datalah fakta yang terdapat dalam teks iklan!
|
Mampu mendata opini yang ada dalam teks
|
Tes
|
Tes Tulis
|
2. Datalah opini yang terdapat dalam teks iklan
|
Mampu membedakan fakta dan opini
|
Tes
|
Tes Tulis
|
3. Bedakanlah fakta dan opini yang terdapat dalam iklan
|
Mampu membuat contoh fakta dan opini
|
Tes
|
Tes Tulis
|
4. Buatlah dua contoh fakta dan opini
|
Rubrik Penilaian
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Perbedaan antara fakta dan opini sebagai berikut.
Fakta adalah hal
(peristiwa, keadaan) yang merupakan
kenyataan atau sesuatu yang benar ada atau terjadi. Adapun
opini merupakan pendapat, pemikiran, atau sikap terhadap faktafakta
MARKETING EXECUTIVES
PT Hunter Dougles Indonesi adalah salah satu unit dari
Hunter
Douglas Internasional. Perusahaan ini bergerak di bidang
produk
arsitektural, penutup tirai jendela premium, dan
produk-produk
interior lainnya.
Dalam rangka ekspansi usaha dengan adanya akuisisi
produkproduk
interior yang baru, maka perusahaan saat ini sedang
mencari beberapa tenaga pemasaran yang menguasai bahasa
Inggris dan telah berpengalaman memasarkan dan menjual
produk-produk interior. Diutamakan yang mempunyai latar
belakang pendidikan arsitektur atau desain interior dan
mempunyai banyak relasi dengan para arsitek dan desainer
interior.
Bagi Anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi di atas,
harap mengirimkan lamaran dan CV melalui alamat email di
bawah ini.
Email: cg_168@yahoo.co.uk
(Sumber: Kompas, 2 Juli 2008, dengan pengubahan)
Fakta dalam teks iklan di atas terdapat pada kalimat brikut.
1. PT Hunter Douglas Indonesia adalah salah satu unit dari Hunter
Douglas Internasional.
2. Perusahaan ini bergerak di bidang produk arsitektural, penutup
tirai jendela premium, dan produk-produk interior lainnya.
3. Dalam rangka ekspansi usaha dengan adanya akuisisi produk-produk
interior yang baru, maka perusahaan saat ini sedang mencari beberapa tenaga
pemasaran yang menguasai bahasa Inggris dan telah berpengalaman memasarkan dan
menjual produk-produk interior.
4.Email: cg_168@yahoo.co.uk
Opini dalam teks iklan di atas terdapat pada kalimat
berikut.
1. Diutamakan yang mempunyai latar belakang pendidikan arsitektur
atau desain interior dan mempunyai banyak relasi dengan para arsitek dan
desainer interior.
2. Bagi Anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi di atas,
harap mengirimkan lamaran dan CV melalui alamat email di bawah ini.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 4)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40
menit ( 2 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
8. Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan, dan pengalaman
dalam cerita pendek
Kompetensi Dasar
8.1 Menulis kembali
dengan kalimat sendiri cerita pendek yang penah dibaca
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca cerpen, siswa dan siswi dapat menulis
kembali cerita pendek tersebut dengan kalimat sendiri secara sempurna
Materi Pembelajaran
Penulisan cerpen
Metode Pembelajaran
1. Pemodelan
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke- 1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
Bertanya jawab tentang alur dalam cerpen (yang pernah
dibaca)
Menerima cerpen sebagai model untuk dianalisis alur dan
ide-idenya.
|
Religius, ingin tahu, disiplin, kritis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi membaca cerita pendek untuk menemukan
ide-ide dan alur cerita
Bertanya jawab untuk menentukan ide-ide pokok cerpen
sesuai dengan alur cerpen
Secara individu siswa dan siswi mengembangkan ide-ide pokok dengan kalimat sendiri menjadi cerpen kembali
|
Ingin tahu kreatif, kritis, demokratis, mandiri
|
65’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi bersama
guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
5’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab tentang cerpen hasil tulisan sendiri
|
Religius, ingin tahu, disiplin
|
5’
|
Kegiatan Inti
1. Siswa dan siswi secara bergantian menyunting cerpen
yang telah dibuat
2. Siswa dan siswi mempublikasikan cerpen yang telah
ditulis
|
Kritis, jujur, kreatif,
|
70’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi bersama
guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
5’
|
Sumber Belajar
a. Media cetak
(cerpen koran)
Buku kumpulan cerpen
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 38—41
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 13-14
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen/ Soal
|
Mampu menentukan ide-ide pokok sesuai tahap-tahap alur
dalam cerpen
|
Penugasan
|
Tugas rumah
|
1) Tulislah ide-ide pokok cerpen yang sudah kamu baca
sesuai dengan alurnya!
|
Mampu mengembangkan
ide-ide pokok menjadi cerpen
|
2) Kembangkanlah ide-ide pokok itu menjadi cerpen kembali
dengan kalimatmu sendiri!
|
||
Mampu menyunting cerpen (=)
|
3) Suntinglah cerpen yang telah kamu buat
|
||
Mampu mempublikasikan cerpen tulisan sendiri (*)
|
4) Publikasikanlah cerpen yang telah kamu sunting! (*)
|
Rubrik Penilaian
Soal No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Ide-ide pokok cerpen sesuai dengan urutan alur cerita
|
1—4
|
40
|
a. menemukan ide pokok dengan sangat runtut
|
4
|
||
b. menemukan ide pokok runtut
|
3
|
||
c. menemukan ide pokok kurang runtut
|
2
|
||
d. menemukan ide pokok tidak runtut
|
1
|
||
2.
|
Menulis kembali cerpen
|
1—3
|
60
|
a. isi cerita sesuai dengan keruntutan ide pokok
|
3
|
||
b. isi cerita kurang sesuai dengan keruntutan ide pokok
|
2
|
||
c. isi cerita tidak sesuai dengan keruntutan ide pokok
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
7
|
100
|
|
Nilai Akhir soal no. 1 + 2 = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor
Maksimal} x bobot maksimal
Misal = {(4+3):7} x 100
= 100
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Perhatikan penggalan kutipan cerpen berikut!
Tanah Merah
Oleh: Dwicipta
Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya
pergi dari Tanah Merah,seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun
sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri adalah
rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan. Semula ia adalah
seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang telah menguasai bumi
Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang yang tahu atau pernah
mendengar tentang peristiwa Banten yang mengegerkan itu sudah barang tentu
telah mendengarkeharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu, Pemerintah Hindia Belanda
telah menganugerahkan sebuah bintang kepadanya. Orang-orang mengelu-elukkannya.
Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat militer Batavia dan orang-orang
yang ingin mendengarkan kisah pertempuran yang telah ia
alami, bunyi letusan senapan dan jerit mengerikan ketika
tubuh meregang nyawa. Sungguh memabukkan.Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas
pemberontakan kaum merah di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai
komandan ekspedisi yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp
pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di Jawa dan
Sumatra.
“Apakah Gubernur Jenderal sudah gila?Digul adalah daerah
terpencil, hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba
setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang yang
melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah belantara
yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa
hidup di sana?” tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga mendapatkan
perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
“Tampaknya Tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru
bangsa Rusia. Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh
dunia? Siapa tak mengenal Siberia, neraka
bagi siapa pun warga Rusia yang berontak atau menjadi bajingan!” ujar Letnan Drejer
sambil tersenyum kecut.
“Kita bukan bangsa
Rusia, dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul hutan lebat.
Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu? Kalau
kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu: malaria!
Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu ke lembah
kematian?” “Saya tak takut dengan malaria, Kapten.
Tapi tinggal di hutan lebat semacam Digul sama saja dengan
menyerahkan kepala kita kepada para pengayau atau para kanibal hitam di sana.
Itulah yang saya takutkan,” ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
“Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja
mendapatkan bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan
dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!”
“Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de
Graeff itu terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat
keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?” ujar
Letnan Drejer tak mengerti.
“Apalah artinya seorang gubernur berbudi baik bila sistemnya
telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak ingin
kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin
menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman
tersebut, tindakan kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya
dilakukan. Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking yang
jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap terhadap lelaki
ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas militernya, opsir berambut putih
itu sungguh terpelajar.
Satu minggu sebelumnya Kapten Becking telah meminta
bawahannya untuk mencari segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul
dan bumi hitam di ujung timur Hindia itu.
Sementara para prajurit dan opsir bawahannya membual dan
membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka lakukan, ia justru
tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan tentang Digul dan wilayah New
Guinea secara umum. Ia gemar sekali membaca suku-suku
pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu dan di
sepanjang Sungai Digul, kebaikankebaikan
mereka dan kesukaan mereka dalam mengayau. Tak jarang ia
mengingatkan Letnan Drejer akan kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia
akan menundukkannya secepat mungkin.
(Sumber: Kompas, 13 Januari 2008)
Berdasarkan kutipan cerita pendek di atas, kalian dapat menentukan
ide-ide pokok cerita pendek sesuai alur. Penggalankutipan cerita pendek
tersebut merupakan alur perkenalan. Berikut ide-ide pokoknya.
1. Ingatan “tokoh” kembali kepada masa lalunya yang
merupakan
rangkaian petualangan demi petualangan yang tidak
berkesudahan.
2. Penunjukan “tokoh” oleh Gubernur Jenderal Pemerintah
Batavia sebagai komandan ekspedisi ke Digul.
3. Sikap protes “tokoh” kepada temannya, Letnan Drejer.
Ide-ide pokok cerita pendek pada alur perkenalan di atas dapat
dikembangkan menjadi cerita pendek dengan kalimat sendiri.
Kembali ia teringat masa lalunya. Masa lalu yang tak kan
bisa ia lupakan. Ia teringat pada hidupnya yang merupakan petualang. Memang
dulu ia ialah seorang pahlawan untuk
negerinya, negeri Belanda. Jika orang pernah mendengar
tentang peristiwa Banten, tentu mereka akan
mendengarkeharuman namanya.
Oleh keberanian akan tindakan kepahlawanan itu, maka Gubernur
Jenderal Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi ke Digul. Ia
ditunjuk untuk mempersiapkan kamp pembuangan bagi kaum interniran yang telah
memenuhi
penjara-penjara di Jawa dan Sumatra. Namun, penunjukan ini
tidak membuatnya bangga sebagai pahlawan. Justru ia mengata-ngatakan Gubernur
Jenderal telah gila. Ia berpikir bahwa Digul adalah daerah terpencil, hutan-hutan
lebat yang belum dijamah. Ia melontarkan segala protesnya kepada Letnan Drejer.
Letnan Drejer adalah opsir yang juga mendapatkan perintah untuk menemaninya
masuk belantara Digul.
“Apa yang membuat Gubernur Jenderal menunjuk kita untuk ke Digul? Apa yang ada di benaknya?”
tanyanya.
“Mungkin Tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa
Rusia,” jawab Letnan Drejer.
“Ini jelas beda. Digul hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu? Malaria dan kematian!”
tegasnya.
July 20th, 2008
Cerpen Remaja Retno Wi
Kunikmati segarnya kelapa muda dengan tenang. Setenang
gelombang ombak di hadapanku. Rasa sejuk langsung menjalari sepanjang
kerongkonganku. Pandanganku terlempar pada hamparan laut yang luas. Ada
ketenangan menelusup ke relung jiwa. Ketenangan yang belum pernah kunikmati
sebelumnya. Jiwaku seakan terbang seiring gemuruh ombak yang menderu. Seperti
camar yang melesat ke langit biru. Perlahan buih air asin itu menarik paksa
anganku menuju samudra lepas. Samudra kebebasan.
“Tahu petis, Mbak. Masih hangat, hanya Rp. 500.” Suara pedagang keliling mengusikku.
“Maaf.” Jawabku sambil terus menikmati desiran lembut angin pantai. Pedagang sialan, mengganggu saja. Rutukku setelah pedagang itu berlalu. Teramat jarang aku bisa menikmati keindahan, meskipun diriku termasuk orang yang memiliki segala kemewahan materi. Rumah megah di kawasan elit kota metropolitan, lengkap dengan pelayan. Mobil mewah keluaran terbaru serta fasilitas modern lainnya. Tapi semua itu tidak tampak indah dalam pandanganku. Hanya barang bagus dengan model terbaru yang sedang trend di kalangan orang-orang berduit. Tidak lebih. Sangat berbeda dengan pesona yang disuguhkan oleh garis cakrawala. Entah dimana ujung dari garis itu, aku tidak peduli. Yang pasti, garis itu telah menawarkan sebuah harmoni yang seimbang antara warna langit dan laut.
“Tahu petis, Mbak. Masih hangat, hanya Rp. 500.” Suara pedagang keliling mengusikku.
“Maaf.” Jawabku sambil terus menikmati desiran lembut angin pantai. Pedagang sialan, mengganggu saja. Rutukku setelah pedagang itu berlalu. Teramat jarang aku bisa menikmati keindahan, meskipun diriku termasuk orang yang memiliki segala kemewahan materi. Rumah megah di kawasan elit kota metropolitan, lengkap dengan pelayan. Mobil mewah keluaran terbaru serta fasilitas modern lainnya. Tapi semua itu tidak tampak indah dalam pandanganku. Hanya barang bagus dengan model terbaru yang sedang trend di kalangan orang-orang berduit. Tidak lebih. Sangat berbeda dengan pesona yang disuguhkan oleh garis cakrawala. Entah dimana ujung dari garis itu, aku tidak peduli. Yang pasti, garis itu telah menawarkan sebuah harmoni yang seimbang antara warna langit dan laut.
Kalau kupikir, sebenarnya pantai bukanlah tempat yang asing
bagiku. Seminar-seminar dan pertemuan penting yang kuhadiri sering mengambil
lokasi di sekitar pantai. Sayang aku hampir tidak pernah menikmati pesona
kedamaian laut karena harus segera pergi ke tempat lain dengan agenda-agenda
baru. Melakukan observasi, membuat program sampai membuat laporan. Begitu
seterusnya. Itulah duniaku. Aku harus bekerja keras menyadarkan kaumku dari
segala penindasan, ketertinggalan dan ketidakadilan. Mereka harus sadar kalau
sedang ditindas. Mereka harus bangkit untuk menunjukkan kemerdekaan hak-haknya.
Inilah yang menyebabkan keberadaanku di sini, mencari data tentang kekerasan
yang dialami perempuan pantai di Jawa Timur.
Hampir dua jam belum ada fokus tema yang akan kuangkat
sebagai bahan penelitian. Mataku masih enggan berpindah dari buih yang kadang
bergerak menghalangi sebagian cakrawala. Di depanku tampak sebuah siluet indah.
Kalau aku seorang pelukis pasti takkan kulewatkan nuansa biru langit yang
berpadu dengan buih yang keperakan. Perahu beraneka warna yang sedang terapung
memberikan gradasi warna yang kontras. Apalagi ditambah siluet yang terbentuk
dari dua perempuan yang tampak asyik bercengkerama. Mereka kelihatan akrab.
Seorang perempuan paruh baya dengan dandanan sederhana memakai kebaya dan jarik
lusuh dilengkapi topi dari lebar dari anyaman bambu yang menutupi kepalanya. Di
sebelahnya tergeletak sebuah nampan dari bambu berisi ikan. Sepertinya ia
pedagang ikan asin, sebagaimana kebanyakan perempuan pantai di daerah ini. Tapi
perempuan satunya? Apa yang ia lakukan? Mungkinkah kerabatnya? Sepertinya
bukan, karena dari cara berpakaiannya jauh berbeda. Perempuan muda itu berjilbab
dan rapi. Meski menurutku tidak modis sama sekali, tapi busananya itu tidak
dapat menutupi bahwa ia perempuan terpelajar.
Perempuan muda itu mengangsurkan uang setelah menerima ikan asin. Tangannya tampak bergerak-gerak. Sepertinya ia menolak untuk menerima sisa uang dari penjual ikan. Kini tubuhnya tegak dan berjalan ke arahku. Dan, ooh…. Wajah itu?? Sebuah kotak memori tiba-tiba terbuka begitu saja di kepalaku. Bukankah ia adalah orang yang telah bersaing denganku ketika berebut proyek penanganan PSK saat kuliah dulu? Kagetku belum pupus ketika akhirnya dia menyapa.
“Assalamu’alaikum, Dena. Senang bertemu denganmu di tempat yang indah ini.” Mata di balik kaca bening itu berbinar. Seperti biasa, selalu ada senyum yang menghiasi wajah mungilnya. “Bagaimana, kabarmu?”
Perempuan muda itu mengangsurkan uang setelah menerima ikan asin. Tangannya tampak bergerak-gerak. Sepertinya ia menolak untuk menerima sisa uang dari penjual ikan. Kini tubuhnya tegak dan berjalan ke arahku. Dan, ooh…. Wajah itu?? Sebuah kotak memori tiba-tiba terbuka begitu saja di kepalaku. Bukankah ia adalah orang yang telah bersaing denganku ketika berebut proyek penanganan PSK saat kuliah dulu? Kagetku belum pupus ketika akhirnya dia menyapa.
“Assalamu’alaikum, Dena. Senang bertemu denganmu di tempat yang indah ini.” Mata di balik kaca bening itu berbinar. Seperti biasa, selalu ada senyum yang menghiasi wajah mungilnya. “Bagaimana, kabarmu?”
“Wa….wa’alaikum salam. A..aku baik-baik saja.” Sekuat tenaga
kucoba mengusir rasa gugupku. “Apa yang kau lakukan di sini?” Kuatur nafasku
agar tenang. “Sepertinya kau akan menyesatkan perempuan-perempuan di sini dalam
keterbelakangan dan ketidakadilan!!” Kuberanikan menatap bola mata yang masih
tampak tenang. Kulihat ia tidak terpengaruh dengan kalimat sinisku.
“Maksudmu wanita tadi?”
“Jangan sebut ia dengan wanita. Ia adalah seoang perempuan. Bukan wanita. Kata wanita hanya akan menjebak para perempuan untuk siap diatur dan ditata tanpa ada kesempatan untuk membela hak-haknya.” Bagiku itu hanyalah filosofi kaum laki-laki jawa yang menciptakan kata wanita yang artinya wani ditata.
“Dena, rupanya kau belum bisa melupakan peristiwa di Kantor Dinas Sosial 3 tahun yang lalu.” Aku tidak berkomentar dengan ucapan teman seangkatanku itu. Ia adalah teman kuliahku di FISIP. Sejak mahasiswa kami aktif di organisasi intra maupun ekstra. Di luar kampus aku memilih aktif di sebuah LSM perempuan yang cukup punya nama di tingkat nasional. Setelah lama bergabung, akhirnya aku dipercaya untuk menjadi Ketua Litbang tingkat nasional. Semua fasilitas kuperoleh untuk kelancaran misi kami. Belum lagi kalau ada proyek-proyek terkait dengan pembinaan perempuan, maka aku akan mendapatkan fasilitas yang lebih banyak lagi.
“Maksudmu wanita tadi?”
“Jangan sebut ia dengan wanita. Ia adalah seoang perempuan. Bukan wanita. Kata wanita hanya akan menjebak para perempuan untuk siap diatur dan ditata tanpa ada kesempatan untuk membela hak-haknya.” Bagiku itu hanyalah filosofi kaum laki-laki jawa yang menciptakan kata wanita yang artinya wani ditata.
“Dena, rupanya kau belum bisa melupakan peristiwa di Kantor Dinas Sosial 3 tahun yang lalu.” Aku tidak berkomentar dengan ucapan teman seangkatanku itu. Ia adalah teman kuliahku di FISIP. Sejak mahasiswa kami aktif di organisasi intra maupun ekstra. Di luar kampus aku memilih aktif di sebuah LSM perempuan yang cukup punya nama di tingkat nasional. Setelah lama bergabung, akhirnya aku dipercaya untuk menjadi Ketua Litbang tingkat nasional. Semua fasilitas kuperoleh untuk kelancaran misi kami. Belum lagi kalau ada proyek-proyek terkait dengan pembinaan perempuan, maka aku akan mendapatkan fasilitas yang lebih banyak lagi.
Sementara Lia, ia lebih memilih aktif di sebuah yayasan
kecil yang ia dirikan bersama teman-temannya. Waktu itu aku tidak pernah peduli
dengan semua yang ia lakukan. Tapi suatu saat kami bertemu di salah satu
ruangan kantor Dinas. Saat melihatnya, aku cukup kaget karena ia mau
mengunjungi kantor pemerintahan. Setahuku Lia hanya senang berkumpul di
pojok-pojok masjid atau musholla. Rasa kagetku bertambah ketika mengetahui
bahwa tujuan kami ternyata sama: melakukan presentasi proyek proposal tentang
penanganan PSK di pinggiran kota. Kantor Dinas setempat memang mempunyai
program pembinaan PSK yang penanganannya diserahkan pada LSM. Tapi sungguh
malang, ternyata proposal yang diterima adalah proposalnya Lia. Bukan
proposalku. Alasan pihak dinas karena konsep yang ditawarkan LSM Lia lebih
sesuai dengan kultur masyarakat. Padahal LSM Lia hanyalah LSM baru yang belum
genap 1 tahun berdiri dan patut dipertanyakan kemampuannya. Aku tidak tahu
jalan pikiran para birokrat pada waktu itu. Konsep yang ditawarkan Lia sangat
tidak manusiawi. Ia ingin para PSK nantinya menghentikan pekerjaannya. Ia tidak
sadar bahwa dengan berprofesi sebagai PSK mereka bisa menafkahi anak-anaknya,
bahkan suaminya. Justru para PSK itu harus dibantu agar tidak terjangkit
berbagai penyakit dan bisa bermasyarakat dengan baik. Mereka menjadi PSK bukan
kemauan sendiri, tapi keadaan ekonomi yang memaksa atau karena suami yang tidak
bertanggung jawab.
“Dena” Segera aku tersadar bahwa Lia masih duduk di depanku.
“Saat itu sebenarnya aku ingin menjelaskan tentang konsep pemberdayaan
wanita…ehm…..maksudku perempuan, dan berdiskusi banyak denganmu. Tapi sayang
kau terlalu cepat pergi.” Keluhnya bernada sesal. “Karena aku yakin sebenarnya
kita bisa bekerjasama.”
“Bekerja sama? Nggak salah apa yang kau katakan?” Lia mengangguk pasti.
“Kenapa tidak??”
“Bagiku itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.” Sambungku ketus. ”Kalian adalah pengekang kebebasan kaum perempuan. Kalian membatasi ekspresi perempuan dengan dalih agama. Sementara kami, selalu memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan perempuan dari segala bentuk kekerasan maupun ketidakadilan.” Lia tampak tenang menghadapi cercaanku. Jujur aku salut dengan penguasan emosinya. “Kita berada di dua kutub yang berlawanan, Lia. Sekali lagi dua kutub itu tidak mungkin bisa disatukan!”
“Kebebasan dan kemerdekaan perempuan.” Ia menggumam perlahan mengulangi ucapanku. “Kebebasan seperti apa yang kalian perjuangkan?”
