Senin, 18 November 2013

PUISI

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”, kata Gus Mus
Diposkan oleh (Ulir Rohwana)

KH. Musthofa Bisri atau biasa disapa Gus Mus merupakan salah satu dari sekian banyak  Ulama’ yang kita miliki. Gus adalah sapaan ala masyarakat pesantren kepada seorang putra Kyai. Ya, Gus Mus adalah putra dari KH. Bisri Musthofa (Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang).

Gus Mus, Kyai lulusan Universitas Al Azhar Cairo ini sekarang sedang disibukkan dengan menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang.  Selain dikenal sebagai seorang Kyai, Gus Mus juga dikenal sebagai seorang Budayawan, Penulis produktif, dan Seniman. “Cintamu”, “Ada Apa Dengan Kalian”, “Sajak Atas Nama”, dan “Gelap Berlapis-lapis”, adalah sekian dari banyak puisi karya beliau. Diantara puisi-puisi karya Gus Mus, “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” adalah salah satu yang aku sukai. Rangkaian kata Bahasa Indonesia dengan menggunakan tata Bahasa Arab ala Gus Mus yang satu ini memiliki seni yang tinggi. Kritik pedas yang disampaikannya terdengar sangat indah karena dibalut dengan seni. Apalagi alunan musik yang syahdu dan logat khas bacaan Gus Mus yang semakin membuat keindahan puisi ini begitu lengkap. Selamat menikmati sajian kali ini......

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”

Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir


Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab

Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
-1987


Sabtu, 16 November 2013

diksi


A. Pengertian Deiksis

Deiksis adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan (Agustina, 1995:40). Purwo (1984:1) menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.

Pengertian deiksis yang lain dikemukakan oleh Lyons (1977:637) dalam Djajasudarma (2010:51) yang menjelaskan bahwa deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa deiksis adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, dan tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

    Begitulah isi sms yang dikirimkannya padaku dua hari yang lalu.
    Hari ini bayar, besok gratis.
    Jika Anda berkenan, di tempat ini Anda dapat menunggu saya dua jam lagi.

Dari contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai dieksis. Pada kalimat (1) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa diketahui karena uraian berikutnya tidak dijelaskan. Pada kalimat (2) kapan yang dimaksud dengan hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari di sebuah kafetaria. Pada kalimat (3) kata Anda tidak jelas rujukannya, apakah seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak jelas.

Semua kata dan frasa yang tidak jelas pada kalimat di atas dapat diketahui jika konteks untuk masing-masing kalimat tersebut disertakan. Dalam berpragmatik kalimat seperti di atas wajar hadir di tengah-tengah pembicaraan karena konteks pembicaraan sudah disepakati antara si pembicara dan lawan bicara.

B. Jenis-jenis Deiksis
Dalam kajian pragmatik, deiksis dapat dibagi menjadi jenis-jenis seperti diuraikan berikut ini.
1. Deiksis Orang
Deiksis orang adalah pemberian rujukan kepada orang atau pemeran serta dalam peristiwa berbahasa (Agustina, 1995:43). Djajasudarma (2010:51) mengistilahkan dengan deiksis pronomina orangan (persona), sedangkan Purwo (1984:21) menyebutkan dengan deiksis persona. Dalam kategori deiksis orang, yang menjadi kriteria adalah peran pemeran serta dalam peristiwa berbahasa tersebut (Nababan, 1987:41). Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata ganti orang menjadi tiga yaitu, kata ganti orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga.
Dalam sistem ini, orang pertama ialah kategori rujukan pembicara kepada dirinya sendiri, seperti saya, aku, kami, dan kita. Orang kedua adalah kategori rujukan kepada seseorang (atau lebih) pendengar atau siapa yang dituju dalam pembicaraan, seperti kamu, engkau, anda, dan kalian. Orang ketiga adalah kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara dan bukan pula pendengar, seperti dia, ia, beliau, -nya, dan mereka. Contoh pemakaian deiksis orang dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.

  Mengapa hanya saya yang diberi tugas berat seperti ini?
    Saya melihat mereka di pasar kemarin.

Kata-kata yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam dieksis orang. Contoh kata seperti itu dipakai dalam percakapan sebagai pengganti atau rujukan dari yang dimaksud dalam suatu peristiwa berbahasa.

