Rabu, 06 Januari 2016

RENCANA PERENCANAAN PEMBELAJARAN 2016

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 1)

Sekolah
: SMPN 1 GURAH
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Unit
: 1
Alokasi Waktu
: 4 X 40 menit

A. Standar Kompetensi
1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/ siaran radio

B. Kompetensi Dasar
1.1 Menyimpulkan  isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/radio
                                     
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah disajikan tayangan TV/siaran radio, siswa dan siswi dapat menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber dengan tepat.

D. Materi Pembelajaran
Penyimpulan dialog interaktif

E. Metode Pembelajaran
      a.   Pemodelan
b.   Tanya jawab
Diskusi
Inkuiri
Penilaian autentik

F. Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter

Waktu
Ke -1
Pendahuluan 
Memberi salam dilanjutkan berdoa bersama
Menanyakan kehadiran siswa
Siswa dan siswi memperhatikan contoh rekaman/ tayangan dialog interaktif
4.  Bertanya jawab tentang tayangan dialog interaktif


Religius,
disiplin,
ingin tahu
10’
Kegiatan inti
1. Siswa dan siswi berkelompok, masing-masing 3-4      orang
2.  Dengan cermat siswa dan siswi mendengarkan rekaman atau tayangan/siaran dialog interaktif
3. Siswa dan siswi mendiskusikan pokok-pokok isi   dialog yang telah didengarkan
4. Siswa dan siswi menentukan tema dialog

Ingin tahu,
kritis, demokratis, percaya diri
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama  guru melakukan refleksi
Siswa dan siswi bersama guru berdoa bersama
   
Demokratis, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Memberi salam dilanjutkan dengan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa
Siswa, siswi, dan guru bertanya jawab tentang tema dialog yang telah dibahas pada pertemuan yang lalu

Religius,
disiplin,
ingin tahu
10’
Kegiatan inti
Dengan cermat siswa dan siswi medengarkan ulang  dialog interaktif
Setelah mendengarkan, siswa dan siswi menyimpulkan isi dialog dengan alasan yang logis
Secara bergantian siswa dan siswi melaporkan isi dialog interaktif secara lisan/ tertulis(*)

Ingin tahu,
kritis, demokratis, percaya diri
60’
Penutup
1.Siswa dan siswi bersama  guru melakukan refleksi
2. Berdoa bersama
Demokratis, religius
10


G. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
  1.  VCD, TV, radio
 2.  Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 42—45
 3. Anindyarini, Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat Pembukuan Depdiknas. Hlm. 2-4

H. Penilaian
     
Indikator Pencapaian
Kompentensi
Teknik
Bentuk
Instrumen/ Soal
1. Mampu menentukan tema dialog interaktif yang diperdengarkan
Tes
Tes Tertulis/
Soal uraian
Tentukan tema dialog interaktif yang telah kamu dengarkan!
2. Mampu menyimpulkan isi dialog interaktif yang diperdengarkan
Tes
Tes Tertulis/
Soal uraian
Simpulkan isi dialog interaktif yang telah kamu dengarkan!
3. Mampu melaporkan secara lisan simpulan isi dialog interaktif yang telah didengarkan.
Tes
Tes  Lisan
Laporkan secara lisan simpulan isi dialog interaktif yang telah kamu dengarkan!

Rubrik Penilaian untuk soal no. 1 dan 2
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Tema dialog interaktif
1—4
50

a. sangat tepat
4


b. tepat
3


c. kurang tepat
2


d. tidak tepat
1

2.
Simpulan isi dialog interaktif
1—4
50

a. sangat sesuai dengan tema, singkat, jelas, dan mudah dipahami
4


b. sesuai dengan tema, singkat, jelas, dan mudah dipahami
3


c. kurang sesuai dengan tema, kurang singkat, kurang jelas, dan sulit dipahami.
2


d. tidak sesuai dengan tema, tidak jelas, dan sulit dipahami
1

Skor dan bobot maksimal
8
100

Nilai Akhir soal no. 1 + 2 = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(4+4):8} x 100 = 100

Rubrik Penilaian untuk soal no. 3
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
Kesesuaian Isi

60
a. sangat sesuai
4

b. sesuai
3

c. kurang sesuai
2

d. tidak sesuai
1

Kelancaran berbicara

20
a. sangat lancar
4

b. lancar
3

c. kurang lancar
2

d. tidak lancar
1

Penggunaan bahasa

20
a. mudah dipahami
2

b. sukar dipahami
1

Skor dan bobot ideal
10
100
                       
Nilai Akhir soal no. 3 = (Perolehan Skor : Skor Maksimal) x bobot maksimal
Misal                          = (10 :10) x 100 = 100



                                                                                                Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006

Lampiran : Dialog Interaktif
Penyiar            : “Selamat malam para pendengar Radio Dua Duta di mana pun Anda berada.   Jumpa lagi dengan Gita Paramita di acara dialog interaktif menjadi usahawan sukses. Para pendengar di rumah, jika kita minum kopi rasanya kurang pas jika tanpa gula. Memang dua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan. Sesuai dengan uraian saya tersebut di studio telah hadir Ibu Nuraini dan Bapak Sugiyo. Mereka berdua adalah wirausahawan sukses di bidang agrobisnis pangan. Ibu Nuraini adalah wirausahawan kopi robusta, adapun Bapak Sugito adalah wirausahawan gula. Pendengar di rumah dapat berpartisipasi dalam dialog interaktif ini dengan menghubungi nomor (021) 637300. Baiklah akan Gita perkenalkan narasumber kita pada malam hari ini. Selamat malam Ibu Nuraini dan Bapak Sugiyo!”
Ibu Nuraini      : “Selamat malam Mbak Gita dan para pendengar di rumah!”
Bapak Sugiyo  : “Selamat malam!”
Penyiar            : “Bagaimana asal mula Bapak dan Ibu dapat menekuni usaha ini?”
Bapak Sugiyo  : “Usaha ini saya mulai pada tahun 1998. Ketika itu kondisi perekonomian bangsa baru terpuruk akibat krisis moneter. Tanpa sengaja saya mendengar siaran radio tentang kiat - kiat usaha di masa krisis. Dijelaskan bahwa usaha bisa diawali dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kita. Saya lalu berpikir bahwa di sekeliling saya ada banyak tanaman kelapa dan empon-empon yang bisa saya olah. Sejak saat itu saya mencoba membuat gula pasir dari air nira tersebut.”
Penyiar            : “Bagaimana dengan Ibu?”
Ibu Nuraini      : ‘Pada tahun 2000 saya memulai mencoba memperbarui produk kopi robusta Sumbawa. Sebelumnya kopi robusta asal Batu Lantek tidak berkembang karena selama  ini proses pengerjaan biji kopi amat sederhana. Biji kopi hanya disangrai sampai gosong dan menghitam. Ini membuat cita rasa kafeinnya hilang dan seakan-akan kita hanya meminum arangnya kopi itu. Saya mencoba memperbarui hal tersebut mulai dari proses pascapanen, pengolahan, hingga bentuk kemasannya, agar konsumen tertarik membeli produk kopi yang tak hanya merangsang bau kopinya, tapimjuga enak diminum.”
Penyiar            : “Apa merek dagang yang Anda berikan untuk produk Anda ini?”
Bapak Sugiyo  : “Saya memberi nama ‘Gula Semut’.”
Penyiar            : “Unik sekali nama yang Anda berikan!”
Bapak Sugiyo  : “Iya, karena bentuk gula ini berwujud butiran-butian halus, serupa tumpukan semut. Saya memilih kata semut agar mudah diingat orang.”
Penyiar            : ‘Apa merek dagang yang Ibu berikan untuk produk kopi ini?”
Ibu Nuraini      : “Kopi Organik Murni.”
Penyiar            : “Apakah Ibu menggunakan pupuk organik untuk budidaya pohon kopi tersebut?”
Ibu Nuraini      : “Iya. Kopi tersebut bebas penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia karena budidayanya memakai pupuk organik.”
Penyiar            : “Bagaimana proses pengolahan gula semut dan kopi robusta ini?”
Bapak Sugiyo  : “Pertama-tama air nira direbus. Setelah terbentuk bentuk dasar dari gula tersebut yang berupa butiran halus, baru saya mencampurnya dengan sari empon-empon.”
Penyiar            : “Bagaimana dengan Ibu?”
Ibu Nuraini      : “Butiran biji kopi yang warnanya berbeda seperti merah atau cokelat dipilah-pilah sesuai dengan warna dan ukurannya. Biji kopi itu dicuci hingga bersih dan dijemur dua-tiga hari agar benar-benar kering. Biji kopi kering tersebut disangrai selama dua jam, barulah kopi ditumbuk dan diayak dengan alat yang sudah distandarkan.”
Penyiar            : “Baiklah di line 637300 telah ada yang masuk. Halo selamat malam dengan Bapak tau Ibu siapa dan dari mana?”
Penelepon        : “Selamat malam.Saya Ibu Diana dari Sumedang.”
Penyiar            : “Ibu diana mau bertanya kepada siapa?”
Penelepon        : “Saya ingin menanyakan tentang pemasaran produk tersebut pada Bapak Sugiyo. Terima kasih.”
Bapak Sugiyo  : “Saya memasarkan produk tersebut dengan menitipkannya ke warung-warung, hingga memberikan contoh produk secara cuma-cuma. Pelan-pelan produk saya dikenal orang. Kemudian saya memberanikan diri untuk merambah pasar Jakarta. Langkah saya ini bisa dibilang nekat karena saat itu Gula Semut belum mengantongi surat izin dari Departemen Kesehatan. Di Jakarta produk saya berkembang hingga saya dapat merambah pasar luar negeri.”
Penyiar            : “Baiklah para pendengar, acara ini akan kita lanjutkan dengan kiat-kiat menyukseskan usaha setelah mendengarkan yang mau lewat ini.”  
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 2)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Unit
: 1
Alokasi Waktu
:   4  X  40 menit ( 2 pertemuan)
           
Standar Kompetensi
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan
Kompetensi Dasar
2.2  Melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas
Tujuan Pembelajaran
Siswa dan siswi dapat melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas
 D.  Materi Pembelajaran
Pelaporan berbagai peristiwa
Peristiwa yang berkaitan dengan pertanian (”Tak Ada Pabrik Pengolahan, Petani Kesulitan Menjual Kelapa Sawit”)
Peristiwa dari Liputan 6 SCTV tentang Pemerintah mengkaji kemungkinan mengimpor gula
        E. Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik

  F. Kegiatan Pembelajaran     

Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke-1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang peristiwa
Siswa dan siswi berkelompok dan menerima teks laporan tentang peristiwa

Religius, ingin  tahu, disiplin
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mencermati beberapa laporan peristiwa, sesuai dengan teks yang diterima
Siswa dan siswi berdiskusi untuk menentukan sistematika laporan peristiwa
Secara individu, menentukan peristiwa yang terjadi di sekeliling yang akan dilaporkan
Menentukan  pokok-pokok peristiwa sebagai dasar penyusunan  kerangka laporan



Ingin tahu, kritis, demokratis, mandiri, kreatif
60’
Penutup
Siswa  dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama

Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang pokok-pokok peristiwa sebagai dasar penyusunan kerangka laporan

Ingin tahu, disiplin
5’
Kegiatan Inti

1.  Siswa dan siswi mendeskripsikan  pokok-pokok peristiwa dalam jalinan sistematika laporan
2.  Secara bergantian siswa dan siswi melaporkan secara lisan peristiwa yang  terjadi di lingkungan siswa
3.  Memberikan penilaian dan komentar terhadap laporan yang disampaikan teman/siswa lain



Kritis, mandiri,ber-tanggung jawab, jujur, menghargai prestasi orang lain
65’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’

G. Sumber Belajar
     1.Media cetak (teks laporan
2. Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 32—34
3. Anindyarini, Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat Pembukuan Depdiknas. Hlm.
H. Penilaian

Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen/ Soal
1. Mampu mendeskripsikan peristiwa secara rinci
Tes
Tes Tulis
Deskripsikan peristiwa secara rinci!
2. Mampu melaporkan peristiwa yang ada di lingkungan secara lisan
Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Produk
Laporkanlah peristiwa yang ada di lingkunganmu secara lisan!


Rubrik Penilaian

No.
Aspek yang dinilai
Total Nilai
Kejelasan informasi
Volume Suara
Intonasi
Percaya diri







   




  Keterangan Nilai:
      9 – 10 : baik
      7 – 8 : cukup
      5 – 6 : sedang
      < 5 : kurang

      Total nilai = Perolehan Nilai : 4

      Contoh:       36:4 = 9 (baik)


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               


Lampiran
Teks 1
           
Tak Ada Pabrik Pengolahan, Petani Kesulitan Menjual Kelapa Sawit
           
            Nunukan, Kompas- Karena tak ada pabrik pengolahan minyak sawit (crude palm oil), ribuan petani sawit di Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, tidak bisa menjual buah sawit yang baru mereka panen. Akibatnya, buah sawit dibiarkan membusuk di kebun atau dibuang ke jalan raya.
            Petani sawit di Kecvamatan Sebuku, Senin (2/8) mengatakan, seluruh petani sawit di Sebuku merupakan transmigran asal Nusa Tenggara Timur yang ditempatkan di Kabupaten Nunukan sejak tahun 1995. Mereka dilibatkan dalam perkebunan sawit inti dan plasma. Setiap petani mendapat jatah lahan kebun seluas 3,5 hektar pada lahan yang semula merupakan sisa penebangan hak pengusahaan hutan. “Kami mau membersihkan sisa pepohonan hutan dan kemudian menanam sawit karena dijanjikan buah sawit akan dibeli PT KHL, “kata Alex raga, petani di Desa Sanur, Kecamatan Sebuku.
            Tidak kurang dari 6.000 hektar lahan perkebunan sawit milik 2.100 kepala keluarga sudah digarap. Namun, saat panen beberapa tahun lalu hingga sekarang pabrik pengolahan yang dijanjikan PT KHL tak kunjung dibangun. “Perusahaan cuma mengincar kayu hutan. Setelah kayu dibabat habis, lahan tak kunjung ditanami dan pabrik pengolahan minyak sawit tak dibangun. Pemilik perusahaan kini sudah tidak diketahui keberadaannya,” kata Alex Raga.
            Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur mengatakan, meski izin operasional PT KHL diberikan Pemerintah Provinsi Kaltim, karena sekarang sudah diberlakukan otonomi daerah maka tanggung jawab penanganannya ada di Pemerintah Kabupaten Nunukan. Pempov Kaltim sama sekali tidak terlibat dalam persoalan itu, karena khawatir dituding mencampuri urusan kabupaten.
            Bupati Nunukan mengatakan, pihaknya sudah berkali-kali meminta agar Dinas Kehutanan Kaltim dan instansi lainnya di tingkat provinsi menghentikan pemberian izin pembukaan areal perkebunan kelapa sawit.

                                                                        Dikutip dari Kompas, 3 Agustus 2004, hlm. 6


Teks 2
Liputan 6. Com, Jakarta: Pemerintah sedang mengkaji kemungkinan mengimpor gula untuk mengantisipasi kenaikan harga komoditi ini. Dewan Gula Nasional mengusulkan jumlah impor sebanyak 500 ribu ton. Demikian, diungkapkan Direktur Jendral Perdagangan Dalam Negeri Rifana Erni di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Rifana, impor akan dilakukan bertahap mulai awal tahun depan. Dia mengatakan, stok gula nasional hingga akhir Desember masih mencukupi. Pemerintah masih punya cadangan sekitar 400 ribu ton. Tapi Rifana mengakui, harga gula di tingkat pengecer sudah naik sekitar Rp300 hingga Rp800 per kilogram.

Di lain pihak, Departemen Pertanian akan memfokuskan kegiatan mewujudkan visi pembangunan pertanian 2005-2009: pertanian yang tangguh, meningkatkan daya saing, dan kesejahteraan petani. Kegiatan yang akan dilakukan antara lain memperbaiki birokrasi pertanian, meningkatkan produksi pertanian, dan penganekaragaman konsumsi pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Di samping itu, Deptan juga akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha tani soal pembiayaan.

Sementara untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil dan menengah, Departemen Perindustrian bekerja sama dengan lembaga independen asal Jepang (JICA) member pelatihan terhadap pelaku UKM. Pelatihan yang ketujuh kali ini diikuti sekitar 300 orang pengusaha berskala menengah. Program pelatihan menelan biaya hingga Rp2,5 miliar dengan materi pengenalan sistem manajemen perusahaan, pemasaran sampai permodalan. Khusus permodalan, Departemen Perindustrian akan bekerja sama dengan lembaga perbankan untuk memberikan kredit tanpa agunan. (ICH/ Tim Liputan 6 SCTV)



























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 3)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:  2  X  40 menit ( 1 pertemuan)
Standar Kompetensi                                                                                                           3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai       
Kompetensi Dasar
               3.1 Membedakan antara fakta dan opini dalam teks iklan di surat kabar melalui   kegiatan membaca intensif
       C.Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca intensif teks iklan di surat kabar, siswa dan siswi dapat membedakan antara fakta dan opini dengan tepat.

Materi Pembelajaran
Cara membedakan  fakta dan opini serta implementasinya:
Pembedaan fakta dan opini dalam teks bacaan (iklan) “Marketing Executives”

Metode Pembelajaran

Tanya jawab
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Kegiatan Pembelajaran
           
Pertemuan
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke- 1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab tentang fakta dan opini
Bertanya jawab tentang teks iklan
Secara berpasangan siswa dan siswi menerima teks iklan, serta membaca dan mencermatinya

Religius, ingin tahu, disiplin, kritis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mengkliping satu iklan yang memuat fakta dan opini
Siswa dan siswi mencermati  iklan
Secara berpasangan siswa dan siswi mendiskusikan fakta dan opini yang ada dalam iklan
Secara berpasangan siswa dan siswi mendiskusikan pengungkapan yang berupa fakta dan pengungkapan yang berupa opini dalam iklan
Siswa dan siswi membedakan fakta dan opini dalam teks iklan (=)
Secara individu siswa dan siswi membuat contoh fakta dan opini (*)

Kreatif, kritis, ingin tahu, demokratis, mandiri
65’
Penutup
Siswa dan siswi bersama  guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
5’


Sumber Belajar
Media cetak (teks iklan)
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 38—41
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 13-14

Penilaian

Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen/ Soal
Mampu mendata fakta yang ada dalam teks
Tes
Tes  Tulis
1.Datalah fakta yang terdapat dalam teks iklan!
Mampu mendata opini yang ada dalam teks
Tes
Tes Tulis
2. Datalah opini yang terdapat dalam teks iklan
Mampu membedakan fakta dan opini
Tes
Tes Tulis

3. Bedakanlah fakta dan opini yang terdapat dalam iklan
Mampu membuat contoh fakta dan opini
Tes
Tes Tulis
4. Buatlah dua contoh fakta dan opini

Rubrik Penilaian


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               





                                                                                               
Lampiran

Perbedaan antara fakta dan opini sebagai berikut.
 Fakta adalah hal (peristiwa, keadaan) yang merupakan
kenyataan atau sesuatu yang benar ada atau terjadi. Adapun
opini merupakan pendapat, pemikiran, atau sikap terhadap faktafakta

MARKETING EXECUTIVES
PT Hunter Dougles Indonesi adalah salah satu unit dari Hunter
Douglas Internasional. Perusahaan ini bergerak di bidang produk
arsitektural, penutup tirai jendela premium, dan produk-produk
interior lainnya.
Dalam rangka ekspansi usaha dengan adanya akuisisi produkproduk
interior yang baru, maka perusahaan saat ini sedang
mencari beberapa tenaga pemasaran yang menguasai bahasa
Inggris dan telah berpengalaman memasarkan dan menjual
produk-produk interior. Diutamakan yang mempunyai latar
belakang pendidikan arsitektur atau desain interior dan
mempunyai banyak relasi dengan para arsitek dan desainer interior.
Bagi Anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi di atas,
harap mengirimkan lamaran dan CV melalui alamat email di
bawah ini.

(Sumber: Kompas, 2 Juli 2008, dengan pengubahan)


Fakta dalam teks iklan di atas terdapat pada kalimat brikut.
1. PT Hunter Douglas Indonesia adalah salah satu unit dari Hunter Douglas Internasional.
2. Perusahaan ini bergerak di bidang produk arsitektural, penutup tirai jendela premium, dan produk-produk interior lainnya.
3. Dalam rangka ekspansi usaha dengan adanya akuisisi produk-produk interior yang baru, maka perusahaan saat ini sedang mencari beberapa tenaga pemasaran yang menguasai bahasa Inggris dan telah berpengalaman memasarkan dan menjual produk-produk interior.

Opini dalam teks iklan di atas terdapat pada kalimat berikut.
1. Diutamakan yang mempunyai latar belakang pendidikan arsitektur atau desain interior dan mempunyai banyak relasi dengan para arsitek dan desainer interior.
2. Bagi Anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi di atas, harap mengirimkan lamaran dan CV melalui alamat email di bawah ini.



















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 4)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   4  X  40 menit ( 2 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
8. Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan, dan pengalaman dalam cerita pendek

Kompetensi Dasar
 8.1 Menulis kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang penah dibaca

Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca cerpen, siswa dan siswi dapat menulis kembali cerita pendek tersebut dengan kalimat sendiri secara sempurna

Materi Pembelajaran
      Penulisan cerpen

Metode Pembelajaran
1. Pemodelan
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik

 Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke- 1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
2.   Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab tentang alur dalam cerpen (yang pernah dibaca)
Menerima cerpen sebagai model untuk dianalisis alur dan ide-idenya.


