A.
Pengertian Deiksis
Deiksis
adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang
telah dipakai atau yang akan diberikan (Agustina, 1995:40). Purwo (1984:1)
menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya
berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi
sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.
Pengertian
deiksis yang lain dikemukakan oleh Lyons (1977:637) dalam Djajasudarma
(2010:51) yang menjelaskan bahwa deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang,
objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang
diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan
oleh pembicara atau yang diajak bicara. Dari penjelasan di atas disimpulkan
bahwa deiksis adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya
berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, dan tempat
dituturkannya satuan bahasa tersebut.
Perhatikan
contoh kalimat berikut.
Begitulah
isi sms yang dikirimkannya padaku dua hari yang lalu.
Hari
ini bayar, besok gratis.
Jika Anda berkenan, di tempat ini Anda
dapat menunggu saya dua jam lagi.
Dari
contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai dieksis.
Pada kalimat (1) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa diketahui karena
uraian berikutnya tidak dijelaskan. Pada kalimat (2) kapan yang dimaksud dengan
hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari
di sebuah kafetaria. Pada kalimat (3) kata Anda tidak jelas rujukannya, apakah
seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak
jelas.
Semua
kata dan frasa yang tidak jelas pada kalimat di atas dapat diketahui jika
konteks untuk masing-masing kalimat tersebut disertakan. Dalam berpragmatik
kalimat seperti di atas wajar hadir di tengah-tengah pembicaraan karena konteks
pembicaraan sudah disepakati antara si pembicara dan lawan bicara.
B.
Jenis-jenis Deiksis
Dalam
kajian pragmatik, deiksis dapat dibagi menjadi jenis-jenis seperti diuraikan
berikut ini.
1.
Deiksis Orang
Deiksis
orang adalah pemberian rujukan kepada orang atau pemeran serta dalam peristiwa
berbahasa (Agustina, 1995:43). Djajasudarma (2010:51) mengistilahkan dengan
deiksis pronomina orangan (persona), sedangkan Purwo (1984:21) menyebutkan
dengan deiksis persona. Dalam kategori deiksis orang, yang menjadi kriteria
adalah peran pemeran serta dalam peristiwa berbahasa tersebut (Nababan,
1987:41). Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata ganti orang menjadi tiga
yaitu, kata ganti orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga.
Dalam
sistem ini, orang pertama ialah kategori rujukan pembicara kepada dirinya
sendiri, seperti saya, aku, kami, dan kita. Orang kedua adalah kategori rujukan
kepada seseorang (atau lebih) pendengar atau siapa yang dituju dalam
pembicaraan, seperti kamu, engkau, anda, dan kalian. Orang ketiga adalah
kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara dan bukan pula pendengar,
seperti dia, ia, beliau, -nya, dan mereka. Contoh pemakaian deiksis orang dapat
dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.
Mengapa hanya saya yang diberi tugas berat seperti ini?
Saya
melihat mereka di pasar kemarin.
Kata-kata
yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari
kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam dieksis orang. Contoh kata
seperti itu dipakai dalam percakapan sebagai pengganti atau rujukan dari yang
dimaksud dalam suatu peristiwa berbahasa.
2.
Dieksis Tempat
Dieksis
tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang atau tempat yang dipandang
dari lokasi pemeran serta dalam peristiwa berbahasa itu (Agustina, 1995:45).
Dalam berbahasa, orang akan membedakan antara di sini, di situ dan di sana. Hal
ini dikarenakan di sini lokasinya dekat dengan si pembicara, di situ lokasinya
tidak dekat pembicara, sedangkan di sana lokasinya tidak dekat dari si
pembicara dan tidak pula dekat dari pendengar. Purwo (1984:37) mengistilahkan
dengan deiksis ruang dan lebih banyak menggunakan kata penunjuk seperti dekat,
jauh, tinggi, pendek, kanan, kiri, dan di depan. Sedangkan Djajasudarma
(2010:65) mengistilahkannya dengan dieksis penunjuk.