2. Dieksis Tempat

Dieksis tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang atau tempat yang dipandang dari lokasi pemeran serta dalam peristiwa berbahasa itu (Agustina, 1995:45). Dalam berbahasa, orang akan membedakan antara di sini, di situ dan di sana. Hal ini dikarenakan di sini lokasinya dekat dengan si pembicara, di situ lokasinya tidak dekat pembicara, sedangkan di sana lokasinya tidak dekat dari si pembicara dan tidak pula dekat dari pendengar. Purwo (1984:37) mengistilahkan dengan deiksis ruang dan lebih banyak menggunakan kata penunjuk seperti dekat, jauh, tinggi, pendek, kanan, kiri, dan di depan. Sedangkan Djajasudarma (2010:65) mengistilahkannya dengan dieksis penunjuk.

Contoh penggunaan dieksis tempat dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut.

    Tempat itu terlalu jauh baginya, meskipun bagimu tidak.
    Duduklah bersamaku di sini.

Kata-kata yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam deiksis tempat.

3. Deiksis Waktu

Deiksis waktu adalah pengungkapan atau pemberian bentuk kepada titik atau jarak waktu yang dipandang dari waktu sesuatu ungkapan dibuat (Agustina, 1995:46). Contoh deiksis waktu adalah kemarin, lusa, besok, bulan ini, minggu ini, atau pada suatu hari.

Kalimat-kalimat berikut adalah contoh pemakaian dari kata penunjuk deiksis waktu.

    Dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, yang bernama Fitri dapat makan gratis besok. (tulisan di sebuah restoran)
    Gaji bulan ini tidak seberapa yang diterimanya.
    Saya tidak dapat menolong Anda sekarang ini.

4. Deiksis Wacana

Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan (Agustina, 1995:47). Deiksis wacana ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan. Senada dengan hal itu, Hasanuddin WS. (2009:70) menjelaskan bahwa anafora adalah hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam kalimat atau wacana.

Contoh kalimat yang bersifat anafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.

    Wati belum mendapatkan pekerjaan, padahal dia sudah diwisuda dua tahun yang lalu.
    Joni baru saja membeli mobil BMW. Warnanya merah dan harganya jangan ditanya.

Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan (Agustina, 1995:42). Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.

    Di sini, digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
    Setelah dia masuk, langsung Toni memeluk adiknya.

5. Deiksis Sosial

Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu (Agustina, 1995:50). Contoh deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.

    Apakah saya bisa menemui Bapak hari ini?
    Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.

Selain pembagian lima deiksis di atas, dalam kajian pragmatik juga dibedakan antara deiksis sejati dengan deiksis tak sejati dan deiksis kinesik dengan deiksis simbolik (Agustina, 1995:51). Penjelasan deiksis tersebut akan dijelaskan berikut ini.

1. Deiksis Sejati dan Deiksis Tak Sejati

Deiksis sejati adalah arti dari kata atau frasa penunjuk yang seluruhnya dapat diterangkan dengan konsep deiksis. Dengan kata lain kata-kata yang dipakai sebagai penunjuk deiksis tidak mengandung makna lain selain dari makna deiksis itu sendiri. Kata-kata yang sering dijadikan sebagai deiksis sejati adalah kata-kata yang dipakai untuk perujuk atau penunjuk, misalnya ini, itu, di sini, di situ, saya, kita, kamu, dan engkau. Contoh pemakaian deiksis sejati dalam kalimat adalah seperti berikut.

    Jika kami berdiri, kamu harus duduk.
    Rumah ini kelihatannya memang sudah lapuk, tetapi semangat kami tidak akan pernah lapuk tinggal di sini.

Dalam deiksis tak sejati, makna kata atau frasa yang dipakai dalam deiksis hanya sebagian mengacu kepada deiksis, sedangkan sebagian lagi fungsinya adalah nondeiksis, seperti contoh berikut.

    Dia menjadi pusat perhatian di rumah kami.

Dalam kalimat di atas, kata dia dapat berarti seseorang dan dapat pula berarti binatang kesayangan.

2. Deiksis Kinesik dan Deiksis Simbolik

Dalam deiksis kinesik kata-kata yang digunakan hanya dapat dipahami jika disertai pengamatan gerakan badan yang disertai dengan pendengaran dan penglihatan atau rabaan. Contoh pemakaian deiksis kinesik seperti pada kalimat berikut.

    Yang ini boleh kau ambil, tetapi itu jangan.
    Bukan itu yang saya minta, melainkan itu.

Dalam deiksis simbolik, diperlukan pengetahuan tentang faktor tempat dan waktu dari peristiwa berbahasa itu untuk dapat memahami siapa dan apa yang dimaksud dalam kalimat itu. contoh pemakaian deiksis simbolik adalah sebagai berikut.

    Saya tidak dapat pulang ke kampung tahun ini.

Frasa tahun ini, tidak dapat dipahami hanya dengan pendengaran dan penglihatan atau perabaan saja, tetapi diperlukan pemahaman waktu ketika terjadi peristiwa berbahasa itu.