“Tentu saja bebas dari segala bentuk ketidakadilan. Baik yang diakibatkan oleh hukum agama, hukum adat maupun hukum Negara yang sering memrginalkan posisi perempuan.”
“Kalau boleh kukatakan, sesungguhnya kebebasan yang kalian perjuangkan adalah kebebasan nisbi. Keadilan semu.” Aku tersentak dengan kelancangan kalimatnya. Egoku memuncak.
“Maksudmu?!!”
“Kalian tidak pernah memiliki standar yang jelas tentang kebebasan dan keadilan.” Angin pantai memaksa tangan Lia merapikan kerudungnya yang berantakan. Ia mengambil nafas panjang sejenak.
“Bagi kami, keadilan itu ada ketika tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sedangkan kebebasan adalah dimana seseorang dapat berekspresi tanpa ada gangguan dari siapapun.”
“Definisi yang indah. Tapi sayang kalian sering tidak konsisten dengan definisi yang telah kalian buat.” Nada Lia cukup tenang tapi rasanya begitu dalam menusuk telingaku.
“Bekerja sama? Nggak salah apa yang kau katakan?” Lia mengangguk pasti.
“Kenapa tidak??”
“Bagiku itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.” Sambungku ketus. ”Kalian adalah pengekang kebebasan kaum perempuan. Kalian membatasi ekspresi perempuan dengan dalih agama. Sementara kami, selalu memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan perempuan dari segala bentuk kekerasan maupun ketidakadilan.” Lia tampak tenang menghadapi cercaanku. Jujur aku salut dengan penguasan emosinya. “Kita berada di dua kutub yang berlawanan, Lia. Sekali lagi dua kutub itu tidak mungkin bisa disatukan!”
“Kebebasan dan kemerdekaan perempuan.” Ia menggumam perlahan mengulangi ucapanku. “Kebebasan seperti apa yang kalian perjuangkan?”
“Tentu saja bebas dari segala bentuk ketidakadilan. Baik yang diakibatkan oleh hukum agama, hukum adat maupun hukum Negara yang sering memrginalkan posisi perempuan.”
“Kalau boleh kukatakan, sesungguhnya kebebasan yang kalian perjuangkan adalah kebebasan nisbi. Keadilan semu.” Aku tersentak dengan kelancangan kalimatnya. Egoku memuncak.
“Maksudmu?!!”
“Kalian tidak pernah memiliki standar yang jelas tentang kebebasan dan keadilan.” Angin pantai memaksa tangan Lia merapikan kerudungnya yang berantakan. Ia mengambil nafas panjang sejenak.
“Bagi kami, keadilan itu ada ketika tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sedangkan kebebasan adalah dimana seseorang dapat berekspresi tanpa ada gangguan dari siapapun.”
“Definisi yang indah. Tapi sayang kalian sering tidak konsisten dengan definisi yang telah kalian buat.” Nada Lia cukup tenang tapi rasanya begitu dalam menusuk telingaku.
“Lia, kau tahu aku adalah orang yang sangat idealis. Jadi
sekarang katakan dimana letak tidak konsistennya kami.” Gulungan ombak yang
menghantam batu karang menambah ketegangan semakin nyata.
“Kau lihat penjaja ikan asin yang kutemui tadi.” Pandanganku mengikuti ekor matanya yang tertuju pada sosok perempuan yang sedang dikerumuni pembeli. “Ia telah lama tidak dinafkahi oleh suaminya. Suaminya pergi ke pulau seberang tanpa ada beritanya. Dialah yang harus menafkahi diri dan anak-anaknya. Tapi ia rela dan ikhlas menerima itu semua.” Lia menatapku sejenak. “Apakah ia telah mendapatkan keadilan sebagaimana yang kau inginkan?”
“Benar-benar laki-laki tidak pernah bertanggung jawab! Selalu ingin enaknya sendiri.” Pekikku geram. “Mereka itulah yang harus dibantu agar mendapatkan keadilan dan tidak tertindas oleh laki-laki. Masih beruntung seorang pelacur yang hanya melayani sesaat tapi ia langsung mendapatkan haknya.” Kalimatku meluncur begitu cepat berlomba dengan angin pantai yang berhembus.
“Di situlah tidak konsistennya kalian.” Kalimat Lia memaksa bola mataku menatap lekat kedua matanya.
“Kenapa?” Antara jengkel dan geram kucoba mencari jawaban atas tuduhan sinisnya.
“Kalian tidak obyektif dalam menilai sesuatu.” Lia menoleh kepada penjual ikan asin yang mulai melangkah pergi. “Perempuan itu memang ditelantarkan suaminya. Tapi ia tidak menganggap semua itu bentuk pemaksaan .
” Kunantikan kelanjutan kalimat Lia dengan kening berkerut. “Karena perempuan itu yakin ketika dia bisa ikhlas, maka keadilan yang sesungguhnya akan didapatnya. Keadilan dari Dzat Yang Maha Adil. Dan kini, keadilan itu telah didapatnya. Anak pertamanya telah menjadi seorang guru, dan anaknya yang kedua hampir menyelesaikan studinya di STAN. Di tengah kemelut hidup yang dialaminya, ternyata dia mampu berbuat adil pada anak-anaknya dengan memelihara dan menghidupi dengan cara yang bersih. Dia memilih menjadi penjual ikan asin meskipun harus berpanas-panas dan hidup dengan sederhana. Dia tidak memilih jalan pintas dengan menjadi pelacur seperti yang dilakukan oleh tetangga-tetangganya yang bernasib serupa. Kau tahu kenapa?” Aku hanya diam dengan pertanyaannya.
“Karena ia menilai bahwa seorang pelacur adalah salah satu sumber merebaknya ketidakadilan.” Aku semakin tidak percaya dengan keberanian Lia mengungkapkan analisis konyol dan tidak bermutu.
“Selama ini pandangan masyarakat tentang PSK adalah seputar kalimat amoral, aib, sampah masyarakat yang menurutku semua itu sangat tidak manusiawi. Tapi apa hubungannya antara pelacur dengan makna sebuah keadilan?”
“Ketika seseorang menjadi PSK, sesungguhnya ia telah berbuat tidak adil kepada anaknya, keluarganya, juga keluarga pelanggannya. Ia juga telah berbuat tidak adil pada masyarakatnya dan terutama kepada Tuhannya. Apalagi jika ternyata mereka hamil, tidak sedikit yang memilih menggugurkan kandungannya.”
“Tapi itu adalah hak mereka.” Jawabku ketus
“Tapi, anak mereka juga berhak untuk mendapat kehidupan yang halal, keluarganya maupun keluarga pelanggannya juga punya hak atas ketenangan hidup tanpa ada gangguan. Termasuk juga anak yang digugurkannya, ia punya hak untuk menikmati dunia. Inikah yang kalian sebut dengan keadilan? Padahal menurutku semua itu hanyalah pelampiasan ego yang diatasnamakan kebebasan. Bukankah demikian yang sebenarnya terjadi?” Dadaku terasa dihantam batu-batu karang dengan penuh keangkuhan. Kepalaku berputar terasa lebih cepat daripada sebelumnya. Idealismeku sebagai seorang feminis yang lama tertanam mulai terkoyak. Keningku telah basah oleh peluh. Bahkan desiran angin pantai tak mampu lagi menghilangkan peluh yang telah mendinginkan kening dan hatiku.
“Kau lihat penjaja ikan asin yang kutemui tadi.” Pandanganku mengikuti ekor matanya yang tertuju pada sosok perempuan yang sedang dikerumuni pembeli. “Ia telah lama tidak dinafkahi oleh suaminya. Suaminya pergi ke pulau seberang tanpa ada beritanya. Dialah yang harus menafkahi diri dan anak-anaknya. Tapi ia rela dan ikhlas menerima itu semua.” Lia menatapku sejenak. “Apakah ia telah mendapatkan keadilan sebagaimana yang kau inginkan?”
“Benar-benar laki-laki tidak pernah bertanggung jawab! Selalu ingin enaknya sendiri.” Pekikku geram. “Mereka itulah yang harus dibantu agar mendapatkan keadilan dan tidak tertindas oleh laki-laki. Masih beruntung seorang pelacur yang hanya melayani sesaat tapi ia langsung mendapatkan haknya.” Kalimatku meluncur begitu cepat berlomba dengan angin pantai yang berhembus.
“Di situlah tidak konsistennya kalian.” Kalimat Lia memaksa bola mataku menatap lekat kedua matanya.
“Kenapa?” Antara jengkel dan geram kucoba mencari jawaban atas tuduhan sinisnya.
“Kalian tidak obyektif dalam menilai sesuatu.” Lia menoleh kepada penjual ikan asin yang mulai melangkah pergi. “Perempuan itu memang ditelantarkan suaminya. Tapi ia tidak menganggap semua itu bentuk pemaksaan .
” Kunantikan kelanjutan kalimat Lia dengan kening berkerut. “Karena perempuan itu yakin ketika dia bisa ikhlas, maka keadilan yang sesungguhnya akan didapatnya. Keadilan dari Dzat Yang Maha Adil. Dan kini, keadilan itu telah didapatnya. Anak pertamanya telah menjadi seorang guru, dan anaknya yang kedua hampir menyelesaikan studinya di STAN. Di tengah kemelut hidup yang dialaminya, ternyata dia mampu berbuat adil pada anak-anaknya dengan memelihara dan menghidupi dengan cara yang bersih. Dia memilih menjadi penjual ikan asin meskipun harus berpanas-panas dan hidup dengan sederhana. Dia tidak memilih jalan pintas dengan menjadi pelacur seperti yang dilakukan oleh tetangga-tetangganya yang bernasib serupa. Kau tahu kenapa?” Aku hanya diam dengan pertanyaannya.
“Karena ia menilai bahwa seorang pelacur adalah salah satu sumber merebaknya ketidakadilan.” Aku semakin tidak percaya dengan keberanian Lia mengungkapkan analisis konyol dan tidak bermutu.
“Selama ini pandangan masyarakat tentang PSK adalah seputar kalimat amoral, aib, sampah masyarakat yang menurutku semua itu sangat tidak manusiawi. Tapi apa hubungannya antara pelacur dengan makna sebuah keadilan?”
“Ketika seseorang menjadi PSK, sesungguhnya ia telah berbuat tidak adil kepada anaknya, keluarganya, juga keluarga pelanggannya. Ia juga telah berbuat tidak adil pada masyarakatnya dan terutama kepada Tuhannya. Apalagi jika ternyata mereka hamil, tidak sedikit yang memilih menggugurkan kandungannya.”
“Tapi itu adalah hak mereka.” Jawabku ketus
“Tapi, anak mereka juga berhak untuk mendapat kehidupan yang halal, keluarganya maupun keluarga pelanggannya juga punya hak atas ketenangan hidup tanpa ada gangguan. Termasuk juga anak yang digugurkannya, ia punya hak untuk menikmati dunia. Inikah yang kalian sebut dengan keadilan? Padahal menurutku semua itu hanyalah pelampiasan ego yang diatasnamakan kebebasan. Bukankah demikian yang sebenarnya terjadi?” Dadaku terasa dihantam batu-batu karang dengan penuh keangkuhan. Kepalaku berputar terasa lebih cepat daripada sebelumnya. Idealismeku sebagai seorang feminis yang lama tertanam mulai terkoyak. Keningku telah basah oleh peluh. Bahkan desiran angin pantai tak mampu lagi menghilangkan peluh yang telah mendinginkan kening dan hatiku.
“Bukankah ia melakukan itu karena diperlakukan tidak adil
oleh laki-laki yang secara resmi berstatus sebagai suaminya.”
“Dena, kalau semua manusia yang diperlakukan tidak adil melampiaskan dendam semaunya tanpa mempedulikan apakah ia telah berbuat tidak adil pada orang lain. Betapa hancurnya dunia kalau demikian.”
“Dena, sesungguhnya ketika engkau menginginkan kebebasan dari laki-laki, aturan masyarakat, pemerintah, adat bahkan agama, saat itulah kau telah terpenjara oleh egomu. Jiwamu diperbudak oleh materi serta kepuasan ego yang tak berdasar. Semua manusia punya hak. Tapi dunia akan hancur ketika semua manusia merasa bebas melakukan apa saja atas nama HAM yang dimilikinya. Di situlah perlunya aturan nilai yang universal, agar hak seseorang tidak menyebabkan terampasnya hak orang lain.”
“Aku tak yakin ada aturan yang universal. Karena kondisi geografis dan kultur dari tiap masyarakat berbeda. Bahkan teori feminisku pun kadang antara satu tempat dengan tempat lain harus bertentangan.”
“Bahkan lebih dari yang kau bayangkan, Dena. Aturan universal itu akan membebaskan perempuan dari segala bentuk perbudakan. Dengan aturan itu seorang perempuan tidak akan lagi menjadi budak suami meskipun ia berstatus sebagai istri, ia juga tidak bisa diperbudak penguasa meskipun ia seorang rakyat biasa. Ia juga tidak akan menjadi budak materi walaupun ia adalah perempuan pekerja. Ia benar-benar akan menjadi perempuan merdeka di hadapan penguasa maupuan manusia biasa. Bahkan ia pun merdeka di hadapan egonya sendiri. Perempuan yang dengan kemerdekaannya tetap berusaha adil dengan setiap peran yang dimilikinya.”
“Dena, kalau semua manusia yang diperlakukan tidak adil melampiaskan dendam semaunya tanpa mempedulikan apakah ia telah berbuat tidak adil pada orang lain. Betapa hancurnya dunia kalau demikian.”
“Dena, sesungguhnya ketika engkau menginginkan kebebasan dari laki-laki, aturan masyarakat, pemerintah, adat bahkan agama, saat itulah kau telah terpenjara oleh egomu. Jiwamu diperbudak oleh materi serta kepuasan ego yang tak berdasar. Semua manusia punya hak. Tapi dunia akan hancur ketika semua manusia merasa bebas melakukan apa saja atas nama HAM yang dimilikinya. Di situlah perlunya aturan nilai yang universal, agar hak seseorang tidak menyebabkan terampasnya hak orang lain.”
“Aku tak yakin ada aturan yang universal. Karena kondisi geografis dan kultur dari tiap masyarakat berbeda. Bahkan teori feminisku pun kadang antara satu tempat dengan tempat lain harus bertentangan.”
“Bahkan lebih dari yang kau bayangkan, Dena. Aturan universal itu akan membebaskan perempuan dari segala bentuk perbudakan. Dengan aturan itu seorang perempuan tidak akan lagi menjadi budak suami meskipun ia berstatus sebagai istri, ia juga tidak bisa diperbudak penguasa meskipun ia seorang rakyat biasa. Ia juga tidak akan menjadi budak materi walaupun ia adalah perempuan pekerja. Ia benar-benar akan menjadi perempuan merdeka di hadapan penguasa maupuan manusia biasa. Bahkan ia pun merdeka di hadapan egonya sendiri. Perempuan yang dengan kemerdekaannya tetap berusaha adil dengan setiap peran yang dimilikinya.”
“Aku masih belum bisa mempercayainya.”
“Bukan salah Sang Pencipta ketika Ia menciptakan laki-laki dan perempuan. Adanya laki-laki dan perempuan adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah kehidupan. Cakrawala tercipta karena adanya langit dan bumi. Fajar yang indah ada karena adanya siang dan malam. Begitu pula dengan manusia, ia akan sangat bermanfaat jika antara mereka termasuk laki-laki dan perempuan bisa bekerjasama.” Kutatap mata bening itu dengan keraguan. Entah apa yang terjadi dengan otakku. Aku tak mampu berpikir lagi, bahkan tugas observasiku pun entah berada di otak sebelah mana.
Sebuah nada polyphonic membuat Lia siaga. “Maaf, aku harus pergi sekarang. Suamiku telah menunggu di parkiran. Jika ada kesulitan dengan observasimu, jangan sungkan untuk menemuiku di sini.” Tangan Lia memberikan sebuah kartu nama yang berlogo LSM yang dulu didirikannya.
“Terimakasih, mudah-mudahan saja kartu nama ini berguna.” Aku masih mencoba menunjukkan keangkuhan. Lia hanya tersenyum dan pamit. Angin pantai meninggalkan aku dalam kesendirian. Aku tidak tahu apakah ucapan Lia yang benar atau idealismeku yang rapuh. Suatu saat aku pasti menemukan jawabannya, entah kapan.
“Bukan salah Sang Pencipta ketika Ia menciptakan laki-laki dan perempuan. Adanya laki-laki dan perempuan adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah kehidupan. Cakrawala tercipta karena adanya langit dan bumi. Fajar yang indah ada karena adanya siang dan malam. Begitu pula dengan manusia, ia akan sangat bermanfaat jika antara mereka termasuk laki-laki dan perempuan bisa bekerjasama.” Kutatap mata bening itu dengan keraguan. Entah apa yang terjadi dengan otakku. Aku tak mampu berpikir lagi, bahkan tugas observasiku pun entah berada di otak sebelah mana.
Sebuah nada polyphonic membuat Lia siaga. “Maaf, aku harus pergi sekarang. Suamiku telah menunggu di parkiran. Jika ada kesulitan dengan observasimu, jangan sungkan untuk menemuiku di sini.” Tangan Lia memberikan sebuah kartu nama yang berlogo LSM yang dulu didirikannya.
“Terimakasih, mudah-mudahan saja kartu nama ini berguna.” Aku masih mencoba menunjukkan keangkuhan. Lia hanya tersenyum dan pamit. Angin pantai meninggalkan aku dalam kesendirian. Aku tidak tahu apakah ucapan Lia yang benar atau idealismeku yang rapuh. Suatu saat aku pasti menemukan jawabannya, entah kapan.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 5)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 2 X 40
menit ( 1 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran
radio
Kompetensi Dasar
1.2 Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog interaktif
pada tanyangan televisi/siaran radio
Tujuan Pembelajaran
Setelah disajikan tayangan TV/siaran radio, siswa dan siswi
dapat mengomentari pendapat narasumber dengan baik.
Materi Pembelajaran
Cara mengomentari pendapat dalam dialog
Metode Pembelajaran
1) Pemodelan
2) Tanya jawab
3) Konstruktivistik
4) Inkuiri
5) Penilaian autentik
Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke-1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Mencermati model tayangan/siaran dialog interaktif
4. Bertanya jawab
tentang isi dialog interaktif
|
Religius, ingin
tahu, kritis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mendengarkan rekaman atau tayangan/siaran
dialog interaktif dengan saksama
Mendata pendapat tiap-tiap narasumber
Bertanya jawab mengenai pendapat para narasumber
Mengomentari pendapat tiap-tiap narasumber dengan alasan yang
meyakinkan
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, kreatif, jujur, berpikir logis
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
VCD, TV, radio
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 42—45
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen/ Soal
|
Mampu mendata pendapat tiap-tiap narasumber
|
Tes
|
Tes Tulis
|
1) Tuliskan kembali pokok-pokok pikiran/pendapat
narasumber dalam dialog interaktif yang telah kamu saksikan/ dengarkan!
|
Mampu mengomentari pendapat narasumber dengan alasan yang
menyakinkan
|
Tes
|
Tes Tulis
|
2) Berilah komentar terhadap pendapat narasumber!
|
Rubrik Penilaian
Soal No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Pokok pikiran yang diungkapkan narasumber
|
1—4
|
40
|
a. sangat tepat
|
4
|
||
b. tepat
|
3
|
||
c. kurang tepat
|
2
|
||
d. tidak tepat
|
1
|
||
2.
|
Komentar terhadap pendapat narasumber
|
1—3
|
60
|
a. komentar disertai dengan alasan yang logis
|
3
|
||
b. komentar disertai dengan alasan yang tidak logis
|
2
|
||
c. komentar tidak disertai dengan alasan
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
7
|
100
|
|
Nilai Akhir soal no. 1 + 2 = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor
Maksimal} x bobot maksimal
Misal = {(4+3):7} x
100 = 100
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Sastra Berkembang Pesat, tetapi Kurang Diapresiasi
X : Bagaimanakah perkembangan Sastra Indonesiasekarang, Pak?
Y : Sastra Indonesia sebenarnya berkembangpesat dan cukup
menarik, tetapi kurang diapresiasi oleh anak
didik dan masyarakat.
Z : Hal ini terjadi karena dalam perjalanan sejarah sastra
Indonesia selama ini banyak pemanipulasian fakta dan data,dan seolah-olah
terpusat di Jakarta serta kota-kota besar lainnya.
X : Maksud, Bapak?
Z : Selama ini yang dimaksud sastra Indonesiaadalah yang ada
di Jakarta dan di kota-kota besar. Apalagi kebudayaan Indonesia didefinisikan
sebagai puncakpuncak kebudayaan daerah. Dengan ini,tentu saja yang bukan puncak
menjadi bukan sastra Indonesia. Ini sangat menyesatkan.
X : Jadi, sebenarnya apa yang ingin Bapak wujudkan dalam
perkembangan sastraini?
Z : Sastra justru sesungguhnya dapat memahami kebudayaan
daerah. Sastra menjadi ekspresi kultural, menjadi presentasi semangat etnis.
Jika anak didik diberikan pelajaran sejarah sastra Indonesia yang benar dan
apresiasi yang beragam, maka sastra dapat menjadi alat untuk demokratisasi,
belajar demokrasi.Anak didik diizinkan berbeda pendapat, saling berargumen.
Untuk kepentingan apresiasi, anak didik harus
tahu sastrawan dengan pencapaian-pencapaiannya, sehingga mereka akhirnya bebas
memilih karya siapa yang mereka sukai. Ini menjadi penting dan mudah-mudahan
menjadi harapan membangun Indonesia yang lebih baik.
X : Seberapa pentingnya apresiasi sastra di
kalangan anak
didik, Pak?
Y : Apresiasi sastra sangat penting di kalangan anak didik.
Namun, dalam apresiasi, jangan hanya karya
yang mudah dicerna, tetapi juga karya-karya yang sulit. Dalam sastra Indonesia
perlu
diperkenalkan
paradigma baru, tidak hanya paradigma Chairil Anwar dan Amir Hamzah.
X : Bagaimana caranya, Pak?
Y : Jika merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan sastra
Indonesia, para sastrawan yang masuk ke
sekolah-sekolah jangan hanya memperkenalkan karyanya sendiri atau kelompoknya,
tetapi juga
karya sastrawan
lain, yang tidak punya kesempatan diundang.
X : Lalu, apakah semua sastrawan dapat diterima oleh sejarah
Indonesia, Pak?
Y : Adapun untuk masuk dan disebut-sebut dalam sejarah
Indonesia, jelas tidak mungkin semua sastrawan masuk di dalamnya. Harus ada
kelas-kelasnya, dan jelas pencapaiannya atau prestasi karya sastranya, seperti
pencapaian baru dalam pengucapan. Juga pencapaian dalam bentuk penerimaan oleh
pembaca. Sastra itu juga sejarah, ada pencapaianpencapaian kemanusiaan.