Contoh
penggunaan dieksis tempat dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut.
Tempat itu terlalu jauh baginya, meskipun
bagimu tidak.
Duduklah bersamaku di sini.
Kata-kata
yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari
kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam deiksis tempat.
3.
Deiksis Waktu
Deiksis
waktu adalah pengungkapan atau pemberian bentuk kepada titik atau jarak waktu
yang dipandang dari waktu sesuatu ungkapan dibuat (Agustina, 1995:46). Contoh
deiksis waktu adalah kemarin, lusa, besok, bulan ini, minggu ini, atau pada
suatu hari.
Kalimat-kalimat
berikut adalah contoh pemakaian dari kata penunjuk deiksis waktu.
Dalam rangka menyambut hari raya Idul
Fitri, yang bernama Fitri dapat makan gratis besok. (tulisan di sebuah
restoran)
Gaji bulan ini tidak seberapa yang
diterimanya.
Saya tidak dapat menolong Anda sekarang
ini.
4.
Deiksis Wacana
Deiksis
wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah
diberikan atau yang sedang dikembangkan (Agustina, 1995:47). Deiksis wacana
ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat
anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah
disebutkan. Senada dengan hal itu, Hasanuddin WS. (2009:70) menjelaskan bahwa
anafora adalah hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah
disebutkan sebelumnya dalam kalimat atau wacana.
Contoh
kalimat yang bersifat anafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.
Wati belum mendapatkan pekerjaan, padahal
dia sudah diwisuda dua tahun yang lalu.
Joni baru saja membeli mobil BMW. Warnanya
merah dan harganya jangan ditanya.
Sebuah
rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk
kepada hal yang akan disebutkan (Agustina, 1995:42). Contoh kalimat yang
bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.
Di sini, digubuk tua ini mayat itu
ditemukan.
Setelah dia masuk, langsung Toni memeluk
adiknya.
5.
Deiksis Sosial
Deiksis
sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara
pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan
yang dimaksud dalam pembicaraan itu (Agustina, 1995:50). Contoh deiksis sosial
misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan
keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya.
Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan
tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata
halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks
(sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti
orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan
penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.
Apakah saya bisa menemui Bapak hari ini?
Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi
undangan saya.
Selain
pembagian lima deiksis di atas, dalam kajian pragmatik juga dibedakan antara
deiksis sejati dengan deiksis tak sejati dan deiksis kinesik dengan deiksis
simbolik (Agustina, 1995:51). Penjelasan deiksis tersebut akan dijelaskan
berikut ini.
1.
Deiksis Sejati dan Deiksis Tak Sejati
Deiksis
sejati adalah arti dari kata atau frasa penunjuk yang seluruhnya dapat
diterangkan dengan konsep deiksis. Dengan kata lain kata-kata yang dipakai
sebagai penunjuk deiksis tidak mengandung makna lain selain dari makna deiksis
itu sendiri. Kata-kata yang sering dijadikan sebagai deiksis sejati adalah
kata-kata yang dipakai untuk perujuk atau penunjuk, misalnya ini, itu, di sini,
di situ, saya, kita, kamu, dan engkau. Contoh pemakaian deiksis sejati dalam
kalimat adalah seperti berikut.
Jika kami berdiri, kamu harus duduk.
Rumah ini kelihatannya memang sudah lapuk,
tetapi semangat kami tidak akan pernah lapuk tinggal di sini.
Dalam
deiksis tak sejati, makna kata atau frasa yang dipakai dalam deiksis hanya
sebagian mengacu kepada deiksis, sedangkan sebagian lagi fungsinya adalah
nondeiksis, seperti contoh berikut.
Dia menjadi pusat perhatian di rumah kami.
Dalam
kalimat di atas, kata dia dapat berarti seseorang dan dapat pula berarti
binatang kesayangan.
2.