Religius, ingin tahu, disiplin, kritis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi membaca cerita pendek untuk menemukan ide-ide dan alur cerita
Bertanya jawab untuk menentukan ide-ide pokok cerpen sesuai  dengan alur cerpen
Secara individu siswa dan siswi mengembangkan ide-ide  pokok dengan kalimat sendiri  menjadi cerpen kembali


Ingin tahu kreatif, kritis,  demokratis, mandiri
65’
Penutup
1. Siswa dan siswi bersama  guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam


Ingin tahu, religius
5’
Ke-2
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam
Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab tentang cerpen hasil tulisan sendiri


Religius, ingin tahu, disiplin
5’
Kegiatan Inti
1. Siswa dan siswi secara bergantian menyunting cerpen yang telah dibuat
2. Siswa dan siswi mempublikasikan cerpen yang telah ditulis



Kritis, jujur, kreatif,
70’
Penutup
1. Siswa dan siswi bersama  guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam


Ingin tahu, religius
5’


Sumber Belajar
a.  Media cetak (cerpen koran)
Buku kumpulan cerpen
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 38—41
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 13-14



Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen/ Soal
Mampu menentukan ide-ide pokok sesuai tahap-tahap alur dalam cerpen
Penugasan
Tugas rumah
1) Tulislah ide-ide pokok cerpen yang sudah kamu baca sesuai dengan alurnya!
Mampu mengembangkan  ide-ide pokok menjadi cerpen


2) Kembangkanlah ide-ide pokok itu menjadi cerpen kembali dengan kalimatmu sendiri!
Mampu menyunting cerpen (=)


3) Suntinglah cerpen yang telah kamu buat
Mampu mempublikasikan cerpen tulisan sendiri (*)


4) Publikasikanlah cerpen yang telah kamu sunting! (*)





Rubrik Penilaian
Soal No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Ide-ide pokok cerpen sesuai dengan urutan alur cerita
1—4
40

a. menemukan ide pokok dengan sangat runtut
4


b. menemukan ide pokok runtut
3


c. menemukan ide pokok kurang runtut
2


d. menemukan ide pokok tidak runtut
1

2.
Menulis kembali cerpen
1—3
60

a. isi cerita sesuai dengan keruntutan ide pokok
3


b. isi cerita kurang sesuai dengan keruntutan ide pokok
2


c. isi cerita tidak sesuai dengan keruntutan ide pokok
1

Skor dan bobot maksimal
7
100

Nilai Akhir soal no. 1 + 2 = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(4+3):7} x 100 = 100


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               





Perhatikan penggalan kutipan cerpen berikut!
Tanah Merah
Oleh: Dwicipta
Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari Tanah Merah,seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan. Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang mengegerkan itu sudah barang tentu telah mendengarkeharuman namanya.
Oleh tindakan kepahlawanan itu, Pemerintah Hindia Belanda telah menganugerahkan sebuah bintang kepadanya. Orang-orang mengelu-elukkannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah pertempuran yang telah ia
alami, bunyi letusan senapan dan jerit mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh memabukkan.Beberapa bulan setelah ia berhasil menumpas pemberontakan kaum merah di Banten, Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi yang pertama-tama untuk masuk ke Digul dan mempersiapkan kamp pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi penjara-penjara di Jawa dan Sumatra.
“Apakah Gubernur Jenderal sudah gila?Digul adalah daerah terpencil, hutan-hutan lebat yang belum dijamah kecuali oleh penduduk rimba setempat dan para petualang Tionghoa. Aku mendengar dari orang-orang yang melakukan ekspedisi ke sana untuk mencari emas bahwa Digul adalah belantara
yang dipenuhi para pengayau. Bagaimana kaum interniran bisa hidup di sana?” tanyanya kepada Letnan Drejer, opsir yang juga mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk belantara Digul.
“Tampaknya Tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia. Bukankah di Rusia terdapat pembuangan yang terkenal di seluruh dunia? Siapa tak mengenal Siberia,  neraka bagi siapa pun warga Rusia yang berontak atau menjadi bajingan!” ujar Letnan Drejer sambil tersenyum kecut.
 “Kita bukan bangsa Rusia, dan Siberia lain dengan Digul, Letnan. Digul hutan lebat.
Apa yang bisa diharapkan dari daerah seterpencil itu? Kalau kita membuka hutannya, masalah mengerikan lain telah menunggu: malaria! Bukankah itu sama saja dengan mengirimkan kaum interniran itu ke lembah kematian?” “Saya tak takut dengan malaria, Kapten.
Tapi tinggal di hutan lebat semacam Digul sama saja dengan menyerahkan kepala kita kepada para pengayau atau para kanibal hitam di sana. Itulah yang saya takutkan,” ujar Letnan Drejer dengan kepala bergidik.
“Hehm, benar. Dan kita, kaum terhormat yang baru saja mendapatkan bintang kehormatan dari tindakan militer, harus mengotorkan tangan dengan tindakan memalukan. Sungguh keterlaluan orang-orang Batavia!”
“Yang lebih mengherankan, bukankah Gubernur Jenderal de Graeff itu terkenal berbudi baik, Kapten? Bagaimana ia bisa membuat keputusan-keputusan yang mengerikan seperti membuka kamp pembuangan?” ujar Letnan Drejer tak mengerti.
“Apalah artinya seorang gubernur berbudi baik bila sistemnya telah diracuni oleh para pejabat berhati kotor? Merekalah yang tak ingin kedudukannya terancam dengan ulah para pemberontak yang ingin
menjatuhkan kekuasaan. Dan, untuk menangkal ancaman tersebut, tindakan kotor pun buat mereka tak apa-apa dan tak ada salahnya dilakukan. Letnan Drejer mengangkat bahu. Dipandangnya punggung Kapten Becking yang jangkung itu. Rasa hormatnya yang tinggi tak pernah lenyap terhadap lelaki ksatria yang beranjak tua ini. Di luar dinas militernya, opsir berambut putih itu sungguh       terpelajar.
Satu minggu sebelumnya Kapten Becking telah meminta bawahannya untuk mencari segala pengetahuan yang ada hubungannya dengan Digul dan bumi hitam di ujung timur Hindia itu.
Sementara para prajurit dan opsir bawahannya membual dan membayangkan petualangan di tanah mereka yang akan mereka lakukan, ia justru tenggelam dengan buku-buku dan tumpukan laporan tentang Digul dan wilayah New Guinea secara umum. Ia gemar sekali membaca suku-suku
pedalaman yang tinggal di hutan belantara itu dan di sepanjang Sungai Digul, kebaikankebaikan
mereka dan kesukaan mereka dalam mengayau. Tak jarang ia mengingatkan Letnan Drejer akan kebuasan alam tempat baru itu dan berujar ia akan menundukkannya secepat mungkin.
(Sumber: Kompas, 13 Januari 2008)

Berdasarkan kutipan cerita pendek di atas, kalian dapat menentukan ide-ide pokok cerita pendek sesuai alur. Penggalankutipan cerita pendek tersebut merupakan alur perkenalan. Berikut ide-ide pokoknya.
1. Ingatan “tokoh” kembali kepada masa lalunya yang merupakan
rangkaian petualangan demi petualangan yang tidak
berkesudahan.
2. Penunjukan “tokoh” oleh Gubernur Jenderal Pemerintah
Batavia sebagai komandan ekspedisi ke Digul.
3. Sikap protes “tokoh” kepada temannya, Letnan Drejer.

Ide-ide pokok cerita pendek pada alur perkenalan di atas dapat dikembangkan menjadi cerita pendek dengan kalimat sendiri.

Kembali ia teringat masa lalunya. Masa lalu yang tak kan bisa ia lupakan. Ia teringat pada hidupnya yang merupakan petualang. Memang dulu ia ialah seorang pahlawan untuk
negerinya, negeri Belanda. Jika orang pernah mendengar      
tentang peristiwa Banten, tentu mereka akan mendengarkeharuman namanya.
Oleh keberanian akan tindakan kepahlawanan itu, maka Gubernur Jenderal Pemerintah Batavia menunjuknya sebagai komandan ekspedisi ke Digul. Ia ditunjuk untuk mempersiapkan kamp pembuangan bagi kaum interniran yang telah memenuhi
penjara-penjara di Jawa dan Sumatra. Namun, penunjukan ini tidak membuatnya bangga sebagai pahlawan. Justru ia mengata-ngatakan Gubernur Jenderal telah gila. Ia berpikir bahwa Digul adalah daerah terpencil, hutan-hutan lebat yang belum dijamah. Ia melontarkan segala protesnya kepada Letnan Drejer. Letnan Drejer adalah opsir yang juga mendapatkan perintah untuk menemaninya masuk  belantara Digul.
“Apa yang membuat Gubernur Jenderal menunjuk kita  untuk ke Digul? Apa yang ada di benaknya?” tanyanya.
“Mungkin Tuan Gubernur Jenderal de Graeff ingin meniru bangsa Rusia,” jawab Letnan    Drejer.
“Ini jelas beda. Digul hutan lebat. Apa yang bisa diharapkan  dari daerah seterpencil itu? Malaria dan kematian!” tegasnya.
July 20th, 2008
Cerpen Remaja Retno Wi
Kunikmati segarnya kelapa muda dengan tenang. Setenang gelombang ombak di hadapanku. Rasa sejuk langsung menjalari sepanjang kerongkonganku. Pandanganku terlempar pada hamparan laut yang luas. Ada ketenangan menelusup ke relung jiwa. Ketenangan yang belum pernah kunikmati sebelumnya. Jiwaku seakan terbang seiring gemuruh ombak yang menderu. Seperti camar yang melesat ke langit biru. Perlahan buih air asin itu menarik paksa anganku menuju samudra lepas. Samudra kebebasan.

“Tahu petis, Mbak. Masih hangat, hanya Rp. 500.” Suara pedagang keliling mengusikku.
“Maaf.” Jawabku sambil terus menikmati desiran lembut angin pantai. Pedagang sialan, mengganggu saja. Rutukku setelah pedagang itu berlalu. Teramat jarang aku bisa menikmati keindahan, meskipun diriku termasuk orang yang memiliki segala kemewahan materi. Rumah megah di kawasan elit kota metropolitan, lengkap dengan pelayan. Mobil mewah keluaran terbaru serta fasilitas modern lainnya. Tapi semua itu tidak tampak indah dalam pandanganku. Hanya barang bagus dengan model terbaru yang sedang trend di kalangan orang-orang berduit. Tidak lebih. Sangat berbeda dengan pesona yang disuguhkan oleh garis cakrawala. Entah dimana ujung dari garis itu, aku tidak peduli. Yang pasti, garis itu telah menawarkan sebuah harmoni yang seimbang antara warna langit dan laut.
Kalau kupikir, sebenarnya pantai bukanlah tempat yang asing bagiku. Seminar-seminar dan pertemuan penting yang kuhadiri sering mengambil lokasi di sekitar pantai. Sayang aku hampir tidak pernah menikmati pesona kedamaian laut karena harus segera pergi ke tempat lain dengan agenda-agenda baru. Melakukan observasi, membuat program sampai membuat laporan. Begitu seterusnya. Itulah duniaku. Aku harus bekerja keras menyadarkan kaumku dari segala penindasan, ketertinggalan dan ketidakadilan. Mereka harus sadar kalau sedang ditindas. Mereka harus bangkit untuk menunjukkan kemerdekaan hak-haknya. Inilah yang menyebabkan keberadaanku di sini, mencari data tentang kekerasan yang dialami perempuan pantai di Jawa Timur.
Hampir dua jam belum ada fokus tema yang akan kuangkat sebagai bahan penelitian. Mataku masih enggan berpindah dari buih yang kadang bergerak menghalangi sebagian cakrawala. Di depanku tampak sebuah siluet indah. Kalau aku seorang pelukis pasti takkan kulewatkan nuansa biru langit yang berpadu dengan buih yang keperakan. Perahu beraneka warna yang sedang terapung memberikan gradasi warna yang kontras. Apalagi ditambah siluet yang terbentuk dari dua perempuan yang tampak asyik bercengkerama. Mereka kelihatan akrab. Seorang perempuan paruh baya dengan dandanan sederhana memakai kebaya dan jarik lusuh dilengkapi topi dari lebar dari anyaman bambu yang menutupi kepalanya. Di sebelahnya tergeletak sebuah nampan dari bambu berisi ikan. Sepertinya ia pedagang ikan asin, sebagaimana kebanyakan perempuan pantai di daerah ini. Tapi perempuan satunya? Apa yang ia lakukan? Mungkinkah kerabatnya? Sepertinya bukan, karena dari cara berpakaiannya jauh berbeda. Perempuan muda itu berjilbab dan rapi. Meski menurutku tidak modis sama sekali, tapi busananya itu tidak dapat menutupi bahwa ia perempuan terpelajar.

Perempuan muda itu mengangsurkan uang setelah menerima ikan asin. Tangannya tampak bergerak-gerak. Sepertinya ia menolak untuk menerima sisa uang dari penjual ikan. Kini tubuhnya tegak dan berjalan ke arahku. Dan, ooh…. Wajah itu?? Sebuah kotak memori tiba-tiba terbuka begitu saja di kepalaku. Bukankah ia adalah orang yang telah bersaing denganku ketika berebut proyek penanganan PSK saat kuliah dulu? Kagetku belum pupus ketika akhirnya dia menyapa.

“Assalamu’alaikum, Dena. Senang bertemu denganmu di tempat yang indah ini.” Mata di balik kaca bening itu berbinar. Seperti biasa, selalu ada senyum yang menghiasi wajah mungilnya. “Bagaimana, kabarmu?”
“Wa….wa’alaikum salam. A..aku baik-baik saja.” Sekuat tenaga kucoba mengusir rasa gugupku. “Apa yang kau lakukan di sini?” Kuatur nafasku agar tenang. “Sepertinya kau akan menyesatkan perempuan-perempuan di sini dalam keterbelakangan dan ketidakadilan!!” Kuberanikan menatap bola mata yang masih tampak tenang. Kulihat ia tidak terpengaruh dengan kalimat sinisku.
“Maksudmu wanita tadi?”

“Jangan sebut ia dengan wanita. Ia adalah seoang perempuan. Bukan wanita. Kata wanita hanya akan menjebak para perempuan untuk siap diatur dan ditata tanpa ada kesempatan untuk membela hak-haknya.” Bagiku itu hanyalah filosofi kaum laki-laki jawa yang menciptakan kata wanita yang artinya wani ditata.
“Dena, rupanya kau belum bisa melupakan peristiwa di Kantor Dinas Sosial 3 tahun yang lalu.” Aku tidak berkomentar dengan ucapan teman seangkatanku itu. Ia adalah teman kuliahku di FISIP. Sejak mahasiswa kami aktif di organisasi intra maupun ekstra. Di luar kampus aku memilih aktif di sebuah LSM perempuan yang cukup punya nama di tingkat nasional. Setelah lama bergabung, akhirnya aku dipercaya untuk menjadi Ketua Litbang tingkat nasional. Semua fasilitas kuperoleh untuk kelancaran misi kami. Belum lagi kalau ada proyek-proyek terkait dengan pembinaan perempuan, maka aku akan mendapatkan fasilitas yang lebih banyak lagi.
Sementara Lia, ia lebih memilih aktif di sebuah yayasan kecil yang ia dirikan bersama teman-temannya. Waktu itu aku tidak pernah peduli dengan semua yang ia lakukan. Tapi suatu saat kami bertemu di salah satu ruangan kantor Dinas. Saat melihatnya, aku cukup kaget karena ia mau mengunjungi kantor pemerintahan. Setahuku Lia hanya senang berkumpul di pojok-pojok masjid atau musholla. Rasa kagetku bertambah ketika mengetahui bahwa tujuan kami ternyata sama: melakukan presentasi proyek proposal tentang penanganan PSK di pinggiran kota. Kantor Dinas setempat memang mempunyai program pembinaan PSK yang penanganannya diserahkan pada LSM. Tapi sungguh malang, ternyata proposal yang diterima adalah proposalnya Lia. Bukan proposalku. Alasan pihak dinas karena konsep yang ditawarkan LSM Lia lebih sesuai dengan kultur masyarakat. Padahal LSM Lia hanyalah LSM baru yang belum genap 1 tahun berdiri dan patut dipertanyakan kemampuannya. Aku tidak tahu jalan pikiran para birokrat pada waktu itu. Konsep yang ditawarkan Lia sangat tidak manusiawi. Ia ingin para PSK nantinya menghentikan pekerjaannya. Ia tidak sadar bahwa dengan berprofesi sebagai PSK mereka bisa menafkahi anak-anaknya, bahkan suaminya. Justru para PSK itu harus dibantu agar tidak terjangkit berbagai penyakit dan bisa bermasyarakat dengan baik. Mereka menjadi PSK bukan kemauan sendiri, tapi keadaan ekonomi yang memaksa atau karena suami yang tidak bertanggung jawab.
“Dena” Segera aku tersadar bahwa Lia masih duduk di depanku. “Saat itu sebenarnya aku ingin menjelaskan tentang konsep pemberdayaan wanita…ehm…..maksudku perempuan, dan berdiskusi banyak denganmu. Tapi sayang kau terlalu cepat pergi.” Keluhnya bernada sesal. “Karena aku yakin sebenarnya kita bisa bekerjasama.”
“Bekerja sama? Nggak salah apa yang kau katakan?” Lia mengangguk pasti.
“Kenapa tidak??”
“Bagiku itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.” Sambungku ketus. ”Kalian adalah pengekang kebebasan kaum perempuan. Kalian membatasi ekspresi perempuan dengan dalih agama. Sementara kami, selalu memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan perempuan dari segala bentuk kekerasan maupun ketidakadilan.” Lia tampak tenang menghadapi cercaanku. Jujur aku salut dengan penguasan emosinya. “Kita berada di dua kutub yang berlawanan, Lia. Sekali lagi dua kutub itu tidak mungkin bisa disatukan!”
“Kebebasan dan kemerdekaan perempuan.” Ia menggumam perlahan mengulangi ucapanku. “Kebebasan seperti apa yang kalian perjuangkan?”
“Tentu saja bebas dari segala bentuk ketidakadilan. Baik yang diakibatkan oleh hukum agama, hukum adat maupun hukum Negara yang sering memrginalkan posisi perempuan.”
“Kalau boleh kukatakan, sesungguhnya kebebasan yang kalian perjuangkan adalah kebebasan nisbi. Keadilan semu.” Aku tersentak dengan kelancangan kalimatnya. Egoku memuncak.
“Maksudmu?!!”
“Kalian tidak pernah memiliki standar yang jelas tentang kebebasan dan keadilan.” Angin pantai memaksa tangan Lia merapikan kerudungnya yang berantakan. Ia mengambil nafas panjang sejenak.
“Bagi kami, keadilan itu ada ketika tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sedangkan kebebasan adalah dimana seseorang dapat berekspresi tanpa ada gangguan dari siapapun.”
“Definisi yang indah. Tapi sayang kalian sering tidak konsisten dengan definisi yang telah kalian buat.” Nada Lia cukup tenang tapi rasanya begitu dalam menusuk telingaku.
“Lia, kau tahu aku adalah orang yang sangat idealis. Jadi sekarang katakan dimana letak tidak konsistennya kami.” Gulungan ombak yang menghantam batu karang menambah ketegangan semakin nyata.
“Kau lihat penjaja ikan asin yang kutemui tadi.” Pandanganku mengikuti ekor matanya yang tertuju pada sosok perempuan yang sedang dikerumuni pembeli. “Ia telah lama tidak dinafkahi oleh suaminya. Suaminya pergi ke pulau seberang tanpa ada beritanya. Dialah yang harus menafkahi diri dan anak-anaknya. Tapi ia rela dan ikhlas menerima itu semua.” Lia menatapku sejenak. “Apakah ia telah mendapatkan keadilan sebagaimana yang kau inginkan?”
“Benar-benar laki-laki tidak pernah bertanggung jawab! Selalu ingin enaknya sendiri.” Pekikku geram. “Mereka itulah yang harus dibantu agar mendapatkan keadilan dan tidak tertindas oleh laki-laki. Masih beruntung seorang pelacur yang hanya melayani sesaat tapi ia langsung mendapatkan haknya.” Kalimatku meluncur begitu cepat berlomba dengan angin pantai yang berhembus.
“Di situlah tidak konsistennya kalian.” Kalimat Lia memaksa bola mataku menatap lekat kedua matanya.
“Kenapa?” Antara jengkel dan geram kucoba mencari jawaban atas tuduhan sinisnya.
“Kalian tidak obyektif dalam menilai sesuatu.” Lia menoleh kepada penjual ikan asin yang mulai melangkah pergi. “Perempuan itu memang ditelantarkan suaminya. Tapi ia tidak menganggap semua itu bentuk pemaksaan .
” Kunantikan kelanjutan kalimat Lia dengan kening berkerut. “Karena perempuan itu yakin ketika dia bisa ikhlas, maka keadilan yang sesungguhnya akan didapatnya. Keadilan dari Dzat Yang Maha Adil. Dan kini, keadilan itu telah didapatnya. Anak pertamanya telah menjadi seorang guru, dan anaknya yang kedua hampir menyelesaikan studinya di STAN. Di tengah kemelut hidup yang dialaminya, ternyata dia mampu berbuat adil pada anak-anaknya dengan memelihara dan menghidupi dengan cara yang bersih. Dia memilih menjadi penjual ikan asin meskipun harus berpanas-panas dan hidup dengan sederhana. Dia tidak memilih jalan pintas dengan menjadi pelacur seperti yang dilakukan oleh tetangga-tetangganya yang bernasib serupa. Kau tahu kenapa?” Aku hanya diam dengan pertanyaannya.
“Karena ia menilai bahwa seorang pelacur adalah salah satu sumber merebaknya ketidakadilan.” Aku semakin tidak percaya dengan keberanian Lia mengungkapkan analisis konyol dan tidak bermutu.
“Selama ini pandangan masyarakat tentang PSK adalah seputar kalimat amoral, aib, sampah masyarakat yang menurutku semua itu sangat tidak manusiawi. Tapi apa hubungannya antara pelacur dengan makna sebuah keadilan?”
“Ketika seseorang menjadi PSK, sesungguhnya ia telah berbuat tidak adil kepada anaknya, keluarganya, juga keluarga pelanggannya. Ia juga telah berbuat tidak adil pada masyarakatnya dan terutama kepada Tuhannya. Apalagi jika ternyata mereka hamil, tidak sedikit yang memilih menggugurkan kandungannya.”
“Tapi itu adalah hak mereka.” Jawabku ketus
“Tapi, anak mereka juga berhak untuk mendapat kehidupan yang halal, keluarganya maupun keluarga pelanggannya juga punya hak atas ketenangan hidup tanpa ada gangguan. Termasuk juga anak yang digugurkannya, ia punya hak untuk menikmati dunia. Inikah yang kalian sebut dengan keadilan? Padahal menurutku semua itu hanyalah pelampiasan ego yang diatasnamakan kebebasan. Bukankah demikian yang sebenarnya terjadi?” Dadaku terasa dihantam batu-batu karang dengan penuh keangkuhan. Kepalaku berputar terasa lebih cepat daripada sebelumnya. Idealismeku sebagai seorang feminis yang lama tertanam mulai terkoyak. Keningku telah basah oleh peluh. Bahkan desiran angin pantai tak mampu lagi menghilangkan peluh yang telah mendinginkan kening dan hatiku.
“Bukankah ia melakukan itu karena diperlakukan tidak adil oleh laki-laki yang secara resmi berstatus sebagai suaminya.”
“Dena, kalau semua manusia yang diperlakukan tidak adil melampiaskan dendam semaunya tanpa mempedulikan apakah ia telah berbuat tidak adil pada orang lain. Betapa hancurnya dunia kalau demikian.”
“Dena, sesungguhnya ketika engkau menginginkan kebebasan dari laki-laki, aturan masyarakat, pemerintah, adat bahkan agama, saat itulah kau telah terpenjara oleh egomu. Jiwamu diperbudak oleh materi serta kepuasan ego yang tak berdasar. Semua manusia punya hak. Tapi dunia akan hancur ketika semua manusia merasa bebas melakukan apa saja atas nama HAM yang dimilikinya. Di situlah perlunya aturan nilai yang universal, agar hak seseorang tidak menyebabkan terampasnya hak orang lain.”
“Aku tak yakin ada aturan yang universal. Karena kondisi geografis dan kultur dari tiap masyarakat berbeda. Bahkan teori feminisku pun kadang antara satu tempat dengan tempat lain harus bertentangan.”
“Bahkan lebih dari yang kau bayangkan, Dena. Aturan universal itu akan membebaskan perempuan dari segala bentuk perbudakan. Dengan aturan itu seorang perempuan tidak akan lagi menjadi budak suami meskipun ia berstatus sebagai istri, ia juga tidak bisa diperbudak penguasa meskipun ia seorang rakyat biasa. Ia juga tidak akan menjadi budak materi walaupun ia adalah perempuan pekerja. Ia benar-benar akan menjadi perempuan merdeka di hadapan penguasa maupuan manusia biasa. Bahkan ia pun merdeka di hadapan egonya sendiri. Perempuan yang dengan kemerdekaannya tetap berusaha adil dengan setiap peran yang dimilikinya.”
“Aku masih belum bisa mempercayainya.”
“Bukan salah Sang Pencipta ketika Ia menciptakan laki-laki dan perempuan. Adanya laki-laki dan perempuan adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah kehidupan. Cakrawala tercipta karena adanya langit dan bumi. Fajar yang indah ada karena adanya siang dan malam. Begitu pula dengan manusia, ia akan sangat bermanfaat jika antara mereka termasuk laki-laki dan perempuan bisa bekerjasama.” Kutatap mata bening itu dengan keraguan. Entah apa yang terjadi dengan otakku. Aku tak mampu berpikir lagi, bahkan tugas observasiku pun entah berada di otak sebelah mana.
Sebuah nada polyphonic membuat Lia siaga. “Maaf, aku harus pergi sekarang. Suamiku telah menunggu di parkiran. Jika ada kesulitan dengan observasimu, jangan sungkan untuk menemuiku di sini.” Tangan Lia memberikan sebuah kartu nama yang berlogo LSM yang dulu didirikannya.
“Terimakasih, mudah-mudahan saja kartu nama ini berguna.” Aku masih mencoba menunjukkan keangkuhan. Lia hanya tersenyum dan pamit. Angin pantai meninggalkan aku dalam kesendirian. Aku tidak tahu apakah ucapan Lia yang benar atau idealismeku yang rapuh. Suatu saat aku pasti menemukan jawabannya, entah kapan.






