(Sumber: Kompas, 16 Januari 2008, dengan pengubahan)
Setelah menyimak dialog tersebut, kalian dapat mengemukakan hal-hal
penting dalam dialog, kesimpulan isi dialog, serta informasi yang tersirat dari
dialog tersebut, sebagai berikut ini.
1. Beberapa hal penting yang perlu kalian catat dari dialog tersebut
adalah berikut.
a. Sastra Indonesia
sebenarnya berkembang pesat dan cukup menarik, tetapi kurang diapresiasi oleh anak didik dan masyarakat.
b. Perjalanan sejarah
sastra Indonesia selama ini banyak pemanipulasian fakta dan data, dan
seolah-olah terpusat di Jakarta serta kota-kota besar lainnya.
c. Sastra
sesungguhnya dapat memahami kebudayaan daerah. Sastra dapat menjadi ekspresi
kultural dan menjadi alat untuk belajar demokrasi.
d. Apresiasi sastra
sangat penting di kalangan anak didik.
e. Dalam sastra
Indonesia perlu diperkenalkan paradigma baru.
f. Sastra merupakan sejarah yang ada
pencapaian-pencapaian kemanusiaannya.
2. Kesimpulan dari isi dialog di atas dapat kalian kemukakan
sebagaimana berikut.
Sastra Indonesia sebenarnya berkembang pesat dan cukup
menarik. Namun, sastra Indonesia kurang diapresiasi oleh anak didik dan
masyarakat karena dalam perjalanannya banyak pemanipulasian fakta dan data.
Maka itu, perlu apresiasi sastra di kalangan anak didik dengan memperkenalkan paradigma
baru, karena sastra itu merupakan sejarah yang ada pencapaian-pencapaian
kemanusiaan.
3. Informasi yang tersirat dalam dialog tersebut adalah
ajakan untuk mencintai dan memajukan sastra Indonesia, baik di kalangan anak
didik, masyarakat, dan bahkan sastrawan itu sendiri.
Sumber: Dok. Penerbit
Komentar terhadap narasumber dalam dialog interaktif yang dapat
kalian ungkapkan berdasarkan dialog di atas adalah berikut.
Pendapat atau pernyataan yang dikemukakan oleh tokoh “Y” dan
tokoh “Z” saling mendukung. Keduanya mendukung adanya pengapresiasian sastra
oleh anak didik dan masyarakat. Tokoh “Y” menekankan pada manfaat sastra di
mata anak didik dan masyarakat. Adapun tokoh “Z” menekankan pada pencapaian
sastrawan yang berkaitan dengan kemajuan sastra Indonesia. Jadi, pada
prinsipnya tidak terjadi perbedaan
pendapat di antara kedua narasumber tersebut. Dalam dialog tersebut,
tokoh “X” memosisikan sebagai seorang penanya atau pewawancara yang sekaligus
memandu jalannya dialog tersebut.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 6)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40
menit ( 2 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
2. Mengungkapkan
pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan
Kompetensi Dasar
2.1 Mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk)
dengan bahasa yang lugas dan santun
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat
mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas
dan santun.
Materi Pembelajaran
Cara mengkritik karya dan implementasinya:
1. Memahami kriktik dan pujian terhadap karya seni
fotografi-satwa
2. Memahami kritik dan pujian terhadap karya seni
fotografi-alam
3. Mengkritik dan memuji karya seni
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Inkuiri
Tanya jawab
Konstruktivistik
e. Penilaian
autentik
Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke-1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang mengkritik dan memuji suatu karya
Mencermati contoh kritik atau pujian terhadap karya seni/produk
|
Religius, ingin
tahu, kritis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mengamati karya seni/produk
Berdasarkan hasil pengamatan, siswa dan siswi mendata
kekurangan dan keunggulan karya seni/produk
Mendiskusikan kekurangan dan keunggulan karya seni
Mengamati pemodelan dalam mengkritik dan memuji karya
seni/produk
Mendiskusikan kelugasan bahasa dan kesantunan pengungkapan
yang dilakukan oleh model
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, kreatif, jujur, berpikir logis, santun
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Memberi salam dilanjutkan dengan menanyakan kehadiran
siswa/siswi
Bertanya jawab tentang kelugasan dan kesantunan
pengungkapan dalam kritik atau pujian
|
Religius, ingin tahu, santun
|
|
Kegiatan Inti
Mengkritik dan memuji karya seni/produk dengan bahasa yang
lugas dan santun (=)
Menemukan karya seni atau produk dan memuji atau
mengkritiknya dengan bahasa yang lugas dan santun (*)
|
Menghargai karya, kritis, santun, jujur, kreatif
|
||
Penutup
1. Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
|
Ingin tahu, religius
|
Sumber Belajar
Karya seni/produk
Media cetak
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 1—6
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen/ Soal
|
Mampu menentukan kekurangan dan keunggulan karya
|
Observasi
|
Lembar observasi
|
1) Tentukan keunggulan dan kekurangan karya seni fotografi
satwa dan alam yang tersedia!
|
Mampu mengkritik dan memuji dengan bahasa yang lugas dan
santun (=)
|
2. Berilah kritik dan pujian terhadap karya seni tersebut!
|
||
Mampu menemukan karya seni atau produk dan mengkritik atau
memuji dengan bahasa yang lugas dan santun (*)
|
3) Carilah satu gambar atau foto yang bernilai seni di
media cetak, kemudian kritik dan pujilah dengan bahasa yang lugas dan santun!
|
Rubrik Penilaian untuk soal no. 2
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Kelugasan dan kesantunan kalimat kritik atau pujian
|
1
|
5
|
2.
|
Kritik atau pujian disertai dengan alasan pendukung
|
1
|
3
|
3.
|
Kekomunikatifan dan keefektifan bahasa yang digunakan
|
1
|
2
|
Skor dan bobot maksimal
|
3
|
10
|
|
Nilai Akhir soal 2 = (Perolehan Skor: Skor Maksimal) x bobot
maksimal
Misal = (3:3) x 10 =
10
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
A. Memuji dan Mengkritik Karya
Tujuan Pembelajaran:
Siswa diharapkan dapat mengkritik/memuji karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun.
Siswa diharapkan dapat mengkritik/memuji karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun.
Karya seni adalah ciptaan yang dapat menimbulkan rasa indah
bagi orang yang melihat, mendengar, atau merasakannya. Karya seni memang indah
untuk dinikmati. Karya seni tidak hanya terbatas pada karya sastra, tetapi juga
seni yang lain, seperti seni lukis, seni musik, dan seni ukir. Kamu tentu
pernah melihat salah satu produk seni tersebut.
Secara sadar atau tidak, ketika melihat suatu produk seni, misalnya lukisan, kamu akan melakukan penilaian meskipun sekadar mengatakan “Wah, lukisannya bagus” atau ”lukisannya kurang bagus”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Kritik yang baik adalah apabila disampaikan dengan kalimat yang tepat dan santun serta
bersifat membangun. Oleh karena itu, kita harus dapat memilih kata yang tepat sehingga tidak menyinggung perasaan. Kritik bersifat membangun adalah kritik yang dapat membantu untuk berkarya lebih baik atau menjadi lebih baik lagi setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan hasil karyanya.
Pujian merupakan pernyataan atau perkataan yang tulus akan kebaikan, kelebihan, atau keunggulan suatu hasil karya. Pada pembelajaran ini kamu akan berlatih untuk menyampaikan kritik dan pujian terhadap suatu karya. Sampaikan kritik dan pujian itu dengan wajar, dan tepat serta menggunakan bahasa yang lugas dan santun.
Secara sadar atau tidak, ketika melihat suatu produk seni, misalnya lukisan, kamu akan melakukan penilaian meskipun sekadar mengatakan “Wah, lukisannya bagus” atau ”lukisannya kurang bagus”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Kritik yang baik adalah apabila disampaikan dengan kalimat yang tepat dan santun serta
bersifat membangun. Oleh karena itu, kita harus dapat memilih kata yang tepat sehingga tidak menyinggung perasaan. Kritik bersifat membangun adalah kritik yang dapat membantu untuk berkarya lebih baik atau menjadi lebih baik lagi setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan hasil karyanya.
Pujian merupakan pernyataan atau perkataan yang tulus akan kebaikan, kelebihan, atau keunggulan suatu hasil karya. Pada pembelajaran ini kamu akan berlatih untuk menyampaikan kritik dan pujian terhadap suatu karya. Sampaikan kritik dan pujian itu dengan wajar, dan tepat serta menggunakan bahasa yang lugas dan santun.
Perhatikan karya seni di bawah ini.
Perhatikanlah contoh beberapa ungkapan pujian maupun kritikan
terhadap sebuah hasil karya seni berikut ini!
(Sumber: Dok. Penerbit)
.

Setelah mengamati lukisan tersebut dengan cermat, pasti kalian
akan mendapatkan kesan mengenai karya tersebut, baik kelebihan maupun
kekurangannya. Penilaian tentang kelebihan yang berupa pujian terhadap karya
tersebut dapat kalian ungkapkan
sebagaimana contoh berikut.
1. Lukisan pemandangan alam tersebut benar-benar bagus dan
menarik.
Benda-benda yang dilukiskan identik dengan benda-benda
aslinya di alam nyata. Meskipun lukisan tersebut dibuat berdasarkan imajinasi
pelukisnya mengenai pemandangan alam, tapi pemandangan alam yang dilukiskan
tersebut seolah-olah benar-benar ada dan bukan imajinasi.
2. Lukisan pemandangan alam ini memiliki nilai keindahan.
Bentuk benda-benda yang dilukiskan tidak beda dengan benda
dalam kehidupan nyata, meskipun benda-benda tersebut dilukis berdasarkan imajinasi
pelukisnya. Dapat dikatakan, seolah-olah lukisan pemandangan alam tersebut seperti
potret hitam putih dari alam yang sesungguhnya.
Penilaian kalian terhadap kekurangan yang ada dalam lukisan tersebut
harus kalian ungkapkan secara objektif. Contoh ungkapan penilaian mengenai
kekurangan dari karya tersebut adalah berikut.
1. Lukisan tersebut memang menarik, tetapi komposisi yang ditampilkan
terasa kurang lengkap. Lukisan itu didominasi unsur tumbuhan (pohon pinus dan
rerumputan), tetapi
unsur-unsur kehidupan yang lain seperti, binatang dan manusia
tidak ditampilkan. Hal inilah yang menyebabkan lukisan ini terkesan “kering”
atau “kurang lengkap”.
2. Tema lukisan semacam ini banyak kita jumpai di pasar seni.
Selain itu, lukisan semacam ini biasanya dibuat oleh pelukis-pelukis amatir.
3. Pengambilan sudut pandang pelukis seakan ingin menempatkan
sungai yang mengalir sebagai unsur yang paling penting dalam lukisan ini. Hal
ini belum tentu sesuai dengan maksud dan tujuan si pelukis. Perlu untuk diingat
bahwa kritik terhadap sebuah karya
sebaiknya bersifat membangun, tidak menjatuhkan, dan tidak sekadar
mengemukakan kekurangan yang ada. Kritik disampaikan dengan bahasa yang santun
dan komunikatif.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 7)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40
menit ( 2 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
7. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku
kumpulan cerita pendek (cerpen)
Kompetensi Dasar
7.1 Menemukan tema, latar,
dan penokohan, pada cerpen-cerpen dalam satu kumpulan cerpen
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat
menemukan tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku
kumpulan cerpen
Materi Pembelajaran
Cara menemukan unsur-unsur cerpen dan implementasikan:
Membaca dan membandingkan cerpen-cerpen
Menemukan unsur tema, latar, dan penokohan
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Inkuiri
Tanya jawab
Diskusi
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke- 1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
3. Siswa dan siswi
membaca cerpen model
Mendiskusikan atau bertanya jawab tentang tema, latar, dan
penokohan dalam cerpen
|
Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi membaca buku kumpulan cerpen setelah menentukan cerpen pilihannya
Berdiskusi untuk menentukan tema cerpen yang dipilih
Berdiskusi untuk menemukan latar cerpen yang dipilih
Berdiskusi untuk menentukan penokohan cerpen yang dipilih
Berdasarkan hasil diskusi, siswa dan siswi menyimpulkan
unsur cerpen
Melaporkan hasil diskusi
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, percaya diri
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan pemberian salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam dilanjutkan
berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang tema, alur, dan penokohan cerpen
yang dipilih
|
Religius, ingin tahu, disiplin, kritis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Menunjukkan keterkaitan antarunsur cerpen sebagai dasar
penafsiran makna cerpen secara utuh (=)
Memetik pelajaran untuk kehidupan sehari-hari dari
unsur-unsur dalam cerpen yang telah dipelajari (*)
|
Percaya diri, cinta ilmu
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama
dilanjutkan pemberian salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
G. Sumber Belajar
Buku kumpulan cerpen
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 107—117
Anindyarini, Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/
MTs kelas IX. Jakarta; Pusat Pembukuan Depdiknas. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
H. Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menyimpulkan tema cerpen
|
Nontes
|
Penugasan/ tugas proyek
|
Bacalah buku kumpulan cerpen! Pilihlah sekurang-kurangnya
dua cerpen kemudian:
1. simpulkan tema cerpen!
|
Mampu menemukan latar cerpen dengan bukti faktual/tekstual
|
Nontes
|
Penugasan/ tugas proyek
|
2. Temukan latar cerpen dengan bukti faktual/ tekstual!
|
Mampu menemukan karakter tokoh cerpen dengan bukti yang meyakinkan (tekstual
langsung/taklangsung) (=)
|
Nontes
|
Penugasan/ tugas proyek
|
3. Temukan karakter tokoh cerpen dengan bukti yang
meyakinkan (tekstual langsung/ tak langsung)
|
Mampu merefleksikan tema, latar, dan karakterisasi cerpen
dengan kehidupan sehari-hari (*)
|
Nontes
|
Penugasan/ tugas proyek
|
4. Tulislah hal-hal yang dapat kamu pelajari berkaitan
dengan tema, latar, dan penokohan dalam cerpen-cerpen tersebut!
|
Rubrik Penilaian untuk soal no. 1, 2, dan 3
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Tema
|
1-3
|
6
|
a. diungkapkan dengan jelas dan mudah dipahami
|
3
|
||
b. diungkapkan dengan kurang jelas sehingga sukar dipahami
|
2
|
||
c. tidak diungkapkan dengan jelas dan sukar dipahami
|
1
|
||
2.
|
Latar
|
1-4
|
4
|
a. ada unsur waktu, tempat, dan suasana dengan dukungan
tekstual
|
4
|
||
b. ada unsur waktu, tempat, dan suasana tidak ada dukungan
tekstual
|
3
|
||
c. unsur waktu, tempat, dan suasana tidak lengkap dengan
dukungan tekstual
|
2
|
||
d. unsur waktu, tempat, dan suasana tidak lengkap dan
tidak ada dukungan tekstual
|
1
|
||
3.
|
Penokohan
|
1-3
|
4
|
a. diuraikan secara lengkap dengan dukungan tekstual
|
3
|
||
b. diuraikan secara lengkap tidak dengan dukungan tekstual
|
2
|
||
c. tidak diuraikan secara lengkap dan tanpa dukungan
tekstual
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
10
|
10
|
|
Nilai Akhir soal 1 = {(Perolehan Skor A+B+C): Skor Maksimal}
x bobot maksimal
Misal = {(3+4+3):10}
x 10 = 10
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru Mata
Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Bacalah dua cerpen yang dikutip dari kumpulan cerpen “Buah
Keikhlasan” karya Achmad Sapari berikut!
Cerpen 1
Sebatang Kara
Tanah di pekuburan umum itu masih basah ketika para
pentakziah sudah pulang. Sementara Ogal
masih duduk sambil sesekali menyeka air matanya. Ibu yang selama ini paling dia
hormati dan cintai, tadi malam telah meninggal dunia, menghadap Tuhan Yang Maha
Esa. Burung-burung camar terbang rendah dan sesekali mencelupkan paruhnya di
air laut. Bu Tutik dan suaminya masih berdiri di belakang sambil menunggu Ogal.
Kedua orang tua asuh itu sangat setia kepada Ogal.
“Rasanya saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Bu,”
tiba-tiba Ogal berkata dengan suara agak berat. Bu Tutik memegang lengan Ogal
sambil mengelus rambutnya. “Jangan berkata begitu, anakku. Kami akan menjadi
orang tuamu sampai kapan pun.”
“Sampai saya mandiri?” desak Ogal.
“Sampai kapan pun. Aku tidak akan membatasi kamu, sebab pada
hakikatnya engkau adalah anakku juga.”
“Maksud Ibu?” Ogal tidak mengerti.
“Ya, rupanya engkau ditakdirkan untuk aku asuh dan menjadi
anak kami. Tetapi kami bertekad untuk menjadi orang tuamu, bukan sekedar orang
tua asuh.”
Ogal memeluk Bu Tutik. Air mata di pipinya tak
henti-hentinya mengalir sehingga membasahi bajunya. Sementara suami Bu Tutik
turut berduka atas kematian Bu Arpati. Sebenarnya Ogal masih ragu-ragu,
apakah dia akan ikut Bu Tutik atau bertahan hidup dengan
mandiri. Jika dia ikut Bu Tutik, tentu tidak dapat bekerja seperti ketika ia masih
hidup bersama ibunya. Hal itu menjadikannya manja. Tetapi jika menolak kebaikan
Bu Tutik, terasa tidak enak. Pengorbanan Ibu Guru itu sudah sedemikian besarnya.
Dari pengalaman hidupnya selama ini, banyak hal yang dapat
Ogal petik. Ia biasa bekerja keras, tidak suka menggantungkan pada orang lain.
Ia juga biasa hidup prihatin sehingga tidak suka berfoya-foya.
“Bolehkah saya menjajakan kue lagi, Bu?” pinta Ogal kepada
Bu Tutik.
“Buat apa, Ogal?”
“Agar saya tetap bisa bekerja.”
“Kurasa tidak perlu, Ogal. Pusatkan perhatianmu untuk belajar. Sebentar lagi engkau
akan ujian.”
“Tapi, saya tidak enak kalau menganggur, Bu!”
“Di rumahku engkau tidak mungkin menganggur. Engkau bisa
belajar menggunakan komputer, mengetik, nonton TV, dan memelihara kebun.”
“Tapi, saya akan tidak bekerja, Bu!”
“Pada hakikatnya engkau bekerja juga. Memelihara kebun atau
membantuku di rumah juga bekerja.”
“Jadi, tidak harus menjajakan kue, Bu?”
Bu Tutik mengangguk.
“Kalau begitu, tolong carikan pekerjaan yang bisa saya
lakukan.”
Bu Tutik tersenyum. “Jangan khawatir.”
Bu Tutik ternyata dapat memenuhi harapan Ogal. Banyak
pekerjaan yang dapat dilakukan Ogal. Misalnya, memelihara kebun mangga,
mencatat keluar masuknya barang,dan sebagainya.
Kali ini Ogal tidak kalah sibuknya dengan sewaktu berada di
desa nelayan. Bahkan mungkin boleh dikatakan sangat sibuk.Pekerjaan di rumah Bu
Tutik tidak hanya satu,melainkan sangat banyak. Walaupun begitu, Bu Tutik tidak
pernah memaksa Ogal untuk bekerja. Semua itu hanya semata-mata
menuruti keinginan Ogal.
(Buah Keikhlasan, 1997)
Cerpen 2
Musibah
Kemakmuran di desa nelayan itu tidak selamanya abadi. Ada
saatnya naik dan ada saatnya pula turun bak gelombang pasang yang datang. Sudah
dua bulan terakhir angin kencang selalu melanda desa itu. Jika sudah demikian, tidak
seorang nelayan pun berani mencari ikan menggunakan perahu, bahkan dengan
perahu motor pun tidak berani. Pak Bakri, yang dikenal sebagai nelayan terkaya
di desa itu juga menderita akibat datangnya angin kencang selama dua bulan berturut-turut.
Sebagai juragan nelayan, ia merasa kehilangan pendapatan. Apalagi setelah
datangnya penyakit yang misterius menyerang sebagian besar penduduk. Bu Bakri sudah
dua minggu tidak bisa turun dari
tempat tidurnya. Tubuhnya terasa kaku, seakan-akan mati. Pak
Bakri telah menjual dua perahu
motornya. Jika tidak, mana mungkin ia bisa membayar utangnya
pada bank. Padahal sudah waktunya ia harus membayar cicilan utangnya. Belum
lagi biaya pengobatan ke dokter dan ke dukun akibat penyakit yang diderita Bu
Bakri. Pada saat itu Pak Bakri mulai merasakan betapa besarnya kesalahan yang
telah diperbuatnya kepada penduduk. Ia yang selama ini suka mencela dan
melecehkan
penduduk yang miskin, merasa berdosa.
Manol yang selama ini dimanjakan, terasa tidak lagi
dipedulikan. Kesusahan keluarga itu terasa sangat menyiksanya.Penduduk di desa
nelayan itu benar-benar berada dalam keadaan tidak berdaya.
Kebiasaan mereka membeli barang elektronika saat musim panen
ikan, kini barang itu dijualnya. Radio, televisi, video, dan sebagainya, dijual
agar mereka dapat mempertahankan hidupnya. Bukan cuma itu, lemari, kursi, dan
perhiasan yang dipakainya juga dijual. Orang-orang yang berada di sekitar desa nelayan
itu juga turut merasakan penderitaan.Mereka yang membuka warung, toko, atau apa
saja tidak laku. Pembelinya tidak ada. Utang-utang para nelayan itu menunggak sampai
batas waktu yang belum diketahui.
....
Tiba-tiba angin bertiup perlahan-lahan. Deburan ombak pun
mulai berkurang. Sementara wajah-wajah nelayan menatap ke langit dengan penuh
harap. Mereka mulai merasakan betapa musibah ini merupakan ujian yang terberat
yang pernah mereka alami. Betapa tidak, selama puluhan tahun belum
pernah mereka mengalami musibah seperti ini. Kalaupun ada
angin, paling lama Cuma tiga hari. Itu pun rasanya sangat meresahkan. Selama
ini mereka harus beristirahat total selama dua bulan.
(Buah Keikhlasan, 1997)
Setelah membaca kedua cerpen di atas, kalian dapat menentukan
tema, latar, serta penokohan dalam cerpen. Tema, latar, dan penokohan
masing-masing cerpen tersebut dapat kalian tuliskan sebagaimana contoh berikut.
1. Tema
a. “Sebatang Kara” bertema mengenai keteguhan hati seorang
anak yatim piatu yang tidak ingin bergantung kepada orang lain. Tema tersebut
memiliki subtema mengenai kebaikan hati seseorang.
b. “Musibah” bertema mengenai perputaran kehidupan atau
keadaan yang sewaktu-waktu dapat berubah. Tema tersebut memiliki subtema
kesadaran atau penyesalan seseorang yang muncul karena adanya musibah.
2. Latar
a. “Sebatang Kara” meliputi:
1) Latar tempat: tanah pemakaman, rumah Bu Tutik.