DAFTAR RUJUKAN

Agustina. 1995. Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djajasudarma, Fatimah. 2010. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.

Hasanuddin WS, dkk. 2009. Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia. Bandung: Angkasa.

Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

VKata deiksis (yunani : deiktikos) yang berarti hal penunjukan secara langsung, dalam linguistik sekarang digunakan sebagai kata ganti persona, kata ganti demonstratif, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal lainya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran (Lyons 1977:636).

Deiksis adalah gejala semantis yang terdapat pada kata yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhatikan situasi pembicaraan. Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referenya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkanya kata itu. Dalam deiksis yang dipersoalkan adalah unsur yang referennya dapat diidentifikasi hanya dengan memperhatikan identitas si pembicara serta saat dan tempat diutarakannya tuturan yang mengandung unsur yang bersangkutan.

Tuturan atau kata yang merupakan unsur yang mengandung arti dapat dibedakan antara yang referensial dan yang tidak referensial (dan, atau, tetapi, walaupun). Kata yang tidak referensial ini tidak terlalu diperhatikan sedangkan untuk kata yang referensial dibedakan menjadi deiksis dan tidak deiksis. Dari sebagian besar kata yang memiliki arti adalah tidak deiksis dan referennya tidak berpindah-pindah menurut yang mengutarakanya.

Dalam pemakaian leksem dapat pula terjadi perpindahan referen karena digunakan secara tidak lazim. Misalnya, kata anjing. Dalam keadaan marah, kata anjing ini ketika dituturkan pada lawan bicara pemakaianya bukan ditujukan pada binatang berkaki empat melaikan pada lawan bicara yang sedang dikenai marah. Namun perpidahan referen tersebut bukanlah merupakan deiksis karena perpindahan referen tersebut disebabkan oleh maksud si pembicara sedangkan dalam deiksis perpindahan leksem disebabkan oleh pengutaraan leksem tersebut oleh si pembicara bukan oleh yang dimaksudkan pembicara.

Deiksis dibagi menjadi dua yaitu deiksis eksofora (Luar tuturan) dan deiksis endofora (Dalam tuturan). Deiksis eksofora terdiri terdiri atas deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Sedangkan deiksis endofora terdiri atas anafora dan katafora.

Deiksis Luar-Tuturan Eksofora
1) Deiksis persona dibagi menjadi tiga yaitu deiksis persona pertama, deiksis persona kedua dan deiksis persona ketiga. Masing-masing deiksis tersebui memiliki bentuk tunggal dan jamak.
? Deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, inyong/enyong/nyong dan dhewek (Indonesia : saya, aku), deiksis persona pertama jamak dhewek (Indonesia : kami, kita).
? Deiksis persona kedua tunggal yaitu kowen, sampean, njenengan (Indonesia : engkau, kamu, anda dll). Dalam bentuk jamak yaitu memiliki bentuk deiksis yang sama pada bentuk deiksis persona kedua tunggal hanya saja kata-kata tersebut ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : kamu semua).
? Deiksis persona ketiga pada bentuk tunggal yaitu dheweke (Indonesia : dia. Ia, beliau). Deiksis persona ketiga jamak yaitu kata deiksis persona ketiga tunggal ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : mereka).

2) Deiksis ruang
? Pronomina demonstratif yang terdiri atas ini dan itu (Jawa : kiye, kuwe, dan kae). Contoh : Ini orangnya.
? Pronomina penunjuk tempat terdiri atas sini, situ, sana (Jawa : kene, kono, dan kana). Contoh : Dia adalah orang sini asli.
? Pronomina lokatif yang terdiri atas sini, situ dan sana yang dipergunakan sebagai kata ganti persona pertama (sini) ; persona kedua (situ) ; dan persona ketiga (situ). Contoh : Sini sudah setuju, tinggal situ bagaimana. Tentang pendapat sana nanti bagaimana, itu terserah mereka.

3) Deiksis waktu
leksem waktu bersifat deiksis apabila yang menjadi patokan adalah adalah si pembicara, bukan hal lain misalnya pagi, siang, sore bukan merupakan deiksis karena leksem tersebut berpatok pada posisi bumi terhadap matahari, bukan patokan pembicara. Deiksis waktu meliputi :
? Leksem waktu yang berdasarkan ukuran kalender, misalnya sekarang, kemarin, besok, kemarin dulu, lusa dll. Contoh : Besok saya akan pergi ke Jakarta.
? Waktu yang perhitunganya tidak tentu dan relatif misalnya tadi, dulu, nanti dan kelak. Contoh : Kelak setelah kamu besar mau jadi apa?.