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 5)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   2  X  40 menit ( 1 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio
Kompetensi Dasar
1.2 Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog interaktif pada tanyangan televisi/siaran radio
Tujuan Pembelajaran
Setelah disajikan tayangan TV/siaran radio, siswa dan siswi dapat mengomentari pendapat narasumber dengan baik.

Materi Pembelajaran
Cara mengomentari pendapat dalam dialog

Metode Pembelajaran
1) Pemodelan
2) Tanya jawab
3) Konstruktivistik
4) Inkuiri
5) Penilaian autentik

Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke-1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Mencermati model tayangan/siaran dialog interaktif
4.  Bertanya jawab tentang isi dialog interaktif

Religius, ingin  tahu, kritis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mendengarkan rekaman atau tayangan/siaran dialog interaktif dengan saksama
Mendata pendapat tiap-tiap narasumber
Bertanya jawab mengenai pendapat para narasumber
Mengomentari pendapat tiap-tiap narasumber dengan alasan yang meyakinkan


Ingin tahu, kritis, demokratis,  kreatif, jujur, berpikir logis
60’
Penutup
Siswa  dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama


Ingin tahu, religius
10’

Sumber Belajar
VCD, TV, radio
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 42—45
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.


Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen/ Soal
Mampu mendata pendapat tiap-tiap narasumber
Tes
Tes Tulis
1) Tuliskan kembali pokok-pokok pikiran/pendapat narasumber dalam dialog interaktif yang telah kamu saksikan/ dengarkan!
Mampu mengomentari pendapat narasumber dengan alasan yang menyakinkan
Tes
Tes Tulis
2) Berilah komentar terhadap pendapat narasumber!
                       


  Rubrik Penilaian
Soal No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Pokok pikiran yang diungkapkan narasumber
1—4
40

a. sangat tepat
4


b. tepat
3


c. kurang tepat
2


d. tidak tepat
1

2.
Komentar terhadap pendapat narasumber
1—3
60

a. komentar disertai dengan alasan yang logis
3


b. komentar disertai dengan alasan yang tidak logis
2


c. komentar tidak disertai dengan alasan
1

Skor dan bobot maksimal
7
100

Nilai Akhir soal no. 1 + 2 = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(4+3):7} x 100 = 100


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               




                                                                                               



Sastra Berkembang Pesat, tetapi Kurang Diapresiasi
X : Bagaimanakah perkembangan Sastra Indonesiasekarang, Pak?
Y : Sastra Indonesia sebenarnya berkembangpesat dan cukup menarik, tetapi kurang diapresiasi oleh  anak didik dan masyarakat.
Z : Hal ini terjadi karena dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia selama ini banyak pemanipulasian fakta dan data,dan seolah-olah terpusat di Jakarta serta kota-kota besar lainnya.
X : Maksud, Bapak?
Z : Selama ini yang dimaksud sastra Indonesiaadalah yang ada di Jakarta dan di kota-kota besar. Apalagi kebudayaan Indonesia didefinisikan sebagai puncakpuncak kebudayaan daerah. Dengan ini,tentu saja yang bukan puncak menjadi bukan sastra Indonesia. Ini sangat menyesatkan.
X : Jadi, sebenarnya apa yang ingin Bapak wujudkan dalam perkembangan sastraini?
Z : Sastra justru sesungguhnya dapat memahami kebudayaan daerah. Sastra menjadi ekspresi kultural, menjadi presentasi semangat etnis. Jika anak didik diberikan pelajaran sejarah sastra Indonesia yang benar dan apresiasi yang beragam, maka sastra dapat menjadi alat untuk demokratisasi, belajar demokrasi.Anak didik diizinkan berbeda pendapat, saling berargumen.
     Untuk kepentingan apresiasi, anak didik harus tahu sastrawan dengan pencapaian-pencapaiannya, sehingga mereka akhirnya bebas memilih karya siapa yang mereka sukai. Ini menjadi penting dan mudah-mudahan menjadi harapan membangun Indonesia yang lebih baik.
X : Seberapa pentingnya apresiasi sastra di
      kalangan anak didik, Pak?
Y : Apresiasi sastra sangat penting di kalangan anak didik. Namun, dalam apresiasi, jangan hanya   karya yang mudah dicerna, tetapi juga karya-karya yang sulit. Dalam sastra Indonesia perlu
     diperkenalkan paradigma baru, tidak hanya paradigma Chairil Anwar dan Amir Hamzah.
X : Bagaimana caranya, Pak?
Y : Jika merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan sastra Indonesia, para sastrawan yang masuk  ke sekolah-sekolah jangan hanya memperkenalkan karyanya sendiri atau kelompoknya, tetapi juga
      karya sastrawan lain, yang tidak punya kesempatan diundang.
X : Lalu, apakah semua sastrawan dapat diterima oleh sejarah Indonesia, Pak?
Y : Adapun untuk masuk dan disebut-sebut dalam sejarah Indonesia, jelas tidak mungkin semua sastrawan masuk di dalamnya. Harus ada kelas-kelasnya, dan jelas pencapaiannya atau prestasi karya sastranya, seperti pencapaian baru dalam pengucapan. Juga pencapaian dalam bentuk penerimaan oleh pembaca. Sastra itu juga sejarah, ada pencapaianpencapaian kemanusiaan.
(Sumber: Kompas, 16 Januari 2008, dengan pengubahan)

Setelah menyimak dialog tersebut, kalian dapat mengemukakan hal-hal penting dalam dialog, kesimpulan isi dialog, serta informasi yang tersirat dari dialog tersebut, sebagai berikut ini.

1. Beberapa hal penting yang perlu kalian catat dari dialog tersebut adalah berikut.
a.  Sastra Indonesia sebenarnya berkembang pesat dan cukup menarik, tetapi kurang   diapresiasi oleh anak didik dan masyarakat.
b.  Perjalanan sejarah sastra Indonesia selama ini banyak pemanipulasian fakta dan data, dan seolah-olah terpusat di Jakarta serta kota-kota besar lainnya.
c.  Sastra sesungguhnya dapat memahami kebudayaan daerah. Sastra dapat menjadi ekspresi kultural dan menjadi alat untuk belajar demokrasi.
d.  Apresiasi sastra sangat penting di kalangan anak didik.
e.  Dalam sastra Indonesia perlu diperkenalkan paradigma baru.
f.   Sastra merupakan sejarah yang ada pencapaian-pencapaian kemanusiaannya.

2. Kesimpulan dari isi dialog di atas dapat kalian kemukakan sebagaimana berikut.
Sastra Indonesia sebenarnya berkembang pesat dan cukup menarik. Namun, sastra Indonesia kurang diapresiasi oleh anak didik dan masyarakat karena dalam perjalanannya banyak pemanipulasian fakta dan data. Maka itu, perlu apresiasi sastra di kalangan anak didik dengan memperkenalkan paradigma baru, karena sastra itu merupakan sejarah yang ada pencapaian-pencapaian kemanusiaan.

3. Informasi yang tersirat dalam dialog tersebut adalah ajakan untuk mencintai dan memajukan sastra Indonesia, baik di kalangan anak didik, masyarakat, dan bahkan sastrawan itu sendiri.
Sumber: Dok. Penerbit

Komentar terhadap narasumber dalam dialog interaktif yang dapat kalian ungkapkan berdasarkan dialog di atas adalah berikut.

Pendapat atau pernyataan yang dikemukakan oleh tokoh “Y” dan tokoh “Z” saling mendukung. Keduanya mendukung adanya pengapresiasian sastra oleh anak didik dan masyarakat. Tokoh “Y” menekankan pada manfaat sastra di mata anak didik dan masyarakat. Adapun tokoh “Z” menekankan pada pencapaian sastrawan yang berkaitan dengan kemajuan sastra Indonesia. Jadi, pada prinsipnya tidak terjadi perbedaan
pendapat di antara kedua narasumber tersebut. Dalam dialog tersebut, tokoh “X” memosisikan sebagai seorang penanya atau pewawancara yang sekaligus memandu jalannya dialog tersebut.




































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 6)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   4  X  40 menit ( 2 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
 2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan
Kompetensi Dasar
2.1 Mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat mengkritik/memuji berbagai karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun.
Materi Pembelajaran
Cara mengkritik karya dan implementasinya:
1. Memahami kriktik dan pujian terhadap karya seni fotografi-satwa
2. Memahami kritik dan pujian terhadap karya seni fotografi-alam
3. Mengkritik dan memuji karya seni

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Inkuiri
Tanya jawab
Konstruktivistik
e.   Penilaian autentik

Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke-1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang mengkritik dan memuji suatu karya
Mencermati contoh kritik atau pujian  terhadap karya seni/produk


Religius, ingin  tahu, kritis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi mengamati karya seni/produk
Berdasarkan hasil pengamatan, siswa dan siswi mendata kekurangan dan keunggulan karya seni/produk
Mendiskusikan kekurangan dan keunggulan karya seni
Mengamati pemodelan dalam mengkritik dan memuji karya seni/produk
Mendiskusikan kelugasan bahasa dan kesantunan pengungkapan yang dilakukan oleh model


Ingin tahu, kritis, demokratis,  kreatif, jujur, berpikir logis, santun
60’
Penutup
Siswa  dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama


Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Memberi salam dilanjutkan dengan menanyakan kehadiran siswa/siswi
Bertanya jawab tentang kelugasan dan kesantunan pengungkapan dalam kritik atau pujian



Religius, ingin tahu, santun


Kegiatan Inti
Mengkritik dan memuji karya seni/produk dengan bahasa yang lugas dan santun (=)
Menemukan karya seni atau produk dan memuji atau mengkritiknya dengan bahasa yang lugas dan santun (*)


Menghargai karya, kritis, santun, jujur, kreatif


Penutup
1.  Siswa  dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Berdoa bersama


Ingin tahu, religius



Sumber Belajar
Karya seni/produk
Media cetak
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 1—6 
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen/ Soal
Mampu menentukan kekurangan dan keunggulan karya
Observasi
Lembar observasi
1) Tentukan keunggulan dan kekurangan karya seni fotografi satwa dan alam yang tersedia!

Mampu mengkritik dan memuji dengan bahasa yang lugas dan santun (=)



2. Berilah kritik dan pujian terhadap karya seni tersebut!

Mampu menemukan karya seni atau produk dan mengkritik atau memuji dengan bahasa yang lugas dan santun (*)


3) Carilah satu gambar atau foto yang bernilai seni di media cetak, kemudian kritik dan pujilah dengan bahasa yang lugas dan santun!



Rubrik Penilaian untuk soal no. 2
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Kelugasan dan kesantunan kalimat kritik atau pujian
1
5
2.
Kritik atau pujian disertai dengan alasan pendukung
1
3
3.
Kekomunikatifan dan keefektifan bahasa yang digunakan
1
2
Skor dan bobot maksimal
3
10

Nilai Akhir soal 2 = (Perolehan Skor: Skor Maksimal) x bobot maksimal
Misal                                = (3:3) x 10 = 10

Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               












                                                                                               


SENI ITU INDAH
A. Memuji dan Mengkritik Karya
Tujuan Pembelajaran:
Siswa diharapkan dapat mengkritik/memuji karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun.
Karya seni adalah ciptaan yang dapat menimbulkan rasa indah bagi orang yang melihat, mendengar, atau merasakannya. Karya seni memang indah untuk dinikmati. Karya seni tidak hanya terbatas pada karya sastra, tetapi juga seni yang lain, seperti seni lukis, seni musik, dan seni ukir. Kamu tentu pernah melihat salah satu produk seni tersebut.
Secara sadar atau tidak, ketika melihat suatu produk seni, misalnya lukisan, kamu akan melakukan penilaian meskipun sekadar mengatakan “Wah, lukisannya bagus” atau ”lukisannya kurang bagus”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Kritik yang baik adalah apabila disampaikan dengan kalimat yang tepat dan santun serta
bersifat membangun. Oleh karena itu, kita harus dapat memilih kata yang tepat sehingga tidak menyinggung perasaan. Kritik bersifat membangun adalah kritik yang dapat membantu untuk berkarya lebih baik atau menjadi lebih baik lagi setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan hasil karyanya.
Pujian merupakan pernyataan atau perkataan yang tulus akan kebaikan, kelebihan, atau keunggulan suatu hasil karya. Pada pembelajaran ini kamu akan berlatih untuk menyampaikan kritik dan pujian terhadap suatu karya. Sampaikan kritik dan pujian itu dengan wajar, dan tepat serta menggunakan bahasa yang lugas dan santun.
Perhatikan karya seni di bawah ini.


Perhatikanlah contoh beberapa ungkapan pujian maupun kritikan terhadap sebuah hasil karya seni berikut ini!
(Sumber: Dok. Penerbit)
.

Setelah mengamati lukisan tersebut dengan cermat, pasti kalian akan mendapatkan kesan mengenai karya tersebut, baik kelebihan maupun kekurangannya. Penilaian tentang kelebihan yang berupa pujian terhadap karya tersebut dapat kalian ungkapkan
sebagaimana contoh berikut.
1. Lukisan pemandangan alam tersebut benar-benar bagus dan menarik.
Benda-benda yang dilukiskan identik dengan benda-benda aslinya di alam nyata. Meskipun lukisan tersebut dibuat berdasarkan imajinasi pelukisnya mengenai pemandangan alam, tapi pemandangan alam yang dilukiskan tersebut seolah-olah benar-benar ada dan bukan imajinasi.
2. Lukisan pemandangan alam ini memiliki nilai keindahan.
Bentuk benda-benda yang dilukiskan tidak beda dengan benda dalam kehidupan nyata, meskipun benda-benda tersebut dilukis berdasarkan imajinasi pelukisnya. Dapat dikatakan, seolah-olah lukisan pemandangan alam tersebut seperti potret hitam putih dari alam yang sesungguhnya.

Penilaian kalian terhadap kekurangan yang ada dalam lukisan tersebut harus kalian ungkapkan secara objektif. Contoh ungkapan penilaian mengenai kekurangan dari karya tersebut adalah berikut.
1. Lukisan tersebut memang menarik, tetapi komposisi yang ditampilkan terasa kurang lengkap. Lukisan itu didominasi unsur tumbuhan (pohon pinus dan rerumputan), tetapi
unsur-unsur kehidupan yang lain seperti, binatang dan manusia tidak ditampilkan. Hal inilah yang menyebabkan lukisan ini terkesan “kering” atau “kurang lengkap”.
2. Tema lukisan semacam ini banyak kita jumpai di pasar seni. Selain itu, lukisan semacam ini biasanya dibuat oleh pelukis-pelukis amatir.
3. Pengambilan sudut pandang pelukis seakan ingin menempatkan sungai yang mengalir sebagai unsur yang paling penting dalam lukisan ini. Hal ini belum tentu sesuai dengan maksud dan tujuan si pelukis. Perlu untuk diingat bahwa kritik terhadap sebuah karya
sebaiknya bersifat membangun, tidak menjatuhkan, dan tidak sekadar mengemukakan kekurangan yang ada. Kritik disampaikan dengan bahasa yang santun dan komunikatif.
















































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 7)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   4  X  40 menit ( 2 pertemuan)



Standar Kompetensi
7. Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek (cerpen)
Kompetensi Dasar
7.1 Menemukan tema, latar,  dan penokohan, pada cerpen-cerpen dalam satu kumpulan cerpen
                                     
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat menemukan tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen

Materi Pembelajaran
Cara menemukan unsur-unsur cerpen dan implementasikan:
Membaca dan membandingkan cerpen-cerpen
Menemukan unsur tema, latar, dan penokohan

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Inkuiri
Tanya jawab
Diskusi
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke- 1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
3.  Siswa dan siswi membaca cerpen model
Mendiskusikan atau bertanya jawab tentang tema, latar, dan penokohan dalam  cerpen


Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi membaca buku kumpulan  cerpen setelah menentukan cerpen pilihannya
Berdiskusi untuk menentukan  tema cerpen yang dipilih
Berdiskusi untuk menemukan latar cerpen yang dipilih
Berdiskusi untuk menentukan penokohan cerpen yang dipilih
Berdasarkan hasil diskusi, siswa dan siswi menyimpulkan unsur cerpen
Melaporkan hasil diskusi


Ingin tahu, kritis, demokratis, percaya diri
60’

Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan pemberian salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam dilanjutkan berdoa
Menanyakan kehadiran siswa dan siswi
Bertanya jawab tentang tema, alur, dan penokohan cerpen yang dipilih

Religius, ingin tahu, disiplin, kritis
10’
Kegiatan Inti
Menunjukkan keterkaitan antarunsur cerpen sebagai dasar penafsiran makna cerpen secara utuh (=)
Memetik pelajaran untuk kehidupan sehari-hari dari unsur-unsur dalam cerpen yang telah dipelajari (*)


Percaya diri, cinta ilmu
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
 Berdoa bersama dilanjutkan pemberian salam

Ingin tahu, religius
10’

G. Sumber Belajar
Buku kumpulan cerpen
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 107—117
Anindyarini, Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat Pembukuan Depdiknas. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.
H. Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menyimpulkan tema cerpen

Nontes
Penugasan/ tugas proyek
Bacalah buku kumpulan cerpen! Pilihlah sekurang-kurangnya dua cerpen kemudian:
1. simpulkan tema cerpen!
Mampu menemukan latar cerpen dengan bukti faktual/tekstual

Nontes
Penugasan/ tugas proyek
2. Temukan latar cerpen dengan bukti faktual/ tekstual!
Mampu menemukan karakter tokoh cerpen  dengan bukti yang meyakinkan (tekstual langsung/taklangsung) (=)

Nontes
Penugasan/ tugas proyek
3. Temukan karakter tokoh cerpen dengan bukti yang meyakinkan (tekstual langsung/ tak langsung)
Mampu merefleksikan tema, latar, dan karakterisasi cerpen dengan kehidupan sehari-hari (*)
Nontes
Penugasan/ tugas proyek
4. Tulislah hal-hal yang dapat kamu pelajari berkaitan dengan tema, latar, dan penokohan dalam cerpen-cerpen tersebut!


Rubrik Penilaian untuk soal no. 1, 2, dan 3
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Tema
1-3
6

a. diungkapkan dengan jelas dan mudah dipahami
3


b. diungkapkan dengan kurang jelas sehingga sukar dipahami
2


c. tidak diungkapkan dengan jelas dan sukar dipahami
1

2.
Latar
1-4
4

a. ada unsur waktu, tempat, dan suasana dengan dukungan tekstual
4


b. ada unsur waktu, tempat, dan suasana tidak ada dukungan tekstual
3


c. unsur waktu, tempat, dan suasana tidak lengkap dengan dukungan tekstual
2


d. unsur waktu, tempat, dan suasana tidak lengkap dan tidak ada dukungan tekstual
1

3.
Penokohan
1-3
4

a. diuraikan secara lengkap dengan dukungan tekstual
3


b. diuraikan secara lengkap tidak dengan dukungan tekstual
2


c. tidak diuraikan secara lengkap dan tanpa dukungan tekstual
1

Skor dan bobot maksimal
10
10

Nilai Akhir soal 1 = {(Perolehan Skor A+B+C): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(3+4+3):10} x 10 = 10


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               



                                                                                               
           





Bacalah dua cerpen yang dikutip dari kumpulan cerpen “Buah Keikhlasan” karya Achmad Sapari berikut!
Cerpen 1
Sebatang Kara
Tanah di pekuburan umum itu masih basah ketika para pentakziah sudah pulang.  Sementara Ogal masih duduk sambil sesekali menyeka air matanya. Ibu yang selama ini paling dia hormati dan cintai, tadi malam telah meninggal dunia, menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Burung-burung camar terbang rendah dan sesekali mencelupkan paruhnya di air laut. Bu Tutik dan suaminya masih berdiri di belakang sambil menunggu Ogal. Kedua orang tua asuh itu sangat setia kepada Ogal.
“Rasanya saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Bu,” tiba-tiba Ogal berkata dengan suara agak berat. Bu Tutik memegang lengan Ogal sambil mengelus rambutnya. “Jangan berkata begitu, anakku. Kami akan menjadi orang tuamu sampai kapan pun.”
“Sampai saya mandiri?” desak Ogal.
“Sampai kapan pun. Aku tidak akan membatasi kamu, sebab pada hakikatnya engkau adalah anakku juga.”
“Maksud Ibu?” Ogal tidak mengerti.
“Ya, rupanya engkau ditakdirkan untuk aku asuh dan menjadi anak kami. Tetapi kami bertekad untuk menjadi orang tuamu, bukan sekedar orang tua asuh.”
Ogal memeluk Bu Tutik. Air mata di pipinya tak henti-hentinya mengalir sehingga membasahi bajunya. Sementara suami Bu Tutik turut berduka atas kematian Bu Arpati. Sebenarnya Ogal masih ragu-ragu,
apakah dia akan ikut Bu Tutik atau bertahan hidup dengan mandiri. Jika dia ikut Bu Tutik, tentu tidak dapat bekerja seperti ketika ia masih hidup bersama ibunya. Hal itu menjadikannya manja. Tetapi jika menolak kebaikan Bu Tutik, terasa tidak enak. Pengorbanan Ibu Guru itu sudah sedemikian besarnya.
Dari pengalaman hidupnya selama ini, banyak hal yang dapat Ogal petik. Ia biasa bekerja keras, tidak suka menggantungkan pada orang lain. Ia juga biasa hidup prihatin sehingga tidak suka berfoya-foya.
“Bolehkah saya menjajakan kue lagi, Bu?” pinta Ogal kepada Bu Tutik.
“Buat apa, Ogal?”
“Agar saya tetap bisa bekerja.”
“Kurasa tidak perlu, Ogal. Pusatkan  perhatianmu untuk belajar. Sebentar lagi engkau akan ujian.”
“Tapi, saya tidak enak kalau menganggur, Bu!”
“Di rumahku engkau tidak mungkin menganggur. Engkau bisa belajar menggunakan komputer, mengetik, nonton TV, dan memelihara kebun.”
“Tapi, saya akan tidak bekerja, Bu!”
“Pada hakikatnya engkau bekerja juga. Memelihara kebun atau membantuku di rumah juga bekerja.”
“Jadi, tidak harus menjajakan kue, Bu?”
Bu Tutik mengangguk.
“Kalau begitu, tolong carikan pekerjaan yang bisa saya lakukan.”
Bu Tutik tersenyum. “Jangan khawatir.”
Bu Tutik ternyata dapat memenuhi harapan Ogal. Banyak pekerjaan yang dapat dilakukan Ogal. Misalnya, memelihara kebun mangga, mencatat keluar masuknya barang,dan sebagainya.
Kali ini Ogal tidak kalah sibuknya dengan sewaktu berada di desa nelayan. Bahkan mungkin boleh dikatakan sangat sibuk.Pekerjaan di rumah Bu Tutik tidak hanya satu,melainkan sangat banyak. Walaupun begitu, Bu Tutik tidak pernah memaksa Ogal untuk bekerja. Semua itu hanya semata-mata
menuruti keinginan Ogal.
(Buah Keikhlasan, 1997)

Cerpen 2
Musibah
Kemakmuran di desa nelayan itu tidak selamanya abadi. Ada saatnya naik dan ada saatnya pula turun bak gelombang pasang yang datang. Sudah dua bulan terakhir angin kencang selalu melanda desa itu. Jika sudah demikian, tidak seorang nelayan pun berani mencari ikan menggunakan perahu, bahkan dengan perahu motor pun tidak berani. Pak Bakri, yang dikenal sebagai nelayan terkaya di desa itu juga menderita akibat datangnya angin kencang selama dua bulan berturut-turut. Sebagai juragan nelayan, ia merasa kehilangan pendapatan. Apalagi setelah datangnya penyakit yang misterius menyerang sebagian besar penduduk. Bu Bakri sudah dua minggu tidak bisa turun dari
tempat tidurnya. Tubuhnya terasa kaku, seakan-akan mati. Pak Bakri telah menjual dua perahu
motornya. Jika tidak, mana mungkin ia bisa membayar utangnya pada bank. Padahal sudah waktunya ia harus membayar cicilan utangnya. Belum lagi biaya pengobatan ke dokter dan ke dukun akibat penyakit yang diderita Bu Bakri. Pada saat itu Pak Bakri mulai merasakan betapa besarnya kesalahan yang telah diperbuatnya kepada penduduk. Ia yang selama ini suka mencela dan melecehkan
penduduk yang miskin, merasa berdosa.