2) Latar suasana: kesedihan, ketegaran dan keteguhan, serta
kesibukan.
3) Latar waktu: saat di pemakaman, saat di rumah Bu Tutik.
b. “Musibah” meliputi:
1) Latar tempat: kampung nelayan dan rumah Pak Bakri.
2) Latar suasana: keadaan yang susah atau sedih di suatu
daerah karena adanya musibah dan penyakit; penyesalan.
3) Latar waktu: pada suatu hari saat terjadi musibah di
kampung nelayan.
3. Penokohan
a. “Sebatang Kara” tokohnya:
– Ogal = Tegar dan bersemangat mandiri.
– Bu Tutik = Baik hati.
b. “Musibah” tokohnya:
– Pak Bakri = Pencela yang kemudian sadar.
– Bu Bakri = Tidak terungkap jelas.
– Manol = Manja.
– Penduduk = Pemboros.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 8)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40
menit ( 2 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
6.Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk lain
Kompetensi Dasar
6.1
Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca cerpen, siswa dan siswi dapat menceritakan
kembali isi cerpen secara lisan dengan baik.
Materi Pembelajaran
Penceritaan cerpen
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Inkuiri
Diskusi
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mengamati contoh/model penceritaan kembali cerpen
Mendiskusikan atau bertanya jawab tentang alur cerita dari contoh/
model
|
Religius, disiplin, kritis, demokratis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi memilih cerpen yang disukai
Setelah memilih cerpen siswa dan siswi membacanya dengan
cermat
Mendiskusikan bagian-bagian alur
Mendiskusikan isi cerita
yang merupakan bagian alur
|
Ingin tahu, kritis, demokratis
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke -2
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab isi cerita yang merupakan baian alur
|
Religius, ingin tahu disiplin
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi secara bergiliran menceritakan kembali
secara lisan isi cerpen sesuai
dengan alur aslinya
Menilai dan menanggapi penceritaan kembali cerpen
|
Percaya diri, menghargai pretasi orang lain
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
Buku kumpulan cerpen
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 118
c. Anindyarini,
Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat
Pembukuan Depdiknas. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Menentukan bagian-bagian cerita dengan panduan tahap-tahap
dalam alur
|
Tes
|
Tes Tulis
|
Tentukan bagian-bagian cerpen dengan panduan tahap-tahap
dalam alu!
|
Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai dengan
alur aslinya
|
Tes
|
Unjuk Kerja Produk
|
Ceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai dengan
alur cerpen aslinya!
|
Rubrik Penilaian untuk
soal no. 2
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
A.
|
Kesesuaian isi cerita dengan isi cerpen
|
1-4
|
4
|
a. sangat sesuai
|
4
|
||
b. sesuai
|
3
|
||
c. kurang sesuai
|
2
|
||
d. tidak sesuai
|
1
|
||
B.
|
Keruntutan cerita (sesuai dengan alur aslinya)
|
1-4
|
4
|
a. sangat runtut
|
4
|
||
b. runtut
|
3
|
||
c. kurang runtut
|
2
|
||
d. tidak runtut
|
1
|
||
C.
|
Kelancaran cerita
|
1-4
|
1
|
a. sangat lancar
|
4
|
||
b. lancar
|
3
|
||
c. kurang lancar
|
2
|
||
d. tidak lancar
|
1
|
||
D.
|
Ketepatan dan kejelasan lafal dan intonasi
|
1-4
|
1
|
a. sangat tepat dan jelas
|
4
|
||
b. tepat dan jelas
|
3
|
||
c. kurang tepat dan kurang jelas
|
2
|
||
d. tidak tepat dan tidak jelas
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
16
|
10
|
|
Nilai Akhir soal 1 = {(Perolehan Skor A+B+C+D): Skor
Maksimal} x bobot maksimal
Misal = {(4+4+1+1):10}
x 10 = 10
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
-Tahap-tahap alur: 1. pembeberan
awal/ pengenalan masalah
2. penggawatan/ komplikasi
3. Klimaks atau puncak kegawatan
4.
peleraian atau anti klimaks
5.
penyelesaian atau kongklusi
Cerpen: Hand Phone Ayah
Oleh: Hadi Pranoto
Siang itu,
ayah mengajak Adam ke toko sepatu. Sepatu Adam memang sudah sempit dan tak
nyaman lagi untuk dipakai. Namun karena ayah Adam baru punya uang lebih, maka
baru hari ini permintaannya dikabulkan.
Adam dan ayahnya
naik bus patas AC jurusanBlok M. Ongkosnya lumayan mahal, pikir Adam. Dan
karena hari itu hari Minggu, banyak bangku kosong yang tersedia.
“Di sini
saja, Yah,” kata Adam sambil menarik lengan ayahnya. Mereka duduk di barisan
ketiga dari bangku sopir. Sebelum duduk ayah Adam memindahkan hand phone yang
ada di sakunya ke sarung di pinggangnya supaya tidak mengganggu duduknya.
“Setiap
hari Ayah naik bus ini,ya, ke kantor?” tanya Adam.
“Tiap hari?
Bisa-bisa kamu tidak pakai sepatu ke sekolah,” jawab Ayah meledek.
“Tarifnya
kan, mahal. Lebih baik ayah naik bus biasa dan sisanya bisa ditabung buat
keperluan sekolahmu,” jawab ayah.
Adam
terdiammendengar jawaban ayahnya. Dalam hati ia terharu sekaligus bangga.
Karena ayah rela setiap hari, berbulan-bulan berdesak-desakan, kepanasan, dan
membanting tulang demi kepentingan keluarganya. Sementara Adam sendiri, baru
sebulan pakai sepatu kesempitan sudah mengeluh setiap hari.
Bus melaju
kencang dan keluar dari tol Komdak. Di halte Komdak, banyak penumpang yang
turun dan banyak pula yang naik. Tiba-tiba naik juga 3 orang pria. Salah
satunya duduk di sisi ayah.
“Permisi,
Pak,” kata pria itu ramah.
“Silakan!”
jawab ayah sambil sambil menggeser tempat duduknya.
Pria yang
berpakaian rapi itu pun duduk di samping ayah. Sementara kedua temannya duduk
di bangku di sebelahnya.
Adam mulai
curiga melihat gerak-gerik mereka. Apalagi orang yang di sebelah ayah selalu
melirik ke arah hand phone ayah. Dan tiba-tiba orang itu pindah tempat ke depan
bangku teman-temannya. Ayah Adam kemudian bergeser ke posisinya semula,
sehingga tempat duduk mereka kembali lega.
Namun pada
waktu bergeser ayah Adam merasa ada sesuatu yang ganjil. Ia meraba pinggangnya.
Betapa terkejutnya ia ketika hand phone-nya sudah tidak terselip di
pinggangnya.
“Wah! Hand
phone ayah hilang, Dam!” seru ayah sambil bangkit berdiri. Ia lalu memeriksa
jok kursi, kalau-kalau hand phone-nya terjatuh. Adam juga sibuk mencari, bahkan
memeriksa kolong-kolong bangku.
“Pasti ada
yang mencuri,” ujar ayah.
Penumpang
lain menoleh ke arah mereka, mendengar rebut-ribut di dalam bus.
“Ada apa,
Pak?” tanya kondektur bus.
“Hand phone
saya hilang. Tolong berhenti di halte itu,” kata ayah Adam sambil menunjuk
halte di perempatan jalan. Kebetulan di halte itu ada polisi yang sedang
mengatur lalu lintas.
Lalu ayah
maju ke depan, “Mohon jangan ada yang turun dulu. Yang turun berarti itu
pencurinya,” kata ayah dengan suara lantang.
“Oh, tidak
bisa begitu, dong! Dari mana Bapak tahu kalau yang mengambil ada di bus?”
protes orang yang tadi duduk di samping ayah. Teman-temannya mengiyakan.
“Benar!
Mana buktinya? Pokoknya kami mau turun di sini,” kata teman orang itu lagi
dengan suara keras dan agak mengancam.
“Tidak
bisa! Pokoknya yang turun akan saya laporkan ke polisi, “tantang ayah berani.
Akhirnya ketiga orang itu diam. Kini giliran ayah Adam yang bingung. Bagaimana
cara mencari
hand phone-nya? Ini seperti mencari jarum dalam tumpukan
jerami. Tiba-tiba Adam mendapat ide. Ia membisiki ayahnya.
“Eemm …”
ayah mengangguk mengerti. “Maaf, Pak. Bisa pinjam hand phone-nya sebentar?”
kata ayah pada seorang bapak yang kelihatan membawa hand phone di saku
kemejanya.
“Silakan … “ jawab bapak itu.
Ayah lalu
memencet tombol-tombol nomor hand phone-nya. Dan tiba-tiba terdengar suara
benda dijatuhkan. “Bruuuuu!” Setelah ayah selesai memanggil nomor hand
phone-nya terdengarlah bunyi hand phone ayah.
“Itu dia
bunyi hand phone ayah, Yah!” teriak Adam girang.
Ayah Adam
dibantu kondektur bus itu, lalu menyusuri asal suara itu. Ternyata hand phone
itu ada di kolong bangku yang kosong. Buru-buru ayah Adam memungutnya.
“Alhamdulillah
… rupanya hand phone ini masih rezekiku,” kata ayah bersyukur. Hanya ada
sedikit goresan di hand phone itu.
Bus kembali
berjalan. Ayah dan Adam kembali duduk, namun kali ini tepat di belakang sopir.
Baru beberapa menit bus berjalan,”Kiri-kiri …, Bang!” kata pria yang tadi duduk
di sebelah Adam. Bus berhenti. Ketiga orang itu buru-buru turun dari pintu
belakang.
“Aman!”
kata kondektur bus itu.
“Lo, kok
aman. Memangnya kenapa, Pak?” tanya ayah heran.
“Tiga orang
itu sudah sering naik turun bus ini. Setiap kali mereka naik pasti ada
penumpang yang kehilangan barang. Dompet atau hand phone,” ujar kondektur bus
itu.
“Padahal
penampilan mereka rapi, seperti orang berduit,” sahut bapak yang tadi
meminjamkan hand phone-nya.
“Yah,
melihat orang jangan dari penampilan luarnya,” sambung ibu di sebelahnya.
“O … ya,
terima kasih, Pak, atas pinjaman hand
phone-nya,” kata ayah sambil menjabat tangan bapak itu.
“Ah, sesama
penumpang kita memang harus saling tolong-menolong,” jawab bapak itu. “Tapi
sebenarnya yang paling berjasa, ya adik itu,” kata bapak itu lagi sambil
menunjuk ke Adam.
“Iya, nih!
Rupanya adik ini berbakat jadi detektif,” sambung kondektur, yang tahu ide
untuk mencari hand phone itu berasal dari Adam.
“Oh, iya.
Terima kasih, ya, Dam, “ kata ayah Adam sambil menepuk pundak Adam yang
tersipu-sipu. Namun Adam lalu buru-buru mencolek lengan ayahnya.
“Yah, beli
sepatu sekalian tas, ya. Tas adam juga sudah sobek,” bisik Adam setengah
menggoda ayahnya.
Ayah
tersenyum geli, “uu, mencari kesempatan dalam kesempitan!”
(Sumber:
Tamasya ke Masa Silam, 2006 dengan pengbahan)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 9)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 2 X 40
menit (1 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan
membaca memindai
Kompetensi Dasar
Menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat
dari indeks buku melalui kegiatan membaca memindai
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat
menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku
melalui kegiatan membaca memindai
Materi Pembelajaran
Cara menemukan informasi secara cepat dan implementasinya:
Mengenal dan memahami buku berindeks
Membaca memindai buku berindeks dan menemukan infromasi yang
terdapat di dalamnya
Memanfaatkan indeks
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Tanya jawab
Inkuiri
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mengamati contoh indeks dari buku berindeks
Bertanya jawab tentang indeks dan manfaatnya l
|
Religius, disiplin, kritis, demokratis
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi membaca sekilas sebuah buku yang berindeks
Membaca indeks buku
yang dibaca
Bertanya jawab secara kelompok untuk menemukan kata dalam
buku yang dirujuk dalam indeks secara cepat dan tepat
Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari kata-kata
yang dirujuk dalam indeks (=)
Memanfaatkan indeks dalam buku untuk keperluan belajar (*)
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, cinta ilmu
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
Buku Berindeks
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 17 – 20
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menemukan kata dalam buku yang dirujuk dalam indeks
|
Observasi
|
Lembar observasi
|
1) Temukanlah secara cepat dan tepat informasi tentang
kata/istilah/nama tokoh dalam indeks buku!
|
Mampu menemukan informasi dengan panduan indeks (=)
|
Tes
|
Tes tulis
|
2) Tulislah
informasi yang telah kamu temukan tersebut!
|
Mampu memanfaatkan indeks dalam buku untuk keperluan
sehari-hari (belajar) (*)
|
Tes
|
Tes tulis
|
3) Bacalah buku,
kemudian tulislah lima indeks beserta informasinya!
|
Rubrik Penilaian soal no. 1
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Ketepatan menemukan informasi
|
1—4
|
50
|
a. sangat tepat
|
4
|
||
b. tepat
|
3
|
||
c. kurang tepat
|
2
|
||
d. tidak tepat
|
1
|
||
2.
|
Kecepatan menemukan informasi
|
1—4
|
50
|
a. sangat cepat
|
4
|
||
b. cepat
|
3
|
||
c. kurang cepat
|
2
|
||
d. lambat
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
8
|
100
|
|
Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x
bobot maksimal
Misal = {(4+4):8} x
100 = 100
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, indeks diartikan daftar
kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan (biasanya pada
bagian akhir buku) tersusun menurut abjad yang memberikan informasi mengenai
halaman tempat kata atau istilah
itu ditemukan (2002: 429). Daftar indeks ini akan sangat
berguna bagi pembaca untuk mencari informasi suatu hal secara cepat dan sistematis.
Dengan membuka halaman indeks, kita dapat langsung menemukan subjek yang kita
cari berikut dengan halamannya.
Contoh indeks
Bioma [lingkungan]
Chapparal 4:94
Ekologi [Biofer, Ekosfer, dan bagianbagiannya]
5:28
Taiga 16:489
Bioma Taiga [lingkungan] 3:387
Rantai Makanan 14:96
Biomassa [lingkungan] 3:388
Alang-alang 1:244
Bahan Bakar 3:45
Biogas 3:379
Biomekanika [biologi] 3:388
(Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997)
Berdasarkan daftar indeks di atas dapat kalian simpulkan
bahwa jika hendak mencari informasi mengenai biomassa, maka kalian harus
membuka buku ensiklopedia jilid 3 pada halaman 388. Kalian pasti akan menemukan
informasi mengenai biomassa.
Informasi yang akan kalian dapatkan pada halaman 388
mengenai biomassa, yaitu berikut.
BIOMASSA secara harfiah berarti massa atau bobot total semua
organisme dalam satu daerah. Dilihat dari segi ekologis, tumbuhan yang
mensintesis karbohidrat dari karbon
dioksida dan air, dan untuk itu menyerap cahaya matahari,
disebut produsen. Boleh dikatakan semua organisme (makhluk) lainnya bersifat
konsumen. Konsumen tingkat I ialah herbivora (hewan pemakan tumbuhan) yang
memakan produsen tersebut,
sedangkan karnivora (hewan pemakan daging) adalah konsumen
tingkat
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 10)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 6 X 40
menit (3 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi,
dan karangan
Kompetensi Dasar
Meresensi buku pengetahuan
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat meresensi buku pengetahuan
dengan sempurna
Materi Pembelajaran
Cara meresensi buku pengetahtuan dan implementasinya:
Mendiskusikan contoh resensi
Membaca buku pengetahuan, meresensi, dan mempublikasikannya
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Tanya jawab
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Siswa dan siswi mengamati contoh resensi buku pengetahuan
Bertanya jawab tentang resensi buku pengetahuan
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi menentukan buku pengetahuan yang akan
dibaca
Mencermati dan membaca buku pengetahuan
Mengidentifikasi
bentuk fisik dan isi buku pengetahuan
Mendata identitas buku pengetahuan sebagai bahan resensi
|
Ingin tahu, kritis, cinta ilmu
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berdiskusi tentang identitas fisik dan isi buku pengetahuan
|
Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
|
10’
|
Kegiatan inti
Siswa dan siswi berdiskusi untuk menentukan kelebihan dan kekurangan buku
Siswa dan siswi menyusun rangkuman isi buku
Menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan terhadap
buku
|
ngin tahu, demokratis, kritis, kreatif, menghargai karya
orang lain, mandiri
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke- 3
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Klarifikasi pendapat pribadi tentang kelehaman dan
keunggulan buku dengan teman sejawat/guru
|
Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis, menghargai
karya orang lain
|
10’
|
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi meresensi buku pengetahuan (=)
Siswa dan siswi menyunting resensi buku (*)
|
Ingin tahu, kritis, menghargai karya,mandiri, jujur
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
Buku Berindeks
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 21 – 25
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu mengidentifikasi bentuk fisik dan isi buku serta
menunjukkan kelebihan serta kekurangannya
|
Penugas-an
|
Tugas proyek/ portopolio
|
Identifikasilah bentuk fisik dan isi buku serta tunjukkan
kelebihan serta kekurangannya
|
Mampu merangkum isi buku
|
Buatlah rangkuman isi buku!
|
||
Mampu menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atas
isi buku
|
Tulislah pendapat pribadimu sebagai tanggapan terhadap isi
buku!
|
||
Mampu meresensi buku pengetahuan (=)
|
Penugas-an
|
Tugas proyek/ portopolio
|
Bacalah buku-buku pengetahuan, kemudian tentukanlah satu
buku untuk diresensi dengan memperhatikan langkah-langkah penulisan resensi
buku!
|
Mampu menyunting resensi (*)
|
Suntinglah resensi yang telah kamu buat!
|
Rubrik Tugas Proyek/Porttofolio
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Identitas buku
|
(6)
|
10
|
a. Judul Buku
|
1
|
||
b. Penulis
|
1
|
||
c. Penerbit
|
1
|
||
d. Cetakan/Tahun terbit
|
1
|
||
e. Tebal Buku/Ukuran Buku
|
1
|
||
2.
|
Judul Resensi
|
(1)
|
10
|
3.
|
Isi resensi, meliputi:
|
(3)
|
80
|
a. ringkasan (sinopsis)
|
1
|
||
b. keunggulan dan kelemahan buku
|
1
|
||
c. saran kepada pembaca
|
1
|
||
d. bahasa komunikatif dan efektif
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
10
|
100
|
|
Nilai Akhir =
{(Perolehan Skor no 1+2+3): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal = {(6+1+3):10}
x 100 = 100
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Beberapa hal penting dalam menulis
resensi buku adalah (1) identitas buku, yakni: judul buku,
pengarang, penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman; (2) gambaran pokokpokok isi
buku; (3) keunggulan dan kekurangan buku; (4) penggunaan bahasa penyajian dan
manfaat buku yang diresensi secara umum;
(5) tulisan resensi
biasanya dilengkapi dengan fotokopi kulit luar (kover) buku tersebut.
Dalam menulis resensi sebuah buku, kalian dapat memerhatikan
langkah-langkah berikut.
1. Membaca buku yang akan diresensi secara utuh dan
menyeluruh
2. Mengidentifikasi bentuk fisik dan isi buku.
3. Menunjukkan kelebihan serta kekurangan buku dan isi buku.
4. Merangkum isi buku.
5. Menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atas isi
buku.
6. Meresensi buku.
7. Menyunting resensi.
Berdasarkan langkah-langkah di atas, kalian dapat menulis sebuah
resensi buku. Sebagai contoh adalah resensi buku berjudul “Agar
Menulis-Mengarang Bisa Gampang” karya Andrias Harefa.
Proses atau tahapan meresensi buku berjudul Agar
Menulis-Mengarang Bisa Gampang dapat kalian simak dalam uraianberikut. Sebagai
tahap awal dalam meresensi buku diperlukanpendataan mengenai buku yang akan
kalian resensi. Dalam prosespendataan berdasarkan resensi di atas, kalian dapat
menuliskandata yang terdapat dalam buku tersebut, yaitu berikut.
Judul : Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang
Pengarang : Andrias Harefa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2002
Halaman : i-xi + 103 halaman
Data tersebut masih dapat kalian tambahkan, misalnya meliputi
keterangan gambar, jumlah bab, penggunaan bahasa, harga buku, dan sebagainya. Berkaitan
dengan ikhtisar dari isi buku di atas, kalian dapat mengemukakan ikhtisar
tersebut sebagaimana berikut.
“Aktivitas menulis sering kali dikaitkan dengan bakat
seseorang. Padahal, tidakselamanya bakat dapat membuat aktivitastulis-menulis
menjadi selancar dan semudahyang kita bayangkan. Berulang kali para pakar menyatakan
bahwa menulis merupakan pelajaran dasar yang sudah kita dapatkan
semenjak duduk di bangku sekolah dasar bahkan di taman
kanak-kanak. Dengan kata lain, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar.
Namun, sering kali ketika kita hendakmenuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan,
sesuatu yang bernama “bakat” selalu menjadi semacam “kambing hitam” yang harus
siap dipersalahkan.Mengarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, juga bukan
merupakan hal yang sulit jika ada komitmen, janji pada diri sendiri tentu saja,
jika komitmen itu diniati untuk benar-benar ditepati. Komitmen, inilah satu
lagi kata kunci agar proses menulis dan
mengarang menjadi mudah. Komitmen tersebut adalah janji pada
diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis. Jadi, menulis itu bukan perlu
bakat, sebab bakat tidak lebih dari “minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang”.
Jadi, jika “bakat” bermakna demikian, maka segala sesuatu memerlukan bakat,
tidak cuma dalam soal tulis-menulis.Masalahnya kemudian, bagaimana agar
ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang lama?
Jawabnya “komitmen pada diri sendiri.”
Beberapa kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam buku
tersebut, dapat kalian simpulkan sebagaimana berikut.
Kelebihan
1. Materi yang terkandung memberikan semangat pada pembaca
untuk berkarya, yaitu mengarang atau menulis.
2. Mampu menyajikan ide-ide kreatif dan motivasi dalam proses
belajar mengarang.
3. Secara fisik, penampilan buku menarik dengan kualitas bahan
yang cukup bagus.
Kekurangan
1. Secara implisit buku tersebut ditulis secara asal atau “sekenanya”.
2. Buku tersebut terkesan “mahal”.
Berkaitan tentang pendapat atau tanggapan pribadi terhadap isi
buku, dapat kalian simpulkan antara lain berikut.
1. Buku yang ditulis
dengan “sekenanya” tetapi cukup memberikan wawasan yang relatif baru dan segar
serta memenuhi selera “pasar” ini, memuat ragam cara agar siapa pun dapat
menulis-mengarang.
2. Kita tampaknya
perlu tahu, di zaman knowledge economyseorang penulis akan “makin dihargai”
sehingga tidak takut dan ragu, sebab menulis dan mengarang dapat menopang
hidup.