Dieksis Dalam-Tuturan (Endofora)
? Pemarkah Anafora dan Katafora Bentuk Persona
Di antara bentuk-bentuk persona hanya persona ketiga yang bisa eksoforis dan endoforis. Persona ketiga dapat dipakai sebagi pemarkah anafora dan katafora. Dalam bahasa Indonesia tidak mengenal pemarkahan katafora dalam klausa bawahan. –nya dapat mengacu pada nomina bukan insan.
Contoh : -nya, ( Dalam sambutannya, Rektor Unnes menyampaikan maksud dari terselenggarakannya acara tersebut).

? Pemarkah Anafora dan Katafora yang Bukan Persona
Contoh : lulusan SMA yang mau ambil bagian, diuji dulu untuk menetukan tingkat pengetahuanya. Berdasarkan itu ia ditempatkan ditingkat mana.
? Pemarkah Anafora dan Katafora yang Berupa Konstituen Nol ( )
Contoh : Sebelum berangkat, mereka mengunci pintu rumah.
? Verba Reflektif

Lehmann (1978:407) menyatakan bahwa dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa, verba reflektif merupakan bentuk baru hasil proses perkembangan ”verba pulang diri” (middle verba).verba yang menggambarkan suatu perbuatan yang dilakukan subjek mengenai dirinya.
Contoh : ‘Saya mencuci tangan saya’.
? Kata yang Dalam Bahasa Indonesia

Hadidjaja (1965:71-72) dan Alisjahbana (1950:91-92) menyebutkan kata yang sebagai kata ganti penghubung karena menjadi pengganti nomina yang disebutkan sebelumnya dan menghubungkan klausa sesudahnya dengan klausa sebelumnya.
Conoh : Yang buta dipimpin, yang lumpuh diusung.

Referensi
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm

Kushartanti, dan Yuwono, Untung. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Book.google.co.id

diksi


A. Pengertian Deiksis

Deiksis adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan (Agustina, 1995:40). Purwo (1984:1) menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.

Pengertian deiksis yang lain dikemukakan oleh Lyons (1977:637) dalam Djajasudarma (2010:51) yang menjelaskan bahwa deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa deiksis adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, dan tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

    Begitulah isi sms yang dikirimkannya padaku dua hari yang lalu.
    Hari ini bayar, besok gratis.
    Jika Anda berkenan, di tempat ini Anda dapat menunggu saya dua jam lagi.

Dari contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai dieksis. Pada kalimat (1) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa diketahui karena uraian berikutnya tidak dijelaskan. Pada kalimat (2) kapan yang dimaksud dengan hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari di sebuah kafetaria. Pada kalimat (3) kata Anda tidak jelas rujukannya, apakah seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak jelas.

Semua kata dan frasa yang tidak jelas pada kalimat di atas dapat diketahui jika konteks untuk masing-masing kalimat tersebut disertakan. Dalam berpragmatik kalimat seperti di atas wajar hadir di tengah-tengah pembicaraan karena konteks pembicaraan sudah disepakati antara si pembicara dan lawan bicara.

B. Jenis-jenis Deiksis
Dalam kajian pragmatik, deiksis dapat dibagi menjadi jenis-jenis seperti diuraikan berikut ini.
1. Deiksis Orang
Deiksis orang adalah pemberian rujukan kepada orang atau pemeran serta dalam peristiwa berbahasa (Agustina, 1995:43). Djajasudarma (2010:51) mengistilahkan dengan deiksis pronomina orangan (persona), sedangkan Purwo (1984:21) menyebutkan dengan deiksis persona. Dalam kategori deiksis orang, yang menjadi kriteria adalah peran pemeran serta dalam peristiwa berbahasa tersebut (Nababan, 1987:41). Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata ganti orang menjadi tiga yaitu, kata ganti orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga.
Dalam sistem ini, orang pertama ialah kategori rujukan pembicara kepada dirinya sendiri, seperti saya, aku, kami, dan kita. Orang kedua adalah kategori rujukan kepada seseorang (atau lebih) pendengar atau siapa yang dituju dalam pembicaraan, seperti kamu, engkau, anda, dan kalian. Orang ketiga adalah kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara dan bukan pula pendengar, seperti dia, ia, beliau, -nya, dan mereka. Contoh pemakaian deiksis orang dapat dilihat dalam kalimat-kalimat berikut.

  Mengapa hanya saya yang diberi tugas berat seperti ini?
    Saya melihat mereka di pasar kemarin.

Kata-kata yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam dieksis orang. Contoh kata seperti itu dipakai dalam percakapan sebagai pengganti atau rujukan dari yang dimaksud dalam suatu peristiwa berbahasa.