Manol yang selama ini dimanjakan, terasa tidak lagi dipedulikan. Kesusahan keluarga itu terasa sangat menyiksanya.Penduduk di desa nelayan itu benar-benar berada dalam keadaan tidak berdaya.
Kebiasaan mereka membeli barang elektronika saat musim panen ikan, kini barang itu dijualnya. Radio, televisi, video, dan sebagainya, dijual agar mereka dapat mempertahankan hidupnya. Bukan cuma itu, lemari, kursi, dan perhiasan yang dipakainya juga dijual. Orang-orang yang berada di sekitar desa nelayan itu juga turut merasakan penderitaan.Mereka yang membuka warung, toko, atau apa saja tidak laku. Pembelinya tidak ada. Utang-utang para nelayan itu menunggak sampai batas waktu yang belum diketahui.
....
Tiba-tiba angin bertiup perlahan-lahan. Deburan ombak pun mulai berkurang. Sementara wajah-wajah nelayan menatap ke langit dengan penuh harap. Mereka mulai merasakan betapa musibah ini merupakan ujian yang terberat yang pernah mereka alami. Betapa tidak, selama puluhan tahun belum
pernah mereka mengalami musibah seperti ini. Kalaupun ada angin, paling lama Cuma tiga hari. Itu pun rasanya sangat meresahkan. Selama ini mereka harus beristirahat total selama dua bulan.
(Buah Keikhlasan, 1997)

Setelah membaca kedua cerpen di atas, kalian dapat menentukan tema, latar, serta penokohan dalam cerpen. Tema, latar, dan penokohan masing-masing cerpen tersebut dapat kalian tuliskan sebagaimana contoh berikut.
1. Tema
a. “Sebatang Kara” bertema mengenai keteguhan hati seorang anak yatim piatu yang tidak ingin bergantung kepada orang lain. Tema tersebut memiliki subtema mengenai kebaikan hati seseorang.
b. “Musibah” bertema mengenai perputaran kehidupan atau keadaan yang sewaktu-waktu dapat berubah. Tema tersebut memiliki subtema kesadaran atau penyesalan seseorang yang muncul karena adanya musibah.
2. Latar
a. “Sebatang Kara” meliputi:
1) Latar tempat: tanah pemakaman, rumah Bu Tutik.
2) Latar suasana: kesedihan, ketegaran dan keteguhan, serta kesibukan.
3) Latar waktu: saat di pemakaman, saat di rumah Bu Tutik.
b. “Musibah” meliputi:
1) Latar tempat: kampung nelayan dan rumah Pak Bakri.
2) Latar suasana: keadaan yang susah atau sedih di suatu daerah karena adanya musibah dan penyakit; penyesalan.
3) Latar waktu: pada suatu hari saat terjadi musibah di kampung nelayan.
3. Penokohan
a. “Sebatang Kara” tokohnya:
– Ogal = Tegar dan bersemangat mandiri.
– Bu Tutik = Baik hati.
b. “Musibah” tokohnya:
– Pak Bakri = Pencela yang kemudian sadar.
– Bu Bakri = Tidak terungkap jelas.
– Manol = Manja.
– Penduduk = Pemboros.










RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 8)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   4  X  40 menit ( 2 pertemuan)


Standar Kompetensi
6.Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk lain

 Kompetensi Dasar
            6.1 Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen
             
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca cerpen, siswa dan siswi dapat menceritakan kembali isi cerpen secara lisan dengan baik.

Materi Pembelajaran
Penceritaan cerpen

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Inkuiri
Diskusi
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mengamati contoh/model penceritaan kembali cerpen
Mendiskusikan atau bertanya jawab        tentang alur cerita dari contoh/ model
Religius, disiplin, kritis, demokratis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi memilih cerpen yang disukai
Setelah memilih cerpen siswa dan siswi membacanya dengan cermat
Mendiskusikan bagian-bagian alur
Mendiskusikan isi cerita  yang merupakan bagian alur


Ingin tahu, kritis, demokratis
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke -2
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Bertanya jawab isi cerita yang merupakan baian alur

Religius, ingin tahu disiplin
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi secara bergiliran menceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai  dengan  alur aslinya
Menilai dan menanggapi penceritaan kembali cerpen


Percaya diri, menghargai pretasi orang lain
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam


Ingin tahu, religius
10’

Sumber Belajar
Buku kumpulan cerpen
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 118
c.   Anindyarini, Atikah, dkk. 2008. Bahasa Indonesia untuk SMP/ MTs kelas IX. Jakarta; Pusat Pembukuan Depdiknas. Hlm.

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Menentukan bagian-bagian cerita dengan panduan tahap-tahap dalam  alur
Tes
Tes Tulis
Tentukan bagian-bagian cerpen dengan panduan tahap-tahap dalam alu!
Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai dengan alur aslinya
Tes
Unjuk Kerja Produk
Ceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai dengan alur cerpen aslinya!

    Rubrik Penilaian untuk soal no. 2
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
A.
Kesesuaian isi cerita dengan isi cerpen
1-4
4

a. sangat sesuai
4


b. sesuai
3


c. kurang sesuai
2


d. tidak sesuai
1

B.
Keruntutan cerita (sesuai dengan alur aslinya)
1-4
4

a. sangat runtut
4


b. runtut
3


c. kurang runtut
2


d. tidak runtut
1

C.
Kelancaran cerita
1-4
1

a. sangat lancar
4


b. lancar
3


c. kurang lancar
2


d. tidak lancar
1

D.
Ketepatan dan kejelasan lafal dan intonasi
1-4
1

a. sangat tepat dan jelas
4


b. tepat dan jelas
3


c. kurang tepat dan kurang jelas
2


d. tidak tepat dan tidak jelas
1

Skor dan bobot maksimal
16
10

Nilai Akhir soal 1 = {(Perolehan Skor A+B+C+D): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(4+4+1+1):10} x 10 = 10

Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               




                                                                                               




























Lampiran
-Tahap-tahap alur:       1. pembeberan awal/ pengenalan masalah
            2. penggawatan/ komplikasi
3. Klimaks atau puncak kegawatan
                                    4. peleraian atau anti klimaks
                                                5. penyelesaian atau kongklusi                                   
    
Cerpen: Hand Phone Ayah
Oleh: Hadi Pranoto

            Siang itu, ayah mengajak Adam ke toko sepatu. Sepatu Adam memang sudah sempit dan tak nyaman lagi untuk dipakai. Namun karena ayah Adam baru punya uang lebih, maka baru hari ini permintaannya dikabulkan.
            Adam dan ayahnya naik bus patas AC jurusanBlok M. Ongkosnya lumayan mahal, pikir Adam. Dan karena hari itu hari Minggu, banyak bangku kosong yang tersedia.
            “Di sini saja, Yah,” kata Adam sambil menarik lengan ayahnya. Mereka duduk di barisan ketiga dari bangku sopir. Sebelum duduk ayah Adam memindahkan hand phone yang ada di sakunya ke sarung di pinggangnya supaya tidak mengganggu duduknya.
            “Setiap hari Ayah naik bus ini,ya, ke kantor?” tanya Adam.
            “Tiap hari? Bisa-bisa kamu tidak pakai sepatu ke sekolah,” jawab Ayah meledek.
            “Tarifnya kan, mahal. Lebih baik ayah naik bus biasa dan sisanya bisa ditabung buat keperluan sekolahmu,” jawab ayah.
            Adam terdiammendengar jawaban ayahnya. Dalam hati ia terharu sekaligus bangga. Karena ayah rela setiap hari, berbulan-bulan berdesak-desakan, kepanasan, dan membanting tulang demi kepentingan keluarganya. Sementara Adam sendiri, baru sebulan pakai sepatu kesempitan sudah mengeluh setiap hari.
            Bus melaju kencang dan keluar dari tol Komdak. Di halte Komdak, banyak penumpang yang turun dan banyak pula yang naik. Tiba-tiba naik juga 3 orang pria. Salah satunya duduk di sisi ayah.
            “Permisi, Pak,” kata pria itu ramah.
            “Silakan!” jawab ayah sambil sambil menggeser tempat duduknya.
            Pria yang berpakaian rapi itu pun duduk di samping ayah. Sementara kedua temannya duduk di bangku di sebelahnya.
            Adam mulai curiga melihat gerak-gerik mereka. Apalagi orang yang di sebelah ayah selalu melirik ke arah hand phone ayah. Dan tiba-tiba orang itu pindah tempat ke depan bangku teman-temannya. Ayah Adam kemudian bergeser ke posisinya semula, sehingga tempat duduk mereka kembali lega.
            Namun pada waktu bergeser ayah Adam merasa ada sesuatu yang ganjil. Ia meraba pinggangnya. Betapa terkejutnya ia ketika hand phone-nya sudah tidak terselip di pinggangnya.
            “Wah! Hand phone ayah hilang, Dam!” seru ayah sambil bangkit berdiri. Ia lalu memeriksa jok kursi, kalau-kalau hand phone-nya terjatuh. Adam juga sibuk mencari, bahkan memeriksa kolong-kolong bangku.
            “Pasti ada yang mencuri,” ujar ayah.
            Penumpang lain menoleh ke arah mereka, mendengar rebut-ribut di dalam bus.
            “Ada apa, Pak?” tanya kondektur bus.
            “Hand phone saya hilang. Tolong berhenti di halte itu,” kata ayah Adam sambil menunjuk halte di perempatan jalan. Kebetulan di halte itu ada polisi yang sedang mengatur lalu lintas.
            Lalu ayah maju ke depan, “Mohon jangan ada yang turun dulu. Yang turun berarti itu pencurinya,” kata ayah dengan suara lantang.
            “Oh, tidak bisa begitu, dong! Dari mana Bapak tahu kalau yang mengambil ada di bus?” protes orang yang tadi duduk di samping ayah. Teman-temannya mengiyakan.
            “Benar! Mana buktinya? Pokoknya kami mau turun di sini,” kata teman orang itu lagi dengan suara keras dan agak mengancam.
            “Tidak bisa! Pokoknya yang turun akan saya laporkan ke polisi, “tantang ayah berani. Akhirnya ketiga orang itu diam. Kini giliran ayah Adam yang bingung. Bagaimana cara mencari
hand phone-nya? Ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tiba-tiba Adam mendapat ide. Ia membisiki ayahnya.
            “Eemm …” ayah mengangguk mengerti. “Maaf, Pak. Bisa pinjam hand phone-nya sebentar?” kata ayah pada seorang bapak yang kelihatan membawa hand phone di saku kemejanya.
            “Silakan  … “ jawab bapak itu.
            Ayah lalu memencet tombol-tombol nomor hand phone-nya. Dan tiba-tiba terdengar suara benda dijatuhkan. “Bruuuuu!” Setelah ayah selesai memanggil nomor hand phone-nya terdengarlah bunyi hand phone ayah.
            “Itu dia bunyi hand phone ayah, Yah!” teriak Adam girang.
            Ayah Adam dibantu kondektur bus itu, lalu menyusuri asal suara itu. Ternyata hand phone itu ada di kolong bangku yang kosong. Buru-buru ayah Adam memungutnya.
            “Alhamdulillah … rupanya hand phone ini masih rezekiku,” kata ayah bersyukur. Hanya ada sedikit goresan di hand phone itu.
            Bus kembali berjalan. Ayah dan Adam kembali duduk, namun kali ini tepat di belakang sopir. Baru beberapa menit bus berjalan,”Kiri-kiri …, Bang!” kata pria yang tadi duduk di sebelah Adam. Bus berhenti. Ketiga orang itu buru-buru turun dari pintu belakang.
            “Aman!” kata kondektur bus itu.
            “Lo, kok aman. Memangnya kenapa, Pak?” tanya ayah heran.
            “Tiga orang itu sudah sering naik turun bus ini. Setiap kali mereka naik pasti ada penumpang yang kehilangan barang. Dompet atau hand phone,” ujar kondektur bus itu.
            “Padahal penampilan mereka rapi, seperti orang berduit,” sahut bapak yang tadi meminjamkan hand phone-nya.
            “Yah, melihat orang jangan dari penampilan luarnya,” sambung ibu di sebelahnya.
            “O … ya, terima kasih, Pak, atas pinjaman  hand phone-nya,” kata ayah sambil menjabat tangan bapak itu.
            “Ah, sesama penumpang kita memang harus saling tolong-menolong,” jawab bapak itu. “Tapi sebenarnya yang paling berjasa, ya adik itu,” kata bapak itu lagi sambil menunjuk ke Adam.
            “Iya, nih! Rupanya adik ini berbakat jadi detektif,” sambung kondektur, yang tahu ide untuk mencari hand phone itu berasal dari Adam.
            “Oh, iya. Terima kasih, ya, Dam, “ kata ayah Adam sambil menepuk pundak Adam yang tersipu-sipu. Namun Adam lalu buru-buru mencolek lengan ayahnya.
            “Yah, beli sepatu sekalian tas, ya. Tas adam juga sudah sobek,” bisik Adam setengah menggoda ayahnya.
            Ayah tersenyum geli, “uu, mencari kesempatan dalam kesempitan!”

                                                            (Sumber: Tamasya ke Masa Silam, 2006 dengan pengbahan)
















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 9)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   2  X  40 menit (1 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai

 Kompetensi Dasar
Menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku melalui kegiatan membaca memindai

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku melalui kegiatan membaca memindai

Materi Pembelajaran
Cara menemukan informasi secara cepat dan implementasinya:
Mengenal dan memahami buku berindeks
Membaca memindai buku berindeks dan menemukan infromasi yang terdapat di dalamnya
Memanfaatkan indeks

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Tanya jawab
Inkuiri
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mengamati contoh indeks dari buku berindeks
Bertanya jawab tentang indeks dan manfaatnya     l
Religius, disiplin, kritis, demokratis
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi membaca sekilas sebuah buku yang berindeks
Membaca indeks  buku yang dibaca
Bertanya jawab secara kelompok untuk menemukan kata dalam buku yang dirujuk dalam indeks secara cepat dan tepat
Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari kata-kata yang dirujuk dalam indeks (=)
Memanfaatkan indeks dalam buku untuk keperluan belajar (*)


Ingin tahu, kritis, demokratis, cinta ilmu
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’


Sumber Belajar
Buku Berindeks
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 17 – 20 
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menemukan kata dalam buku yang dirujuk dalam  indeks

Observasi
Lembar observasi
1) Temukanlah secara cepat dan tepat informasi tentang kata/istilah/nama tokoh dalam indeks buku!

Mampu menemukan informasi dengan panduan indeks (=)

Tes
Tes tulis
2)  Tulislah informasi yang telah kamu temukan tersebut!
Mampu memanfaatkan indeks dalam buku untuk keperluan sehari-hari (belajar) (*)

Tes
Tes tulis
3)  Bacalah buku, kemudian tulislah lima indeks beserta informasinya!
                       

           
Rubrik Penilaian soal no. 1
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Ketepatan menemukan informasi
1—4
50

a. sangat tepat
4


b. tepat
3


c. kurang tepat
2


d. tidak tepat
1

2.
Kecepatan menemukan informasi
1—4
50

a. sangat cepat
4


b. cepat
3


c. kurang cepat
2


d. lambat
1

Skor dan bobot maksimal
8
100









Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(4+4):8} x 100 = 100






Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               


Lampiran

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, indeks diartikan daftar kata atau istilah penting yang terdapat dalam buku cetakan (biasanya pada bagian akhir buku) tersusun menurut abjad yang memberikan informasi mengenai halaman tempat kata atau istilah
itu ditemukan (2002: 429). Daftar indeks ini akan sangat berguna bagi pembaca untuk mencari informasi suatu hal secara cepat dan sistematis. Dengan membuka halaman indeks, kita dapat langsung menemukan subjek yang kita cari berikut dengan halamannya.

Contoh indeks
Bioma [lingkungan]
Chapparal 4:94
Ekologi [Biofer, Ekosfer, dan bagianbagiannya]
5:28
Taiga 16:489
Bioma Taiga [lingkungan] 3:387
Rantai Makanan 14:96
Biomassa [lingkungan] 3:388
Alang-alang 1:244
Bahan Bakar 3:45
Biogas 3:379
Biomekanika [biologi] 3:388
(Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997)

Berdasarkan daftar indeks di atas dapat kalian simpulkan bahwa jika hendak mencari informasi mengenai biomassa, maka kalian harus membuka buku ensiklopedia jilid 3 pada halaman 388. Kalian pasti akan menemukan informasi mengenai biomassa.
Informasi yang akan kalian dapatkan pada halaman 388 mengenai biomassa, yaitu berikut.
BIOMASSA secara harfiah berarti massa atau bobot total semua organisme dalam satu daerah. Dilihat dari segi ekologis, tumbuhan yang mensintesis karbohidrat dari karbon
dioksida dan air, dan untuk itu menyerap cahaya matahari, disebut produsen. Boleh dikatakan semua organisme (makhluk) lainnya bersifat konsumen. Konsumen tingkat I ialah herbivora (hewan pemakan tumbuhan) yang memakan produsen tersebut,
sedangkan karnivora (hewan pemakan daging) adalah konsumen tingkat

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 10)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   6  X  40 menit (3 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan

Kompetensi Dasar
Meresensi buku pengetahuan

Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa  dan siswi dapat meresensi buku pengetahuan dengan sempurna

Materi Pembelajaran
Cara meresensi buku pengetahtuan dan implementasinya:
Mendiskusikan contoh resensi
Membaca buku pengetahuan, meresensi, dan mempublikasikannya

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Tanya jawab
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Siswa dan siswi mengamati contoh resensi buku pengetahuan
Bertanya jawab tentang resensi buku pengetahuan

Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
 Kegiatan Inti
Siswa dan siswi menentukan buku pengetahuan yang akan dibaca
Mencermati dan membaca buku pengetahuan
Mengidentifikasi  bentuk fisik dan isi buku pengetahuan
Mendata identitas buku pengetahuan sebagai bahan resensi


Ingin tahu, kritis, cinta ilmu
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berdiskusi tentang identitas fisik dan isi buku pengetahuan


Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
10’
Kegiatan inti
Siswa dan siswi berdiskusi untuk menentukan  kelebihan dan kekurangan buku
Siswa dan siswi menyusun rangkuman isi buku
Menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan terhadap buku


ngin tahu, demokratis, kritis, kreatif, menghargai karya orang lain, mandiri

60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke- 3
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Klarifikasi pendapat pribadi tentang kelehaman dan keunggulan buku dengan teman sejawat/guru


Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis, menghargai karya orang lain
10’
Kegiatan Inti
Siswa dan siswi meresensi buku pengetahuan (=)
Siswa dan siswi menyunting resensi buku (*)

Ingin tahu, kritis, menghargai karya,mandiri, jujur
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’


Sumber Belajar
Buku Berindeks
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 21 – 25  
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.





Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu mengidentifikasi bentuk fisik dan isi buku serta menunjukkan kelebihan serta kekurangannya

Penugas-an
Tugas proyek/ portopolio
Identifikasilah bentuk fisik dan isi buku serta tunjukkan kelebihan serta kekurangannya
Mampu merangkum isi buku


Buatlah rangkuman isi buku!
Mampu menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atas isi buku



Tulislah pendapat pribadimu sebagai tanggapan terhadap isi buku!
Mampu meresensi buku pengetahuan (=)

Penugas-an
Tugas proyek/ portopolio
Bacalah buku-buku pengetahuan, kemudian tentukanlah satu buku untuk diresensi dengan memperhatikan langkah-langkah penulisan resensi buku!

Mampu menyunting resensi (*)



Suntinglah resensi yang telah kamu buat!


Rubrik Tugas Proyek/Porttofolio
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Identitas buku
(6)
10

a. Judul Buku
1


b. Penulis
1


c. Penerbit
1


d. Cetakan/Tahun terbit
1


e. Tebal Buku/Ukuran Buku
1

2.
Judul Resensi
(1)
10
3.
Isi resensi, meliputi:
(3)
80

a. ringkasan (sinopsis)
1


b. keunggulan dan kelemahan buku
1


c. saran kepada pembaca
1


d. bahasa komunikatif dan efektif
1

Skor dan bobot maksimal
10
100

     







       Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2+3): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(6+1+3):10} x 100 = 100





Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               



                                                                       


Beberapa hal penting dalam menulis
resensi buku adalah (1) identitas buku, yakni: judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman; (2) gambaran pokokpokok isi buku; (3) keunggulan dan kekurangan buku; (4) penggunaan bahasa penyajian dan manfaat buku yang diresensi secara umum;
 (5) tulisan resensi biasanya dilengkapi dengan fotokopi kulit luar (kover) buku tersebut.

Dalam menulis resensi sebuah buku, kalian dapat memerhatikan langkah-langkah berikut.
1. Membaca buku yang akan diresensi secara utuh dan menyeluruh
2. Mengidentifikasi bentuk fisik dan isi buku.
3. Menunjukkan kelebihan serta kekurangan buku dan isi buku.
4. Merangkum isi buku.
5. Menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atas isi buku.
6. Meresensi buku.
7. Menyunting resensi.