3. Dalam buku yang
disertai dengan ilustrasi bergambar mempermudah pembaca untuk segera memahami
maksud isi buku.
Paduan antara ikhtisar dan tanggapan pribadi dapat kalian kemukakan
sebagai berikut.
Aktivitas menulis sering kali dikaitkan dengan bakat
seseorang. Padahal, tidakselamanya bakat dapat membuat aktivitas tulis-menulis
menjadi selancar dan semudah yang kita bayangkan. Berulang kali para pakar menyatakan
bahwa menulis merupakan pelajaran dasar yang sudah kita dapatkan
semenjak duduk di bangku sekolah dasar bahkan di taman
kanak-kanak. Dengan kata
lain, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar. Namun,
sering kali ketika kita hendak menuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan,
sesuatu yang bernama “bakat” selalu menjadi semacam “kambing hitam” yang harus
siap dipersalahkan.Mengarang bisa gampang jika ada
komitmen, janji pada diri sendiri tentu saja,jika komitmen
itu diniati untuk benar-benar ditepati. Apabila janji dibiarkan tinggal janji, mungkin
lebih baik jadi politisi. Komitmen,inilah satu lagi kata kunci agar proses
menulis dan mengarang menjadi mudah. Komitmen
tersebut adalah janji pada diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis.
Jadi, menulis itu bukan perlu bakat, sebab bakat tidak lebih
dari “minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang”.
Apabila “bakat” bermakna demikian, maka segala sesuatu memerlukan bakat, tidak
cuma dalam soal tulis-menulis.Masalahnya kemudian, tinggal bergantung pada
komitmen diri sendiri agar ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang lama.
Buku yang ditulis dengan “sekenanya” tetapi cukup memberikan
wawasan yang relatif baru dan segar serta memenuhi selera “pasar” ini, memuat
ragam cara agar siapa pun dapat menulis-mengarang. Hal yang terpenting adalah
mengetahui prosesmemunculkan ide-ide baru dengan mengadopsi paham tiga N
(Nitenimemerhatikan,Nirokke-menirukan, dan Nambahi-menambahkan). Hal ini
harusselalu diasah dengan terus berproses melalui aktivitas membaca sebagai
“makanan pokok”pengarang. Selain itu, kita juga harus mampu memilih dan memilah
topik, mengasah judul yang memikat dan merangsang pembaca penerbit serta
redaktur opini. Kita juga perlu tahu tempat atau situasi, kondisi, serta aktivitas
yang dapat memicu ide kreatif. Ada lagi yang penting, bahwa kita tampaknya
perlu tahu di zaman knowledge economy seorang penulis akan “makin dihargai”
sehingga tidak takut dan ragu, sebab menulis dan mengarang dapat menopang
hidup.Setidaknya seorang penulis artikel, yang dengan asumsi 3-4 artikelnya
dimuat di media massa nasional, berarti setiap bulannya kurang lebih 12 artikel
dengan honor 300 ribu, maka sebulan tidak kurang dari Rp3.600.000,00 dapat
diraihnya. Jika dipotong Pph 10%, penghasilan bersih yang diterima kurang lebih
Rp3.240.000,00. Sebuah pekerjaan yang setara dengan manajer junior di sebuah
perusahaan swasta nasional terkemuka. Mari kita mulai berproses untuk menjadi
penulis-penulis sukses di masa-masa yang akan datang.
Berdasarkan identitas buku, kelebihan dan kekurangan isi buku,
serta paduan antara ikhtisar dan tanggapan pribadi di atas,maka kalian dapat
menulis resensi buku “Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang” sebagai berikut.
Menulis Itu Memang Gampang
Oleh: Baridul Islam Pr.
Judul : Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang
Pengarang : Andrias Harefa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2002
Halaman : i-xi + 103 Halaman
“Dapatkah Anda mengatakan pada diri Anda sendiri bahwa saya
pasti dapat mengarang, sebab mengarang adalah keterampilan sekolah dasar”. Kata
ini begitu “menusuk hati” Andrias Harefa. Dia mengklaim dirinya sebagai manusia
pembelajar ini adalah “lulusan” drop out (dikeluarkan sebelum
lulus) Fakultas Hukum UGM, tahun 1987. Saat itu dia lebih
memilih menerbitkan media- media alternatif-kreatif SAKSI. Kemudian seterusnya
bekerja membidani kelahiran majalah ANTUSIAS, penerbitan khusus untuk alumni
Dale Carnegie Training di Indonesia.
Setelah selama 7 tahun dia memegang lisensi (perizinan)
instruktur Dale Carnegie Training, dia juga merangkap HRD Consultan PT Dasindo
Media. Saat badai krisis menerpa,kondisi tersebut membuatnya “beralih”profesi
menjadi manusia yang ingin terus belajar. Semenjak itulah sampai 4 tahun kurang
ini, proses pembelajaran itu ditumpahkannya ke dalam 19 buku, termasuk buku
“Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang, yang beberapa di antaranya
best seller.
Situs pembelajar.com merupakan simbol kecintaan yang
diluncurkan tepat pada hari kasih sayang, 14 Februari 2001. Situs tersebut adalah
tempat menorehkan pertanda cinta dan persembahan cintanya kepada bangsa. Baginya,
saya sedang mengekspresikan rasa cinta yang tumbuh di hati saya (h.20). Dalam bagian
keempat dari buku ini, dia mengatakan bahwa sumber ilham bagi para calon
penulispengarang adalah cinta. Tanpa cinta tulisan akan serasa hambar dan
kering. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa cinta membuat orang menjadi sensitif,
peka terhadap apa yang di sekitarnya. Dengan demikian, hatinya “mudah
digerakkan”. Ketika “gerakan hati”ini dipadukan dengan
wawasan dan pengetahuan atau sikap rasional (h.13-16),
lahirlah ide-ide dan gagasangagasan.
Ditambah dengan “keterampilan Situs pembelajar.com merupakan
simbol kecintaan yang diluncurkan tepat pada hari kasih sayang, 14 Februari
2001. Situs tersebut adalah tempat menorehkan pertanda cinta dan persembahan
cintanya kepada bangsa.Baginya, saya sedang mengekspresikan rasa cinta yang
tumbuh di hati saya (h.20). Dalam bagian keempat dari buku ini, dia mengatakan
bahwa sumber ilham bagi para calon penulispengarang adalah cinta. Tanpa cinta
tulisan akan serasa hambar dan kering. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa cinta
membuat orang menjadi sensitif, peka terhadap apa yang di sekitarnya. Dengan
demikian, hatinya “mudah digerakkan”.Ketika “gerakan hati”ini dipadukan dengan
wawasan dan pengetahuan atau sikap rasional (h.13-16), lahirlah ide-ide dan
gagasangagasan. Ditambah dengan “keterampilan tingkat sekolah dasar”, jadilah
karangan, apa pun bentuknya (h.21).
Menulis dan mengarang memang pekerjaan yang mudah.
Setidaknya uraian 17 subjudul buku ini
menggambarkan dengan bahasa yang populer sehingga mudah ditangkap oleh siapa
pun yang membacanya. Buku yang merupakan “kritik” atas “Mengarang Itu Gampang”,
karya Arswendo
Atmowiloto, dibuat justru dari susun akhir sistematika.
Sesuatu yang tidak lazim dalam soal karang-mengarang. Baginya soal “memulai”adalah
begin with the end in mind (mulai dengan pikiran akhir), mulailah dengan memikirkan
hasil akhirnya. Hal ini sebagai mana kutipan yang dia ambil dari hasil studi doktoral penulis best seller “7 Kebiasaan Efektif”,
Stephen R. Covey (h.92). Kisah lain yang diungkap buku “praktis” ini adalah
soal: Supernova. Siapa yang tidak tahu buku ini? Buku yang dikarang oleh penulis
“pemula” sekaligus artis-penyanyi Trio Rida Sita Dewi (RSD), Dewi alias Dee
sampai saat ini laku terjual lebih dari 30.000 eksemplar.
Untuk itulah “proses” yang dilakukannya menjadi pembelajaran yang berharga bagi
orang yang mempunyai minat menulis. Sebuah kisah idealis dari penulis yang
tidak ingin dan “takut” tulisannya diedit oleh para pakar ini, mengerjakan,
mencetak,menerbitkan, dan mendistribusikan sendiri novelnya lewat Truedee
Books, dan “kepuasan” itu akhirnya mampu dicapainya. Mengarang bisa gampang
jika ada komitmen, janji pada diri sendiri. Komitmen itu diniati untuk
benar-benar ditepati. Apabila janji dibiarkan tinggal janji, mungkin lebih
baik jadi politisi. Komitmen, inilah satu lagi kata kunci
agar proses menulis dan mengarang menjadi mudah.Apa yang disebut komitmen
tersebut adalah janji pada diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis. Jadi,
menulis itu bukan perlu bakat, sebab bakat tidak lebih dari “minat dan ambisi
yang terus-menerus berkembang”. Jadi, jika “bakat” bermakna demikian, maka
segala sesuatu memerlukan
bakat, tidak cuma dalam soal tulis-menulis. Masalahnya
kemudian, bagaimana agar ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang
lama? Jawabnya komitmen pada diri sendiri (h.45).
Buku ini ditulis dengan “sekenanya” tapi bermutu (?) dan
memenuhi selera “pasar”. Buku ini memuat ragam cara agar siapa pun dapat
menulis-mengarang. Hal yang penting tahu bagaimana memicu ide, paham tiga N (Niteni,
Nirokke, Nambahi atau memerhatikan,menirukan, menambahkan). Semua ini harus
selalu berproses lewat membaca sebagai “makanan” pengarang dan mampu memilih
dan memilah topik. Selain itu juga harus mampu mengasah judul yang memikat dan
merangsang pembaca-penerbit,redaktur opini, serta perlu tahu tempat atau situasi
dan aktivitas yang dapat memicu ide kreatif. Ada lagi yang penting bahwa kita tampaknya
perlu tahu di zaman knowledge
economy seorang penulis akan “makin dihargai”. Dengan
demikian, kita tidak takut dan ragu, sebab menulis dan mengarang dapat menopang
hidup (?). Dalam buku yang disertai dengan ilustrasi bergambar ini mempermudah pembaca
untuk segera memahami maksud isi buku. Buku ini juga menguraikan kisah-kisah penulis
seperti si “teolog inklusif”, Sukidi new ager Anand Krisna, esais Goenawan Muhammad,
novelis S. Mara G.D., pelopor sastra dakwah kontemporer, Helvy Tiana
Rosa, si “Sophy” atau “Hiper.”, Yasraf Amir Piliang, Emha
Ainun Nadjib, dan tidak lupa kisah pribadi Andrias Harefa dalam menapak kariernya
hingga sukses menjadi penulis beberapa buku best seller.
Akhirnya, buku yang meski cukup “mahal” semoga mampu
mendorong lahirnya penulis-pengarang baru. Penulis-pengarang tersebut memang
sangat dinantikan untuk mengisi dan memberi makna terhadap ide tentang
Indonesia baru. Sebab: menulismengarang itu memang gampang, setidaknya
resensi ini membuktikannya.
(Sumber: www.pembelajar.com
dengan pengubahan)
Penulis adalah pecinta buku dan bekerja di Babad Press
(Lembaga Penerbitan Komunitas Lokal)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 11)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Standar Kompetensi
|
: 4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris,
resensi, dan karangan
|
Kompetensi Dasar
|
: 4.3 Menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan
ejaan, pilihan kata, kefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan
wacana
|
Indikator
|
Mampu menemukan kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan
kalimat, keterpaduan paragraf, dan
kebulatan wacana
Mampu memperbaiki kesalahan ejaan, pilihan kata,
keefektifan kalimat, keterpaduan
paragraf, dan kebulatan wacana (=)
Mampu mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)
|
Alokasi Waktu
|
: 4 X 40
menit (2 pertemuan)
|
Standar Kompetensi:
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris,
resensi, dan karangan
Kompetensi Dasar:
4.3 Menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan
ejaan, pilihan kata, kefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan
wacana
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca dan mengamati teks karangan/ artikel, siswa dan siswi dapat menyunting karangan dengan
berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, kefektifan kalimat, keterpaduan
paragraf, dan kebulatan wacana
Materi Pembelajaran
Penyuntingan karangan:
Menyunting artikel
Memublikasikan artikel di mjalah dinding kelas atau sekolah
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mengamati contoh teks karangan/artikel yang akan disunting
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan Inti
Membaca teks karangan/artikel
Mendiskusikan teks
untuk menandai kesalahan ejaan,
pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan
wacana
Menentukan bentuk penulisan artikel yang benar
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, jujur,cinta ilmu
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berdiskusi tentang bentuk penulisan artikel yang benar
|
Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
|
10’
|
Kegiatan inti
Memperbaiki kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpadiuan paragraf, dan kebulatan wacana
dengan cara mengganti bentuk yang salah dengan bentuk yang benar (=)
Mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)
|
Ingin tahu, demokratis, jujur, kritis, kreatif,
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
Sumber Belajar
Teks artikel
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 57 – 58
Wirayuda, Asep
Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX.
Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menemukan kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan
kalimat, keterpaduan paragraf, dan
kebulatan wacana
|
Penugasan
|
Tugas rumah
|
Temukan kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan
kalimat, keterpaduan paragraf, dan
kebulatan wacana
|
Mampu memperbaiki kesalahan ejaan, pilihan kata,
keefektifan kalimat, keterpaduan
paragraf, dan kebulatan wacana (=)
|
Perbaikilah kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan
kalimat, keterpaduan paragraf, dan
kebulatan wacana (=)
|
||
Mampu mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)
|
Mampu mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)
|
Rubrik Penilaian Tugas Rumah
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Isi
|
(2)
|
6
|
a. Komposisi
|
1
|
||
b. Keterpaduan antarkalimat dan antarparagraf
|
1
|
||
2.
|
Bahasa
|
(2)
|
4
|
a. Ketepatan penggunaan tanda baca
|
1
|
||
b. Ketepatan penggunaan ejaan
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
4
|
10
|
|
Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x
bobot maksimal
Misal = {(2+2):4} x
10 = 10
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Menyunting Karangan
Menyunting teks karangan merupakan proses pembenahan sebuah
teks karangan sebelum menjadi teks karangan yang siap disajikan, dinilaikan,
ataupun dipresentasikan. Penyuntingan bertujuan untuk menghindarkan teks
karangan dari kesalahankesalahan,
baik menyangkut isi maupun penggunaan bahasa, dengan cara
mengoreksi isi tulisan secara cermat dan teliti. Sebagai bahan referensi kalian
dalam menyunting sebuah tulisan, perhatikan teks di bawah beserta
penjelasannya.
Teks 1
Persaingan bisnis angkutan udara di Kota Semarang makin
ketat di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyebabkan peningkatan
biaya tambahan untuk bahan bakar atau fuel surcharge.Pengelola Bandara Ahmad Yani,
Semarang mengisyaratkan tidak ada penambahan jalur
baru selama tahun 2008. Pendapatan Garuda Semarang memang 105
persen dari target yang sudah ditentukan dengan rata-rata tingkat isian
penumpang (load factor) mencapai 85 persen untuk rute
unggulan Semarang-Jakarta. Namun, tahun ini hanya menargetkan
pertumbuhan pendapatan tiga persen. Persaingan kian ketat. Imbas paling besar
disebabkan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak mentah ini menyebabkan pihaknya
terpaksa meningkatkan fuel surcharge bahkan sampai dua kali pada bulan lalu.
Biaya tambahan untuk bahan bakar ini sudah mencapai Rp160.000,00 perpenumpang.
Padahal, bulan Oktober masih sekitar Rp80.000,00. Bulan mendatang, biaya ini
diperkirakan mencapai angka Rp175.000,00. dengan kondisi ini, Garuda belum
dapat menammbah target penumpang maupun frekuwensi penerbangan.
(Sumber: Kompas, 18 Januari 2004, dengan pengubahan)
Teks 1 merupakan teks sebelum dilakukan penyuntingan atau sering
diistilahkan sebagai bahan suntingan. Berdasarkan teks di atas, dapat kalian
identifikasikan beberapa kesalahan yang terdapat dalam teks tersebut. Contoh
pengidentifikasian teks tersebut dapat
kalian tuliskan sebagaimana berikut.
1. Penulisan fuel surcharge pada kalimat pertama paragraf
1dan paragraf 3 serta penulisan load factor pada kalimat pertama paragraf 2
seharusnya dicetak miring atau diberikan
tanda pembeda. Dalam hal ini, kedua kata tersebut merupakan
istilah asing.
2. Penulisan perpenumpang pada kalimat kedua paragraf 3, seharusnya
per penumpang (dipisah). Dalam hal ini, per pada kata tersebut bukan merupakan
afiks, melainkan kata
keterangan yang berarti tiap.
3. Penulisan dengan pada kalimat di akhir paragraf
seharusnya Dengan. Dalam hal ini, penulisan huruf di awal kalimat harus menggunakan
huruf besar.
4. Penulisan menammbah pada kalimat terakhir seharusnya menambah.
Dalam hal ini, kesalahan tersebut dikarenakan adanya kesalahan pengetikan atau
penulisan.
5. Penulisan frekuwensi pada kalimat terakhir seharusnya frekuensi.
Dalam hal ini, penulisan kata harus baku, yaitu disesuaikan dengan Ejaan Yang
Disempurnakan.
Setelah mengidentifikasi kesalahan dan melakukan pembenaran,
hasil suntingan teks 1 di atas dapat kalian tulis sebagai berikut (teks 2).
Teks 2
Persaingan bisnis angkutan udara di Kota Semarang makin
ketat di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyebabkan peningkatan
biaya tambahan untuk bahan bakar atau fuel surcharge.Pengelola Bandara Ahmad
Yani, Semarang, mengisyaratkan tidak ada penambahan jalur
baru selama tahun 2008. Pendapatan Garuda Semarang yang memang
105 persen dari target sudah
ditentukan dengan rata-rata tingkat isian penumpang (load
factor) mencapai 85 persen untuk rute unggulan Semarang-Jakarta.Namun, tahun
ini hanya menargetkan pertumbuhan pendapatan tiga persen. Persaingan kian
ketat. Imbas paling besar disebabkan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak mentah ini menyebabkan pihaknya
terpaksa meningkatkan fuel surcharge bahkan sampai dua kali pada bulan lalu.
Biaya tambahan untuk bahan bakar ini sudah mencapai Rp160.000,00 per penumpang.
Padahal, bulan Oktober masih sekitar Rp80.000,00. Bulan mendatang, biaya ini
diperkirakan mencapai angka Rp175.000,00. Dengan kondisi ini, Garuda belum
dapat menambah target penumpang maupun frekuensi penerbangan.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 12)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 6 X 40
menit (3 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
6. Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk lain
Kompetensi Dasar
6.2 Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan
berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat
menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian
isi puisi dan suasana/irama yang dibangun.
Materi Pembelajaran
Musikalisasi puisi:
Menyimak puisi yang diekspresikan melalui lagu
Menirukan bait-bait puisi yang dilagukan
Belajar menciptakan irama musik untuk sebuah puisi dengan
memperhatikan kesesuaian isi dan suasana
Menampilkan musikalisasi puisi secara ekspresif
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Demonstrasi
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mendengarkan contoh musikalisasi
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan Inti
Mencermati beberapa musikalisasi puisi yang didengarkan
Berdiskusi untuk menentukan puisi yang akan dinyanyikan
Menentukan suasana puisi lewat diskusi untuk menciptakan
irama musikalisasi puisi
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, menghargai karya
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berdiskusi tentang suasana puisi untuk menciptakan irama
musikalisasi puisi
|
Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
|
|
Kegiatan Inti
Menghubungkan suasana puisi dengan irama musikalisasi puisi yang akan
dinyanyikan
Mengaransemen musik untuk dipadukan dengan puisi yang akan
|
Kritis, kreatif, menghargai karya
|
||
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu religius
|
||
Ke-3
|
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berlatih menyanyikan puisi sesuai dengan aransemen
musikalisasi puisi
|
Religius, ingin tahu, mandiri
|
|
Kegiatan Inti
Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan
suasana/irima yang dibangun
Melaksanakan penialaian musikalisasi puisi
|
Kreatif, inovatif, menghargai karya
|
60’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
Sumber Belajar
Media elektronika (TV/VCD)
Buku Puisi
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm. 100 – 104
4. Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan
bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menentukan suasana puisi
|
Tes Unjuk Kerja
|
Uji Petik Kerja Produk
|
Tenentukan suasana puisi!
|
Mampu menghubungkan suasana puisi dengan irama musikalisasi puisi
|
Hubungkan suasana puisi
dengan irama musikalisasi puisi
|
||
Mampu menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi
dengan berpedoman pada kesesuaian isi
puisi dan suasana/irama yang dibangun
|
Nyanyikan puisi
yang sudah dimusikalisasi dengan
berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun
|
Rubrik Tugas Proyek/Porttofolio
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Skor
|
Bobot
|
1.
|
Keselarasan isi puisi dengan irama/musik/lagu
|
(3)
|
3
|
a. irama/musik/lagu selaras dengan isi puisi
|
3
|
||
b. irama/musik/lagu kurang selaras dengan isi puisi
|
2
|
||
c. irama/musik/lagu tidak selaras dengan isi puisi
|
1
|
||
2.
|
Intonasi
|
(3)
|
3
|
a. irama, tekanan, dan jeda bervariasi sesuai dengan isi
puisi
|
3
|
||
b. irama, tekanan, dan jeda kurang bervariasi
|
2
|
||
c. irama, tekanan, dan jeda tidak bervariasi/monoton
|
1
|
||
3.
|
Pelafalan
|
(3)
|
2
|
a. ucapan jelas dan tidak terjadi kesalahan pengucapan
|
3
|
||
b. ucapan jelas, tetapi terjadi beberapa kesalahan
pengucapan
|
2
|
||
c. ucapan tidak jelas dan banyak terjadi kesalahan
pengucapan
|
1
|
||
4.
|
Penampilan
|
(3)
|
2
|
a. ekspresif, gerak tubuh wajar sesuai dengan tuntutan
puisi, dan tidak ”grogi”
|
3
|
||
b. ekspresif, gerak tubuh wajar sesuai dengan tuntutan
puisi, tetapi ”grogi”
|
2
|
||
c. tidak ekspresif, gerak tubuh dibuat-buat, tidak sesuai
dengan isi puisi dan ”grogi”
|
1
|
||
Skor dan bobot maksimal
|
12
|
10
|
|
Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2+3+4): Skor Maksimal} x
bobot maksimal
Misal =
{(3+3+3+3):12} x 10 = 10
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195205171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
B. Musikalisasi Puisi
Istilah “musikaliasi
puisi” berarti “puisi” merupakan subjek dari perbuatan, yaitu “memusikkan
puisi”,atau membuat puisi menjadi musik. Sementara “puitisasi musik”
memiliki pengertian “membuat musik menjadi puitis”.