2. Dieksis Tempat

Dieksis tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang atau tempat yang dipandang dari lokasi pemeran serta dalam peristiwa berbahasa itu (Agustina, 1995:45). Dalam berbahasa, orang akan membedakan antara di sini, di situ dan di sana. Hal ini dikarenakan di sini lokasinya dekat dengan si pembicara, di situ lokasinya tidak dekat pembicara, sedangkan di sana lokasinya tidak dekat dari si pembicara dan tidak pula dekat dari pendengar. Purwo (1984:37) mengistilahkan dengan deiksis ruang dan lebih banyak menggunakan kata penunjuk seperti dekat, jauh, tinggi, pendek, kanan, kiri, dan di depan. Sedangkan Djajasudarma (2010:65) mengistilahkannya dengan dieksis penunjuk.

Contoh penggunaan dieksis tempat dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut.

    Tempat itu terlalu jauh baginya, meskipun bagimu tidak.
    Duduklah bersamaku di sini.

Kata-kata yang dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam deiksis tempat.

3. Deiksis Waktu

Deiksis waktu adalah pengungkapan atau pemberian bentuk kepada titik atau jarak waktu yang dipandang dari waktu sesuatu ungkapan dibuat (Agustina, 1995:46). Contoh deiksis waktu adalah kemarin, lusa, besok, bulan ini, minggu ini, atau pada suatu hari.

Kalimat-kalimat berikut adalah contoh pemakaian dari kata penunjuk deiksis waktu.

    Dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri, yang bernama Fitri dapat makan gratis besok. (tulisan di sebuah restoran)
    Gaji bulan ini tidak seberapa yang diterimanya.
    Saya tidak dapat menolong Anda sekarang ini.

4. Deiksis Wacana

Deiksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau yang sedang dikembangkan (Agustina, 1995:47). Deiksis wacana ditunjukkan oleh anafora dan katafora. Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan. Senada dengan hal itu, Hasanuddin WS. (2009:70) menjelaskan bahwa anafora adalah hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam kalimat atau wacana.

Contoh kalimat yang bersifat anafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.

    Wati belum mendapatkan pekerjaan, padahal dia sudah diwisuda dua tahun yang lalu.
    Joni baru saja membeli mobil BMW. Warnanya merah dan harganya jangan ditanya.

Sebuah rujukan atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal yang akan disebutkan (Agustina, 1995:42). Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat berikut.

    Di sini, digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
    Setelah dia masuk, langsung Toni memeluk adiknya.

5. Deiksis Sosial

Deiksis sosial adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang dimaksud dalam pembicaraan itu (Agustina, 1995:50). Contoh deiksis sosial misalnya penggunaan kata mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal dunia. Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus). Selain itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan gelar. Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.

    Apakah saya bisa menemui Bapak hari ini?
    Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.

Selain pembagian lima deiksis di atas, dalam kajian pragmatik juga dibedakan antara deiksis sejati dengan deiksis tak sejati dan deiksis kinesik dengan deiksis simbolik (Agustina, 1995:51). Penjelasan deiksis tersebut akan dijelaskan berikut ini.

1. Deiksis Sejati dan Deiksis Tak Sejati

Deiksis sejati adalah arti dari kata atau frasa penunjuk yang seluruhnya dapat diterangkan dengan konsep deiksis. Dengan kata lain kata-kata yang dipakai sebagai penunjuk deiksis tidak mengandung makna lain selain dari makna deiksis itu sendiri. Kata-kata yang sering dijadikan sebagai deiksis sejati adalah kata-kata yang dipakai untuk perujuk atau penunjuk, misalnya ini, itu, di sini, di situ, saya, kita, kamu, dan engkau. Contoh pemakaian deiksis sejati dalam kalimat adalah seperti berikut.

    Jika kami berdiri, kamu harus duduk.
    Rumah ini kelihatannya memang sudah lapuk, tetapi semangat kami tidak akan pernah lapuk tinggal di sini.

Dalam deiksis tak sejati, makna kata atau frasa yang dipakai dalam deiksis hanya sebagian mengacu kepada deiksis, sedangkan sebagian lagi fungsinya adalah nondeiksis, seperti contoh berikut.

    Dia menjadi pusat perhatian di rumah kami.

Dalam kalimat di atas, kata dia dapat berarti seseorang dan dapat pula berarti binatang kesayangan.

2. Deiksis Kinesik dan Deiksis Simbolik

Dalam deiksis kinesik kata-kata yang digunakan hanya dapat dipahami jika disertai pengamatan gerakan badan yang disertai dengan pendengaran dan penglihatan atau rabaan. Contoh pemakaian deiksis kinesik seperti pada kalimat berikut.

    Yang ini boleh kau ambil, tetapi itu jangan.
    Bukan itu yang saya minta, melainkan itu.