Berdasarkan langkah-langkah di atas, kalian dapat menulis sebuah resensi buku. Sebagai contoh adalah resensi buku berjudul “Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang” karya Andrias Harefa.
Proses atau tahapan meresensi buku berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang dapat kalian simak dalam uraianberikut. Sebagai tahap awal dalam meresensi buku diperlukanpendataan mengenai buku yang akan kalian resensi. Dalam prosespendataan berdasarkan resensi di atas, kalian dapat menuliskandata yang terdapat dalam buku tersebut, yaitu berikut.

Judul : Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang
Pengarang : Andrias Harefa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2002
Halaman : i-xi + 103 halaman
Data tersebut masih dapat kalian tambahkan, misalnya meliputi keterangan gambar, jumlah bab, penggunaan bahasa, harga buku, dan sebagainya. Berkaitan dengan ikhtisar dari isi buku di atas, kalian dapat mengemukakan ikhtisar tersebut sebagaimana berikut.

“Aktivitas menulis sering kali dikaitkan dengan bakat seseorang. Padahal, tidakselamanya bakat dapat membuat aktivitastulis-menulis menjadi selancar dan semudahyang kita bayangkan. Berulang kali para pakar menyatakan bahwa menulis merupakan pelajaran dasar yang sudah kita dapatkan
semenjak duduk di bangku sekolah dasar bahkan di taman kanak-kanak. Dengan kata lain, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar. Namun, sering kali ketika kita hendakmenuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan, sesuatu yang bernama “bakat” selalu menjadi semacam “kambing hitam” yang harus siap dipersalahkan.Mengarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, juga bukan merupakan hal yang sulit jika ada komitmen, janji pada diri sendiri tentu saja, jika komitmen itu diniati untuk benar-benar ditepati. Komitmen, inilah satu lagi kata kunci agar proses menulis dan
mengarang menjadi mudah. Komitmen tersebut adalah janji pada diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis. Jadi, menulis itu bukan perlu bakat, sebab bakat tidak lebih dari “minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang”. Jadi, jika “bakat” bermakna demikian, maka segala sesuatu memerlukan bakat, tidak cuma dalam soal tulis-menulis.Masalahnya kemudian, bagaimana agar
ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang lama? Jawabnya “komitmen pada diri sendiri.”

Beberapa kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam buku tersebut, dapat kalian simpulkan sebagaimana berikut.
Kelebihan
1. Materi yang terkandung memberikan semangat pada pembaca untuk berkarya, yaitu mengarang atau menulis.
2. Mampu menyajikan ide-ide kreatif dan motivasi dalam proses belajar mengarang.
3. Secara fisik, penampilan buku menarik dengan kualitas bahan yang cukup bagus.
Kekurangan
1. Secara implisit buku tersebut ditulis secara asal atau “sekenanya”.
2. Buku tersebut terkesan “mahal”.
Berkaitan tentang pendapat atau tanggapan pribadi terhadap isi buku, dapat kalian simpulkan antara lain berikut.
1.  Buku yang ditulis dengan “sekenanya” tetapi cukup memberikan wawasan yang relatif baru dan segar serta memenuhi selera “pasar” ini, memuat ragam cara agar siapa pun dapat menulis-mengarang.
2.  Kita tampaknya perlu tahu, di zaman knowledge economyseorang penulis akan “makin dihargai” sehingga tidak takut dan ragu, sebab menulis dan mengarang dapat menopang hidup.
3.  Dalam buku yang disertai dengan ilustrasi bergambar mempermudah pembaca untuk segera memahami maksud isi buku.

Paduan antara ikhtisar dan tanggapan pribadi dapat kalian kemukakan sebagai berikut.

Aktivitas menulis sering kali dikaitkan dengan bakat seseorang. Padahal, tidakselamanya bakat dapat membuat aktivitas tulis-menulis menjadi selancar dan semudah yang kita bayangkan. Berulang kali para pakar menyatakan bahwa menulis merupakan pelajaran dasar yang sudah kita dapatkan
semenjak duduk di bangku sekolah dasar bahkan di taman kanak-kanak. Dengan kata
lain, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar. Namun, sering kali ketika kita hendak menuangkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan, sesuatu yang bernama “bakat” selalu menjadi semacam “kambing hitam” yang harus siap dipersalahkan.Mengarang bisa gampang jika ada
komitmen, janji pada diri sendiri tentu saja,jika komitmen itu diniati untuk benar-benar ditepati. Apabila janji dibiarkan tinggal janji, mungkin lebih baik jadi politisi. Komitmen,inilah satu lagi kata kunci agar proses menulis dan mengarang menjadi mudah. Komitmen  tersebut adalah janji pada diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis. Jadi, menulis itu bukan perlu bakat, sebab bakat tidak lebih
dari “minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang”. Apabila “bakat” bermakna demikian, maka segala sesuatu memerlukan bakat, tidak cuma dalam soal tulis-menulis.Masalahnya kemudian, tinggal bergantung pada komitmen diri sendiri agar ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang lama.
Buku yang ditulis dengan “sekenanya” tetapi cukup memberikan wawasan yang relatif baru dan segar serta memenuhi selera “pasar” ini, memuat ragam cara agar siapa pun dapat menulis-mengarang. Hal yang terpenting adalah mengetahui prosesmemunculkan ide-ide baru dengan mengadopsi paham tiga N (Nitenimemerhatikan,Nirokke-menirukan, dan Nambahi-menambahkan). Hal ini harusselalu diasah dengan terus berproses melalui aktivitas membaca sebagai “makanan pokok”pengarang. Selain itu, kita juga harus mampu memilih dan memilah topik, mengasah judul yang memikat dan merangsang pembaca penerbit serta redaktur opini. Kita juga perlu tahu tempat atau situasi, kondisi, serta aktivitas yang dapat memicu ide kreatif. Ada lagi yang penting, bahwa kita tampaknya perlu tahu di zaman knowledge economy seorang penulis akan “makin dihargai” sehingga tidak takut dan ragu, sebab menulis dan mengarang dapat menopang hidup.Setidaknya seorang penulis artikel, yang dengan asumsi 3-4 artikelnya dimuat di media massa nasional, berarti setiap bulannya kurang lebih 12 artikel dengan honor 300 ribu, maka sebulan tidak kurang dari Rp3.600.000,00 dapat diraihnya. Jika dipotong Pph 10%, penghasilan bersih yang diterima kurang lebih Rp3.240.000,00. Sebuah pekerjaan yang setara dengan manajer junior di sebuah perusahaan swasta nasional terkemuka. Mari kita mulai berproses untuk menjadi penulis-penulis sukses di masa-masa yang akan datang.

Berdasarkan identitas buku, kelebihan dan kekurangan isi buku, serta paduan antara ikhtisar dan tanggapan pribadi di atas,maka kalian dapat menulis resensi buku “Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang” sebagai berikut.

Menulis Itu Memang Gampang
Oleh: Baridul Islam Pr.
Judul : Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang
Pengarang : Andrias Harefa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2002
Halaman : i-xi + 103 Halaman
“Dapatkah Anda mengatakan pada diri Anda sendiri bahwa saya pasti dapat mengarang, sebab mengarang adalah keterampilan sekolah dasar”. Kata ini begitu “menusuk hati” Andrias Harefa. Dia mengklaim dirinya sebagai manusia pembelajar ini adalah “lulusan” drop out (dikeluarkan sebelum
lulus) Fakultas Hukum UGM, tahun 1987. Saat itu dia lebih memilih menerbitkan media- media alternatif-kreatif SAKSI. Kemudian seterusnya bekerja membidani kelahiran majalah ANTUSIAS, penerbitan khusus untuk alumni Dale Carnegie Training di Indonesia.
Setelah selama 7 tahun dia memegang lisensi (perizinan) instruktur Dale Carnegie Training, dia juga merangkap HRD Consultan PT Dasindo Media. Saat badai krisis menerpa,kondisi tersebut membuatnya “beralih”profesi menjadi manusia yang ingin terus belajar. Semenjak itulah sampai 4 tahun kurang ini, proses pembelajaran itu ditumpahkannya ke dalam 19 buku, termasuk buku
“Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang, yang beberapa di antaranya best seller.

Situs pembelajar.com merupakan simbol kecintaan yang diluncurkan tepat pada hari kasih sayang, 14 Februari 2001. Situs tersebut adalah tempat menorehkan pertanda cinta dan persembahan cintanya kepada bangsa. Baginya, saya sedang mengekspresikan rasa cinta yang tumbuh di hati saya (h.20). Dalam bagian keempat dari buku ini, dia mengatakan bahwa sumber ilham bagi para calon penulispengarang adalah cinta. Tanpa cinta tulisan akan serasa hambar dan kering. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa cinta membuat orang menjadi sensitif, peka terhadap apa yang di sekitarnya. Dengan demikian, hatinya “mudah digerakkan”. Ketika “gerakan hati”ini dipadukan dengan
wawasan dan pengetahuan atau sikap rasional (h.13-16), lahirlah ide-ide dan gagasangagasan.
Ditambah dengan “keterampilan Situs pembelajar.com merupakan simbol kecintaan yang diluncurkan tepat pada hari kasih sayang, 14 Februari 2001. Situs tersebut adalah tempat menorehkan pertanda cinta dan persembahan cintanya kepada bangsa.Baginya, saya sedang mengekspresikan rasa cinta yang tumbuh di hati saya (h.20). Dalam bagian keempat dari buku ini, dia mengatakan bahwa sumber ilham bagi para calon penulispengarang adalah cinta. Tanpa cinta tulisan akan serasa hambar dan kering. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa cinta membuat orang menjadi sensitif, peka terhadap apa yang di sekitarnya. Dengan demikian, hatinya “mudah digerakkan”.Ketika “gerakan hati”ini dipadukan dengan wawasan dan pengetahuan atau sikap rasional (h.13-16), lahirlah ide-ide dan gagasangagasan. Ditambah dengan “keterampilan tingkat sekolah dasar”, jadilah karangan, apa pun bentuknya (h.21).
Menulis dan mengarang memang pekerjaan yang mudah. Setidaknya uraian 17    subjudul buku ini menggambarkan dengan bahasa yang populer sehingga mudah ditangkap oleh siapa pun yang membacanya. Buku yang merupakan “kritik” atas “Mengarang Itu Gampang”, karya Arswendo
Atmowiloto, dibuat justru dari susun akhir sistematika. Sesuatu yang tidak lazim dalam soal karang-mengarang. Baginya soal “memulai”adalah begin with the end in mind (mulai dengan pikiran akhir), mulailah dengan memikirkan hasil akhirnya. Hal ini sebagai mana kutipan yang dia ambil dari hasil studi   doktoral penulis best seller “7 Kebiasaan Efektif”, Stephen R. Covey (h.92). Kisah lain yang diungkap buku “praktis” ini adalah soal: Supernova. Siapa yang tidak tahu buku ini? Buku yang dikarang oleh penulis “pemula” sekaligus artis-penyanyi Trio Rida Sita Dewi (RSD), Dewi alias Dee
sampai saat ini laku terjual lebih dari 30.000 eksemplar. Untuk itulah “proses” yang dilakukannya menjadi pembelajaran yang berharga bagi orang yang mempunyai minat menulis. Sebuah kisah idealis dari penulis yang tidak ingin dan “takut” tulisannya diedit oleh para pakar ini, mengerjakan, mencetak,menerbitkan, dan mendistribusikan sendiri novelnya lewat Truedee Books, dan “kepuasan” itu akhirnya mampu dicapainya. Mengarang bisa gampang jika ada komitmen, janji pada diri sendiri. Komitmen itu diniati untuk benar-benar ditepati. Apabila janji dibiarkan tinggal janji, mungkin lebih
baik jadi politisi. Komitmen, inilah satu lagi kata kunci agar proses menulis dan mengarang menjadi mudah.Apa yang disebut komitmen tersebut adalah janji pada diri sendiri bahwa saya akan menjadi penulis. Jadi, menulis itu bukan perlu bakat, sebab bakat tidak lebih dari “minat dan ambisi yang terus-menerus berkembang”. Jadi, jika “bakat” bermakna demikian, maka segala sesuatu memerlukan
bakat, tidak cuma dalam soal tulis-menulis. Masalahnya kemudian, bagaimana agar ambisi tersebut terus dipelihara sampai waktu yang lama? Jawabnya komitmen pada diri sendiri (h.45).
Buku ini ditulis dengan “sekenanya” tapi bermutu (?) dan memenuhi selera “pasar”. Buku ini memuat ragam cara agar siapa pun dapat menulis-mengarang. Hal yang penting tahu bagaimana memicu ide, paham tiga N (Niteni, Nirokke, Nambahi atau memerhatikan,menirukan, menambahkan). Semua ini harus selalu berproses lewat membaca sebagai “makanan” pengarang dan mampu memilih dan memilah topik. Selain itu juga harus mampu mengasah judul yang memikat dan merangsang pembaca-penerbit,redaktur opini, serta perlu tahu tempat atau situasi dan aktivitas yang dapat memicu ide kreatif. Ada lagi yang penting bahwa kita tampaknya perlu tahu di zaman knowledge
economy seorang penulis akan “makin dihargai”. Dengan demikian, kita tidak takut dan ragu, sebab menulis dan mengarang dapat menopang hidup (?). Dalam buku yang disertai dengan ilustrasi bergambar ini mempermudah pembaca untuk segera memahami maksud isi buku. Buku ini juga menguraikan kisah-kisah penulis seperti si “teolog inklusif”, Sukidi new ager Anand Krisna, esais Goenawan Muhammad, novelis S. Mara G.D., pelopor sastra dakwah kontemporer, Helvy Tiana
Rosa, si “Sophy” atau “Hiper.”, Yasraf Amir Piliang, Emha Ainun Nadjib, dan tidak lupa kisah pribadi Andrias Harefa dalam menapak kariernya hingga sukses menjadi penulis beberapa buku best seller.
Akhirnya, buku yang meski cukup “mahal” semoga mampu mendorong lahirnya penulis-pengarang baru. Penulis-pengarang tersebut memang sangat dinantikan untuk mengisi dan memberi makna terhadap ide tentang Indonesia baru. Sebab: menulismengarang itu memang gampang, setidaknya
resensi ini membuktikannya.

(Sumber: www.pembelajar.com dengan pengubahan)
Penulis adalah pecinta buku dan bekerja di Babad Press
(Lembaga Penerbitan Komunitas Lokal)























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 11)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Standar Kompetensi
: 4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan
Kompetensi Dasar
: 4.3 Menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, kefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana
Indikator
Mampu menemukan kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana
Mampu memperbaiki kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana (=)
Mampu mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)

Alokasi Waktu           
:   4  X  40 menit (2 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi:
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan
Kompetensi Dasar:
4.3 Menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, kefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana
Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca dan mengamati teks karangan/ artikel, siswa  dan siswi dapat menyunting karangan dengan berpedoman pada ketepatan ejaan, pilihan kata, kefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana

Materi Pembelajaran
Penyuntingan karangan:
Menyunting artikel
Memublikasikan artikel di mjalah dinding kelas atau sekolah

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mengamati contoh teks karangan/artikel yang akan disunting


Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
 Kegiatan Inti
Membaca teks karangan/artikel
Mendiskusikan teks  untuk menandai kesalahan ejaan,  pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana
Menentukan bentuk penulisan artikel yang benar


Ingin tahu, kritis, demokratis, jujur,cinta ilmu
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berdiskusi tentang bentuk penulisan artikel yang benar

Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis
10’
Kegiatan inti
Memperbaiki kesalahan ejaan,  pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpadiuan paragraf, dan kebulatan wacana dengan cara mengganti bentuk yang salah dengan bentuk yang benar (=)
Mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)


Ingin tahu, demokratis, jujur, kritis, kreatif,
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius





Sumber Belajar
Teks artikel
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 57 – 58   
       Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.


Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menemukan kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana
Penugasan
Tugas rumah
Temukan kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana
Mampu memperbaiki kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana (=)



Perbaikilah kesalahan ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat,  keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana (=)

Mampu mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)



Mampu mempublikasikan karangan hasil suntingan (*)


                       
Rubrik Penilaian Tugas Rumah
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Isi
(2)
6

a. Komposisi
1


b. Keterpaduan antarkalimat dan antarparagraf
1

2.
Bahasa
(2)
4

a. Ketepatan penggunaan tanda baca
1


b. Ketepatan penggunaan ejaan
1

Skor dan bobot maksimal
4
10

Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(2+2):4} x 10 = 10

Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               


Menyunting Karangan

Menyunting teks karangan merupakan proses pembenahan sebuah teks karangan sebelum menjadi teks karangan yang siap disajikan, dinilaikan, ataupun dipresentasikan. Penyuntingan bertujuan untuk menghindarkan teks karangan dari kesalahankesalahan,
baik menyangkut isi maupun penggunaan bahasa, dengan cara mengoreksi isi tulisan secara cermat dan teliti. Sebagai bahan referensi kalian dalam menyunting sebuah tulisan, perhatikan teks di bawah beserta penjelasannya.

Teks 1
Persaingan bisnis angkutan udara di Kota Semarang makin ketat di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyebabkan peningkatan biaya tambahan untuk bahan bakar atau fuel  surcharge.Pengelola Bandara Ahmad Yani, Semarang mengisyaratkan tidak ada penambahan jalur
baru selama tahun 2008. Pendapatan Garuda Semarang memang 105 persen dari target yang sudah ditentukan dengan rata-rata tingkat isian penumpang (load factor) mencapai 85 persen untuk rute
unggulan Semarang-Jakarta. Namun, tahun ini hanya menargetkan pertumbuhan pendapatan tiga persen. Persaingan kian ketat. Imbas paling besar disebabkan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak mentah ini menyebabkan pihaknya terpaksa meningkatkan fuel surcharge bahkan sampai dua kali pada bulan lalu. Biaya tambahan untuk bahan bakar ini sudah mencapai Rp160.000,00 perpenumpang. Padahal, bulan Oktober masih sekitar Rp80.000,00. Bulan mendatang, biaya ini diperkirakan mencapai angka Rp175.000,00. dengan kondisi ini, Garuda belum dapat menammbah target penumpang maupun frekuwensi penerbangan.

(Sumber: Kompas, 18 Januari 2004, dengan pengubahan)

Teks 1 merupakan teks sebelum dilakukan penyuntingan atau sering diistilahkan sebagai bahan suntingan. Berdasarkan teks di atas, dapat kalian identifikasikan beberapa kesalahan yang terdapat dalam teks tersebut. Contoh pengidentifikasian teks tersebut dapat
kalian tuliskan sebagaimana berikut.
1. Penulisan fuel surcharge pada kalimat pertama paragraf 1dan paragraf 3 serta penulisan load factor pada kalimat pertama paragraf 2 seharusnya dicetak miring atau diberikan
tanda pembeda. Dalam hal ini, kedua kata tersebut merupakan istilah asing.
2. Penulisan perpenumpang pada kalimat kedua paragraf 3, seharusnya per penumpang (dipisah). Dalam hal ini, per pada kata tersebut bukan merupakan afiks, melainkan kata
keterangan yang berarti tiap.
3. Penulisan dengan pada kalimat di akhir paragraf seharusnya Dengan. Dalam hal ini, penulisan huruf di awal kalimat harus menggunakan huruf besar.
4. Penulisan menammbah pada kalimat terakhir seharusnya menambah. Dalam hal ini, kesalahan tersebut dikarenakan adanya kesalahan pengetikan atau penulisan.
5. Penulisan frekuwensi pada kalimat terakhir seharusnya frekuensi. Dalam hal ini, penulisan kata harus baku, yaitu disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan.

Setelah mengidentifikasi kesalahan dan melakukan pembenaran, hasil suntingan teks 1 di atas dapat kalian tulis sebagai berikut (teks 2).
Teks 2
Persaingan bisnis angkutan udara di Kota Semarang makin ketat di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menyebabkan peningkatan biaya tambahan untuk bahan bakar atau fuel surcharge.Pengelola Bandara Ahmad Yani, Semarang, mengisyaratkan tidak ada penambahan jalur
baru selama tahun 2008. Pendapatan Garuda Semarang yang memang 105 persen dari target sudah
ditentukan dengan rata-rata tingkat isian penumpang (load factor) mencapai 85 persen untuk rute unggulan Semarang-Jakarta.Namun, tahun ini hanya menargetkan pertumbuhan pendapatan tiga persen. Persaingan kian ketat. Imbas paling besar disebabkan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak mentah ini menyebabkan pihaknya terpaksa meningkatkan fuel surcharge bahkan sampai dua kali pada bulan lalu. Biaya tambahan untuk bahan bakar ini sudah mencapai Rp160.000,00 per penumpang. Padahal, bulan Oktober masih sekitar Rp80.000,00. Bulan mendatang, biaya ini diperkirakan mencapai angka Rp175.000,00. Dengan kondisi ini, Garuda belum dapat menambah target penumpang maupun frekuensi penerbangan.                                                  

















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 12)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   6  X  40 menit (3 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
6. Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk lain
Kompetensi Dasar
6.2 Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan siswi dapat menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun.

Materi Pembelajaran
Musikalisasi puisi:
Menyimak puisi yang diekspresikan melalui lagu
Menirukan bait-bait puisi yang dilagukan
Belajar menciptakan irama musik untuk sebuah puisi dengan memperhatikan kesesuaian isi dan suasana
Menampilkan musikalisasi puisi secara ekspresif
Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Demonstrasi
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Mendengarkan contoh musikalisasi


Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
 Kegiatan Inti
Mencermati beberapa musikalisasi puisi yang didengarkan
Berdiskusi untuk menentukan puisi yang akan dinyanyikan
Menentukan suasana puisi lewat diskusi untuk menciptakan irama musikalisasi puisi


Ingin tahu, kritis, demokratis, menghargai karya
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berdiskusi tentang suasana puisi untuk menciptakan irama musikalisasi puisi

Religius, ingin tahu, disiplin, demokratis

Kegiatan Inti
Menghubungkan suasana puisi  dengan irama musikalisasi puisi yang akan dinyanyikan
Mengaransemen musik untuk dipadukan dengan puisi yang akan

Kritis, kreatif, menghargai karya

Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu religius





Ke-3
Pendahuluan
Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
Menanyakan kehadiran siswa
Berlatih menyanyikan puisi sesuai dengan aransemen musikalisasi puisi


Religius, ingin tahu, mandiri


Kegiatan Inti
Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan  berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irima yang dibangun
Melaksanakan penialaian musikalisasi puisi


Kreatif, inovatif, menghargai karya
60’

Penutup
1. Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius



Sumber Belajar
Media elektronika (TV/VCD)
Buku Puisi
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 100 – 104   
            4.     Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm.

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menentukan suasana puisi

Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Produk
Tenentukan suasana puisi!