Deiksis Kinesik dan Deiksis Simbolik
Dalam
deiksis kinesik kata-kata yang digunakan hanya dapat dipahami jika disertai
pengamatan gerakan badan yang disertai dengan pendengaran dan penglihatan atau
rabaan. Contoh pemakaian deiksis kinesik seperti pada kalimat berikut.
Yang ini boleh kau ambil, tetapi itu
jangan.
Bukan itu yang saya minta, melainkan itu.
Dalam
deiksis simbolik, diperlukan pengetahuan tentang faktor tempat dan waktu dari
peristiwa berbahasa itu untuk dapat memahami siapa dan apa yang dimaksud dalam
kalimat itu. contoh pemakaian deiksis simbolik adalah sebagai berikut.
Saya tidak dapat pulang ke kampung tahun
ini.
Frasa
tahun ini, tidak dapat dipahami hanya dengan pendengaran dan penglihatan atau
perabaan saja, tetapi diperlukan pemahaman waktu ketika terjadi peristiwa
berbahasa itu.
DAFTAR
RUJUKAN
Agustina.
1995. Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.
Alwi,
Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Djajasudarma,
Fatimah. 2010. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.
Hasanuddin
WS, dkk. 2009. Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia. Bandung: Angkasa.
Nababan,
P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya, Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Purwo,
Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
VKata
deiksis (yunani : deiktikos) yang berarti hal penunjukan secara langsung, dalam
linguistik sekarang digunakan sebagai kata ganti persona, kata ganti
demonstratif, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal
lainya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran
(Lyons 1977:636).
Deiksis
adalah gejala semantis yang terdapat pada kata yang hanya dapat ditafsirkan
acuannya dengan memperhatikan situasi pembicaraan. Sebuah kata dikatakan
bersifat deiksis apabila referenya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung
pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat
dituturkanya kata itu. Dalam deiksis yang dipersoalkan adalah unsur yang
referennya dapat diidentifikasi hanya dengan memperhatikan identitas si
pembicara serta saat dan tempat diutarakannya tuturan yang mengandung unsur
yang bersangkutan.
Tuturan
atau kata yang merupakan unsur yang mengandung arti dapat dibedakan antara yang
referensial dan yang tidak referensial (dan, atau, tetapi, walaupun). Kata yang
tidak referensial ini tidak terlalu diperhatikan sedangkan untuk kata yang
referensial dibedakan menjadi deiksis dan tidak deiksis. Dari sebagian besar
kata yang memiliki arti adalah tidak deiksis dan referennya tidak
berpindah-pindah menurut yang mengutarakanya.
Dalam
pemakaian leksem dapat pula terjadi perpindahan referen karena digunakan secara
tidak lazim. Misalnya, kata anjing. Dalam keadaan marah, kata anjing ini ketika
dituturkan pada lawan bicara pemakaianya bukan ditujukan pada binatang berkaki
empat melaikan pada lawan bicara yang sedang dikenai marah. Namun perpidahan
referen tersebut bukanlah merupakan deiksis karena perpindahan referen tersebut
disebabkan oleh maksud si pembicara sedangkan dalam deiksis perpindahan leksem
disebabkan oleh pengutaraan leksem tersebut oleh si pembicara bukan oleh yang
dimaksudkan pembicara.
Deiksis
dibagi menjadi dua yaitu deiksis eksofora (Luar tuturan) dan deiksis endofora
(Dalam tuturan). Deiksis eksofora terdiri terdiri atas deiksis persona, deiksis
ruang, dan deiksis waktu. Sedangkan deiksis endofora terdiri atas anafora dan
katafora.
Deiksis
Luar-Tuturan Eksofora
1)
Deiksis persona dibagi menjadi tiga yaitu deiksis persona pertama, deiksis
persona kedua dan deiksis persona ketiga. Masing-masing deiksis tersebui
memiliki bentuk tunggal dan jamak.
?
Deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, inyong/enyong/nyong dan
dhewek (Indonesia : saya, aku), deiksis persona pertama jamak dhewek (Indonesia
: kami, kita).
?