Dalam deiksis simbolik, diperlukan pengetahuan tentang faktor tempat dan waktu dari peristiwa berbahasa itu untuk dapat memahami siapa dan apa yang dimaksud dalam kalimat itu. contoh pemakaian deiksis simbolik adalah sebagai berikut.

    Saya tidak dapat pulang ke kampung tahun ini.

Frasa tahun ini, tidak dapat dipahami hanya dengan pendengaran dan penglihatan atau perabaan saja, tetapi diperlukan pemahaman waktu ketika terjadi peristiwa berbahasa itu.

DAFTAR RUJUKAN

Agustina. 1995. Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa Indonesia. Padang: IKIP Padang.

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djajasudarma, Fatimah. 2010. Semantik 2: Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama.

Hasanuddin WS, dkk. 2009. Ensiklopedi Kebahasaan Indonesia. Bandung: Angkasa.

Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik: Teori dan Penerapannya, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

VKata deiksis (yunani : deiktikos) yang berarti hal penunjukan secara langsung, dalam linguistik sekarang digunakan sebagai kata ganti persona, kata ganti demonstratif, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal lainya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran (Lyons 1977:636).

Deiksis adalah gejala semantis yang terdapat pada kata yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhatikan situasi pembicaraan. Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referenya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi si pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkanya kata itu. Dalam deiksis yang dipersoalkan adalah unsur yang referennya dapat diidentifikasi hanya dengan memperhatikan identitas si pembicara serta saat dan tempat diutarakannya tuturan yang mengandung unsur yang bersangkutan.

Tuturan atau kata yang merupakan unsur yang mengandung arti dapat dibedakan antara yang referensial dan yang tidak referensial (dan, atau, tetapi, walaupun). Kata yang tidak referensial ini tidak terlalu diperhatikan sedangkan untuk kata yang referensial dibedakan menjadi deiksis dan tidak deiksis. Dari sebagian besar kata yang memiliki arti adalah tidak deiksis dan referennya tidak berpindah-pindah menurut yang mengutarakanya.

Dalam pemakaian leksem dapat pula terjadi perpindahan referen karena digunakan secara tidak lazim. Misalnya, kata anjing. Dalam keadaan marah, kata anjing ini ketika dituturkan pada lawan bicara pemakaianya bukan ditujukan pada binatang berkaki empat melaikan pada lawan bicara yang sedang dikenai marah. Namun perpidahan referen tersebut bukanlah merupakan deiksis karena perpindahan referen tersebut disebabkan oleh maksud si pembicara sedangkan dalam deiksis perpindahan leksem disebabkan oleh pengutaraan leksem tersebut oleh si pembicara bukan oleh yang dimaksudkan pembicara.

Deiksis dibagi menjadi dua yaitu deiksis eksofora (Luar tuturan) dan deiksis endofora (Dalam tuturan). Deiksis eksofora terdiri terdiri atas deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu. Sedangkan deiksis endofora terdiri atas anafora dan katafora.

Deiksis Luar-Tuturan Eksofora
1) Deiksis persona dibagi menjadi tiga yaitu deiksis persona pertama, deiksis persona kedua dan deiksis persona ketiga. Masing-masing deiksis tersebui memiliki bentuk tunggal dan jamak.
? Deiksis persona pertama tunggal meliputi bentuk aku, inyong/enyong/nyong dan dhewek (Indonesia : saya, aku), deiksis persona pertama jamak dhewek (Indonesia : kami, kita).
? Deiksis persona kedua tunggal yaitu kowen, sampean, njenengan (Indonesia : engkau, kamu, anda dll). Dalam bentuk jamak yaitu memiliki bentuk deiksis yang sama pada bentuk deiksis persona kedua tunggal hanya saja kata-kata tersebut ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : kamu semua).
? Deiksis persona ketiga pada bentuk tunggal yaitu dheweke (Indonesia : dia. Ia, beliau). Deiksis persona ketiga jamak yaitu kata deiksis persona ketiga tunggal ditambahi dengan kata kabeh (Indonesia : mereka).

2) Deiksis ruang
? Pronomina demonstratif yang terdiri atas ini dan itu (Jawa : kiye, kuwe, dan kae). Contoh : Ini orangnya.
? Pronomina penunjuk tempat terdiri atas sini, situ, sana (Jawa : kene, kono, dan kana). Contoh : Dia adalah orang sini asli.
? Pronomina lokatif yang terdiri atas sini, situ dan sana yang dipergunakan sebagai kata ganti persona pertama (sini) ; persona kedua (situ) ; dan persona ketiga (situ). Contoh : Sini sudah setuju, tinggal situ bagaimana. Tentang pendapat sana nanti bagaimana, itu terserah mereka.