Kejelasan definisi seperti ini memang harus dilakukan terlebih dulu jika kita
ingin membicarakan konsep seperti “musikalisasi puisi”. Dalam melatih
membawakan musikalisasi puisi, lantunkanlah puisi berikut menjadi lagu dengan
irama gitar sesuai dengan kunci yang ditunjukkan.
Sajak Putih
Karya: Chairil Anwar
Bersandar pada tari warna pelangi
D F# Em
A D
Kau depanku bertundung sutra senja
D F# EM A D
Di hitam matamu kembang mawar dan
D F#
Em A
melati
D
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
AD F#
Em A D F# Em
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
F# Em A D
Selama matamu bagiku menengadah
F#
Em A
D
Selama kau darah mengalir dari luka
F# Em A D
Antara kita Mati datang tidak membelah
F# Em A D F# Em
ho...ho..ho..ho..ho...ho
A D
Suatu lagu dapat kita dengarkan dengan enak dan harmonis dikarenakan
dalam pembuatannya memakai suatu struktur yang tersistem. Sistem dalam sebuah
lagu banyak ditentukan oleh iramayang tersusun oleh parameter berikut.
1. Nada (melodi)
2. Accord (progress)
3. Nada dasar (tangga nada)
4. Durasi nada
5. Ritme
6. Syair dan lirik
Sebenarnya tidak sulit bagi kalian untuk memusikalisasi
puisi. Hal ini disebabkan lagu-lagu yang ada pada dasarnya adalah puisi.Memusikalisasi
puisi dapat dimulai dengan menentukan nada melodi pada lagu. Penentuan nada
dapat dilakukan dengan beberapa aturan, yaitu berikut.
1. Nada-nada yang jatuhnya bersamaan dengan hitungan.
2. Nada-nada yang jatuhnya sesudah hitungan.
3. Nada-nada yang jatuhnya sebelum hitungan.
Setelah itu, kalian memberikan notasi nada. Maka itu, kalian
harus menulis syairnya terlebih dahulu. Perlu diingat bahwa nada melodi vokal
kebanyakan jatuh pada tiap suku kata syair lagu tersebut.
Ingin Tahu?
1. Nada adalah unsur terkecil dalam sebuah musik yang
mempunyai jenis tinggi dan rendah.
2. Accord adalah suatu rangkaian nada-nada yang tersusun
secara teratur dari sebuah tangga nada.
3. Nada dasar merupakan kerangka utama sebuah lagu.
4. Durasi adalah suatu notasi pada nada, sehingga bisa
menggambarkan not atau nada tersebut dibaca
panjang atau
pendek atau dengan durasi yang lama atau sebentar.
5. Ritme merupakan sesuatu yang menyangkut ketukan detik yang
teratur dan pola yang ter
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 13)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 2 X 40 menit (1
pertemuan)
|
Standar Kompetensi
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris,
resensi, dan karangan
Kompetensi Dasar
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris,
resensi, dan karangan
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan sisiwi dapat
menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas
Materi Pembelajaran
Penulisan iklan baris:
Mendaftar butir-butir yang akan dituliskan dalam iklan baris
di surat kabar
Menulis iklan baris dengan bahasa singkat, padat, dan jelas
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Bertanya jawab
tentang iklan baris dalam surat kabar
Menemukan contoh iklan baris dalam surat kabar
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Mencermati contoh iklan baris
Mebahasakan secara lengkap iklan baris
Mendiskusikan model-model penyingkatan dalam iklan baris
Menentukan objek yang akan diiklankan
Menulis iklan baris suatu objek dengan bahasa yang sigkat,
padat dan jelas (=)
Memperbaiki dan menyunting iklan baris (*)
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
1.Media cetak (koran)
2. Santoso, Barokah, dkk. 2005. Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi
Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 156 – 157
3.Wirayuda, Asep
Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV
Usaha Makmur. Hlm. 16-18
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menentukan objek yang akan diiklankan
|
Tes Unjuk Kerja
|
Uji Petik Kerja Produk
|
Tenentukan objek yang akan diiklankan!
|
Mampu menentukan butir-butir yang akan diiklankan
|
Tentukan butir-butir yang akan diiklankan
|
||
Mampu menyingkat kata-kata sesuai dengan kebiasaan iklan baris
|
Singkatlah kata-kata sesuai dengan kebiasaan iklan baris
|
||
Mampu menulis iiklan baris dengan bahasa yang sigkat,
padat, dan jelas (=)
|
Tulislah iklan
baris dengan bahasa yang sigkat, padat, dan jelas (=)
|
||
Mampu menyunting iklan baris (*)
|
Syuntinglah iklan
baris (*)
|
Rubrik untuk menilai iklan baris
No.
|
Aspek yang dinilai
|
Nilai
|
Keterangan
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|||
1.
|
Kesesuaian isi butir-butir yang diiklankan
|
1= sangat kurang
2= kurang
3= cukup
4= baik
5= sangat baik
|
|||||
2.
|
Bahasa (singkat, padat, dan jelas)
|
||||||
3.
|
Kerapian tulisan
|
||||||
Nilai akhir:
Jumlah Perolehan Nilai: 3
Misal: (3+4+3):3 = 3,3 (cukup)
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Menulis Iklan Baris
Aturan yang
disepakati secara umum adalah iklan baris terpendek minimal 2 baris dan panjang
maksimal adalah 10 baris. Apabila iklan yang akan kita tuliskan ternyata lebih
dari 10 baris, maka penulisannya harus diringkas atau disingkat lagi atau
diubah formatnya menjadi iklan kolom. Sebelum berlatih menulis iklan baris,
perhatikanlah beberapa
daftar singkatan yang sering dipergunakan dalam menulis
iklan baris berikut!
No. Singkatan Kepanjangan
1. CPT Cepat
2. RMH Rumah
3. LT Luas Tanah
4. LB Luas Bangunan
5. TU Tempat Usaha
6. Gdng Gudang
7. SHM Sertifikat Hak Milik
8. Lt. Lantai
9. Bb bjr Bebas banjir
10. Dkt kota Dekat Kota
11. Brg Barang
12. Mrh Murah
13. H. Maestro Honda Maestro
14. Bl Bulan
15. Py Spd Mtr Punya sepeda motor
16. Pnpln Penampilan
17. Lmr Lamaran
18. Krdt Kredit
19. dtg datang
20. Kav Kavling
21. HM Hak Milik
22. TNH Tanah
23. DCR Dicari
24. Pros Proses
25. Ng Nego
26. Sgr Segera
27. Orsn Orisinil
28. ISTW Istimewa
29. Hrg Harga
30 Lht Lihat
31. Jm/Hari Jam/Hari
32. Sgl Segala
33. Ltr blk Latar Belakang
34. Mnrk Menarik
35. krm Kirim
36. PS Playstation
Setelah memerhatikan beberapa daftar singkatan untuk menulis
iklan baris di atas, perhatikanlah ilustrasi berikut beserta penjelasannya
sebagai bahan referensi kalian mengenai proses menulis iklan baris!
Kakakmu baru saja pulang dari Malaysia. Ia seorang Tenaga
Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja sebagai karyawan salah satu pabrik di
Malaysia. Namun, sekarang kakakmu tidak
mau kembali ke Malaysia. Kakakmu ingin membuka usaha
sendiri. Kakakmu ingin membuka tempat grosir busana. Agar dapat segera
diketahui oleh masyarakat umum, kakakmu
menyampaikan informasi penjualan barang tersebut dalam
bentuk iklan baris di surat kabar. Sebelum menulis iklan secara lengkap, perlu
didaftar terlebih dahulu butir-butir yang akan
dituliskan di dalam iklan.
Adapun butir-butir dari iklan yang akan dituliskan kakakmu tersebut,
misalnya berikut.
1. Nama tempat Lily
2. Menawarkan grosir busana
3. Jenis:
a. batik
b. babydoll
c. kemeja
d. celana
e. kaos
4. Barang dapat dikirim ke seluruh Indonesia
5. Hubungi: 08133942716
Setelah mendaftar butir-butir yang perlu dicantumkan dalam iklan,
iklan tersebut dapat ditulis sebagaimana berikut.
USAHA
Lily grosir Batik, babydoll, kmj,
cln, kaos, bs krm slrh Ind.
Hub. 08133942716
Iklan baris di atas ditulis dengan singkat, jelas, dan
hemat. Terdapat beberapa singkatan yang lazim digunakan, sehingga pembaca tidak
kesulitan dalam memahami iklan tersebut. Singkatan kata tersebut adalah kmj
(kemeja); cln (celana); bs (bisa); krm
(kirim); slrh (seluruh); dan Ind (Indonesia).
Dengan berbekal singkatan di atas, kalian dapat membaca iklan
baris secara lengkap. Pembacaan iklan baris di atas adalah dibuka Grosir Lily
yang menjual batik, babydoll, kemeja, celana, kaus. Bisa kirim ke seluruh
Indonesia. Hubungi 08133942716.
Setelah membaca iklan tersebut, kalian dapat memahami isinya.
Isi iklan baris di atas adalah tempat grosir bernama Lily menjual
batik, babydoll, kemeja, celana, dan kaos. Grosir Lily bersedia untuk mengirim
ke seluruh Indonesia. Untuk informasi
lebih jelas, pembaca dapat menghubungi nomor telepon 08133942716.
Hal yang perlu diingat saat membuat iklan baris di media massa
adalah penghematan kata. Hal ini disebabkan adanya penghitungan biaya iklan
yang didasarkan pada panjang baris atau jumlah kata. Berkaitan dengan hal
tersebut, dalam iklan baris sering terdapat singkatan-singkatan. Namun,
penghematan kata dan penyingkatan kata harus tetap memerhatikan kejelasan isi
atau pesan yang ingin disampaikan. Jangan sampai penghematan katadan
penyingkatan justru menjadikan masyarakat tidak memahami maksud dari iklan
tersebut.
Uji Kompetensi 4
Perhatikan ilustrasi berikut!
Untuk mengisi waktu luangmu di rumah, kamu bersama kakakmu
ingin memanfaatkan dengan membuka jasa pengetikan komputer. Kamu dan kakakmu
bersedia menulis undangan, tugas
sekolah, tugas akhir, skripsi, dan lain-lain. Kamu dan
kakakmu ingin menyampaikan informasi penawaran jasa pengetikan tersebut dalam
bentuk iklan baris di surat kabar.
Kerjakanlah sesuai dengan perintah di buku tugas!
1. Buatlah daftar butir-butir yang akan kamu tuliskan dalam
iklan baris seperti yang kamu maksud!
2. Buatlah singkatan-singkatan kata berkaitan dengan isi
iklan yang kamu maksud!
3. Buatlah iklan baris berdasarkan butir-butir yang telah
kamu tuliskan!
TAGIHAN
Buatlah sebuah iklan baris dengan isi kalian tentukan
sendiri
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 14)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 2 X 40 menit (1 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan
mendengarkan syair
Kompetensi Dasar
Menganalisis unsur-unsur syair yang diperdengarkan
Tujuan Pembelajaran
Setelah mendengarkan syair, siswa dan siswi dapat
menganalisis unsur-unsur syair dengan tepat
Materi Pembelajaran
Penganalisisan unsur-unsur syair:
tiap bait terdiri atas empat baris
tiap baris terdiri atas empat atau lima kata (sepuluh sampai
dua belas suku kata)
tiap baris merupakan isi (tidak bersampiran)
makna dalam satu bait merupakan satu kesatuan yang
bersinambungan bait-bait berikutnya (syair tidak cukup hanya satu bait)
berima akhir sama: /aaaa/
Contoh: “Syair Si Burung Pungguk”
Pungguk bangsawan
hendak menitir
Tidak diberi kakanda satir
Adinda,
jangan tuan bersyair
Jikalau tuan dan petir
...........................................................
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Bertanya jawab
tentang puisi lama, khususnya syair
4. Mengamati/mendengarkan
contoh syair
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan Inti
Mendengarkan beberapa pembacaan syair dari narasumber
Secara berpasangan/berkelompok, mengidentifikasi
unsur-unsur syair
Menganalisis syair berdasarkan unsur-unsur syair (=)
Melaporkan hasil analisis
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
Buku Kumpulan Syair
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit
UM Press. Hlm. 144 – 145
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 105-107
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menyimpulkan syarat-syarat syair
|
Tes tulis
|
Soal Uraian
|
Simpulkan syarat-syarat syair yang telah kamu dengarkan
|
Mampu menganalisis syair yang diperdengarkan berdasarkan
unsur-unsur syair (=)
|
Tes tulis
|
Soal Uraian
|
Analisislah satu bait
syair “Si Burung Pungguk”yang diperdengarkan berdasarkan unsur-unsur
syair (=)
|
Rambu-rambu
jawaban:
satu bait terdiri atas empat baris,
berima sama /aaaa/,
semua baris merupakan isi,
isi atau makna tiap bait merupakan kesatuan yang utuh
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Menganalisis Unsur-unsur Syair
Perhatikan contoh syair berikut!
Syair Abdul Muluk
“Dayang segera turunkan pergi,
Mengambil teropong berlagak kaki,
Lalu dibaca ke anjung tinggi,
Siti meneropong kapal dan kici.
Sudah meneropong Siti terala,
Dayang tahadi meneropong pula,
Direbut dayang Ratna Jumala,
Katanya, ‘Huwa Allah Taala.
Kita meneropong tiada sempat,
Tangan merebut terlalu cepat!’
Direbut pada dayang Mahaibat,
Sambil tertawa mulut disumbat.
Seketika bersenda sekalian Siti,
Meneropong semua bersungguh hati,
Lepas seorang, seorang ganti,
Tampaklah kealatan muda yang sakti.
Tampaklah segala hububalang berjalan,
Bersiar di kapal berambal-ambalan,
Ia memakai pedang gemerlapan,
Pistol dipegang berjuluran.
Tampaklah hulubalang berbagai-bagai,
Ada yang berjanggut, ada yang bermisai,
Ada berserban terumbai-rumbai,
Ada gemuk, ada yang lampai.
Ada yang seperti harimau menerkam,
Bersiar sambil tangan digenggam.
Ada yang menghisap hokah manikam,
Keluar dari mulut asapnya hitam”
– berambal-ambalan = berarak-arakan.– bermisai =
bercambang.– hokah = pipa
Berdasarkan syair di atas, dapat diketahui ciri-ciri syair.
Syair terdiri atas beberapa bait, satu bait terdiri atas empat baris, dan tiap
baris terdiri atas empat kata. Setiap baris sekurang-kurangnya terdiri atas
delapan sampai dengan dua belas suku kata, memiliki rima a-a-a-a, serta merupakan
satu kesatuan yang utuh.
Setelah kalian menyimpulkan ciri-ciri syair, kalian dapat menganalisis
unsur-unsur syair. Unsur-unsur syair meliputi tema, perasaan, nada, dan amanat.
Adapun makna dari tema, perasaan, nada, dan amanat adalah sebagai berikut.
1. Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair.
Contoh tema syair adalah ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme, dan sebagainya.
2. Perasaan berkaitan dengan perasaan yang disampaikan
penyair melalui syairnya. Syair dapat mengungkapkan perasaan yang beraneka
ragam, mungkin perasaan sedih, kecewa, benci, rindu, maupun bahagia.
3. Nada merupakan sikap batin penyair yang hendak
diekspresikan kepada pembaca. Misalnya ada nada menasihati, mencemooh, iri
hati, penasaran, dan sebagainya.
4. Amanat berkenaan dengan maksud, pesan, atau tujuan yang hendak
disampaikan penyair melalui syairnya.
Sebelum menentukan unsur-unsur syair di atas, kalian dapat membaca
syair tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian kalian dapat menjelaskan
unsur-unsur syair secara lengkap dan utuh.
Berikut ringkasan cerita “Syair Abdul Muluk”.
Cerita syair Abdul Muluk dimulai dari negeri Barbari dengan
raja-raja Sultan Abdul Aidid. Sultan ini memenjarakan seorang pedagang
Hindustan yang dituduh berbuat curang dalam pengaduannya. Pedagang yang kemudian
meninggal di dalam penjara ini ternyata adalah paman Sultan Hindustan.
Dendamlah Sultan Hindustan kepada Raja Kerajaan Barbari.
Tetapi, karena Raja Barbari amat kuat, saat pembalasan ditangguhkan oleh Sultan
Hindustan. Syahdan Abdul Aidid wafat dan negerinya
diperintah oleh anaknya, Sultan Abdul Mukari. Abdul Mukari
yang telah beristri, pada suatu hari bertemu dengan putri negeri Ban, Siti
Akbari atau Bukit Permata. Putri ini diambilnya sebagai istrinya yang kedua. Sultan
Hindustan yang mengetahui bahwa Sultan Abdul Aidid telah wafat segera
menyerbu Barbari dan berhasil menahan Abdul Mukari beserta
istri pertamanya. Ketika Sultan Hindustan bermaksud memperistri istri Sultan
Abdul Mukari, istri pertama ini setuju asal ia diperistri bersama Siti Akbari.
Ketika Siti Akbari dicari, ia ditemukan telah menjadi mayat di kamarnya.
Sebenarnya Siti Akbari belum mati. Ia mengembara dan
menyamar sebagai lelaki. Dalam pengembaraannya, ia berhasil menolong seorang
raja yang dirongrong pemberontakan pamannya sendiri. Dengan pertolongan raja
inilah Siti Akbari memerangi Sultan Hindustan dan membebaskan Sultan Abdul
Mukari. Namun, Sultan Abdul Mukari tetap bersedih karena istri keduanya, Siti
Akbari, sudah mati. Maka diaturlah suatu pertemuan untuk
menyadarkan Sultan Abdul
Mukari dan istri pertamanya bahwa pembebasnya, tak lain
adalah Siti Akbari.
Kalian telah mengetahui unsur-unsur syair. Berdasarkan syair
di atas, kalian dapat menganalisis unsur-unsur syair tersebut sebagaimana
contoh berikut.
1. Syair di atas bertema kepahlawanan.
2. Syair di atas mengungkapkan seorang istri (istri kedua) yang
berani melawan musuh demi membebaskan suaminya dan istri pertama dari tangan
musuh.
3. Syair di atas memiliki nada memberitahukan kepada para pembaca
bahwa seorang istri berkewajiban membantu suami dan keluarga lainnya, meski
harus mengorbankan nyawa.
4. Syair di atas memiliki amanat bahwa kita harus membela kebenaran.
TAGIHAN
1. Carilah sebuah syair! Jangan kamu baca terlebih dahulu
syair tersebut!
2. Mintalah kepada salah satu temanmu untuk membacakan syair
tersebut!
3. Analisislah unsur-unsur syair yang telah kamu simak!
4. Kumpulkan kepada bapak/ibu gurumu beserta syair yang
telah kamu simak!
Uji Kemampuan 1
Coba sekarang kamu meminta kepada salah seorang temanmu untuk
membacakan syair berikut. Simaklah dengan saksama pembacaan syair yang
dilakukan oleh temanmu! Sebagai evaluasi terhadap kemampuan menyimakmu, coba
kamu kerjakan perintah soal di bawahnya dengan tidak membaca kembali syair
tersebut.
Syair Burung Pungguk
“Bulan purnama cahayanya terang,
Bintang seperti indah dikarang,
Rawannya Pungguk bukan sembarang,
Berahikah bulan di tanah seberang.
Gemeralapan cahaya Bintang Kertika,
Beratur majelis bagai dijangka,
Sekaliannya bintang terbit belaka,
Pungguk melihat kalbunya duka ...,
Tengah malam Pungguk terjaga,
Melihat Bintang Puyuh Laga,
Bintang Belantik beratur tiga,
Cahayanya terang tidak terhingga ...
Rawannya pungguk tiada terperi,
Melihat Bintang Pari-Pari,
Bulan purnama cahaya berseri,
Haram tak boleh pungguk hampiri ...
Terbitlah bintang sebelah wetan,
Cahayanya limpah di tengah lautan,
Menantikan sampai janji suratan ...
Hari malam Bulan nan terang
Paksi berbunyi suaranya jarang,
Merak berbunyi segenap jurang,
Cengkerik bersyair mengatur sarang”
Kerjakanlah dengan cermat dan tuliskanlah jawabanmu di buku
tugasmu!
1. Tuliskan tema syair yang telah kamu simak!
2. Tuliskan perasaan syair yang kamu simak!
3. Tuliskan nada dari syair yang kamu simak!
4. Tuliskan amanat dari syair yang telah kamu simak!
5. Bandingkan hasil pekerjaanmu dengan teman-temanmu!
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 15)
Sekolah
|
: SMPN 1 Gurah
|
Mata Pelajaran
|
: Bahasa Indonesia
|
Kelas, semester
|
: IX, 1
|
Alokasi Waktu
|
: 2 X 40 menit (1 pertemuan)
|
Standar Kompetensi
5. Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan
mendengarkan syair
Kompetensi Dasar
5.1 Menemukan tema dan pesan syair yang diperdengarkan
Tujuan Pembelajaran
Setelah mendengarkan syair, siswa dan siswi dapat:
menemukan tema syair dengan tepat,
menangkap pesan syair dengan sempurna.
Materi Pembelajaran
Cara menemukan tema dan pesan syair serta implemenatsinya:
untuk mengetahui isi (termasuk tema) syair tidak cukup hanya satu bait karena
syair biasanya untuk bercerita. Empat baris syair dalam satu bait merupakan
satu kesatuan sintaksis yang mengandung satu makna yang bersinambungan.
Biasanya makna syair ditentukan bait-bait berikutnya, mirip alinea-alinea dalam
prosa atau sebuah cerita.
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Bertanya jawab
tentang isi syair yang diperdengarkan (sebagai model)
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan Inti
Mendengarkan model pembacaan syair dari narasumber
Secara kelompok, mendiskusikan tema dan pesan syair
Menyimpulkan tema
syair
Menyimpulkan pesan syair (=)
Melaporkan hasil diskusi
Merefleksikan isi syair dengan kehidupan sehari-hari (*)
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
|
60’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
1. Buku Kumpulan
Syair
2. Waluyo, J.
Herman. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. Hlm.10-11
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 55-56
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menemukan tema syair berdasarkan inti pengungkapan
syair
|
Tes tulis
|
Soal Uraian
|
Temukan tema syair yang telah kamu dengar berdasarkan inti
pengungkapan syair!
“Syair Ken Tambuan” (Cerita Panji)
Lalulah berjalan Ken Tambuan
diiringkan penglipur dengan tadahan
Lemah lembut berjalan perlahan-lahan
lakunya manis memberi kasihan
Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
|
Mampu menangkap pesan syair dengan bukti yang meyakinkan
(=)
|
Tes tulis
|
Soal Uraian
|
Tentukan pesan syair dengan bukti yang meyakinkan (=)
|
Mampu merefleksikan isi syair dengan kehidupan sehari-hari
(*)
|
Penugasan
|
Tugas Rumah
|
Refleksikan isi syair dengan kehidupan sehari-hari (*)
|
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Menemukan Tema dan Pesan Syair yang Diperdengarkan
Syair merupakan puisi
Melayu lama. Istilah syair berasal dari kata Arab Syi'ir, yang berarti
“perasaan yang menyadari”. Isi syair umumnya sebuah cerita.