Mampu menghubungkan suasana puisi  dengan irama musikalisasi puisi


Hubungkan suasana puisi  dengan irama musikalisasi puisi
Mampu menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan  berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun


 Nyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan  berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana/irama yang dibangun

Rubrik Tugas Proyek/Porttofolio
No.
Aspek yang dinilai
Skor
Bobot
1.
Keselarasan isi puisi dengan irama/musik/lagu
(3)
3

a. irama/musik/lagu selaras dengan isi puisi
3


b. irama/musik/lagu kurang selaras dengan isi puisi
2


c. irama/musik/lagu tidak selaras dengan isi puisi
1

2.
Intonasi
(3)
3

a. irama, tekanan, dan jeda bervariasi sesuai dengan isi puisi
3


b. irama, tekanan, dan jeda kurang bervariasi
2


c. irama, tekanan, dan jeda tidak bervariasi/monoton
1

3.
Pelafalan
(3)
2

a. ucapan jelas dan tidak terjadi kesalahan pengucapan
3


b. ucapan jelas, tetapi terjadi beberapa kesalahan pengucapan
2


c. ucapan tidak jelas dan banyak terjadi kesalahan pengucapan
1

4.
Penampilan
(3)
2

a. ekspresif, gerak tubuh wajar sesuai dengan tuntutan puisi, dan tidak ”grogi”
3


b. ekspresif, gerak tubuh wajar sesuai dengan tuntutan puisi, tetapi ”grogi”
2


c. tidak ekspresif, gerak tubuh dibuat-buat, tidak sesuai dengan isi puisi dan ”grogi”
1

Skor dan bobot maksimal
12
10

Nilai Akhir = {(Perolehan Skor no 1+2+3+4): Skor Maksimal} x bobot maksimal
Misal                                = {(3+3+3+3):12} x 10 = 10


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195205171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               

                                                                       


B. Musikalisasi Puisi
 Istilah “musikaliasi puisi” berarti “puisi” merupakan subjek dari perbuatan, yaitu “memusikkan puisi”,atau membuat puisi menjadi musik. Sementara “puitisasi musik”
memiliki pengertian “membuat musik menjadi puitis”. Kejelasan definisi seperti ini memang harus dilakukan terlebih dulu jika kita ingin membicarakan konsep seperti “musikalisasi puisi”. Dalam melatih membawakan musikalisasi puisi, lantunkanlah puisi berikut menjadi lagu dengan irama gitar sesuai dengan kunci yang ditunjukkan.
Sajak Putih
Karya: Chairil Anwar
Bersandar pada tari warna pelangi
D              F#     Em            A     D
Kau depanku bertundung sutra senja
D              F#     EM                   A  D
Di hitam matamu kembang mawar dan
D                   F#    Em                A
melati
D
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
AD                  F# Em                A D F# Em
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
F#               Em            A D
Selama matamu bagiku menengadah
F#                         Em    A              D
Selama kau darah mengalir dari luka
F#            Em        A                    D
Antara kita Mati datang tidak membelah
F#       Em            A D F#                  Em
ho...ho..ho..ho..ho...ho
A               D
Suatu lagu dapat kita dengarkan dengan enak dan harmonis dikarenakan dalam pembuatannya memakai suatu struktur yang tersistem. Sistem dalam sebuah lagu banyak ditentukan oleh iramayang tersusun oleh parameter berikut.
1. Nada (melodi)
2. Accord (progress)
3. Nada dasar (tangga nada)
4. Durasi nada
5. Ritme
6. Syair dan lirik
Sebenarnya tidak sulit bagi kalian untuk memusikalisasi puisi. Hal ini disebabkan lagu-lagu yang ada pada dasarnya adalah puisi.Memusikalisasi puisi dapat dimulai dengan menentukan nada melodi pada lagu. Penentuan nada dapat dilakukan dengan beberapa aturan, yaitu berikut.
1. Nada-nada yang jatuhnya bersamaan dengan hitungan.
2. Nada-nada yang jatuhnya sesudah hitungan.
3. Nada-nada yang jatuhnya sebelum hitungan.
Setelah itu, kalian memberikan notasi nada. Maka itu, kalian harus menulis syairnya terlebih dahulu. Perlu diingat bahwa nada melodi vokal kebanyakan jatuh pada tiap suku kata syair lagu tersebut.

Ingin Tahu?
1. Nada adalah unsur terkecil dalam sebuah musik yang mempunyai jenis tinggi dan rendah.
2. Accord adalah suatu rangkaian nada-nada yang tersusun secara teratur dari sebuah tangga nada.
3. Nada dasar merupakan kerangka utama sebuah lagu.
4. Durasi adalah suatu notasi pada nada, sehingga bisa menggambarkan not atau nada tersebut dibaca
    panjang atau pendek atau dengan durasi yang lama atau sebentar.
5. Ritme merupakan sesuatu yang menyangkut ketukan detik yang teratur dan pola yang ter


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 13)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
: 2 X  40 menit (1 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan
Kompetensi Dasar
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa dan sisiwi dapat menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas

Materi Pembelajaran
Penulisan iklan baris:
Mendaftar butir-butir yang akan dituliskan dalam iklan baris di surat kabar
Menulis iklan baris dengan bahasa singkat, padat, dan jelas

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Bertanya jawab tentang iklan baris dalam surat kabar
Menemukan contoh iklan baris dalam surat kabar


Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Mencermati contoh iklan baris
Mebahasakan secara lengkap iklan baris
Mendiskusikan model-model penyingkatan dalam iklan baris
Menentukan objek yang akan diiklankan
Menulis iklan baris suatu objek dengan bahasa yang sigkat, padat dan jelas (=)
Memperbaiki dan menyunting iklan baris (*)


Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’



Sumber Belajar
1.Media cetak (koran)
2. Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 156 – 157    
 3.Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 16-18

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menentukan objek yang akan diiklankan

Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Produk
Tenentukan objek yang akan diiklankan!

Mampu menentukan butir-butir yang akan diiklankan


Tentukan butir-butir yang akan diiklankan
Mampu menyingkat kata-kata sesuai dengan kebiasaan  iklan baris



Singkatlah kata-kata sesuai dengan kebiasaan  iklan baris

Mampu menulis iiklan baris dengan bahasa yang sigkat, padat, dan jelas (=)



Tulislah  iklan baris dengan bahasa yang sigkat, padat, dan jelas (=)

Mampu menyunting iklan baris (*)



Syuntinglah  iklan baris (*)


                       
Rubrik untuk menilai iklan baris
No.
Aspek yang dinilai
Nilai
Keterangan
1
2
3
4
5
1.
Kesesuaian isi butir-butir yang diiklankan





1= sangat kurang
2= kurang
3= cukup
4= baik
5= sangat baik
2.
Bahasa (singkat, padat, dan jelas)





3.
Kerapian tulisan





       Nilai akhir: Jumlah Perolehan Nilai: 3
Misal: (3+4+3):3 = 3,3 (cukup)

Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                       

Menulis Iklan Baris
 Aturan yang disepakati secara umum adalah iklan baris terpendek minimal 2 baris dan panjang maksimal adalah 10 baris. Apabila iklan yang akan kita tuliskan ternyata lebih dari 10 baris, maka penulisannya harus diringkas atau disingkat lagi atau diubah formatnya menjadi iklan kolom. Sebelum berlatih menulis iklan baris, perhatikanlah beberapa
daftar singkatan yang sering dipergunakan dalam menulis iklan baris berikut!
No. Singkatan Kepanjangan

1. CPT Cepat                                                             
2. RMH Rumah
3. LT Luas Tanah
4. LB Luas Bangunan
5. TU Tempat Usaha
6. Gdng Gudang
7. SHM Sertifikat Hak Milik
8. Lt. Lantai
9. Bb bjr Bebas banjir
10. Dkt kota Dekat Kota
11. Brg Barang
12. Mrh Murah
13. H. Maestro Honda Maestro
14. Bl Bulan
15. Py Spd Mtr Punya sepeda motor
16. Pnpln Penampilan
17. Lmr Lamaran
18. Krdt Kredit
19. dtg datang
20. Kav Kavling
21. HM Hak Milik
22. TNH Tanah
23. DCR Dicari
24. Pros Proses
25. Ng Nego
26. Sgr Segera
27. Orsn Orisinil
28. ISTW Istimewa
29. Hrg Harga
30 Lht Lihat
31. Jm/Hari Jam/Hari
32. Sgl Segala
33. Ltr blk Latar Belakang
34. Mnrk Menarik
35. krm Kirim
36. PS Playstation

Setelah memerhatikan beberapa daftar singkatan untuk menulis iklan baris di atas, perhatikanlah ilustrasi berikut beserta penjelasannya sebagai bahan referensi kalian mengenai proses menulis iklan baris!
Kakakmu baru saja pulang dari Malaysia. Ia seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja sebagai karyawan salah satu pabrik di Malaysia. Namun, sekarang kakakmu tidak
mau kembali ke Malaysia. Kakakmu ingin membuka usaha sendiri. Kakakmu ingin membuka tempat grosir busana. Agar dapat segera diketahui oleh masyarakat umum, kakakmu
menyampaikan informasi penjualan barang tersebut dalam bentuk iklan baris di surat kabar. Sebelum menulis iklan secara lengkap, perlu didaftar terlebih dahulu butir-butir yang akan
dituliskan di dalam iklan.
Adapun butir-butir dari iklan yang akan dituliskan kakakmu tersebut, misalnya berikut.
1. Nama tempat Lily
2. Menawarkan grosir busana
3. Jenis:
a. batik
b. babydoll
c. kemeja
d. celana
e. kaos
4. Barang dapat dikirim ke seluruh Indonesia
5. Hubungi: 08133942716
Setelah mendaftar butir-butir yang perlu dicantumkan dalam iklan, iklan tersebut dapat ditulis sebagaimana berikut.
USAHA
Lily grosir Batik, babydoll, kmj,
cln, kaos, bs krm slrh Ind.
Hub. 08133942716

Iklan baris di atas ditulis dengan singkat, jelas, dan hemat. Terdapat beberapa singkatan yang lazim digunakan, sehingga pembaca tidak kesulitan dalam memahami iklan tersebut. Singkatan kata tersebut adalah kmj (kemeja); cln (celana); bs (bisa); krm
(kirim); slrh (seluruh); dan Ind (Indonesia).
Dengan berbekal singkatan di atas, kalian dapat membaca iklan baris secara lengkap. Pembacaan iklan baris di atas adalah dibuka Grosir Lily yang menjual batik, babydoll, kemeja, celana, kaus. Bisa kirim ke seluruh Indonesia. Hubungi 08133942716.
Setelah membaca iklan tersebut, kalian dapat memahami isinya.
Isi iklan baris di atas adalah tempat grosir bernama Lily menjual batik, babydoll, kemeja, celana, dan kaos. Grosir Lily bersedia untuk mengirim ke seluruh Indonesia. Untuk informasi
lebih jelas, pembaca dapat menghubungi nomor telepon 08133942716.
Hal yang perlu diingat saat membuat iklan baris di media massa adalah penghematan kata. Hal ini disebabkan adanya penghitungan biaya iklan yang didasarkan pada panjang baris atau jumlah kata. Berkaitan dengan hal tersebut, dalam iklan baris sering terdapat singkatan-singkatan. Namun, penghematan kata dan penyingkatan kata harus tetap memerhatikan kejelasan isi atau pesan yang ingin disampaikan. Jangan sampai penghematan katadan penyingkatan justru menjadikan masyarakat tidak memahami maksud dari iklan tersebut.

Uji Kompetensi 4
Perhatikan ilustrasi berikut!
Untuk mengisi waktu luangmu di rumah, kamu bersama kakakmu ingin memanfaatkan dengan membuka jasa pengetikan komputer. Kamu dan kakakmu bersedia menulis undangan, tugas
sekolah, tugas akhir, skripsi, dan lain-lain. Kamu dan kakakmu ingin menyampaikan informasi penawaran jasa pengetikan tersebut dalam bentuk iklan baris di surat kabar.
Kerjakanlah sesuai dengan perintah di buku tugas!
1. Buatlah daftar butir-butir yang akan kamu tuliskan dalam iklan baris seperti yang kamu maksud!
2. Buatlah singkatan-singkatan kata berkaitan dengan isi iklan yang kamu maksud!
3. Buatlah iklan baris berdasarkan butir-butir yang telah kamu tuliskan!
TAGIHAN
Buatlah sebuah iklan baris dengan isi kalian tentukan sendiri



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 14)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   2 X  40 menit (1 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan mendengarkan syair

 Kompetensi Dasar
Menganalisis unsur-unsur syair yang diperdengarkan

Tujuan Pembelajaran
Setelah mendengarkan syair, siswa dan siswi dapat menganalisis unsur-unsur syair dengan tepat

Materi Pembelajaran
Penganalisisan unsur-unsur syair:
tiap bait terdiri atas empat baris
tiap baris terdiri atas empat atau lima kata (sepuluh sampai dua belas suku kata)
tiap baris merupakan isi (tidak bersampiran)
makna dalam satu bait merupakan satu kesatuan yang bersinambungan bait-bait berikutnya (syair tidak cukup hanya satu bait)
berima akhir sama: /aaaa/

Contoh: “Syair Si Burung Pungguk”

  Pungguk bangsawan hendak menitir
                    Tidak diberi kakanda satir
              Adinda, jangan tuan bersyair
              Jikalau tuan dan petir                  
...........................................................

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Bertanya jawab tentang puisi lama,  khususnya syair
4.  Mengamati/mendengarkan contoh syair


Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan Inti
Mendengarkan beberapa pembacaan syair  dari narasumber
Secara berpasangan/berkelompok, mengidentifikasi unsur-unsur syair
Menganalisis syair berdasarkan unsur-unsur syair (=)
Melaporkan hasil analisis


Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’

Sumber Belajar
Buku Kumpulan Syair
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm. 144 – 145    
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 105-107

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menyimpulkan syarat-syarat syair

Tes tulis
Soal Uraian
Simpulkan syarat-syarat syair yang telah kamu dengarkan

Mampu menganalisis syair yang diperdengarkan berdasarkan unsur-unsur syair (=)
Tes tulis
Soal Uraian
Analisislah satu bait  syair “Si Burung Pungguk”yang diperdengarkan berdasarkan unsur-unsur syair (=)

                       
            Rambu-rambu jawaban:
satu bait terdiri atas empat baris,
berima sama /aaaa/,
semua baris merupakan isi,
isi atau makna tiap bait merupakan kesatuan yang utuh

                                                                       
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               

                                                                                   
Lampiran
Menganalisis Unsur-unsur Syair
Perhatikan contoh syair berikut!
Syair Abdul Muluk
“Dayang segera turunkan pergi,
Mengambil teropong berlagak kaki,
Lalu dibaca ke anjung tinggi,
Siti meneropong kapal dan kici.
Sudah meneropong Siti terala,
Dayang tahadi meneropong pula,
Direbut dayang Ratna Jumala,
Katanya, ‘Huwa Allah Taala.
Kita meneropong tiada sempat,
Tangan merebut terlalu cepat!’
Direbut pada dayang Mahaibat,
Sambil tertawa mulut disumbat.
Seketika bersenda sekalian Siti,
Meneropong semua bersungguh hati,
Lepas seorang, seorang ganti,
Tampaklah kealatan muda yang sakti.
Tampaklah segala hububalang berjalan,
Bersiar di kapal berambal-ambalan,
Ia memakai pedang gemerlapan,
Pistol dipegang berjuluran.
Tampaklah hulubalang berbagai-bagai,
Ada yang berjanggut, ada yang bermisai,
Ada berserban terumbai-rumbai,
Ada gemuk, ada yang lampai.
Ada yang seperti harimau menerkam,
Bersiar sambil tangan digenggam.
Ada yang menghisap hokah manikam,
Keluar dari mulut asapnya hitam”

– berambal-ambalan = berarak-arakan.– bermisai = bercambang.– hokah = pipa
Berdasarkan syair di atas, dapat diketahui ciri-ciri syair. Syair terdiri atas beberapa bait, satu bait terdiri atas empat baris, dan tiap baris terdiri atas empat kata. Setiap baris sekurang-kurangnya terdiri atas delapan sampai dengan dua belas suku kata, memiliki rima a-a-a-a, serta merupakan satu kesatuan yang utuh.
Setelah kalian menyimpulkan ciri-ciri syair, kalian dapat menganalisis unsur-unsur syair. Unsur-unsur syair meliputi tema, perasaan, nada, dan amanat. Adapun makna dari tema, perasaan, nada, dan amanat adalah sebagai berikut.
1. Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Contoh tema syair adalah ketuhanan, kemanusiaan, patriotisme, dan sebagainya.
2. Perasaan berkaitan dengan perasaan yang disampaikan penyair melalui syairnya. Syair dapat mengungkapkan perasaan yang beraneka ragam, mungkin perasaan sedih, kecewa, benci, rindu, maupun bahagia.
3. Nada merupakan sikap batin penyair yang hendak diekspresikan kepada pembaca. Misalnya ada nada menasihati, mencemooh, iri hati, penasaran, dan sebagainya.
4. Amanat berkenaan dengan maksud, pesan, atau tujuan yang hendak disampaikan penyair melalui syairnya.
Sebelum menentukan unsur-unsur syair di atas, kalian dapat membaca syair tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian kalian dapat menjelaskan unsur-unsur syair secara lengkap dan utuh.
Berikut ringkasan cerita “Syair Abdul Muluk”.
Cerita syair Abdul Muluk dimulai dari negeri Barbari dengan raja-raja Sultan Abdul Aidid. Sultan ini memenjarakan seorang pedagang Hindustan yang dituduh berbuat curang dalam pengaduannya. Pedagang yang kemudian meninggal di dalam penjara ini ternyata adalah paman Sultan Hindustan.
Dendamlah Sultan Hindustan kepada Raja Kerajaan Barbari. Tetapi, karena Raja Barbari amat kuat, saat pembalasan ditangguhkan oleh Sultan Hindustan. Syahdan Abdul Aidid wafat dan negerinya
diperintah oleh anaknya, Sultan Abdul Mukari. Abdul Mukari yang telah beristri, pada suatu hari bertemu dengan putri negeri Ban, Siti Akbari atau Bukit Permata. Putri ini diambilnya sebagai istrinya yang kedua. Sultan Hindustan yang mengetahui bahwa Sultan Abdul Aidid telah wafat segera
menyerbu Barbari dan berhasil menahan Abdul Mukari beserta istri pertamanya. Ketika Sultan Hindustan bermaksud memperistri istri Sultan Abdul Mukari, istri pertama ini setuju asal ia diperistri bersama Siti Akbari. Ketika Siti Akbari dicari, ia ditemukan telah menjadi mayat di kamarnya.
Sebenarnya Siti Akbari belum mati. Ia mengembara dan menyamar sebagai lelaki. Dalam pengembaraannya, ia berhasil menolong seorang raja yang dirongrong pemberontakan pamannya sendiri. Dengan pertolongan raja inilah Siti Akbari memerangi Sultan Hindustan dan membebaskan Sultan Abdul Mukari. Namun, Sultan Abdul Mukari tetap bersedih karena istri keduanya, Siti
Akbari, sudah mati. Maka diaturlah suatu pertemuan untuk menyadarkan Sultan Abdul
Mukari dan istri pertamanya bahwa pembebasnya, tak lain adalah Siti Akbari.

Kalian telah mengetahui unsur-unsur syair. Berdasarkan syair di atas, kalian dapat menganalisis unsur-unsur syair tersebut sebagaimana contoh berikut.
1. Syair di atas bertema kepahlawanan.
2. Syair di atas mengungkapkan seorang istri (istri kedua) yang berani melawan musuh demi membebaskan suaminya dan istri pertama dari tangan musuh.
3. Syair di atas memiliki nada memberitahukan kepada para pembaca bahwa seorang istri berkewajiban membantu suami dan keluarga lainnya, meski harus mengorbankan nyawa.
4. Syair di atas memiliki amanat bahwa kita harus membela kebenaran.
TAGIHAN
1. Carilah sebuah syair! Jangan kamu baca terlebih dahulu syair tersebut!
2. Mintalah kepada salah satu temanmu untuk membacakan syair tersebut!
3. Analisislah unsur-unsur syair yang telah kamu simak!
4. Kumpulkan kepada bapak/ibu gurumu beserta syair yang telah kamu simak!
Uji Kemampuan 1
Coba sekarang kamu meminta kepada salah seorang temanmu untuk membacakan syair berikut. Simaklah dengan saksama pembacaan syair yang dilakukan oleh temanmu! Sebagai evaluasi terhadap kemampuan menyimakmu, coba kamu kerjakan perintah soal di bawahnya dengan tidak membaca kembali syair tersebut.
Syair Burung Pungguk
“Bulan purnama cahayanya terang,
Bintang seperti indah dikarang,
Rawannya Pungguk bukan sembarang,
Berahikah bulan di tanah seberang.
Gemeralapan cahaya Bintang Kertika,
Beratur majelis bagai dijangka,
Sekaliannya bintang terbit belaka,
Pungguk melihat kalbunya duka ...,
Tengah malam Pungguk terjaga,
Melihat Bintang Puyuh Laga,
Bintang Belantik beratur tiga,
Cahayanya terang tidak terhingga ...
Rawannya pungguk tiada terperi,
Melihat Bintang Pari-Pari,
Bulan purnama cahaya berseri,
Haram tak boleh pungguk hampiri ...
Terbitlah bintang sebelah wetan,
Cahayanya limpah di tengah lautan,
Menantikan sampai janji suratan ...
Hari malam Bulan nan terang
Paksi berbunyi suaranya jarang,
Merak berbunyi segenap jurang,
Cengkerik bersyair mengatur sarang”

Kerjakanlah dengan cermat dan tuliskanlah jawabanmu di buku tugasmu!
1. Tuliskan tema syair yang telah kamu simak!
2. Tuliskan perasaan syair yang kamu simak!
3. Tuliskan nada dari syair yang kamu simak!
4. Tuliskan amanat dari syair yang telah kamu simak!
5. Bandingkan hasil pekerjaanmu dengan teman-temanmu!

















































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 15)

Sekolah
: SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas, semester
: IX, 1
Alokasi Waktu           
:   2 X  40 menit (1 pertemuan)
                                     
Standar Kompetensi
5. Memahami wacana sastra jenis syair melalui kegiatan mendengarkan syair
Kompetensi Dasar
5.1 Menemukan tema dan pesan syair yang diperdengarkan
Tujuan Pembelajaran
Setelah mendengarkan syair, siswa dan siswi dapat:
menemukan tema syair dengan tepat,
menangkap pesan syair dengan sempurna.

Materi Pembelajaran
Cara menemukan tema dan pesan syair serta implemenatsinya: untuk mengetahui isi (termasuk tema) syair tidak cukup hanya satu bait karena syair biasanya untuk bercerita. Empat baris syair dalam satu bait merupakan satu kesatuan sintaksis yang mengandung satu makna yang bersinambungan. Biasanya makna syair ditentukan bait-bait berikutnya, mirip alinea-alinea dalam prosa atau sebuah cerita.

Metode Pembelajaran
Pemodelan
Diskusi
Inkuiri
Konstruktivistik
Penilaian autentik

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Bertanya jawab tentang isi syair yang diperdengarkan (sebagai model)

Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan Inti
Mendengarkan model pembacaan syair dari narasumber
Secara kelompok, mendiskusikan tema dan pesan syair
Menyimpulkan  tema syair
Menyimpulkan pesan syair (=)
Melaporkan hasil diskusi
Merefleksikan isi syair dengan kehidupan sehari-hari (*)

Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
60’
Penutup
1.  Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’

Sumber Belajar
1.   Buku Kumpulan Syair
2.   Waluyo, J. Herman. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. Hlm.10-11
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 55-56

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menemukan tema syair berdasarkan inti pengungkapan syair

Tes tulis
Soal Uraian
Temukan tema syair yang telah kamu dengar berdasarkan inti pengungkapan syair!
“Syair Ken Tambuan” (Cerita Panji)
Lalulah berjalan Ken Tambuan
diiringkan penglipur dengan tadahan
Lemah lembut berjalan perlahan-lahan
lakunya manis memberi kasihan

Tunduk menangis segala puteri
Masing-masing berkata sama sendiri
Jahatnya perangai permaisuri
Lakunya seperti jin dan peri
Mampu menangkap pesan syair dengan bukti yang meyakinkan (=)
Tes tulis
Soal Uraian
Tentukan pesan syair dengan bukti yang meyakinkan (=)
Mampu merefleksikan isi syair dengan kehidupan sehari-hari (*)
Penugasan
Tugas Rumah
Refleksikan isi syair dengan kehidupan sehari-hari (*)



Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               

                                                                                               








Lampiran
Menemukan Tema dan Pesan Syair yang Diperdengarkan
 Syair merupakan puisi Melayu lama. Istilah syair berasal dari kata Arab Syi'ir, yang berarti
“perasaan yang menyadari”. Isi syair umumnya sebuah cerita. Namun, ada pula yang
memuat buah pikiran, filsafat, puji-pujian, dan sebagainya.
Perhatikanlah penggolongan syair berikut!
1. Syair keagamaan, seperti Syair Nur Muhammad, Syair Nabi Ayub.
2. Syair kiasan, seperti Syair Burung Pungguk, Syair Ikan Terubuk.
3. Syair Panji, seperti Syair Panji Semirang, Syair Ken Tambuhan.
4. Syair Sejarah, seperti Syair Perang Makassar, Syair Emop, Syair Perang Aceh.
5. Syair romantik atau percintaan, seperti Syair Cinta Birahi, Syair Bidasari.
6. Syair saduran, seperti Syair Damarwulan, Syair Tajul Muluk, Syair Wayang.

Perhatikanlah contoh petikan atau penggalan Syair Bidasari berikut!
Bibirnya bagai peta dicarik-carik,
Lehernya jenjang kumbu ditarik,
Bersucing emas bunga anggrek,
Mungkin bertambah parasnya baik,
Betisnya bagai bunting padi,
Paras seperti nilakandi,
Seperti hitam sudah diserodi,
Dipagar nilam, intan dan pudi,
Pinggangnya ramping, dadanya bidang,
Panjang lampai sederhana sedang,
Cantik manjelis gilang gemilang,
Tidak jemu mata memandang.
– kumbu = keranjang kecil tempat ikan. – diserodi = digosok atau diasah. – manjelis = elok.

Apabila kalian membaca Syair Bidasari secara lengkap, maka kamu akan mengerti isi syair tersebut.
Syair Bidasari mengisahkan seorang putri raja yang dilahirkan ketika dalam pelarian di hutan, tetapi kemudian terpaksa dibuang oleh ibunya. Akhirnya putri raja itu ditemukan
dan dipelihara oleh saudagar kaya. Dia tumbuh menjadi gadis cantik yang kemudian diperistri oleh seorang raja bernama Indrapura. Diceritakan pula, Bidasari akhirnya memaafkan ibunya yang telah membuangnya, setelah adiknya mempertemukan
antara Bidasari dengan ibunya. Cerita ini berakhir dengan bahagia.
Berdasarkan kisah di atas, kalian dapat menentukan tema dan amanat Syair Bidasari. Berikut contoh tema dan amanat pada Syair Bidasari.
1. Tema Syair Bidasari adalah kasih sayang.
2. Amanat Syair Bidasari adalah bersikaplah murah hati kepada siapa saja, saling mengasihi dan menyayangi, serta mudah memaafkan.

Uji Kemampuan 1

Dengarkanlah Syair Perang Mengkasar yang akan dibacakan oleh temanmu berikut!

Syair Perang Mengkasar
Sudahkah kalah negeri Mengkasar
Dengan kudrat Tuhan Madik al-Jabbar
Patik karangkan di dalam fatar
Kepada negeri yang lain supaya terkabar.
Memohonkan ampun patik tuanku,
Kehendak Allah telah berlalu
Kepada syarak tidak berlaku
Bugis Buton Ternate hantu
Lima tahun lamanya perang,
Sedikit pun tidak hatinya bimbang,
Sukacita hati segala hulubalang
Melihat musuh hendak berperang
Mengkasar sedikit tidak gentar,
Ia berperang dengan si kuffar,
Jikala tidak rakyatnya lapar,
Tambahi lagi Welanda kuffar
– syarak = hukum Islam.


Kerjakanlah soal berikut dengan tepat di buku tugas!
1. Jelaskanlah isi syair di atas!
2. Berdasarkan inti pengungkapan syair, tentukanlah tema syair di atas!
3. Tentukan pesan syair di atas dengan bukti yang meyakinkan!






                                                                                   
















                                                                                               















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 18)

Sekolah           :           SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran            :           Bahasa Indonesia
Kelas, Semester           :           IX, 2
Alokasi waktu :           2 x 40 menit


  Standar Kompetensi
  16. Menulis naskah drama.

Kompetensi Dasar
16.1 Menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah dibaca.

Tujuan Pembelajaran
Siswa dan siswi dapat menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah dibaca.

Materi Pembelajaran
            Penulisan naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah dibaca.

Metode Pembelajaran
            Observasi, diskusi, inkuiri, unjuk kerja.

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3. Siswa dan siswi membaca contoh cerpen.
4. Siswa dan siswi mengidentifikasi sistematik contoh cerpen.


Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan inti
Siswa dan siswi mencatat pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam cerpen.
Guru memberikan contoh drama
Siswa, siswi, dan guru bersama-sama menentukan perbedaan secara fisik antara cerpen  dan drama.
Siswa dan siswi membuat drama berdasarkan pokok-pokok pikiran dari cerpen yang telah dibuat.
Salah satu siswa dan siswi ditunjuk untuk mempresentasikan naskah drama yang telah dibuatnya.
Siswa dan siswi menanggapi pekerjaan temannya dibantu oleh guru.
Guru memperjelas hal-hal yang perlu dilakukan dalam menyunting.
Siswa dan siswi diminta menyunting pekerjaan teman sebangkunya.



Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur
60’
Penutup
1.  Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’

           
G. Sumber Belajar
1. Contoh drama
Contoh cerpen.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 200-203

H. Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
1.Mampu membedakan sitematika penulisan cerpen.
Tes
Soal Uraian
1.Mampu membedakan sitematika penulisan cerpen.
2.Mampu mengidentifikasi pokok-pokok cerita dalam cerpen
Tes

Soal Uraian
2.Identifikasilah pokok-pokok cerita dalam cerpen
3.Mampu menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah dibaca.
Tes

3.Tulislah naskah drama berdasarkan cerpen yang pernah dibaca.
4.Mampu menyunting naskah drama
Tes

4.Suntinglah  naskah drama berdasarkan cerpen yang telah kamu baca!

           
            Contoh instrumen  :
            1. Tulislah pokok-pokok cerita yang terdapat dalam cerpen yang pernah kamu baca!

No
Deskriptor
Skor
1
Siswa dan siswi menuliskan pokok-pokok cerita dengan lengkap
3
2
Siswa dan siswi menuliskan pokok-pokok cerita tidak secara lengkap
2
3
Siswa dan siswi tidak mengerjakan

1










2.Tulislah nasah drama berdasarkan pokok-pokok cerita yag telah kamu buat!




3. Suntinglah  naskah drama berdasarkan cerpen yang telah kamu baca!

NO
ASPEK YANG DINILAI
JUMLAH
Kelengkapan ide pokok
Kesesuaian antara ide dalam drama dengan cerpen
Ketepatan ejaan
15-30
15-30
15-30





           
                       
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               


                                                                                               



























Menyusun Naskah Drama berdasarkanCerpen

Saat ini, banyak karya drama yang diciptakan atau dibuat berdasarkan karya-karya lain seperti prosa (cerpen atau novel) dan puisi. Proses perubahan karya semacam ini dikenal dengan istilah ekranisasi, misalnya: kita mengenal ada sinetron “Cintaku di Kampus Biru” yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Mira. W; “Si Doel Anak Sekolah” diangkat dari novel “Si Doel Anak Betawi”; film “November 1828” diangkat dari novel
“Diponegoro”; film “Sengsara Membawa Nikmat” diangkat dari novel “Sengsara Membawa Nikmat”, film “Sitti Nurbaya” diangkat dari novel “Sitti Nurbaya”, dan lain sebagainya.
Kita pun dapat berlatih membuat naskah drama berdasarkan bentuk karya sastra yang lain. Berikut ini bentuk karya prosa (cerpen) yang kemudian diangkat menjadi naskah drama.
Perhatikanlah dengan cermat bacaan berikut sebagai bahan referensi kalian!

MIMPI
Karya: Putu Wijaya

“Ya Tuhan, baru sekali inilah Kau kabulkan aku untuk mimpi, padahal aku sudah setengah mati merindukannya. Baru sekarang aku bisa melakukan apa saja yang ingin aku lakukan. Memukul pohon cemara misalnya,” katanya sambil menyepak dengan tenang pohon cemara itu.
 “Atau melemparkan sebuah botol kosong ke atas panggung …” Ia segera mencari botol Seven Up kosong. Yang  ditemukannya sebuah botol Fanta, lalu dilemparkannya ke panggung. Seekor kucing melonjak karenabunyi pecahan botol itu.
Pian tertawa ngakak. “Gile,” katanya berulang-ulang. “Baru sekali ini aku berhasil menjelmakan mimpiku. Coba kapan lagi aku bisa naik ke atas menara lampu ini kalau
bukan sekarang dan mencuri lampu-lampunya?”
Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung memanjat menara lampu, mencopot lampu-lampu follow dan kemudian menjatuhkan balonnya ke bawah, bunyinya berdencing. Pian ketawa lagi.
Hari sudah pukul tiga, sedang enak-enaknya orang tidur. Entah kenapa tak seorang pun yang menghalangi apa yang dilakukan oleh Pian. Bahkan ketika Pian kemudian meloncat turun dari tembok dan ngeloyor menaiki sebuah mobil yang kebetulan parkir.
Sopirnya sedang ngorok. Pian langsung saja membetot dan menendangnya keluar. Kemudian ia menjalankan mobil itu keluar sedikit seradak-seruduk, sebab ia memang tidak lihai betul mengemudi.
“Pokoknya aku harus ke Pecenongan sekarang,” katanya sambil melewati gerbang TIM.
Begitu selamat lewat gerbang, gas ditancapnya, mobil melesat ke arah yang bertentangan dengan arah lalu lintas, maklum jalan Cikini sebenarnya jalan satu arah. Dengan cepat ia lewat di pompa bensin, lalu melemparkan puntung rokok sambil meludah.
“Rasain lhu. Kapan lagi gue bisa ngelempar rokok di pompa bensin kalau bukan sekarang!” teriaknya dengan acuh.
Ia juga sengaja menabrak warung Tegal dengan memaki-maki, “He mata lhu di mana,
jualan yang bener dong, lihat mobil lewat masih nongkrong saja kayak nggak pernah lihat mobil. Masih pingin hidup nggak?” tanyanya.
Karena gertaknya yang keras itu tak ada orang yang berani protes. Mengira ia militer yang sedang mabuk. Karena terlalu banyak variasi, mobil Pian tidak sempat sampai di Pecenongan. Agaknya Pecenongan juga sudah sepi. Di samping itu Pian sendiri sudah lupa mau ke mana. Setelah
putar-putar nabrak sana nabrak sini, entah berapa korban yang jatuh, mobilnya mulai batuk-batuk. Periksa punya periksa rupanya bensinya mulai habis.
“God Verdom Zeg, Gresi! Kok mobil dalam mimpi bisa kehabisan bensin!” teriak Pian sambil tertawa.
Sambil nggenjot gas kemudian ia tekan klakson. Korek api diraihnya. Lalu mobil itu
dibakarnya. Sementara mobil meluncur menuju ke tangki minyak yang sedang parkir
di muka Rumah Sakit, ia melompat.
Pian terpental-pental. Kepalanya benjol-benjol dan berdarah. Seluruh tubuhnya lukaluka
kecil. Mungkin sekali salah satu bagian tubuhnya patah. Tapi ia masih sempat berdiri.
“Aneh juga, mimpi kok bisa sakit seperti ini,” katanya sambil mengurut badannya.
Tetapi yakin bahwa itu hanya mimpi, ia segera menguatkan dirinya bahwa setelah
mimpi berakhir, toh segala kesakitan itu akan dengan sendirinya pudar.
Dengan tertatih-tatih Pian pulang. Ia tersungkur di selokan. Badannya basah kuyup,
tapi ia hanya ketawa.
“Ini cuma mimpi. Dan mimpi buruk biasanya pahalanya kebalikannya,” katanya menghibur diri.
Pian termenung.
“Ya Tuhan,” rintihnya. “Mengapa mimpi ini panjang sekali. Aku cuma mau makan di Pecenongan, mengapa panjang sekali jalannya. Apa sih salahnya orang ingin mimpi makan sekali. Mentang-mentang nama gua Pian. Gua nggak mau mimpi lagi dah sekarang, kapok. Gua jual mimpi ini sama
penjahat. Sama Idi Amin. Sama raksasa. Sama setan, biar dimakannya semua isi dunia ini.
Masak jadi begini. Mau nggak gua jual mimpi ini sama Rusia, sama Amerika? Makanya kasih
dong Pian ini kesempatan sedikit, ...”
Pian tidak bisa melanjutkan katakatanya.
Badannya lemas. Ia rubuh. Tapi bersamaan dengan itu, hilang segala sakit. Segala perasaan. Segala keluh. Hilang segala   mimpi. Ia tergeletak di depan rumahnya. Kaku. Matanya terpejam. Tapi mulutnya tersenyum, seakan-akan ia sudah terlepas dari mimpi buruk dan kembali ke dalam
kehidupan nyata.
Jakarta, 2 September 1981
(Sumber: "Mimpi" dalam Gress, 1987)

Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam memilih karya sastra bukan bentuk drama, yang akan kalian jadikan menjadi naskah drama, antara lain berikut.
1. Pilihlah naskah yang memiliki tema atau cerita yang menarik.
2. Pilihlah naskah yang memiliki muatan yang dapat kalian bentuk menjadi dialog antartokoh.
3. Pahamilah isi cerita atau tema dari karya tersebut sebelum kalian ubah menjadi bentuk drama.
4. Kembangkan kreativitas pemikiran kalian dengan referensi yang kalian miliki untuk menciptakan bentuk-bentuk dialog dengan diksi yang menarik.

Berikut naskah drama sebagai hasil penggubahan cerpen “Mimpi” di atas, sebagai bahan pertimbangan kalian dalam menyusun sebuah naskah drama dari karya sastra lain.

Mimpi
Karya: Putu Wijaya
Pian : Ya Tuhan, baru sekali inilah Kau kabulkan aku untuk mimpi, padahal aku sudah setengah mati merindukannya.Baru sekarang aku bisa melakukan apa saja yang ingin aku lakukan. Memukul pohon cemara misalnya! (sambil menyepak dengan tenang pohon cemara itu) Atau melemparkan sebuah botol kosong ke atas panggung … (lalu sebuah botol kosong melayang ke atas panggung).
Gile!!! (sambil tertawa ngakak) Baru sekali ini aku berhasil menjelmakan mimpiku. Coba kapan
lagi aku bisa naik ke atas menara lampu ini kalau bukan sekarang ini!
Ha … ha … ha … (sambil terus memanjat ke atas, lalu mencopot dan menjatuhkan lampu-lampu itu ke bawah)
Ha ... ha ... ha ...
Hari sudah pukul tiga dini hari, orang sedang enak-enaknya tidur. Dan entah kenapa tak ada
seorang pun yang menghalangi apa yang dilakukan Pian.
Pian : Pokoknya aku harus ke Pecenongan
sekarang! (Sambil terus tertawa Pian seolah mengemudikan mobilnya seradakseruduk,
lampu-lampu merah diterjangnya, pejalan, pedagang kaki lima, dan mobil mewah yang
kebetulan parkir di pinggir jalandiserempetnya)
Ha ... ha ... haa!
(Dengan cepat ia pun lewat di pompa bensin, lalu melemparkan puntung-puntung rokok sambil meludah)
Rasain lhu! Kapan lagi gua bisa ngelempar rokok di pompa bensin kalau bukan sekarang!
Suara berdebum, lalu seolah ia melanjutkan perjalanannya.
Pian : He mata lhu di mana???!!! Jualan yang bener dong!!! Lihat ada mobil lewat masih aja
nongkrong, emang nggak pernah lihat mobil???!!! Masih ingin hidup nggak??!!!
(Mobilnya pun mulai batuk-batuk,periksa punya periksa rupanya bensinnya mulai habis).
Pian : God Verdom Zeg, Gresi!!! Kok mobil dalam mimpi bisa kehabisan bensin?!!!
(Sambil nginjak gas, ia tekan klakson. Korek api diraihnya lalu mobil dibakar dan meluncur menuju mobil tangki minyak yang sedang parkir di muka rumah sakit, ia pun melompat).
Pian terpental-pental. Kepalanya benjolbenjol.Seluruh tubuhnya luka-luka kecil.Mungkin sekali salah satu bagian tubuhnya patah. Tapi ia masih sempat berdiri.
Pian : Aneh juga, mimpi kok bisa sakit
seperti ini.
(Dengan tertatih-tatih ia pulang. Ia tersungkur ke selokan, badannya basah kuyup).
Ini cuma mimpi. Dan mimpi buruk biasanya pahalanya kebalikannya.
Pian : Ya Tuhan. Mengapa mimpi ini panjang sekali. Aku cuma mau makan di Pecenongan, mengapa
panjang sekali jalannya. Apa sih salahnya orang ingin mimpi makan sekali??!!!
Mentang-mentang nama gua Pian! Gua nggak mau mimpi lagi dah sekarang! Kapok!!!
Gua jual mimpi ini sama penjahat!
Sama Idi Amin! Sama raksasa. Sama setan, biar dimakannya semua isi dunia ini! Masak jadi begini??!!!
Mau nggak gua jual mimpi ini sama Rusia, sama Amerika??!!
Makanya kasih dong Pian ini kesempatan sedikit!!!
(Sumber: “Mimpi” dalam Gress, 1987)

Selintas Makna
Dialog adalah penggunaan bahasa untuk menciptakan pemikiran, karakter, dan peristiwa. Setiap naskah drama selalu melibatkan pemikiran. Dalam struktur dramatik, pemikiran meliputi ide dan emosi, yang ditunjukkan oleh kata-kata dari semua karakter dalam cerita. Pemikiran juga meliputi keseluruhan arti dari naskah drama, yang
kadang disebut tema.










































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 19)

Sekolah           :           SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran            :           Bahasa Indonesia
Kelas, Semester           :           IX, 2
Alokasi waktu :           4 x 40 menit (2 pertemuan)


Standar Kompetensi
16.Menulis naskah drama.

Kompetensi Dasar
16.2 Menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran siswa dan siswi  dapat menulis naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.

Materi Pembelajaran
            Penulisan naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.

Metode Pembelajaran
            Observasi, diskusi, inkuiri, unjuk kerja.

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Siswa, siswi dan guru bertanya jawab tentang drama

Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan inti
Siswa dan siswi membaca naskah drama yang terdapat dalam buku teks.
Siswa dan siswi membentuk kelompok.
Siswa dan siswi berdiskusi untuk menentukan sistematika dan unsur yang terdapat dalam drama.
Siswa, siswi dan guru menyepakati sistematika dan unsur-unsur yang terdaoat dalam drama.


Ingin tahu, kritis, kreatif, demokratis, santun, jujur
60’
Penutup
1.  Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’
Ke-2
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Siswa, siswi, dan guru bertanya jawab tentang sistematika dan unsur-unsur drama.


Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan inti
Siswa dan siswi mengidentifikasi peristiwa nyata yang pernah dialami.
Siswa dan siswi menyusun urutan peristiwa nyata yang pernah dialami.
Siswa dan siswi mengembangkan urutan peristiwa-peristiwa menjadi satu babak.
Siswa dan siswi memajang naskah drama yang ditulis di papan display.
Siswa, siswi dan guru menentukan instruman penilaian naskah drama.
Siswa dan siswi menyunting dan menilai naskah drama temannya.


Ingin tahu, kritis, kreatif, demokratis, santun, jujur
60’
Penutup
1.  Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, religius
10’

           
G.Sumber Belajar
Lingkungan.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ix untuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm.     
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 230-233

H. Penilaian

Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu memilih peristiwa
nyata yang akan didramakan
Penugasan
Tugas Proyek
Pilihlah peristiwa nyata yang
      akan didramakan
2.  Mampu menyusun urutan peristiwa untuk satu babak
Penugasan
Tugas Proyek
Susunlah urutan peristiwa untuk satu babak
3. Mampu mengembangkan urutan peristiwa menjadi naskah drama satu babak
Penugasan
Tugas Proyek
Kembangkan urutan peristiwa menjadi naskah drama satu babak
4.Mampu menyunting naskah drama
Penugasan
Tugas Proyek
Suntinglan naskah drama yang telah kamu buat

Teknik             : Penugasan.
            Bentuk Instrumen       : Tugas proyek.
            Contoh instrumen  :
           
Tulislah naskah drama. Berdasarkan peristiwa nyata yang ada di sekitarmu atau peristiwa yang pernah kamu alami dengan langkah-langkah sebagai berikut: pilihlah satu peristiwa untuk satu babak, kembangkan urutan peristiwa itu menjadi naskah drama satu babak, kemudian suntinglah  naskah drama itu!


No
Nama Siswa/siswi
Aspek yang dinilai
Jumlah skor
Isi
Kese-suaian
keruntutan
Kelengkap-an
Keba-
hasaan








                        Nilai Akhir   : Perolehan Skor       X 100                                                                                                                Skor maksimum
                       
Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               



Lampiran
Menulis Kreatif Naskah Drama berdasarkan Peristiwa Nyata

Sebelum kalian memulai menulis naskah drama, di bawah ini  dicontohkan sebuah petikan drama. Perhatikan contoh tersebut sebagai bahan referensi kalian.
Kejahatan Membalas Dendam
Adegan 7
ISHAK : (tersenyum) “Lebih baik menulis kebenaran satu halaman dalam sebulan daripada membohong berpuluh halaman sehari.”
ASMADIPUTERA: (menganggukkan kepala) “Aku bawa ke Jakarta, Ishak?”
ISHAK : “Akan engkau usahakan terbitnya?”
ASMADIPUTERA: “Ya, selekas mungkin.”
ISHAK : “Bawalah, Asmadi. Buku itu bukan kepunyaanku lagi, tapi ialah kepunyaan nusa dan bangsa semata. Ada kubawa secarik kertas? Tulislah semboyan itu di muka buku itu.”
ASMADIPUTRA : “Telah lekat di kepalaku …” (perempuan tua mengambil azimat dari balik bajunya, dibakarnya,diletakkan di atas tanah. Asap mengepul ke atas)
SALIWATI : (Keras-keras) “Nenek” (yang lain terkejut melihat asap itu, lalu sebagian bertanya memandangi perempuan tua)
Perempuan Tua : (tersenyum) “Habis, habis sudah, kepandaianku sebagai dukun. Azimatku telah kubakar (menunjuk ke angkasa). Aku akan hidup baru sebagai manusia biasa."
SALIWATI : “Manusia Indonesia Merdeka”
Perempuan Tua : “Yang tidak lagi percaya kepada pekerjaan dukun … tapi …”
SUKSORO : “Tapi percaya, hanya percaya kepada diri sendiri, kepada kekuatan sendiri. (tiba-tiba Asmadiputra memandang ke kanan).
ASMADIPUTRA : (terkejut) “Kartili” (yang lain memutar badan melihat ke kanan)
Adegan 8 Kartili masuk dari kanan, rambutnya takkaruan, bajunya seperti biasa. Ia tidak  mengacuhkan orang-orang.
ISHAK : “Kartili” (hendak pergi ke arah Kartili, ditahan Asmadiputra)
SUKSORO : “Ia di sini?”
Perempuan Tua : (kepada Ishak) “Ia rupanya yang tidur di muka rumah kita.” (Kartili terus
berjalan ke luar, ke kiri)
ASMADIPUTRA : “Ia gila, benar gila!”
SALIWATI : (melihat ke asap tanah) “Bangunkan dia, Nek!”
Perempuan tua : (menunjuk ke asap tanah)“Terlambat sudah.”
SUKSORO : “Kejahatan membalas dendam!”
(Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma oleh Idrus)

Naskah drama merupakan salah satu yang perlu dipersiapkan dalam sebuah pementasan drama. Naskah drama adalah satu cerita tertulis untuk dipentaskan di panggung, layar, atau radio. Naskah drama ditulis menggunakan kalimat-kalimat langsung yang lengkap dengan penjelasan mengenai sikap, gerakan, latar, dan cara pengungkapan kalimat yang harus dilakukan oleh para pelakunya. Naskah drama dapat ditulis berdasarkan peristiwa nyata.
Meskipun berdasarkan peristiwa nyata, naskah drama dapat ditambahkan dengan kreativitas daya imajinatif sang penulis. Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam penulisan naskah drama, sebagaimana dapat dilihat pada contoh naskah drama di atas adalah berikut.
1. Mengembangkan inti cerita menjadi lebih menarik dengan bentuk dialog.
2. Menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang menarik.
3. Memilik diksi yang menarik dan tepat untuk membawakan cerita.
Adapun langkah-langkah menulis drama berdasarkan peristiwa nyata adalah berikut.
1. Menentukan peristiwa yang menarik, yaitu peristiwa yang memberikan kesan yang mendalam.
2. Memilih dan menentukan tema.
3. Memilih judul dan membuat kata pembuka. Judul sebaiknya tidak terlalu panjang dan menarik. Kata pembuka lebih bagus jika bersifat bombastis (berlebihan) agar pembaca tertarik mengikuti cerita selanjutnya.
4. Membuat kerangka dengan memasukkan konflik.
5. Menentukan pelaku.
6. Menyusun jalinan cerita yang mengandung perkenalan tokoh dengan konflik dan penyelesaiannya.
7. Menyusun kramagung dan wawancang. Kramagung merupakan perintah kepada pelaku untuk melakukan sesuatu yang ditulis sebagai petunjuk dalam bermain drama. Wawancang
ditulis lepas dan mengandung semua perasaan pelakunya.Penulisan naskah drama berbeda dengan naskah cerita lainnya. Berikut penjelasan penulisan naskah drama
1. Naskah drama disajikan dalam bentuk pementasan adegan.
Babak terdiri atas beberapa adegan. Pergantian pelaku merupakan tanda pergantian adegan dalam satu peristiwa.
2. Penulisan drama dapat kalian awali dengan sebuah prolog sebagai pengantar dan epilog sebagai penjelasan akhir cerita.
3. Dialog ditulis dengan diawali tokoh yang berbicara atau berlaku. Tanda titik dua sebagai pemisah antara pelaku dengan kalimat yang diucapkan. Ada beberapa naskah drama yang telah diadaptasikan ditulis dalam bentuk paragraf.
4. Petunjuk lakuan atau tindakan dituliskan dalam dialog tokoh yang berlaku dengan diberikan tanda kurung.
5. Penulisan keterangan dan petunjuk lakuan dalam pergantian babak atau perpindahan adegan dapat ditulis seperti paragraf diakhir dialog antartokoh.


                                                                                               









RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 20)

Sekolah           :           SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran            :           Bahasa Indonesia
Kelas, Semester           :           IX, 2
Alokasi waktu :           2 x 40 menit

Standar Kompetensi
Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama.

Kompetensi Dasar
       Membahas pementasan drama yang naskahnya ditulis oleh siswa dan siswi

Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran, siswa dan siswi dapat membahas naskah drama yang naskahnya  ditulis sendiri.

Materi Pembelajaran
             Pembahasan pementasan drama.

Metode Pembelajaran
             Inkuiri, tanya jawab.

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Siswa, siswi, dan  guru bertanya jawab tentang naskah drama yang telah disusun.

Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan inti
Siswa dan siswi membentuk kelompok sesuai dengan pemeran yang ada pada masing-masing naskah
Siswa dan siswi berdiskusi unutk menentukan hal-hal yang akan dibahas dalam pementasan drama berdasarkan naskah drama yang ditulis oleh peserta didik laki-laki dan perempuan.
Siswa dan siswi dengan bantuan guru melengkapi hal-hal yang diperlukan pada pementasan drama.
Siswa dan siswi menyebutkan hal-hal yang akan dibahas terkait dengan pementasan drama.

Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur, menghargai karya
60’
Penutup
Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
Guru memberikan tindak lanjut tentang pertemuan berikutnya.
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam


Ingin tahu, religius
10’
Sumber Belajar
Naskah drama yang telah disusun peserta didik laki-laki dan perempuan.
Drama.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm.
            Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 144-147

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
Mampu menentukan hal-hal yang dibahas terkait dengan pementasan drama

Diskusi
Uji petik kerja produk
Tentukan hal-hal yang dibahas terkait dengan pementasan drama

2.  Mampu membahas drama melalui kegiatan diskusi
Diskusi
Uji petik kerja produk
Bahaslah drama yang tersebut melalui kegiatan diskusi

            Contoh instrumen  :
            1. Tentukan hal-hal yang dibahas dalam pementasan drama!

No
Kegiatan
Skor
1
Siswa dan siswi dapat mentukan tata panggung, tata rias dan busana tata lampu dan ilustrasi musik dengan baik.
4
2
Siswa dan siswi hanya dapat menentukan 2-3 komponen.
3
3
Siswa dan siswi hanya dapat menentukan 1-2 komponen.
2
4
Siswa dan siswi hanya dapat menentukan 1 komponen.
1
           
            Penghitungan nilai akhir dalam 1-100 adalah sebagai berikut:

            Nilai Akhir   : Perolehan Skor       X Skor ideal                                                                                              Skor maksimum


Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               


 Lampiran                                                                                           
Membahas Pementasan Drama berdasarkan Naskah yang Ditulis Siswa

Ciri khas sebuah karya drama adalah adanya tokoh, dialog, dan konflik. Konflik ini dapat diakhiri dengan satu keputusan final atau mengambang, sangat bergantung pada interprestasi (pandangan) seorang sutradara. Sebuah naskah drama akan menjadi sempurna apabila dipentaskan. Pementasan sebuah drama harus baik dan tepat, baik
dari segi pemeranan maupun segi pementasan. Segi pemeranan meliputi ekspresi, intonasi, dan lafal dari para tokoh yang memerankan. Adapun dari segi pementasan meliputi tata panggung, tata rias (make up), properti, dan tata cahaya. Agar kita makin memahami mengenai hakikat sebuah drama, marilah kita menyaksikan pementasan drama “Malam Jahanam” yang akan diperankan oleh teman-teman kalian.

Malam Jahanam
Paijah masuk. Tinggal Soleman yang jadi gelisah lalu mencoba merokok. Tetapi baru dua isapan, rokok itu lalu dipadamkannya.Tangannya mempermainkan senter karena merasa bertambah gelisah. Lantas ia pergi menuju kejauhan, seraya kakinya menendang butir-butir kerikil yang bertebaran, kemudian kembali lagi ke tempatnya semula. Paijah keluar sebentar, tapi masuk lagi, sebab dari
jauh suara tawa Utai sayup-sayup sudah didengarnya. Tak lama kemudian, Mat Kontan dan Utai tiba di halaman. Utai tertawa-tawa.
MAT KONTAN
Diam! Orang kesusahan malah ketawa, Lu! Tiba-tiba matanya melihat Soleman.
SOLEMAN
Dari mana?
MAT KONTAN
(mendekati, ingin mengabarkan berita sedih itu. Setelah duduk dan mengeluh sambil
menepuk-tepukan perutnya, perlahan ia mulai) Man ..., burungku beo yang kubeli sejuta itu, mati.
Si Utai yang jadi malas lalu melihat sesuatu terbang. Diburunya serangga terbang itu. Ia mencoba menangkap tetapi tidakberhasil.
SOLEMAN
Sebaiknya jangan pikirkan yang sudah mati itu.
MAT KONTAN
Apa? Jangan dipikir? Apa kaukira saya ini gila, ha?
SOLEMAN
Siapa tau, Tan, nanti ada saja rejeki numpuk, kaubeli yang lebih mahal.
MAT KONTAN
Apa kaukira beo semacam itu ada tandingannya di pojok dunia ini? Dua tahun saya memeliharanya! Sekarang barangkali lebih tinggi daripada harga mobil Dokter Ajat yang mungil itu.
SOLEMAN
Kau selamanya selalu merasa yang paling, yang paling, sehingga kau sendiri jadi pangling!
MAT KONTAN
Jangan coba-coba hina saya ya! (kepada Utai), Hai, berhenti main gila itu! Saya bisa tambah gila! Hayo berhenti! Utai duduk di ambin rumah Mat Kontan. Sedangkan anak gila itu (menunjuk Utai),
dia bisa memikirkan dan merasa sedih atas kematian beoku. Hai, Utai, kau kan sedih, ya?
UTAI
Ya!
MAT KONTAN
(mengambil rokok dan melemparkan)Kau memang jempolan! Utai mengambil rokok dan minta api
lalu duduk di tempatnya semula.
MAT KONTAN
(kepada Soleman) Otakmu di mana sekarang. Di mana, ha?
SOLEMAN
Saya cuma menganjurkan. Tapi sedih sih ya ikut sedih!
MAT KONTAN
Betul? Betul sedih? (tertawa senang). Ke mana kau tadi tidak nongol ketika saya cari agar bisa bersama-sama ke tukang nujum! (menarik nafas karena tak dijawab). Saya kira malam ini malam paling jahanam dalam hidup saya!
SOLEMAN
Belum tentu.
MAT KONTAN
Siapa bilang belum tentu? Tukang nujum yang biasa meramalkan nasib saya itu mati
pula empat hari berselang. (melihat Utai yang mempermainkan rokok di ambin), Hai jangan
dibakar ambin bagus itu! Panggil mpok Ijah!
(Sumber: Malam Jahanam, karya Motinggo Busye, Pustaka Jaya)

Setelah menyaksikan pementasan drama tersebut, kalian dapat mengungkapkan identifikasi karakter tokoh-tokoh yang ada serta deskripsi latar atau setting, seperti contoh berikut.
1. Dari apa yang saya lihat, karakter “Mat Kontan” adalah pemberang atau pemarah. Selain itu, dilihat dari dialogdialog yang diungkapkan, ia juga berwatak mudah tersinggung. Dalam hal ini, situasi diri Mat Kontan tengah dirundung kesusahan karena kematian burung
kesayangannya. Berkaitan dengan pemeranan, dialog dan perilaku Mat Kontan harus disampaikan secara keras, emosional, kesan jagoan, serta menunjukkan kekecewaan.
Karakter “Soleman” yaitu cenderung penyabar dan berpikir rasional. Selain itu, ia juga berkarakter bijak dalam memahami sebuah persoalan serta perilaku seseorang.
Berkaitan dengan pemeranan, dialog dan perilaku Soleman menunjukkan sikap datar dan tenang. Karakter “Utai” dalam kutipan tersebut lebih banyak ditunjukkan berdasarkan petunjuk dalam naskah. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakter
Utai yaitu seperti orang gila. Berkaitan dengan pemeranan, dalam lakuan dan dialog yang diperankan Utai lebih bersifat semaunya sendiri, cuek, dan asyik dengan dirinya.
Karakter “Paijah” tidak begitu ditampakkan dalam kutipan tersebut. Berkaitan dengan pementasan, hal ini bergantung pada kreativitas dan kedalaman penggarap dan aktor untuk menciptakan kemenarikan di panggung.
2. Dilihat dari model penataan dan sesuatu yang terlihat pada latar atau setting tempat adalah di teras dan halaman sebuah rumah. Bentuk dan keadaan rumah menunjukkan
tempat tersebut merupakan rumah yang sederhana, yang di halaman terdapat kerikil-kerikil. Latar waktu dalam drama tersebut adalah malam hari. Hal ini dapat dilihat pada prolog “Tangannya mempermainkan senter karena merasa bertambah gelisah”. Adapun latar suasananya adalah tegang.
Berkenaan dengan volume suara, intonasi, dan artikulasi, hal tersebut sangat baik jika dapat menyesuaikan dengan karakter watak yang telah teridentifikasi. Dalam hal ini, penyesuaian tersebut dapat dilatih dengan olah vokal, pemahaman dan pendalaman karakter, serta  latihan berperan.
Setelah menyimak dan memerhatikan pementasan, kalian dapat berapresiasi dengan cara menilai dan memberikan tanggapan terhadap pementasan tersebut, misalnya berikut.
1. Ekspresi Togar sebagai tokoh Soleman cukup bagus, hanya volume vokal yang kurang kuat dan intonasi yang kurang tepat, membuat kesampaian dialog yang diucapkan sedikit
berkurang. Namun, pada dasarnya pemeranan tokoh Soleman sudah cukup baik.
2. Pemeranan tokoh Mat Kontan sangat memikat. Ekspresi dan intonasinya benar-benar tepat. Volume suaranya pun sangat kuat, sehingga para penonton benar-benar terbawa
emosi.
3. Penataan dekorasi dan propertinya sungguh artistik dan sederhana.

Ingin Tahu?
Beberapa sarana dramatik yang dapat dimanfaatkan oleh penulis drama adalah berikut.
– Monolog adalah sebuah komposisi yang tertulis dalam naskah drama atau yang berbentuk lisan yang menyajikan wacana satu orang pembicara.
– Solilokui hampir mirip dengan monolog dalam hal tampilnya seorang tokoh atau pemain. Hanya yang
diujarkan tokoh biasanya panjang dan isinya merupakan pemikiran subjektif yang ditujukan untuk menyarankan hal-hal yang akan terjadi.
– Sampingan dalam pementasan menggambarkan adanya ujaran yang ditujukan kepada para penonton. Ujaran tersebut sengaja agar tidak didengar oleh pemain lainnya, karena ujaran yang diucapkan ini biasanya berisi  pikiran tokoh itu sendiri yang berisi komentar terhadap peristiwa yang tengah berlangsung.




RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(No. 21)

Sekolah           :           SMPN 1 Gurah
Mata Pelajaran            :           Bahasa Indonesia
Kelas, Semester           :           IX, 2
Alokasi waktu :           2 x 40 menit

Standar Kompetensi
     Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan naskah drama.

B. Kompetensi Dasar
Menilai pementasan drama yang dilakukan oleh siswa dan siswi

C. Tujuan Pembelajaran
     Siswa dan siswi dapat menilai pementasan drama yang dilakukan oleh siswa dan siswi lain

D. Materi Pembelajaran
     Penilaian pementasan drama.

E. Metode Pembelajaran
    Observasi, diskusi, Tanya jawab.

F.Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
    
Pertemu-an
Kegiatan
Nilai Karakter
Waktu
Ke -1
Pendahuluan
1.  Berdoa bersama dilanjutkan dengan pemberian salam
2.  Menanyakan kehadiran siswa
3.  Siswa, siswi, dan guru bertanya jawab tentang pembelajaran sebelumnya.
4.  Siswa dan siswi menentukan beberapa pementasan drama yang pernah dilihat.

Religius, disiplin, kritis, ingin tahu
10’
Kegiatan inti
1) Siswa dan siswi membentuk kelompok diskusi.
2) Siswa dan siswi menentukan unsur-unsur yang diniai dalam pementasan drama..
3) Siswa, siswi, dan guru menyepakati unsur-unsur yang dinilai dalam pementasan drama.
Siswa dan siswi menyusun rubrik penilaian.
Siswa dan siswi menonton pementasan yang dilakukan oleh model.
Siswa dan siswi melakukan penilaian pementasan drama berdasarkan rubrik penilaian yang telah disepakati bersama.

Ingin tahu, kritis, demokratis, santun, jujur, menghargai karya
60’
Penutup
1.  Siswa dan siswi bersama guru melakukan refleksi
2.  Guru memberikan penguatan dari   penampilan siswa dan siswi
Berdoa bersama dilanjutkan dengan memberi salam

Ingin tahu, jujur, religius
10’

Sumber Belajar
Lingkungan.
Drama.
Santoso, Barokah, dkk. 2005.  Belajar Berbahasa Belajar Berkomunikasi Ixuntuk SMP/MTs. Malang: Penerbit UM Press. Hlm.
Wirayuda, Asep Y.,dkk. 2008. Berbahasa dan bersastra Indonesia untuk SMP/MTs. Kelas IX. Jakarta:CV Usaha Makmur. Hlm. 220-221

Penilaian
Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Bentuk
Instrumen
1. Mampu menentukan isi dari sebuah pementasan drama
Tes tulis
Soal Uraian
1. Tentukan isi dari sebuah pementasan drama
2.Mampu menentukan hal-hal yang terkait dengan pementasan drama
Tes tulis
Soal Uraian
2.Tentukan hal-hal yang terkait dengan pementasan drama
3. Mampu memberikan komentar dengan alasan yang logis dengan bahasa yang santun tentang sebuah pementasan drama
Observasi
Lembar Observasi
3. Berikan penilaian/ komentar dengan alasan yang logis dengan bahasa yang santun tentang sebuah pementasan drama dengan menggunakan lembar observasi berikut!

                       
Lembar observasi berikut!
NO
ASPEK
NILAI
Sangat baik
baik
cukup
kurang
Sangat kurang
komentar
1
Lafal






2
Intonasi






3
Mimik






4
Gesture






5
Penghayatan






Keterangan:
Sangat baik        :  91-100
Baik                    :  81-90
Cukup    :  71-80
Kurang               :  61-70
Sangat kurang  :  

Gurah, 12 Juli 2011
Mengetahui                                                                 Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,                                                         



Drs. Amiek Tamami, M.M.                                         Dra. Tri Hardhiati W. M.Pd.
NIP 195206171978031006                                        NIP 19620904 198303 2 006
                                                                                               

Menanggapi Pementasan Drama

Hal-hal yang tidak pernah lepas dari sebuah pementasan drama di antaranya adalah kurang lebih panggung dan properti, tata lampu, tata suara, serta ilustrasi pengiring atau musik. Dalam pementasan drama, hal-hal tersebut berperan penting dalam kemenarikan sebuah pementasan drama. Selain beberapa hal yang berkaitan dengan panggung, kalian dapat memberikan apresiasi serta tanggapan dalam pementasan drama berkaitan dengan tema
cerita, alur cerita, keaktoran, dan model penggarapan sutradara. Berkenaan dengan  pembahasan di atas, simaklah pementasan drama yang akan diperagakan oleh teman- teman kalian. Setelah menyimak pementasan tersebut, kalian harus dapat memberikan
apresiasi berupa tanggapan terhadap pementasan tersebut.

Sumur Tanpa Dasar
Karya: Arifin C. Noer
Bagian 15
Perempuan tua muncul membawa alat kompres. Lonceng berdentang. Jumena menjadi tenang dengan kompres itu.
P. Tua    : Kalau saja Agan mau berdoa.
Jumena : Saya sangat capek.
P. Tua    : Agan terlalu keras bekerja. Agan tak pernah istirahat. Suara kecapi, sayup-sayup. Juga  suara kodok.
P.Tua     : Saya hampir tak bisa percaya ada orang yang tidak pernah merasa bahagia, apalagi anak seperti Agan. Saya juga sebatangkara. Suami saya sudah lama mati dan anak saya satusatunya pergi tidak pernah berkabar lebih dari sepuluh tahun. Memang saya merasa sepi dan sedih, tapi setiap kali saya masih bisa merasa bahagia kalau saya sedang melakukan sesuatu untuk orang lain. Saya bahagia melihat orang lain bahagia. Dan saya tidak habis mengerti kenapa ada orang yang tidak bahagia.
Jumena : Saya sangat sepi. Saya tidak pernah punya anak. Saya selalu bertanya, untuk apa segala hasil keringat saya selama puluhan tahun ini?
P. Tua    : Kenapa Agan tidak percaya Euis  sedang mengandung?
Jumena : Sudah empat puluh tujuh kali ia bilang begitu, dan ini keempat puluh delapan.
P. Tua    : Tapi bukan tidak mungkin kali ini benar.
Jumena : Mungkin dan tidak mungkin. Saya betul-betul sendiri di dunia ini.
P. Tua    : Maaf, Gan, apa tidak sebaiknya Agan mengambil anak angkat?
Jumena : Tidak! Saya pun tidak tahu kenapa. Tapi saya tidak mau.
Sejenak tidak ada percakapan.
P. Tua   : Agan kelihatan mulai mengantuk.
Jumena : Rasanya begitu.
P. Tua    : Bagaimana kalau Agan mencoba
tidur di dalam?
Jumena : Saya coba.
Jumena bangkit melangkah tetapi ragu.
P. Tua : Ada apa, Agan?

Kalian dapat mengapresiasi terhadap sebuah pementasan drama dengan tepat apabila kalian benar-benar menyimak pementasan tersebut dan memerhatikan segala sesuatu yang
melingkupi pementasan tersebut di atas panggung. Berdasarkan pementasan drama yang diperagakan oleh teman- teman kalian, kalian dapat memberikan tanggapan, misalnya
berikut.
1. Berkaitan dengan pemeranan karakter tokoh-tokoh dalam drama:
a) Pemeran Perempuan Tua kurang menampakkan karakter ketuaannya dan karakter sebagai abdi/pembantu. Padahal, pada dialog tersebut karakter tokoh Perempuan Tua merupakan sosok orang yang sudah sangat tua, lebih tua dari sang juragan, setia
sebagai abdi, bijak, perhatian, dan penuh kasih sayang;
b) Ekspresi keputusasaan dari tokoh Jumena pada pementasan kurang begitu tampak. Dari isi dialog yang dikemukakan oleh tokoh Jumena menampakkan bahwa karakter tokoh tersebut tengah dirundung rasa putus asa, kesepian, dan gelisah, meskipun dia seorang yang kaya.
2. Berkaitan dengan latar dalam pementasan. Bentuk properti yang digunakan dalam pementasan terlalu modern, sehingga kurang sesuai dengan setting waktu cerita. Berdasarkan dialog-dialog (seperti panggilan Agan) dan kostum yang dikenakan dalam pementasan tersebut, menunjukkan bahwa cerita tersebut berlangsung pada tahun 1950-an. Maka itu, bentuk meja, tempat tidur, tempat minum, serta properti-properti semestinya belum modern.
3. Berkaitan dengan panggung pementasan. Secara keseluruhan, penataan panggungnya sangat bagus dan artistik, sehingga sangat mendukung menariknya pementasan tersebut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kolom komentar