3) Deiksis waktu
leksem waktu bersifat deiksis apabila yang menjadi patokan adalah adalah si pembicara, bukan hal lain misalnya pagi, siang, sore bukan merupakan deiksis karena leksem tersebut berpatok pada posisi bumi terhadap matahari, bukan patokan pembicara. Deiksis waktu meliputi :
? Leksem waktu yang berdasarkan ukuran kalender, misalnya sekarang, kemarin, besok, kemarin dulu, lusa dll. Contoh : Besok saya akan pergi ke Jakarta.
? Waktu yang perhitunganya tidak tentu dan relatif misalnya tadi, dulu, nanti dan kelak. Contoh : Kelak setelah kamu besar mau jadi apa?.

Dieksis Dalam-Tuturan (Endofora)
? Pemarkah Anafora dan Katafora Bentuk Persona
Di antara bentuk-bentuk persona hanya persona ketiga yang bisa eksoforis dan endoforis. Persona ketiga dapat dipakai sebagi pemarkah anafora dan katafora. Dalam bahasa Indonesia tidak mengenal pemarkahan katafora dalam klausa bawahan. –nya dapat mengacu pada nomina bukan insan.
Contoh : -nya, ( Dalam sambutannya, Rektor Unnes menyampaikan maksud dari terselenggarakannya acara tersebut).

? Pemarkah Anafora dan Katafora yang Bukan Persona
Contoh : lulusan SMA yang mau ambil bagian, diuji dulu untuk menetukan tingkat pengetahuanya. Berdasarkan itu ia ditempatkan ditingkat mana.
? Pemarkah Anafora dan Katafora yang Berupa Konstituen Nol ( )
Contoh : Sebelum berangkat, mereka mengunci pintu rumah.
? Verba Reflektif

Lehmann (1978:407) menyatakan bahwa dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa, verba reflektif merupakan bentuk baru hasil proses perkembangan ”verba pulang diri” (middle verba).verba yang menggambarkan suatu perbuatan yang dilakukan subjek mengenai dirinya.
Contoh : ‘Saya mencuci tangan saya’.
? Kata yang Dalam Bahasa Indonesia

Hadidjaja (1965:71-72) dan Alisjahbana (1950:91-92) menyebutkan kata yang sebagai kata ganti penghubung karena menjadi pengganti nomina yang disebutkan sebelumnya dan menghubungkan klausa sesudahnya dengan klausa sebelumnya.
Conoh : Yang buta dipimpin, yang lumpuh diusung.

Referensi
Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 1984.
Atun, Eni. 2004. Deiksis Bahasa Jawa Dialek Tegal. digilub.umm.ac.id.htm

Kushartanti, dan Yuwono, Untung. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Book.google.co.id

Minggu, 10 November 2013

makna referensial dan makna konseptual

makna referensial dan makna konseptual

PENDAHULUAN
Ada banyak teori yang telah dikembangkan oleh para pakar filsafat dan linguistik sekitar konsep makna dalam studi semantik. Dalam bagian ini kita akan jelajahi secara tersebarv teori-teori tentang makna. Pada dasarnya para filosuf dang linguist mempersoalkan makna dalam bentuk hubungan antar bahasa(ujaran), pikiran, dan realitas dialam. Lahirlah teori tentang makna yang berkisar pada hubungan antara ujaran, pikiran, dan realitas dunia nyata. Karena bahasaitu digunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan dalam kehidupan bermasyarakat maka bahsa itupun bermacam-macam dilihat dari segi atau pandangan yang yang berbeda.
Berbagai jenis makna telah diungkapkan oleh orang dalam berbagai buku linguistik, abdul chair membagi jenis makna sebagai berikut “ makna leksikal, gramatikal, konstektual, referensial dan non referensial, denotatif, konotatif, konseptual, asosiatif, kata, istilah, idiom, serta makna peribahasa” Pada makalah ini kita hanya akan mengkaji tentang teori/ makna referensial dan teori/ makna konseptual.