Namun, ada pula yang
memuat buah pikiran, filsafat, puji-pujian, dan sebagainya.
Perhatikanlah penggolongan syair berikut!
1. Syair keagamaan, seperti Syair Nur Muhammad, Syair Nabi Ayub.
2. Syair kiasan, seperti Syair Burung Pungguk, Syair Ikan Terubuk.
3. Syair Panji, seperti Syair Panji Semirang, Syair Ken Tambuhan.
4. Syair Sejarah, seperti Syair Perang Makassar, Syair Emop,
Syair Perang Aceh.
5. Syair romantik atau percintaan, seperti Syair Cinta
Birahi, Syair Bidasari.
6. Syair saduran, seperti Syair Damarwulan, Syair Tajul
Muluk, Syair Wayang.
Perhatikanlah contoh petikan atau penggalan Syair Bidasari
berikut!
Bibirnya bagai peta dicarik-carik,
Lehernya jenjang kumbu ditarik,
Bersucing emas bunga anggrek,
Mungkin bertambah parasnya baik,
Betisnya bagai bunting padi,
Paras seperti nilakandi,
Seperti hitam sudah diserodi,
Dipagar nilam, intan dan pudi,
Pinggangnya ramping, dadanya bidang,
Panjang lampai sederhana sedang,
Cantik manjelis gilang gemilang,
Tidak jemu mata memandang.
– kumbu = keranjang kecil tempat ikan. – diserodi = digosok
atau diasah. – manjelis = elok.
Apabila kalian membaca Syair Bidasari secara lengkap, maka kamu
akan mengerti isi syair tersebut.
Syair Bidasari mengisahkan seorang putri raja yang dilahirkan
ketika dalam pelarian di hutan, tetapi kemudian terpaksa dibuang oleh ibunya.
Akhirnya putri raja itu ditemukan
dan dipelihara oleh saudagar kaya. Dia tumbuh menjadi gadis cantik
yang kemudian diperistri oleh seorang raja bernama Indrapura. Diceritakan pula,
Bidasari akhirnya memaafkan ibunya yang telah membuangnya, setelah adiknya
mempertemukan
antara Bidasari dengan ibunya. Cerita ini berakhir dengan
bahagia.
Berdasarkan kisah di atas, kalian dapat menentukan tema dan
amanat Syair Bidasari. Berikut contoh tema dan amanat pada Syair Bidasari.
1. Tema Syair Bidasari adalah kasih sayang.
2. Amanat Syair Bidasari adalah bersikaplah murah hati kepada
siapa saja, saling mengasihi dan menyayangi, serta mudah memaafkan.
Uji Kemampuan 1
Dengarkanlah Syair Perang Mengkasar yang akan dibacakan oleh
temanmu berikut!
Syair Perang Mengkasar
Sudahkah kalah negeri Mengkasar
Dengan kudrat Tuhan Madik al-Jabbar
Patik karangkan di dalam fatar
Kepada negeri yang lain supaya terkabar.
Memohonkan ampun patik tuanku,
Kehendak Allah telah berlalu
Kepada syarak tidak berlaku
Bugis Buton Ternate hantu
Lima tahun lamanya perang,
Sedikit pun tidak hatinya bimbang,
Sukacita hati segala hulubalang
Melihat musuh hendak berperang
Mengkasar sedikit tidak gentar,
Ia berperang dengan si kuffar,
Jikala tidak rakyatnya lapar,
Tambahi lagi Welanda kuffar
– syarak = hukum Islam.
Kerjakanlah soal berikut dengan tepat di buku tugas!
1. Jelaskanlah isi syair di atas!
2. Berdasarkan inti pengungkapan syair, tentukanlah tema
syair di atas!
3. Tentukan pesan syair di atas dengan bukti yang
meyakinkan!
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 18)
Sekolah : SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas, Semester : IX, 2
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi
16. Menulis naskah
drama.
Kompetensi Dasar
16.1 Menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah
dibaca.
Tujuan Pembelajaran
Siswa dan siswi dapat menulis naskah drama berdasarkan
cerpen yang pernah dibaca.
Materi Pembelajaran
Penulisan
naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah dibaca.
Metode Pembelajaran
Observasi,
diskusi, inkuiri, unjuk kerja.
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Siswa dan siswi membaca contoh cerpen.
4. Siswa dan siswi mengidentifikasi sistematik contoh
cerpen.
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
Siswa dan siswi mencatat pokok-pokok pikiran yang terdapat
dalam cerpen.
Guru memberikan contoh drama
Siswa, siswi, dan guru bersama-sama menentukan perbedaan
secara fisik antara cerpen dan drama.
Siswa dan siswi membuat drama berdasarkan pokok-pokok
pikiran dari cerpen yang telah dibuat.
Salah satu siswa dan siswi ditunjuk untuk mempresentasikan
naskah drama yang telah dibuatnya.
Siswa dan siswi menanggapi pekerjaan temannya dibantu oleh
guru.
Guru memperjelas hal-hal yang perlu dilakukan dalam
menyunting.
Siswa dan siswi diminta menyunting pekerjaan teman
sebangkunya.
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
|
60’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
G. Sumber Belajar
1. Contoh drama
Contoh cerpen.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 200-203
H. Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
1.Mampu membedakan sitematika penulisan cerpen.
|
Tes
|
Soal Uraian
|
1.Mampu membedakan sitematika penulisan cerpen.
|
2.Mampu mengidentifikasi pokok-pokok cerita dalam cerpen
|
Tes
|
Soal Uraian
|
2.Identifikasilah pokok-pokok cerita dalam cerpen
|
3.Mampu menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang
pernah dibaca.
|
Tes
|
3.Tulislah naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah
dibaca.
|
|
4.Mampu menyunting naskah drama
|
Tes
|
4.Suntinglah naskah
drama berdasarkan cerpen yang telah kamu baca!
|
Contoh
instrumen :
1. Tulislah
pokok-pokok cerita yang terdapat dalam cerpen yang pernah kamu baca!
No
|
Deskriptor
|
Skor
|
1
|
Siswa
dan siswi menuliskan pokok-pokok cerita dengan lengkap
|
3
|
2
|
Siswa
dan siswi menuliskan pokok-pokok cerita tidak secara lengkap
|
2
|
3
|
Siswa
dan siswi tidak mengerjakan
|
1
|
2.Tulislah nasah drama berdasarkan pokok-pokok cerita yag
telah kamu buat!
3. Suntinglah naskah
drama berdasarkan cerpen yang telah kamu baca!
NO
|
ASPEK YANG DINILAI
|
JUMLAH
|
||
Kelengkapan ide pokok
|
Kesesuaian antara ide dalam drama dengan cerpen
|
Ketepatan ejaan
|
||
15-30
|
15-30
|
15-30
|
||
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Menyusun Naskah Drama berdasarkanCerpen
Saat ini, banyak karya drama yang diciptakan atau dibuat berdasarkan
karya-karya lain seperti prosa (cerpen atau novel) dan puisi. Proses perubahan
karya semacam ini dikenal dengan istilah ekranisasi, misalnya: kita mengenal
ada sinetron “Cintaku di Kampus Biru” yang diangkat dari novel dengan judul
yang sama karya Mira. W; “Si Doel Anak Sekolah” diangkat dari novel “Si Doel
Anak Betawi”; film “November 1828” diangkat dari novel
“Diponegoro”; film “Sengsara Membawa Nikmat” diangkat dari novel
“Sengsara Membawa Nikmat”, film “Sitti Nurbaya” diangkat dari novel “Sitti
Nurbaya”, dan lain sebagainya.
Kita pun dapat berlatih membuat naskah drama berdasarkan bentuk
karya sastra yang lain. Berikut ini bentuk karya prosa (cerpen) yang kemudian
diangkat menjadi naskah drama.
Perhatikanlah dengan cermat bacaan berikut sebagai bahan referensi
kalian!
MIMPI
Karya: Putu Wijaya
“Ya Tuhan, baru sekali inilah Kau kabulkan aku untuk mimpi,
padahal aku sudah setengah mati merindukannya. Baru sekarang aku bisa melakukan
apa saja yang ingin aku lakukan. Memukul pohon cemara misalnya,” katanya sambil
menyepak dengan tenang pohon cemara itu.
“Atau melemparkan
sebuah botol kosong ke atas panggung …” Ia segera mencari botol Seven Up
kosong. Yang ditemukannya sebuah botol
Fanta, lalu dilemparkannya ke panggung. Seekor kucing melonjak karenabunyi
pecahan botol itu.
Pian tertawa ngakak. “Gile,” katanya berulang-ulang. “Baru
sekali ini aku berhasil menjelmakan mimpiku. Coba kapan lagi aku bisa naik ke
atas menara lampu ini kalau
bukan sekarang dan mencuri lampu-lampunya?”
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung memanjat menara lampu,
mencopot lampu-lampu follow dan kemudian menjatuhkan balonnya ke bawah,
bunyinya berdencing. Pian ketawa lagi.
Hari sudah pukul tiga, sedang enak-enaknya orang tidur.
Entah kenapa tak seorang pun yang menghalangi apa yang dilakukan oleh Pian.
Bahkan ketika Pian kemudian meloncat turun dari tembok dan ngeloyor menaiki
sebuah mobil yang kebetulan parkir.
Sopirnya sedang ngorok. Pian langsung saja membetot dan
menendangnya keluar. Kemudian ia menjalankan mobil itu keluar sedikit
seradak-seruduk, sebab ia memang tidak lihai betul mengemudi.
“Pokoknya aku harus ke Pecenongan sekarang,” katanya sambil
melewati gerbang TIM.
Begitu selamat lewat gerbang, gas ditancapnya, mobil melesat
ke arah yang bertentangan dengan arah lalu lintas, maklum jalan Cikini
sebenarnya jalan satu arah. Dengan cepat ia lewat di pompa bensin, lalu
melemparkan puntung rokok sambil meludah.
“Rasain lhu. Kapan lagi gue bisa ngelempar rokok di pompa
bensin kalau bukan sekarang!” teriaknya dengan acuh.
Ia juga sengaja menabrak warung Tegal dengan memaki-maki,
“He mata lhu di mana,
jualan yang bener dong, lihat mobil lewat masih nongkrong
saja kayak nggak pernah lihat mobil. Masih pingin hidup nggak?” tanyanya.
Karena gertaknya yang keras itu tak ada orang yang berani
protes. Mengira ia militer yang sedang mabuk. Karena terlalu banyak variasi,
mobil Pian tidak sempat sampai di Pecenongan. Agaknya Pecenongan juga sudah
sepi. Di samping itu Pian sendiri sudah lupa mau ke mana. Setelah
putar-putar nabrak sana nabrak sini, entah berapa korban
yang jatuh, mobilnya mulai batuk-batuk. Periksa punya periksa rupanya bensinya
mulai habis.
“God Verdom Zeg, Gresi! Kok mobil dalam mimpi bisa kehabisan
bensin!” teriak Pian sambil tertawa.
Sambil nggenjot gas kemudian ia tekan klakson. Korek api
diraihnya. Lalu mobil itu
dibakarnya. Sementara mobil meluncur menuju ke tangki minyak
yang sedang parkir
di muka Rumah Sakit, ia melompat.
Pian terpental-pental. Kepalanya benjol-benjol dan berdarah.
Seluruh tubuhnya lukaluka
kecil. Mungkin sekali salah satu bagian tubuhnya patah. Tapi
ia masih sempat berdiri.
“Aneh juga, mimpi kok bisa sakit seperti ini,” katanya
sambil mengurut badannya.
Tetapi yakin bahwa itu hanya mimpi, ia segera menguatkan
dirinya bahwa setelah
mimpi berakhir, toh segala kesakitan itu akan dengan
sendirinya pudar.
Dengan tertatih-tatih Pian pulang. Ia tersungkur di selokan.
Badannya basah kuyup,
tapi ia hanya ketawa.
“Ini cuma mimpi. Dan mimpi buruk biasanya pahalanya
kebalikannya,” katanya menghibur diri.
Pian termenung.
“Ya Tuhan,” rintihnya. “Mengapa mimpi ini panjang sekali.
Aku cuma mau makan di Pecenongan, mengapa panjang sekali jalannya. Apa sih
salahnya orang ingin mimpi makan sekali. Mentang-mentang nama gua Pian. Gua
nggak mau mimpi lagi dah sekarang, kapok. Gua jual mimpi ini sama
penjahat. Sama Idi Amin. Sama raksasa. Sama setan, biar
dimakannya semua isi dunia ini.
Masak jadi begini. Mau nggak gua jual mimpi ini sama Rusia,
sama Amerika? Makanya kasih
dong Pian ini kesempatan sedikit, ...”
Pian tidak bisa melanjutkan katakatanya.
Badannya lemas. Ia rubuh. Tapi bersamaan dengan itu, hilang
segala sakit. Segala perasaan. Segala keluh. Hilang segala mimpi. Ia tergeletak di depan rumahnya. Kaku.
Matanya terpejam. Tapi mulutnya tersenyum, seakan-akan ia sudah terlepas dari mimpi
buruk dan kembali ke dalam
kehidupan nyata.
Jakarta, 2 September 1981
(Sumber: "Mimpi" dalam Gress, 1987)
Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam memilih karya
sastra bukan bentuk drama, yang akan kalian jadikan menjadi naskah drama,
antara lain berikut.
1. Pilihlah naskah yang memiliki tema atau cerita yang
menarik.
2. Pilihlah naskah yang memiliki muatan yang dapat kalian
bentuk menjadi dialog antartokoh.
3. Pahamilah isi cerita atau tema dari karya tersebut
sebelum kalian ubah menjadi bentuk drama.
4. Kembangkan kreativitas pemikiran kalian dengan referensi yang
kalian miliki untuk menciptakan bentuk-bentuk dialog dengan diksi yang menarik.
Berikut naskah drama sebagai hasil penggubahan cerpen “Mimpi”
di atas, sebagai bahan pertimbangan kalian dalam menyusun sebuah naskah drama
dari karya sastra lain.
Mimpi
Karya: Putu Wijaya
Pian : Ya Tuhan, baru sekali inilah Kau kabulkan aku untuk
mimpi, padahal aku sudah setengah mati merindukannya.Baru sekarang aku bisa melakukan
apa saja yang ingin aku lakukan. Memukul pohon cemara misalnya! (sambil
menyepak dengan tenang pohon cemara itu) Atau melemparkan sebuah botol kosong
ke atas panggung … (lalu sebuah botol kosong melayang ke atas panggung).
Gile!!! (sambil tertawa ngakak) Baru sekali ini aku berhasil
menjelmakan mimpiku. Coba kapan
lagi aku bisa naik ke atas menara lampu ini kalau bukan
sekarang ini!
Ha … ha … ha … (sambil terus memanjat ke atas, lalu mencopot
dan menjatuhkan lampu-lampu itu ke bawah)
Ha ... ha ... ha ...
Hari sudah pukul tiga dini hari, orang sedang enak-enaknya
tidur. Dan entah kenapa tak ada
seorang pun yang menghalangi apa yang dilakukan Pian.
Pian : Pokoknya aku harus ke Pecenongan
sekarang! (Sambil terus tertawa Pian seolah mengemudikan
mobilnya seradakseruduk,
lampu-lampu merah diterjangnya, pejalan, pedagang kaki lima,
dan mobil mewah yang
kebetulan parkir di pinggir jalandiserempetnya)
Ha ... ha ... haa!
(Dengan cepat ia pun lewat di pompa bensin, lalu melemparkan
puntung-puntung rokok sambil meludah)
Rasain lhu! Kapan lagi gua bisa ngelempar rokok di pompa
bensin kalau bukan sekarang!
Suara berdebum, lalu seolah ia melanjutkan perjalanannya.
Pian : He mata lhu di mana???!!! Jualan yang bener dong!!! Lihat
ada mobil lewat masih aja
nongkrong, emang nggak pernah lihat mobil???!!! Masih ingin
hidup nggak??!!!
(Mobilnya pun mulai batuk-batuk,periksa punya periksa
rupanya bensinnya mulai habis).
Pian : God Verdom Zeg, Gresi!!! Kok mobil dalam mimpi bisa kehabisan
bensin?!!!
(Sambil nginjak gas, ia tekan klakson. Korek api diraihnya
lalu mobil dibakar dan meluncur menuju mobil tangki minyak yang sedang parkir
di muka rumah sakit, ia pun melompat).
Pian terpental-pental. Kepalanya benjolbenjol.Seluruh
tubuhnya luka-luka kecil.Mungkin sekali salah satu bagian tubuhnya patah. Tapi
ia masih sempat berdiri.
Pian : Aneh juga, mimpi kok bisa sakit
seperti ini.
(Dengan tertatih-tatih ia pulang. Ia tersungkur ke selokan,
badannya basah kuyup).
Ini cuma mimpi. Dan mimpi buruk biasanya pahalanya
kebalikannya.
Pian : Ya Tuhan. Mengapa mimpi ini panjang sekali. Aku cuma
mau makan di Pecenongan, mengapa
panjang sekali jalannya. Apa sih salahnya orang ingin mimpi
makan sekali??!!!
Mentang-mentang nama gua Pian! Gua nggak mau mimpi lagi dah sekarang!
Kapok!!!
Gua jual mimpi ini sama penjahat!
Sama Idi Amin! Sama raksasa. Sama setan, biar dimakannya
semua isi dunia ini! Masak jadi begini??!!!
Mau nggak gua jual mimpi ini sama Rusia, sama Amerika??!!
Makanya kasih dong Pian ini kesempatan sedikit!!!
(Sumber: “Mimpi” dalam Gress, 1987)
Selintas Makna
Dialog adalah penggunaan bahasa untuk menciptakan pemikiran,
karakter, dan peristiwa. Setiap naskah drama selalu melibatkan pemikiran. Dalam
struktur dramatik, pemikiran meliputi ide dan emosi, yang ditunjukkan oleh
kata-kata dari semua karakter dalam cerita. Pemikiran juga meliputi keseluruhan
arti dari naskah drama, yang
kadang disebut tema.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 19)
Sekolah : SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas, Semester : IX, 2
Alokasi waktu : 4 x 40 menit (2 pertemuan)
Standar Kompetensi
16.Menulis naskah drama.
Kompetensi Dasar
16.2 Menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran siswa dan siswi dapat menulis naskah drama berdasarkan
peristiwa nyata.
Materi Pembelajaran
Penulisan
naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.
Metode Pembelajaran
Observasi,
diskusi, inkuiri, unjuk kerja.
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Siswa, siswi dan
guru bertanya jawab tentang drama
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
Siswa dan siswi membaca naskah drama yang terdapat dalam
buku teks.
Siswa dan siswi membentuk kelompok.
Siswa dan siswi berdiskusi untuk menentukan sistematika
dan unsur yang terdapat dalam drama.
Siswa, siswi dan guru menyepakati sistematika dan unsur-unsur
yang terdaoat dalam drama.
|
Ingin tahu, kritis, kreatif, demokratis, santun, jujur
|
60’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
|
Ke-2
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Siswa, siswi,
dan guru bertanya jawab tentang sistematika dan unsur-unsur drama.
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
Siswa dan siswi mengidentifikasi peristiwa nyata yang
pernah dialami.
Siswa dan siswi menyusun urutan peristiwa nyata yang
pernah dialami.
Siswa dan siswi mengembangkan urutan peristiwa-peristiwa
menjadi satu babak.
Siswa dan siswi memajang naskah drama yang ditulis di
papan display.
Siswa, siswi dan guru menentukan instruman penilaian
naskah drama.
Siswa dan siswi menyunting dan menilai naskah drama
temannya.
|
Ingin tahu, kritis, kreatif, demokratis, santun, jujur
|
60’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
G.Sumber Belajar
Lingkungan.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ix untuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 230-233
H. Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu memilih peristiwa
nyata yang akan didramakan
|
Penugasan
|
Tugas Proyek
|
Pilihlah peristiwa nyata yang
akan didramakan
|
2. Mampu menyusun
urutan peristiwa untuk satu babak
|
Penugasan
|
Tugas Proyek
|
Susunlah urutan peristiwa untuk satu babak
|
3. Mampu mengembangkan urutan peristiwa menjadi naskah
drama satu babak
|
Penugasan
|
Tugas Proyek
|
Kembangkan urutan peristiwa menjadi naskah drama satu
babak
|
4.Mampu menyunting naskah drama
|
Penugasan
|
Tugas Proyek
|
Suntinglan naskah drama yang telah kamu buat
|
Teknik :
Penugasan.
Bentuk
Instrumen : Tugas proyek.
Contoh
instrumen :
Tulislah naskah drama. Berdasarkan peristiwa nyata yang ada
di sekitarmu atau peristiwa yang pernah kamu alami dengan langkah-langkah
sebagai berikut: pilihlah satu peristiwa untuk satu babak, kembangkan urutan
peristiwa itu menjadi naskah drama satu babak, kemudian suntinglah naskah drama itu!
No
|
Nama Siswa/siswi
|
Aspek yang dinilai
|
Jumlah skor
|
||||
Isi
|
Kese-suaian
|
keruntutan
|
Kelengkap-an
|
Keba-
hasaan
|
|||
Nilai
Akhir : Perolehan Skor X 100 Skor maksimum
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Menulis Kreatif Naskah Drama berdasarkan Peristiwa Nyata
Sebelum kalian memulai menulis naskah drama, di bawah ini dicontohkan sebuah petikan drama. Perhatikan
contoh tersebut sebagai bahan referensi kalian.
Kejahatan Membalas Dendam
Adegan 7
ISHAK : (tersenyum) “Lebih baik menulis kebenaran satu halaman
dalam sebulan daripada membohong berpuluh halaman sehari.”
ASMADIPUTERA: (menganggukkan kepala) “Aku bawa ke Jakarta, Ishak?”
ISHAK : “Akan engkau usahakan terbitnya?”
ASMADIPUTERA: “Ya, selekas mungkin.”
ISHAK : “Bawalah, Asmadi. Buku itu bukan kepunyaanku lagi,
tapi ialah kepunyaan nusa dan bangsa semata. Ada kubawa secarik kertas?
Tulislah semboyan itu di muka buku itu.”
ASMADIPUTRA : “Telah lekat di kepalaku …” (perempuan tua mengambil
azimat dari balik bajunya, dibakarnya,diletakkan di atas tanah. Asap mengepul
ke atas)
SALIWATI : (Keras-keras) “Nenek” (yang lain terkejut melihat
asap itu, lalu sebagian bertanya memandangi perempuan tua)
Perempuan Tua : (tersenyum) “Habis, habis sudah,
kepandaianku sebagai dukun. Azimatku telah kubakar (menunjuk ke angkasa). Aku
akan hidup baru sebagai manusia biasa."
SALIWATI : “Manusia Indonesia Merdeka”
Perempuan Tua : “Yang tidak lagi percaya kepada pekerjaan
dukun … tapi …”
SUKSORO : “Tapi percaya, hanya percaya kepada diri sendiri,
kepada kekuatan sendiri. (tiba-tiba Asmadiputra memandang ke kanan).