Deiksis persona kedua tunggal yaitu kowen, sampean, njenengan (Indonesia :
engkau, kamu, anda dll). Dalam bentuk jamak yaitu memiliki bentuk deiksis yang
sama pada bentuk deiksis persona kedua tunggal hanya saja kata-kata tersebut
ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : kamu semua).
?
Deiksis persona ketiga pada bentuk tunggal yaitu dheweke (Indonesia : dia. Ia,
beliau). Deiksis persona ketiga jamak yaitu kata deiksis persona ketiga tunggal
ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : mereka).
2)
Deiksis ruang
?
Pronomina demonstratif yang terdiri atas ini dan itu (Jawa : kiye, kuwe, dan
kae). Contoh : Ini orangnya.
?
Pronomina penunjuk tempat terdiri atas sini, situ, sana (Jawa : kene, kono, dan
kana). Contoh : Dia adalah orang sini asli.
?
Pronomina lokatif yang terdiri atas sini, situ dan sana yang dipergunakan sebagai
kata ganti persona pertama (sini) ; persona kedua (situ) ; dan persona ketiga
(situ). Contoh : Sini sudah setuju, tinggal situ bagaimana. Tentang pendapat
sana nanti bagaimana, itu terserah mereka.
3)
Deiksis waktu
leksem
waktu bersifat deiksis apabila yang menjadi patokan adalah adalah si pembicara,
bukan hal lain misalnya pagi, siang, sore bukan merupakan deiksis karena leksem
tersebut berpatok pada posisi bumi terhadap matahari, bukan patokan pembicara.
Deiksis waktu meliputi :
?
Leksem waktu yang berdasarkan ukuran kalender, misalnya sekarang, kemarin,
besok, kemarin dulu, lusa dll. Contoh : Besok saya akan pergi ke Jakarta.
?
Waktu yang perhitunganya tidak tentu dan relatif misalnya tadi, dulu, nanti dan
kelak. Contoh : Kelak setelah kamu besar mau jadi apa?.
Dieksis
Dalam-Tuturan (Endofora)
?
Pemarkah Anafora dan Katafora Bentuk Persona
Di
antara bentuk-bentuk persona hanya persona ketiga yang bisa eksoforis dan
endoforis. Persona ketiga dapat dipakai sebagi pemarkah anafora dan katafora.
Dalam bahasa Indonesia tidak mengenal pemarkahan katafora dalam klausa bawahan.
–nya dapat mengacu pada nomina bukan insan.
Contoh
: -nya, ( Dalam sambutannya, Rektor Unnes menyampaikan maksud dari
terselenggarakannya acara tersebut).
?
Pemarkah Anafora dan Katafora yang Bukan Persona
Contoh
: lulusan SMA yang mau ambil bagian, diuji dulu untuk menetukan tingkat
pengetahuanya. Berdasarkan itu ia ditempatkan ditingkat mana.
?
Pemarkah Anafora dan Katafora yang Berupa Konstituen Nol ( )
Contoh
: Sebelum berangkat, mereka mengunci pintu rumah.
?
Verba Reflektif
Lehmann
(1978:407) menyatakan bahwa dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa, verba reflektif
merupakan bentuk baru hasil proses perkembangan ”verba pulang diri” (middle
verba).verba yang menggambarkan suatu perbuatan yang dilakukan subjek mengenai
dirinya.
Contoh
: ‘Saya mencuci tangan saya’.
?
Kata yang Dalam Bahasa Indonesia
Hadidjaja
(1965:71-72) dan Alisjahbana (1950:91-92) menyebutkan kata yang sebagai kata
ganti penghubung karena menjadi pengganti nomina yang disebutkan sebelumnya dan
menghubungkan klausa sesudahnya dengan klausa sebelumnya.
Conoh
: Yang buta dipimpin, yang lumpuh diusung.
Referensi
Purwo,
Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka. 1984.
Atun,
Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm
Kushartanti,
dan Yuwono, Untung. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik.
Book.google.co.id