1. MAKNA REFERENSIAL
Teori Referensial merujuk kepada segitiga makna seperti yang dikemukakan oleh Ogden dan Richard. Makna, demikian ogdan dan Richard adalah hubungan antara reference dan referent yang dinyatakan oleh simbol bunyi bahasa baik berupa kata maupun frase atau kalimat. Simbol bahasa dan rujukan atau referent tidak mempunyai hubungan langsung. Teori ini menekankan hubungan langsung antara reference dan referent yang ada di alam nyata. [1][6]
      Makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif karena memiliki acuan[2][7]. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya demngan makna kognitif. Makna referensial memilki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama oleh (masyarakat bahasa), seperti terlihat dalam hubungan antara konsep (referens) dengan acuan (referent) pada segitiga dibawah ini.
(b) konsep           


 
                              (a) kata                                                (c) acuan

Contoh:
1.      Orang itu menampar orang
1                                                        2
2.      Orang itu menampar dirinya
 Pada (1) orang 1 dibedakan maknanya dari orang dua, karna orang1 sebagai pelaku (agentif) dan orang dua sebagai pengalam (yang mengalami makna yang diungkapkan verba), hal tersebut menunjukkan makna katagori yang berbeda tetapi makna referensial mengacu kepada konsep yang sama(orang = manusia). Pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama dengan orang1 dan orang2 pada (1) dan pada (2) orang dengan makna katagori yang sama dengan orang1 (agentif).[3][8]   
Hubungan referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia luar bahasa yang di acu oleh pembicara. Misalnya :
·         Kamus mengacu kepada jenis buku tertentu
·         Tebal mengacu kepada suatu kualitas benda tertentu.
Hubungan antara kata (lambang), makna ( konsep atau referens dan sesuatu yang diacu (referent) adalah hubungan tidak langsung). Hubungan tersebut digambarkan melalui apa yang disebut segitiga semiotik (semiotic triangle).[4][9]
Hubungan yang terjalin antara sebuah bentuk kata dengan barang, hal, kegiatan ( peristiwa) diluar bahasa tidak bersifat langsung, ada media yang terletak diantaranya. Kata merupakan lambang ( simbol) yang menghubungkan konsep dengan acuan.
Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karna ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya kata-kata dseperti dan, atau, dan karena adalah kata-kata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak mempunyai referens.

2.      MAKNA KONSEPTUAL
Teori konseptual adalah teori semantik yang memfokuskan kajian makna pada prinsip-prinsip konsepsi yang ada pada pikiran manusia[5][10]. Teori yang dinisbahkan pada John Locke disebut juga denga teori mentalisme. Teori ini disebut teori pemikiran, karena kata itu menunjuk pada ide yang ada dalam pemikiran. Karena itu, penggunaan suatu kata hendaknya merupakan penunjukan yang mengarah pada pemikiran.
Yang dimaksud dengan makna konseptual menurut definisi lain adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari sebuah konteks atau asosiasi apapun.  Kata kuda memiliki makna konseptual sejenis binatang berkaki empat yang dapat dikendarai. Jadi, sesungguhnya makna konseptual sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, makna referensial. Makna konseptual ini bersifat logis, kognitif, atau denotatif. Makna asosiatif yang dibagi lagi atas makna konotatif yakni makna yang muncul dibalik makna kogntif [6][11]. Demikian juga dengan makna idesional adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Kita mengerti ide yang terkandung di dalam kata demokrasi, yakni istilah politik (bentuk atau sistem pemerintahan, segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakil-wakilnya; pemerintahan rakyat;. Gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.
Kata demokrasi kita lihat dalam kamus, dan kita perhatikan pula hubngannyadengan unsur lain dalam pemakaiankata tersebut, lalu kita tentukan konsep yang menjadi ide kata tersebut. Demikian juga dengan kata partisipasi mengandung makna idesional ‘aktivitas maksimal seseorang yang ikut serta dalam suatu kegiatan (sumbangan keaktifan). Dengan makna idesional yang terkandung di dalamnya kita dapat melihat paham yang terkandungdi dalam suatu makna.  


Daftar Pustaka
-          Djasasudarma, T. Fatimah, Prof, Dr, Semantik 1, Refrika, Bandung, 1999

-          Djasasudarma, T. Fatimah, Prof, Dr, Semantik 2, Refrika, Bandung, 1999

-          Matsna, Matsna, Dr, Orientasi Semantik Al-Zamakhsyari, Anglimedi, Jakarta, 2006

-          Parera, J.d, Teori Semantik Edisi Kedua,

-          http// www.google.com/library.usu.ac.id, teori referensial dan konseptual.
          


Posted by fatiya laiyina at 17:45




[1][6] J.d parera, teori semantik edisi kedua, hal 46
[2][7] Fatimah Djajasudarna, semantik 2 pemahaman ilmu makna (Bandung: PT Refika Aditama, 1999) hal 11
[3][8] Ibid, hal 12
[4][9] Fatimah Djajasudarna, semantik 1 pemahaman ilmu makna (Bandung: PT Refika Aditama, 1999) hal 24
[5][10] Muhammad Matsna,orientasi semantik al-zamakhsyari (Jakarta:Anglimedi, 2006) hal 20
[6][11] Ibid hal 17

kolom komentar