ASMADIPUTRA : (terkejut) “Kartili” (yang lain memutar badan melihat
ke kanan)
Adegan 8 Kartili masuk dari kanan, rambutnya takkaruan,
bajunya seperti biasa. Ia tidak mengacuhkan
orang-orang.
ISHAK : “Kartili” (hendak pergi ke arah Kartili, ditahan Asmadiputra)
SUKSORO : “Ia di sini?”
Perempuan Tua : (kepada Ishak) “Ia rupanya yang tidur di
muka rumah kita.” (Kartili terus
berjalan ke luar, ke kiri)
ASMADIPUTRA : “Ia gila, benar gila!”
SALIWATI : (melihat ke asap tanah) “Bangunkan dia, Nek!”
Perempuan tua : (menunjuk ke asap tanah)“Terlambat sudah.”
SUKSORO : “Kejahatan membalas dendam!”
(Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma oleh Idrus)
Naskah drama merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan dalam
sebuah pementasan drama. Naskah drama adalah satu cerita tertulis untuk dipentaskan
di panggung, layar, atau radio. Naskah drama ditulis menggunakan
kalimat-kalimat langsung yang lengkap dengan penjelasan mengenai sikap,
gerakan, latar, dan cara pengungkapan kalimat yang harus dilakukan oleh para
pelakunya. Naskah drama dapat ditulis berdasarkan peristiwa nyata.
Meskipun berdasarkan peristiwa nyata, naskah drama dapat ditambahkan
dengan kreativitas daya imajinatif sang penulis. Beberapa hal yang perlu kalian
perhatikan dalam penulisan naskah drama, sebagaimana dapat dilihat pada contoh
naskah drama di atas adalah berikut.
1. Mengembangkan inti cerita menjadi lebih menarik dengan bentuk
dialog.
2. Menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang menarik.
3. Memilik diksi yang menarik dan tepat untuk membawakan cerita.
Adapun langkah-langkah menulis drama berdasarkan peristiwa
nyata adalah berikut.
1. Menentukan peristiwa yang menarik, yaitu peristiwa yang memberikan
kesan yang mendalam.
2. Memilih dan menentukan tema.
3. Memilih judul dan membuat kata pembuka. Judul sebaiknya tidak
terlalu panjang dan menarik. Kata pembuka lebih bagus jika bersifat bombastis
(berlebihan) agar pembaca tertarik mengikuti cerita selanjutnya.
4. Membuat kerangka dengan memasukkan konflik.
5. Menentukan pelaku.
6. Menyusun jalinan cerita yang mengandung perkenalan tokoh dengan
konflik dan penyelesaiannya.
7. Menyusun kramagung dan wawancang. Kramagung merupakan perintah
kepada pelaku untuk melakukan sesuatu yang ditulis sebagai petunjuk dalam
bermain drama. Wawancang
ditulis lepas dan mengandung semua perasaan
pelakunya.Penulisan naskah drama berbeda dengan naskah cerita lainnya. Berikut
penjelasan penulisan naskah drama
1. Naskah drama disajikan dalam bentuk pementasan adegan.
Babak terdiri atas beberapa adegan. Pergantian pelaku merupakan
tanda pergantian adegan dalam satu peristiwa.
2. Penulisan drama dapat kalian awali dengan sebuah prolog sebagai
pengantar dan epilog sebagai penjelasan akhir cerita.
3. Dialog ditulis dengan diawali tokoh yang berbicara atau berlaku.
Tanda titik dua sebagai pemisah antara pelaku dengan kalimat yang diucapkan.
Ada beberapa naskah drama yang telah diadaptasikan ditulis dalam bentuk
paragraf.
4. Petunjuk lakuan atau tindakan dituliskan dalam dialog
tokoh yang berlaku dengan diberikan tanda kurung.
5. Penulisan keterangan dan petunjuk lakuan dalam pergantian
babak atau perpindahan adegan dapat ditulis seperti paragraf diakhir dialog
antartokoh.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 20)
Sekolah : SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas, Semester : IX, 2
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi
Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama.
Kompetensi Dasar
Membahas
pementasan drama yang naskahnya ditulis oleh siswa dan siswi
Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran, siswa dan siswi dapat
membahas naskah drama yang naskahnya ditulis
sendiri.
Materi Pembelajaran
Pembahasan pementasan drama.
Metode Pembelajaran
Inkuiri, tanya jawab.
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Siswa, siswi,
dan guru bertanya jawab tentang naskah
drama yang telah disusun.
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
Siswa dan siswi membentuk kelompok sesuai dengan pemeran
yang ada pada masing-masing naskah
Siswa dan siswi berdiskusi unutk menentukan hal-hal yang
akan dibahas dalam pementasan drama berdasarkan naskah drama yang ditulis
oleh peserta didik laki-laki dan perempuan.
Siswa dan siswi dengan bantuan guru melengkapi hal-hal
yang diperlukan pada pementasan drama.
Siswa dan siswi menyebutkan hal-hal yang akan dibahas
terkait dengan pementasan drama.
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur, menghargai
karya
|
60’
|
|
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Guru memberikan tindak lanjut tentang pertemuan
berikutnya.
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
Naskah drama yang telah disusun peserta didik laki-laki dan
perempuan.
Drama.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.
Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang:
Penerbit UM Press. Hlm.
Wirayuda,
Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX.
Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 144-147
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
Mampu menentukan hal-hal yang dibahas terkait dengan
pementasan drama
|
Diskusi
|
Uji petik kerja produk
|
Tentukan hal-hal yang dibahas terkait dengan pementasan
drama
|
2. Mampu membahas
drama melalui kegiatan diskusi
|
Diskusi
|
Uji petik kerja produk
|
Bahaslah drama yang tersebut melalui kegiatan diskusi
|
Contoh
instrumen :
1. Tentukan
hal-hal yang dibahas dalam pementasan drama!
No
|
Kegiatan
|
Skor
|
1
|
Siswa dan siswi dapat mentukan tata panggung, tata rias
dan busana tata lampu dan ilustrasi musik dengan baik.
|
4
|
2
|
Siswa dan siswi hanya dapat menentukan 2-3 komponen.
|
3
|
3
|
Siswa dan siswi hanya dapat menentukan 1-2 komponen.
|
2
|
4
|
Siswa dan siswi hanya dapat menentukan 1 komponen.
|
1
|
Penghitungan
nilai akhir dalam 1-100 adalah sebagai berikut:
Nilai
Akhir : Perolehan Skor X Skor ideal Skor maksimum
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Lampiran
Membahas Pementasan Drama berdasarkan Naskah yang Ditulis
Siswa
Ciri khas sebuah karya drama adalah adanya tokoh, dialog, dan
konflik. Konflik ini dapat diakhiri dengan satu keputusan final atau
mengambang, sangat bergantung pada interprestasi (pandangan) seorang sutradara.
Sebuah naskah drama akan menjadi sempurna apabila dipentaskan. Pementasan
sebuah drama harus baik dan tepat, baik
dari segi pemeranan maupun segi pementasan. Segi pemeranan meliputi
ekspresi, intonasi, dan lafal dari para tokoh yang memerankan. Adapun dari segi
pementasan meliputi tata panggung, tata rias (make up), properti, dan tata
cahaya. Agar kita makin memahami mengenai hakikat sebuah drama, marilah kita
menyaksikan pementasan drama “Malam Jahanam” yang akan diperankan oleh
teman-teman kalian.
Malam Jahanam
Paijah masuk. Tinggal Soleman yang jadi gelisah lalu mencoba
merokok. Tetapi baru dua isapan, rokok itu lalu dipadamkannya.Tangannya
mempermainkan senter karena merasa bertambah gelisah. Lantas ia pergi menuju
kejauhan, seraya kakinya menendang butir-butir kerikil yang bertebaran,
kemudian kembali lagi ke tempatnya semula. Paijah keluar sebentar, tapi masuk
lagi, sebab dari
jauh suara tawa Utai sayup-sayup sudah didengarnya. Tak lama
kemudian, Mat Kontan dan Utai tiba di halaman. Utai tertawa-tawa.
MAT KONTAN
Diam! Orang kesusahan malah ketawa, Lu! Tiba-tiba matanya
melihat Soleman.
SOLEMAN
Dari mana?
MAT KONTAN
(mendekati, ingin mengabarkan berita sedih itu. Setelah
duduk dan mengeluh sambil
menepuk-tepukan perutnya, perlahan ia mulai) Man ...,
burungku beo yang kubeli sejuta itu, mati.
Si Utai yang jadi malas lalu melihat sesuatu terbang.
Diburunya serangga terbang itu. Ia mencoba menangkap tetapi tidakberhasil.
SOLEMAN
Sebaiknya jangan pikirkan yang sudah mati itu.
MAT KONTAN
Apa? Jangan dipikir? Apa kaukira saya ini gila, ha?
SOLEMAN
Siapa tau, Tan, nanti ada saja rejeki numpuk, kaubeli yang
lebih mahal.
MAT KONTAN
Apa kaukira beo semacam itu ada tandingannya di pojok dunia
ini? Dua tahun saya memeliharanya! Sekarang barangkali lebih tinggi daripada
harga mobil Dokter Ajat yang mungil itu.
SOLEMAN
Kau selamanya selalu merasa yang paling, yang paling,
sehingga kau sendiri jadi pangling!
MAT KONTAN
Jangan coba-coba hina saya ya! (kepada Utai), Hai, berhenti
main gila itu! Saya bisa tambah gila! Hayo berhenti! Utai duduk di ambin rumah
Mat Kontan. Sedangkan anak gila itu (menunjuk Utai),
dia bisa memikirkan dan merasa sedih atas kematian beoku.
Hai, Utai, kau kan sedih, ya?
UTAI
Ya!
MAT KONTAN
(mengambil rokok dan melemparkan)Kau memang jempolan! Utai
mengambil rokok dan minta api
lalu duduk di tempatnya semula.
MAT KONTAN
(kepada Soleman) Otakmu di mana sekarang. Di mana, ha?
SOLEMAN
Saya cuma menganjurkan. Tapi sedih sih ya ikut sedih!
MAT KONTAN
Betul? Betul sedih? (tertawa senang). Ke mana kau tadi tidak
nongol ketika saya cari agar bisa bersama-sama ke tukang nujum! (menarik nafas
karena tak dijawab). Saya kira malam ini malam paling jahanam dalam hidup saya!
SOLEMAN
Belum tentu.
MAT KONTAN
Siapa bilang belum tentu? Tukang nujum yang biasa meramalkan
nasib saya itu mati
pula empat hari berselang. (melihat Utai yang mempermainkan
rokok di ambin), Hai jangan
dibakar ambin bagus itu! Panggil mpok Ijah!
(Sumber: Malam Jahanam, karya Motinggo Busye, Pustaka Jaya)
Setelah menyaksikan pementasan drama tersebut, kalian dapat
mengungkapkan identifikasi karakter tokoh-tokoh yang ada serta deskripsi latar
atau setting, seperti contoh berikut.
1. Dari apa yang saya lihat, karakter “Mat Kontan” adalah pemberang
atau pemarah. Selain itu, dilihat dari dialogdialog yang diungkapkan, ia juga
berwatak mudah tersinggung. Dalam hal ini, situasi diri Mat Kontan tengah dirundung
kesusahan karena kematian burung
kesayangannya. Berkaitan dengan pemeranan, dialog dan perilaku
Mat Kontan harus disampaikan secara keras, emosional, kesan jagoan, serta
menunjukkan kekecewaan.
Karakter “Soleman” yaitu cenderung penyabar dan berpikir
rasional. Selain itu, ia juga berkarakter bijak dalam memahami sebuah persoalan
serta perilaku seseorang.
Berkaitan dengan pemeranan, dialog dan perilaku Soleman menunjukkan
sikap datar dan tenang. Karakter “Utai” dalam kutipan tersebut lebih banyak ditunjukkan
berdasarkan petunjuk dalam naskah. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan
bahwa karakter
Utai yaitu seperti orang gila. Berkaitan dengan pemeranan, dalam
lakuan dan dialog yang diperankan Utai lebih bersifat semaunya sendiri, cuek,
dan asyik dengan dirinya.
Karakter “Paijah” tidak begitu ditampakkan dalam kutipan
tersebut. Berkaitan dengan pementasan, hal ini bergantung pada kreativitas dan
kedalaman penggarap dan aktor untuk menciptakan kemenarikan di panggung.
2. Dilihat dari model penataan dan sesuatu yang terlihat
pada latar atau setting tempat adalah di teras dan halaman sebuah rumah. Bentuk
dan keadaan rumah menunjukkan
tempat tersebut merupakan rumah yang sederhana, yang di
halaman terdapat kerikil-kerikil. Latar waktu dalam drama tersebut adalah malam
hari. Hal ini dapat dilihat pada prolog “Tangannya mempermainkan senter karena merasa
bertambah gelisah”. Adapun latar suasananya adalah tegang.
Berkenaan dengan volume suara, intonasi, dan artikulasi, hal
tersebut sangat baik jika dapat menyesuaikan dengan karakter watak yang telah
teridentifikasi. Dalam hal ini, penyesuaian tersebut dapat dilatih dengan olah
vokal, pemahaman dan pendalaman karakter, serta latihan berperan.
Setelah menyimak dan memerhatikan pementasan, kalian dapat
berapresiasi dengan cara menilai dan memberikan tanggapan terhadap pementasan
tersebut, misalnya berikut.
1. Ekspresi Togar sebagai tokoh Soleman cukup bagus, hanya volume
vokal yang kurang kuat dan intonasi yang kurang tepat, membuat kesampaian
dialog yang diucapkan sedikit
berkurang. Namun, pada dasarnya pemeranan tokoh Soleman
sudah cukup baik.
2. Pemeranan tokoh Mat Kontan sangat memikat. Ekspresi dan
intonasinya benar-benar tepat. Volume suaranya pun sangat kuat, sehingga para
penonton benar-benar terbawa
emosi.
3. Penataan dekorasi dan propertinya sungguh artistik dan sederhana.
Ingin Tahu?
Beberapa sarana dramatik yang dapat dimanfaatkan oleh
penulis drama adalah berikut.
– Monolog adalah sebuah komposisi yang tertulis dalam naskah
drama atau yang berbentuk lisan yang menyajikan wacana satu orang pembicara.
– Solilokui hampir mirip dengan monolog dalam hal tampilnya seorang
tokoh atau pemain. Hanya yang
diujarkan tokoh biasanya panjang dan isinya merupakan pemikiran
subjektif yang ditujukan untuk menyarankan hal-hal yang akan terjadi.
– Sampingan dalam pementasan menggambarkan adanya ujaran
yang ditujukan kepada para penonton. Ujaran tersebut sengaja agar tidak didengar
oleh pemain lainnya, karena ujaran yang diucapkan ini biasanya berisi pikiran tokoh itu sendiri yang berisi komentar
terhadap peristiwa yang tengah berlangsung.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 21)
Sekolah : SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas, Semester : IX, 2
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi
Mengungkapkan
tanggapan terhadap pementasan naskah drama.
B. Kompetensi Dasar
Menilai pementasan drama yang dilakukan oleh siswa dan siswi
C. Tujuan Pembelajaran
Siswa dan siswi
dapat menilai pementasan drama yang dilakukan oleh siswa dan siswi lain
D. Materi Pembelajaran
Penilaian
pementasan drama.
E. Metode Pembelajaran
Observasi,
diskusi, Tanya jawab.
F.Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
|
Kegiatan
|
Nilai Karakter
|
Waktu
|
Ke -1
|
Pendahuluan
1. Berdoa bersama
dilanjutkan dengan pemberian salam
2. Menanyakan
kehadiran siswa
3. Siswa, siswi,
dan guru bertanya jawab tentang pembelajaran sebelumnya.
4. Siswa dan siswi menentukan
beberapa pementasan drama yang pernah dilihat.
|
Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
|
10’
|
Kegiatan inti
1) Siswa dan siswi membentuk kelompok diskusi.
2) Siswa dan siswi menentukan unsur-unsur yang diniai
dalam pementasan drama..
3) Siswa, siswi, dan guru menyepakati unsur-unsur yang
dinilai dalam pementasan drama.
Siswa dan siswi menyusun rubrik penilaian.
Siswa dan siswi menonton pementasan yang dilakukan oleh
model.
Siswa dan siswi melakukan penilaian pementasan drama
berdasarkan rubrik penilaian yang telah disepakati bersama.
|
Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur, menghargai
karya
|
60’
|
|
Penutup
1. Siswa dan siswi
bersama guru melakukan refleksi
2. Guru memberikan
penguatan dari penampilan siswa dan
siswi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
|
Ingin tahu, jujur, religius
|
10’
|
Sumber Belajar
Lingkungan.
Drama.
Santoso, Barokah, dkk. 2005. Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi
Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra
Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 220-221
Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
|
Teknik
|
Bentuk
|
Instrumen
|
1. Mampu menentukan isi dari sebuah pementasan drama
|
Tes tulis
|
Soal Uraian
|
1. Tentukan isi dari sebuah pementasan drama
|
2.Mampu menentukan hal-hal yang terkait dengan pementasan
drama
|
Tes tulis
|
Soal Uraian
|
2.Tentukan hal-hal yang terkait dengan pementasan drama
|
3. Mampu memberikan komentar dengan alasan yang logis
dengan bahasa yang santun tentang sebuah pementasan drama
|
Observasi
|
Lembar Observasi
|
3. Berikan penilaian/ komentar dengan alasan yang logis
dengan bahasa yang santun tentang sebuah pementasan drama dengan menggunakan
lembar observasi berikut!
|
Lembar observasi berikut!
NO
|
ASPEK
|
NILAI
|
|||||
Sangat baik
|
baik
|
cukup
|
kurang
|
Sangat kurang
|
komentar
|
||
1
|
Lafal
|
||||||
2
|
Intonasi
|
||||||
3
|
Mimik
|
||||||
4
|
Gesture
|
||||||
5
|
Penghayatan
|
||||||
Keterangan:
Sangat baik :
91-100
Baik :
81-90
Cukup :
71-80
Kurang :
61-70
Sangat kurang :
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui Guru
Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,
Drs. Amiek Tamami, M.M. Dra.
Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006 NIP
19620904 198303 2 006
Menanggapi Pementasan Drama
Hal-hal yang tidak pernah lepas dari sebuah pementasan drama
di antaranya adalah kurang lebih panggung dan properti, tata lampu, tata suara,
serta ilustrasi pengiring atau musik. Dalam pementasan drama, hal-hal tersebut
berperan penting dalam kemenarikan sebuah pementasan drama. Selain beberapa hal
yang berkaitan dengan panggung, kalian dapat memberikan apresiasi serta
tanggapan dalam pementasan drama berkaitan dengan tema
cerita, alur cerita, keaktoran, dan model penggarapan
sutradara. Berkenaan dengan pembahasan
di atas, simaklah pementasan drama yang akan diperagakan oleh teman- teman
kalian. Setelah menyimak pementasan tersebut, kalian harus dapat memberikan
apresiasi berupa tanggapan terhadap pementasan tersebut.
Sumur Tanpa Dasar
Karya: Arifin C. Noer
Bagian 15
Perempuan tua muncul membawa alat kompres. Lonceng
berdentang. Jumena menjadi tenang dengan kompres itu.
P. Tua : Kalau saja
Agan mau berdoa.
Jumena : Saya sangat capek.
P. Tua : Agan terlalu keras bekerja. Agan tak pernah
istirahat. Suara kecapi, sayup-sayup. Juga suara kodok.
P.Tua : Saya
hampir tak bisa percaya ada orang yang tidak pernah merasa bahagia, apalagi
anak seperti Agan. Saya juga sebatangkara. Suami saya sudah lama mati dan anak
saya satusatunya pergi tidak pernah berkabar lebih dari sepuluh tahun. Memang
saya merasa sepi dan sedih, tapi setiap kali saya masih bisa merasa bahagia
kalau saya sedang melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya bahagia melihat
orang lain bahagia. Dan saya tidak habis mengerti kenapa ada orang yang tidak
bahagia.
Jumena : Saya sangat sepi. Saya tidak pernah punya anak.
Saya selalu bertanya, untuk apa segala hasil keringat saya selama puluhan tahun
ini?
P. Tua : Kenapa Agan tidak percaya Euis sedang mengandung?
Jumena : Sudah empat puluh tujuh kali ia bilang begitu, dan
ini keempat puluh delapan.
P. Tua : Tapi bukan
tidak mungkin kali ini benar.
Jumena : Mungkin dan tidak mungkin. Saya betul-betul sendiri
di dunia ini.
P. Tua : Maaf, Gan,
apa tidak sebaiknya Agan mengambil anak angkat?
Jumena : Tidak! Saya pun tidak tahu kenapa. Tapi saya tidak
mau.
Sejenak tidak ada percakapan.
P. Tua : Agan kelihatan mulai mengantuk.
Jumena : Rasanya begitu.
P. Tua : Bagaimana kalau Agan mencoba
tidur di dalam?
Jumena : Saya coba.
Jumena bangkit melangkah tetapi ragu.
P. Tua : Ada apa, Agan?
Kalian dapat mengapresiasi terhadap sebuah pementasan drama
dengan tepat apabila kalian benar-benar menyimak pementasan tersebut dan
memerhatikan segala sesuatu yang
melingkupi pementasan tersebut di atas panggung. Berdasarkan
pementasan drama yang diperagakan oleh teman- teman kalian, kalian dapat
memberikan tanggapan, misalnya
berikut.
1. Berkaitan dengan pemeranan karakter tokoh-tokoh dalam drama:
a) Pemeran Perempuan Tua kurang menampakkan karakter
ketuaannya dan karakter sebagai abdi/pembantu. Padahal, pada dialog tersebut
karakter tokoh Perempuan Tua merupakan sosok orang yang sudah sangat tua, lebih
tua dari sang juragan, setia
sebagai abdi, bijak, perhatian, dan penuh kasih sayang;
b) Ekspresi keputusasaan dari tokoh Jumena pada pementasan
kurang begitu tampak. Dari isi dialog yang dikemukakan oleh tokoh Jumena
menampakkan bahwa karakter tokoh tersebut tengah dirundung rasa putus asa,
kesepian, dan gelisah, meskipun dia seorang yang kaya.
2. Berkaitan dengan latar dalam pementasan. Bentuk properti
yang digunakan dalam pementasan terlalu modern, sehingga kurang sesuai dengan
setting waktu cerita. Berdasarkan dialog-dialog (seperti panggilan Agan) dan
kostum yang dikenakan dalam pementasan tersebut, menunjukkan bahwa cerita
tersebut berlangsung pada tahun 1950-an. Maka itu, bentuk meja, tempat tidur,
tempat minum, serta properti-properti semestinya belum modern.
3. Berkaitan dengan panggung pementasan. Secara keseluruhan,
penataan panggungnya sangat bagus dan artistik, sehingga sangat mendukung
menariknya pementasan tersebut.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar